Keruntuhan Manusia sebagai Pusat

Sastra Indonesia setelah Reformasi terlalu sering dipahami sebagai medan kembalinya suara manusia. Tubuh yang lama dikendalikan oleh Negara, seksualitas yang…


Ala-Ala Negosiasi Pala-Pala Motosep

Ia memilih kata “sindikat” dan membuang jauh-jauh “pada suatu ketika”. Dan kita bisa mulai mencurigai niatnya. Ketika menandaskan bahwa sastra anak haruslah…


Ironi Empat Fragmen Kaca Patri

Hari ini kesusastraan kita telah diguncang sampai terbangun dari tidurnya yang melelahkan oleh seorang penyair protean. Tentu saja mengguncang bukan untuk…


Wajah Sastra Indonesia dalam 5.068 Sampul Buku

Pengantar Adagium klasik “jangan menilai buku dari sampulnya” masih kerap ditafsirkan secara serampangan sehingga aspek visual sampul sebagai elemen untuk…


Tubuh yang Menolak Patuh

Prolog dari Aspal Jakarta Di bawah temaram lampu jalanan Jakarta—yang barangkali jauh lebih jujur dan telanjang daripada podium-podium politik yang riuh dengan…


Ingatan yang Terpecah

Di Paris, pada suatu sore yang biasa, Dimas Suryo duduk di sebuah gerai makanan kecil. Ia sendirian dan hanya menatap makanan di piringnya. Tatapan kosong itu…


Menimbang Ulang Definisi Sastra Indonesia

“I am a Moroccan writer of French expression.” (Tahar Ben Jelloun) “Language is the only homeland.” (Creslaw Milosz) "Jang soeka batja sekalian anak moeda,…


Nubuat dari Masa Depan

Asing yang Tak Asing Pada 8 Mei 2026, melalui Department of War, untuk pertama kalinya, pemerintah Amerika Serikat merilis lebih dari 200 dokumen rahasia…


Simpang Siur Batas “Sastra” Pop di Indonesia

Tulisan ini dimulai dengan sebuah pertanyaan retoris, yang jika ditanyakan kepada para pengamat sastra, hampir pasti semua sudah punya jawabannya, setidaknya…