Simpang Siur Batas “Sastra” Pop di Indonesia

Tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan retoris, yang jika ditanyakan kepada para pengamat sastra, hampir pasti semua sudah punya jawabannya, setidaknya…


Jalan Lain Fiksi Melayu Pasar Menggeliat Kembali

Bersama gelombang media sosial yang memungkinkan individu memegang sendiri narasi yang ingin disuarakan, kita telah melihat berbagai narasi kelokalan di layar…


Membaca Horor di Rumah Sendiri

Prolog Ikhtiar membaca ulang, kemudian menulis ihwal serangkaian karya yang terentang dua dekade, adalah sebuah laku yang sejatinya menakutkan, terlebih dengan…


Sisi Lain “Puisi Hiburan” Semata

KETEGANGAN antara “seni sejati” dan “hiburan massa”, atau yang dalam konteks ini akan ditarik pada dikotomi “puisi serius” dan “puisi pop”—bila kita baca…


Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2025

Pengantar dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta   Tahun 2025 menandai perayaan ke-51 tahun Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Dimulai sejak…


Identitas dan Pengkhianatan: Membaca Poskolonial di Mata Kolonial

Hella Haasse menutup novel pertamanya, Oeroeg (1948), dengan sebuah ironi: Oeroeg menodongkan sebuah pistol ke arah sang narator. Pergi, pergi dari sini,…


Sastra Indonesia sebagai Teori Sastra Dunia

Yoko Tawada membuka cerita panjangnya, Where Europe Begins (Tawada 36), dengan kenangan neneknya tentang seorang gadis kecil sakit-sakitan yang pada zaman…


Bahasa Indonesia yang Saya Kenali

Saat Redaksi meminta saya menulis tentang hubungan antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia, entah bagaimana ingatan saya terlempar pada suatu siang di tahun…


Syahrazad bagi Hikayat dari Negeri Asing

Malaikat dan harum mukjizat dapat mengudar di negeri yang menampik eksistensi Ilahi. Setidaknya itulah yang akan kita jumpai dalam cerpen-cerpen Triyanto…