Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2025

Pengantar dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta   Tahun 2025 menandai perayaan ke-51 tahun Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dimulai sejak…


Identitas dan Pengkhianatan: Membaca Poskolonial di Mata Kolonial

Hella Haasse menutup novel pertamanya, Oeroeg (1948), dengan sebuah ironi: Oeroeg menodongkan sebuah pistol ke arah sang narator. Pergi, pergi dari sini,…


Sastra Indonesia sebagai Teori Sastra Dunia

Yoko Tawada membuka cerita panjangnya, Where Europe Begins (Tawada 36), dengan kenangan neneknya tentang seorang gadis kecil sakit-sakitan yang pada zaman…


Bahasa Indonesia yang Saya Kenali

Saat Redaksi meminta saya menulis tentang hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia, entah bagaimana ingatan saya terlempar pada suatu siang di tahun…


Syahrazad bagi Hikayat dari Negeri Asing

Malaikat dan harum mukjizat dapat mengudar di negeri yang menampik eksistensi Ilahi. Setidaknya itulah yang akan kita jumpai dalam cerpen-cerpen Triyanto…


Konstruksi Satire dan Transformasi Subjek Feminin
Di Lintasan Mendung dalam Pusaran Generasi Femina

NOVEL terakhir A.A. Navis, Di Lintasan Mendung, dipublikasikan saat sedang terjadi ledakan jumlah perempuan pengarang memantik publikasi beragam novel keluarga…


Ing Citra Lekha

Ing Chitra Lekha[1]   Pambukaning[2] Kalau saja, tidak boleh ia sebentuk cerita pendek, setidaknya, perkenan, “Robohnya Surau Kami” terbangun sebagai…


Tinjauan Materialisme Kultural dan Wacana Kekuasaan
dalam Relasi Pelik Sosok-sosok Rekaan A.A. Navis

Ada satu sosok yang diceritakan seluk-beluknya. Ia tampil tersorot, satu-satunya.  Sementara apa yang melingkupinya sebatas latar, sebatas suara kerumunan.…


Membaca Ulang “Robohnya Surau Kami” dan “Man Rabuka”

Apa yang dikemukakan A.A. Navis dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah rasionalitas kehidupan beragama yang kita perlukan, bukannya sesuatu yang harus…