Nubuat dari Masa Depan

Ilustrasi: Redi Murti

Asing yang Tak Asing

Pada 8 Mei 2026, melalui Department of War, untuk pertama kalinya, pemerintah Amerika Serikat merilis lebih dari 200 dokumen rahasia terkait unidentified aerial phenomena (UAP), unidentified flying object (UFO), dan kehidupan ekstraterestrial.[1] Perilisan tersebut praktis memvalidasi alam imaji, mitos, fiksi sains Barat berorientasi futuristik, dan keberadaan entitas selain manusia. Salah satu dokumen berupa foto memperlihatkan sosok makhluk bertubuh pendek berlengan panjang yang diyakini banyak warganet sebagai alien. Namun, begitukah rupa “alien”? Atau, jangan-jangan hal itu merupakan bentuk ketidakmampuan untuk mengidentifikasi segala hal yang berbeda dengan kita?

Bagi peradaban Timur-Selatan, alam serta segala keanehannya berpadu dalam pemahaman inheren yang turun-temurun. Contohnya, ketika memasuki dimensi lain, kemudian bertemu entitas asing, Indraputra dengan jelas mengidentifikasi mereka sebagai jin. Bahkan, saat menebas tubuh sesosok jin bernama Tamar Jalis, lalu dari tebasan tersebut yang keluar bukan darah melainkan cipratan api, Indraputra tidak keheranan. “Dengan seketika itu maka kena tubuhnya Tamar Jalis, berasap keluar api memancar-mancar lalu ke udara.”[2]

“Alien” hanyalah subjungtivitas dari ketidakpahaman Barat atas “keasingan” yang sulit dijelaskan. Dalam rangka menerjemahkan “keasingan” tersebut, fiksi sains dipekerjakan sebagai medium presentasi segala hal yang dinilai asing, tetapi memiliki keterikatan pada logika kognitif dengan berakar pada imaji perwujudan ilmu pengetahuan. Di Barat, fiksi sains yang berakar ilmu pengetahuan tersebut melahirkan The Time Machine, misalnya, yang memperlihatkan realitas asing di masa depan sebagai kejatuhan spesies manusia. Sementara itu, di Indonesia, dalam perkembangannya, fiksi sains justru mengasingkan dirinya sendiri dari fondasi akar imaji yang telah terbentuk di masa lampau, dan seiring waktu, berpaling pada paradigma Barat, terutama saat mengusung fiksi sains berorientasi futuristik.

Berbeda dengan Adam Roberts dan Fredric Jameson,[3] Chattopadhyay tidak menempatkan fiksi sains sebagai teks yang harus merujuk sikap ilmiah tertentu, termasuk dalam menginterpretasi waktu. Pada prinsipnya, fiksi sains bekerja dengan mengasingkan masa kini, ungkap Jameson.[4] Salah satu tekniknya adalah dengan membangun cerita berlatar masa depan.

Bagaimanapun juga, masa depan tidak selamanya asing. Ia melekat dengan masa kini–melebur dalam satu ruang. Begitu pula instrumen-instrumen penanda masa yang ada. Dan di masa lalu yang jauh, masa depan yang juga jauh telah diimajikan:

“Maka dihunus Indraputra pedangnya lalu diparangnya tali pesawat gajah itu putus. Maka gajah itu pun rebah tiada bergerak.” (Hikayat Indraputra)[5]
“… ing layangan jro kekurung nenggih, nulya sang nata ken angiggahna, layang den umbulake, pareng maruta nempuh, layar samya madhahi angin, sru muluk angambara.” (Babad Pajang)[6]
“Wong lanang jamah padha lanang, wong wadon dicemah akeh liron bojo singa seneng, lemah angker akeh tawa, bumi katon mingkup, bumi suda pametune ilang brekate, wong anggota saya sengkut nanging ora dadi kasil, ana udan salah mangsa, ratu nakoda salah janji tan ana benere.” (Serat Jangka Jayabaya)[7]

Tiga teks sastra Nusantara[8] di atas memuat elemen-elemen futuristik apabila didekati dengan menggunakan mata mythologerm,[9] terlihat dari frasa tali pesawat gajah dan layar samya madhahi angin. Sementara itu, dalam Serat Jangka Jayabaya, elemen futuristik terletak pada narasinya yang bernubuat. Mengingat nukilan-nukilan tersebut menyajikan imaji masa yang melampaui masa penulisannya, maka ketiga teks sastra Nusantara itu diposisikan sebagai hipogram[10] untuk meninjau jalinan intertekstualitas gagasan fiksi sains Indonesia hari ini.

Melihat palagan fiksi sains berorientasi masa depan di Indonesia saat ini dengan sekilas, terdeteksi dua kondisi yang saling berkaitan. Pertama, terasingnya fiksi sains dari ekosistem penerbitan konvensional Kedua, asingnya imaji masa depan yang berakar pada imaji lokal.

Penerbit yang menerbitkan fiksi sains berorientasi futuristik bukannya tidak ada. Namun, dengan orientasi profit yang ketat, mereka tentu lebih memilih fiksi sains yang mereplikasi standar masa depan Barat daripada menanggung risiko keuangan akibat menerbitkan karya fiksi sains yang berakar pada sastra Nusantara.

Pada sisi kepengarangan, imaji Barat menjadi kiblat yang wajib meresap, sebab menganggap ide fiksi sains pun bermula di Barat sehingga, agar menguatkan status fiksi sains, maka Barat harus muncul di tingkat wacana. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada mayoritas kritik sastra yang mendudukkan fiksi sains Indonesia sebagai subhimpunan fiksi sains Barat.

Di tengah daya tarik estetis fiksi sains Barat yang memukau dan canggih, apakah fiksi sains Indonesia yang berorientasi masa depan memiliki jejak keberlanjutan atau justru berlepas begitu saja dari hikayat, babad, dan serat?

 

Ruang ke Waktu

Dengan menimbang absennya imaji sastrawan terhadap teknologi dan zaman, Berto Tukan dan Yovantra Arief mendakwa bahwa genre fiksi sains di Indonesia yang dipelopori Djokolelono gagal berkembang.[11] Sandya Maulana mengambil posisi yang berseberangan. Dalam tinjauannya, fiksi sains Indonesia terus berkembang, terutama setelah tahun 2000-an yang menunjukkan tren positif, yakni dengan menjadi lebih “Indonesia” dan perlahan-lahan melepaskan diri dari paradigma fiksi sains Barat.[12] Pengamatan Sandya selaras dengan amatan Fitri Merawati yang menyadari perubahan pola penulisan fiksi sains Indonesia. Pada 1980-an, fiksi sains Indonesia cenderung dipenuhi tema dan latar luar angkasa. Namun, sejak 2000-an, fiksi sains Indonesia terasa “dekat” dan tokoh yang dihadirkan lebih kompleks dibandingkan fiksi sains sebelum 2000.[13]

Kritik Berto-Yovantra dan Sandya tidak secara khusus mengulas fiksi sains Indonesia berlatar masa depan. Keduanya memang menyinggung karya Djokolelono yang menyajikan perjalanan luar angkasa, tetapi tidak mendiskusikannya secara khusus sebagai fiksi sains yang berlatar masa depan. Dua tulisan tersebut menunjukkan ruang kosong yang belum banyak dibicarakan: masa depan dalam fiksi sains Indonesia.

Suvin pernah meletakkan aksioma titik balik sentral pada fiksi sains dengan menangkap adanya pola pergeseran fokus, dari yang sebelumnya penjelajahan ruang, bertransformasi menjadi penjelajahan waktu di sekitar 1800-an.[14] Namun, Adam Roberts berpendapat bahwa tidak tepat untuk menyebut peralihan dari fiksi sains berbasis ruang ke fiksi sains berbasis waktu sebagai pergeseran mutlak. Akan lebih tepat jika menyebutnya sebagai lahirnya subjungtivitas baru. Bagi Roberts, spekulasi masa depan adalah insting natural manusia sehingga bukan hal yang aneh jika elemen-elemen temporal sudah muncul dalam literatur fiksi sains jauh sebelum 1800-an.[15]

Meski Roberts menolak gagasan Suvin, klaim Suvin tidak sepenuhnya salah. Pada sekitar 1800-an, ilmu pengetahuan memang sedang berkembang, termasuk pemahaman atas konsep waktu yang pada saat itu dipengaruhi teologi Kristen dan abad Pencerahan sehingga memberikan sumbangan imaji pada penulisan fiksi sains bahwa waktu berjalan layaknya anak panah yang melesat dari busur.[16] Sebagai pembanding, dengan mengacu khazanah sains India (kalpavigyan), Chattopadhyay memaparkan bahwa waktu tidak bergerak secara linier, tapi bergerak dalam siklus kosmologi dharma (kalpa).[17]

“Masa depan itu di belakang,” kata seorang kakak angkatan prodi sastra Jawa bernama Al.[18] Ia berkata bahwa masyarakat Jawa menempatkan masa depan sebagai sesuatu yang ada di belakang. Buktinya ada pada idiom ing tembe mburi yang berarti “di belakang nanti”. Praktik linguistik tersebut mempertegas bahwa di alam pikir Timur, waktu bukan objek linier, melainkan sebuah lingkaran konsekuensi abadi. Masa depan dan masa lalu berada di masa kini.

Konsep waktu Barat yang menekankan progresivitas dengan berbagai temuan relatif lebih sering menjumpai hal-hal baru yang asing. Sebab, sekalipun memiliki rangkaian dari masa lalu, sesuatu yang terjadi di masa depan akan terus memancing keheranan. Sementara itu, konsep waktu Timur yang didasarkan pada kalpavigyan mempersepsikan waktu sebagai siklus yang terus terjadi, tetapi dengan tampilan berbeda sehingga ruang untuk keterasingan lebih sempit. Keterasingan pada konsep waktu Timur bukan terletak pada peristiwanya, melainkan pada kesadaran subjeknya.

Menyintesiskan dua kutub konsep waktu tersebut, lalu meletakkannya pada situasi fiksi sains di Indonesia hari ini, menghasilkan waktu–dalam arti masa depan–yang tetap asing di samping fiksi sains itu sendiri yang juga masih asing.

Keterasingan fiksi sains di Indonesia bisa dirasakan dari sisi penerbit konvensional yang relatif didominasi romantisme, kritik sosial, dan penyelesaian trauma masa lalu. Terhadap hal ini, Ninies Aini mendeteksi adanya semacam rules of art dalam arena produksi sastra Indonesia, bahwa gaya realisme lebih diberi tempat daripada genre lain, terutama fiksi sains.[19]

Tegangan antara hegemoni fiksi sains Barat, ekosistem penerbitan, dan upaya untuk merawat akar lokalitas terus berkelindan dalam lanskap fiksi sains Indonesia. Ketegangan tersebut mewujud pada fiksi sains berbasis pembaca masif seperti Hujan; karya fiksi sains alumnus Wattpad yang bertransisi ke media cetak seperti Destination: Jakarta 2040; Hitam 2045 yang justru terbit secara konvensional tanpa pijakan platform digital. Ketiganya merepresentasikan spektrum dari yang paling kompromistis hingga yang paling resisten.

Lewat tinjauan onomastika, instrumen penanda masa dan permainan waktu dapat dilacak sejauh mana fiksi sains Indonesia hari ini melakukan resistensi terhadap paradigma fiksi sains Barat dengan mengakses hipogram sastra Nusantara atau malah takluk menjadi antek-antek imaji asing.

 

Palagan Fiksi Sains

Sebelum tahun 2000-an, distribusi fiksi sains senantiasa mengandalkan penerbit konvensional karena memang itulah satu-satunya jalan. Beberapa novel pada periode tersebut, antara lain Jatuh ke Matahari (1976) yang diterbitkan Pustaka Jaya dan Bintang Hitam (1981) yang diterbitkan Gramedia. Keduanya karya Djokolelono. Lalu, Petualangan ke Planet Tau Ceti (1984) yang terbit di CV Gunung Kemukus garapan H. Zubir Mukti serta Sabotase di Bulan (1987) dan Pengkhianat dari Planet Venturion (1987) yang diterbitkan Pustaka Utama Grafiti karya Lia Cyntia. Dari tiga nama yang disebutkan, Djokolelono menulis lebih banyak novel fiksi sains dibandingkan H. Zubir Mukti dan Lia Cyntia. Mengacu pada data penulis Goodreads, terdapat 12 judul prosa fiksi sains yang diproduksi Djokolelono. Pustaka Jaya dan Gramedia menjadi penerbit setia fiksi sains Djokolelono, mulai 1976 hingga 2018. Sementara itu, H. Zubir Mukti dan Lia Cyntia tampaknya tidak lagi menerbitkan judul fiksi sains atau mungkin belum terdeteksi.[20] Dominasi jumlah fiksi sains yang ditulis Djokolelono kemudian menjadi salah satu dasar anggapan bahwa ia adalah pelopor fiksi sains Indonesia. Secara kepengarangan, status tersebut masih dapat dinegosiasikan dengan penulis lain tanpa harus terpaku pada masa sebelum tahun 2000 dan/atau tanpa harus berbentuk novel.

Meski hadir sebagai arus yang relatif baru, novel-novel fiksi sains sebelum 2000-an tidak pernah menjadi poros fenomena sastra di masa itu. Hal ini dapat dikonfirmasi dengan kritik. S. Takdir Alisjahbana yang sempat mempertanyakan apakah roman dan science fiction layak disebut sastra atau tidak sembari mengisahkan pengalamannya saat mendengarkan ceramah sastra di University of California, Berkeley, bahwa fiksi sains tidak ubahnya karya yang tidak berarti.[21] Enam tahun kemudian, Th. Sri Rahayu Prihatmi menulis esai yang mendekati pembicaraan fiksi sains. Namun, fokus Rahayu adalah membedah aspek teoretis tanpa menyediakan ruang pembicaraan bagi karya fantasi maupun fiksi sains yang sudah eksis di Indonesia.[22]

Takdir dan Rahayu mengasingkan fiksi sains yang bibitnya sudah muncul, entah karena kurang futuristik atau menilai fiksi sains tidak akan mampu menampung syarat “realitas sosial” sehingga tidak menarik dibicarakan. Kekosongan kritik atas fiksi sains di masa tersebut bisa jadi adalah biang keladi stagnasi fiksi sains Indonesia di masa sekarang. Sikap Takdir dan Rahayu patut diduga memengaruhi penerbit konvensional di masa itu untuk enggan menerbitkan fiksi sains secara masif karena adanya semacam “fatwa” yang menghakimi fiksi sains sebagai picisan.

Peta fiksi sains Indonesia berubah seiring masuknya teknologi dan internet. Muhammad Rokib mencatat bahwa adopsi teknologi internet oleh sastra Indonesia terjadi pada sekitar 1997–2000 sehingga melahirkan pelbagai terminologi seperti “sastra digital”, “sastra siber”, “sastra elektronik”, dan “sastra internet”.[23] Meski demikian, penetrasi teknologi internet di periode tersebut ternyata tidak lantas melahirkan novel fiksi sains yang beredar di lanskap digital atau internet. Seri novel Supernova karya Dee Lestari dan Area X: Hymne Angkasa Raya karya Eliza V. Handayani, misalnya, tetap terbit secara konvensional tanpa melalui medium internet yang sudah menjadi perbincangan di kalangan sastrawan pada waktu itu.

Sastra Indonesia baru benar-benar mengakrabi ranah internet dan digital ketika Wattpad tersedia secara global dan masuk ke Indonesia pada 2009 yang kemudian disusul masa booming sekitar 2014–2017. Para penulis sastra di Wattpad memunculkan sebuah gelombang baru dalam dunia sastra Indonesia karena banyaknya cerita Wattpad yang dibukukan dan difilmkan.

Dari berbagai karya Wattpad yang terkenal di awal-awal kemunculannya tersebut, sedikit sekali yang mengusung gagasan fiksi sains, khususnya fiksi sains masa depan. Destination: Jakarta 2040 adalah salah satu dari sedikit fiksi sains berlatar masa depan di Wattpad yang berhasil menembus penerbit konvensional.

Selain Destination: Jakarta 2040, novel bergenre fiksi sains berorientasi futuristik masih banyak yang berdiam dalam platform Wattpad–dengan mengesampingkan kualitasnya–antara lain Cybernetica: Embrace The Future karya Daniel Heng, First Footprint on the Moon karya El Celestia, GAIA: Last Hope oleh Kaishiio, dan Android Age oleh AkisIsme. Sayangnya, setelah melakukan pembacaan yang memerahkan mata, karya-karya fiksi sains tersebut sepenuhnya menyerap paradigma fiksi sains Barat. Hal ini terlihat dari penggunaan nama karakter yang berorientasi Barat dan minimnya imaji lokal.

 

Akar Imaji dan Resistensi

Adopsi teknologi internet yang seharusnya menjadi landasan tumbuh suburnya fiksi sains Indonesia berorientasi masa depan ternyata menemui kemacetan di arena penerbitan konvensional akibat pertimbangan profit. Sementara itu, puluhan atau mungkin ratusan karya fiksi sains Indonesia harus berpuas diri hidup di platform digital. Itu pun dengan membawa roh fiksi sains Barat agar tetap menarik pembaca. Fenomena inilah yang membuat fiksi sains Indonesia enggan mengakses resonansi morfik dari sastra Nusantara.[24]

Penulis fiksi sains Indonesia hari ini terancam gagal menjadi penerima (receiver) imaji dari masa lalu karena mengasingkan khazanah sastra lama sehingga membiarkan ide-ide brilian di masa lalu tetap tak terunduh. Meski demikian, bukan berarti tidak terdapat upaya-upaya resistensi terhadap gelombang fiksi sains Barat bertema masa depan dengan tetap mencoba mengakses akar imaji sastra Nusantara.

 

Antek-Antek Asing

Belakangan ini, algoritma media sosial dipenuhi konten yang memuat diksi “antek-antek asing”. Pada konteks fiksi sains Indonesia, implementasi paradigma fiksi sains Barat yang kemudian meresap dalam fiksi sains Indonesia tentunya juga melahirkan “antek-antek asing”, baik disadari maupun tidak. Kemunculan “antek-antek asing” tersebut dapat diperiksa pada pemilihan dan penggunaan nama tokoh. Pemeriksaan mengenai pemilihan nama karakter untuk dijadikan parameter akar imaji dan resistensi fiksi sains Indonesia merupakan pintu masuk pertama yang perlu dilihat.

Dalam studi onomastika sastra, pemilihan nama karakter oleh penulis seharusnya tidak dilakukan secara serampangan.[25] Ada pertimbangan yang menyertainya dan apabila memang diterapkan dengan sadar serta bertanggung jawab, akan merefleksikan, baik posisi maupun fungsi karakter pada cerita. Di sisi lain, dalam konteks lokal yang bersumber pada khazanah pengetahuan Jawa, terdapat konsep asma kinarya japa.[26] Bagi masyarakat Jawa, nama merupakan doa orang tua yang melekat pada anak seumur hidup. Baik onomastika sastra maupun asma kinarya japa menganggap nama sebagai salah satu instrumen penting kehidupan.

Hujan adalah novel berlatar masa depan tahun 2042–2050 yang paling banyak melibatkan antek asing. Empat nama karakter utama Hujan, yaitu Lail, Esok (Soke Bahtera), Maryam, dan Elijah, merupakan nama-nama tanpa akar lokalitas. Nama Lail adalah nama yang berakar dari bahasa Arab yang berarti malam. Begitu pun nama Maryam yang berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti “wanita yang dimuliakan Allah” atau “pelayan Allah”. Sementara itu, Elijah teridentifikasi berasal dari bahasa Ibrani “Eliyahu” yang merujuk pada salah satu nabi dalam Alkitab, Elia, yang bermakna “Yahweh adalah Allah”. Hanya “Esok” (Soke Bahtera) yang tampaknya memiliki akar lokalitas, tetapi tidak ada deskripsi andal dan bertanggung jawab mengapa Soke Bahtera disebut Esok.

Nama karakter Lail yang berarti “malam” pada dasarnya bersifat netral. Melalui sebuah pengondisian, nuansa malam yang dibawa nama Lail berkonotasi negatif karena berbagai peristiwa menyedihkan. Dalam Hujan, karakter Lail dibangun dengan konstruksi mental yang penuh tragedi. Semua bermula saat dia, ibu, dan ayahnya menjadi korban bencana letusan Gunung Purba.

“Pukul 08.15, gunung purba di belahan benua lain meletus. Suara letusannya terdengar hingga 10.000 kilometer–saking kerasnya, praktis penduduk radius 200 kilometer dari gunung itu langsung tuli seketika sebelum tahu apa yang terjadi. Mereka juga belum menyadari ketulian masing-masing saat satu detik kemudian abu, material vulkanik dengan suhu ribuan celcius, menyembur setinggi 80 kilometer, lantas bergulung menyebar ke bawah, menyapu bersih kehidupan radius 200 kilometer hanya dalam hitungan menit. Tidak bersisa, hangus dipanggang suhu setinggi 5.000 derajat celcius. Abu vulkanik yang berbentuk cendawan hitam bergemuruh mengerikan, menyelimuti sekitarnya.”[27]
“Tubuh ibunya telah jatuh bersama guguran tanah, terseret ke dalam lorong kereta yang ambruk empat puluh meter ke bawah sana.” (28)
“Kota tempat ayahmu bekerja menerima pukulan paling serius. Mustahil ada yang bisa selamat dari hantaman gelombang air setinggi itu.” (46)

Melalui deskripsi penuh teror saat Lail dan ibunya terjebak di kereta bawah tanah bersamaan dengan Gunung Purba yang meletus, seharusnya kesan yang melekat pada nama Lail adalah “situasi mengerikan bagai gelap malam”. Namun, Tere Liye justru melepas konstruksi mental yang telah ia bangun terhadap Lail dengan melekatkan trauma Lail pada hujan. Bahkan, sejak awal novel, kemelekatan Lail dengan hujan muncul dengan tegas. Tepatnya, saat Lail menemui seorang terapis saraf bernama Elijah. Kepada Elijah, Lail berkata: “Aku ingin melupakan hujan.” (9)

Terdapat justifikasi yang menerangkan bahwa sebelumnya Lail memang menyukai hujan. Namun, hujan yang ia senangi ternyata bisa terasa menyakitkan karena ia kehilangan kedua orang tuanya di saat hujan turun. Maka, ia ingin melupakan hujan.

“Lail selalu suka hujan. Dalam hidupnya, seluruh kejadian sedih, seluruh kejadian bahagia, dan seluruh kejadian penting terjadi saat hujan. Pagi ini dia tahu ayahnya telah pergi selama-lamanya ketika hujan abu turun membungkus kota. Bukan hujan air, tapi tetap saja esensinya hujan.” (47)

Terdapat kerancuan pada nama dan kondisi mental Lail yang dihadirkan Tere Liye. Nama karakternya Lail, tapi yang disenanginya adalah hujan. Ketika hujan memberikan kenangan yang menyakitkan, Lail seketika ingin melupakan hujan meski sebenarnya yang menyakitinya adalah hujan abu.

Tere Liye memaksakan keserupaan hujan air dengan hujan abu, padahal esensi keduanya jauh berbeda. Mudahnya, hujan air adalah fenomena cuaca, sedangkan hujan abu adalah fenomena bencana alam. Apabila Hujan memang mengusung narasi fiksi sains berlatar masa depan, seharusnya kerancuan seperti ini tidak terjadi. Nuansa hujan terus dijejalkan kepada Lail tanpa mengacu balik pada peristiwa yang dialami Lail dengan harapan menebalkan efek tragis-melankolis. Sebuah teknik yang klise dan mencederai nama “Lail”. Akibatnya, karakter Lail bukan hanya dilukai oleh Tere Liye dari sisi onomastika, melainkan juga pada eksistensinya.

Dari sekian nama karakter yang disebutkan, terdapat nama Esok (Soke Bahtera) yang tampaknya paling memiliki akar lokalitas. Sayangnya, eksistensi tokoh bernama Esok ini pun tidak disertai landasan etimologis atau pertimbangan yang jelas. Namanya Soke Bahtera, tapi dipanggil Esok yang berarti “hari setelah hari ini” yang di dalam rangkaian peristiwa, minim sekali penjelasan, baik secara eksplisit maupun implisit, terkait posisi Esok sebagai karakter dalam kapasitasnya untuk memengaruhi dunia novel di masa depan. Pemaparan karakter semacam ini tentu bermasalah karena tidak ada koherensi pada tataran pemilihan namanya. Lebih aneh lagi, Soke Bahtera dipanggil Esok hanya oleh keluarganya sendiri. Adapun Lail yang bukan bagian keluarga Soke Bahtera ikut memanggil Esok karena pada pertemuan pertama, Soke Bahtera mengenalkan dirinya sebagai Esok kepada Lail.

“Keluarganya memanggilnya begitu, Esok, dari nama Sok-e … Kamu bukan keluarganya, tapi kenapa kamu memanggilnya, Esok? Maryam bertanya. Lail melotot. Tentu saja dia memanggilnya Esok. Saat pertama kali bertemu, memperkenalkan namanya, dia sudah memanggilnya Esok.” (183)

Di sisi lain, pada Destination: Jakarta 2040, setiap karakter melewati pertimbangan yang relatif lebih baik daripada Hujan. Terdapat dua karakter kakak-beradik bernama Raden Ilyas Aditya dan adiknya, Raden Ajeng Putri Alisya Aditya. Dilihat secara sekilas saja, dengan sematan “Raden” pada nama-nama di atas, bisa dipastikan bahwa keduanya berakar pada kebudayaan lokal. Adanya kata “Raden” menunjukkan bahwa Ilyas dan adiknya memiliki status sosial tinggi. Salah satu buktinya, yaitu rekam jejak akademis Ilyas yang mengenyam studi di Amerika Serikat.

“Di sini, aku belajar membaca lebih dari langit hitam malam yang pekat–Astrofisika–di bawah naungan Columbia University di New York.”[28]

Dalam lanskap budaya Jawa, hanya trah aristokrat Jawa yang boleh menyandang kata “Raden” pada namanya. Sebab, “Raden” bukan sekadar nama, melainkan juga gelar kebangsawanan. Masalahnya, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Ilyas dan Putri merupakan trah bangsawan Jawa. Tampak jelas bahwa penggunaan nama “Raden” yang dilakukan Mashuri untuk menekankan identitas lokal hanya sebatas formalitas.

Di samping upaya resistensi terhadap paradigma Barat yang dilakukan melalui pemilihan nama “Raden”, Mashuri tidak sekadar menempelkan antek asing fiksi sains Barat. Dia melibatkan secara eksklusif orang Barat itu sendiri melalui karakter bernama David.

“I am David from Cosmologist Program Colombia University and I wanna ask you something.” (61)

Tidak tanggung-tanggung, antek asing yang diinjeksikan Mashuri lewat David tidak terbatas pada pemilihan nama atau konsep pemikiran, tetapi juga asal-usul karakter David itu sendiri sekaligus konsistensi penggunaan bahasa Inggris sebagai medium komunikasinya. Meski berasal dari Barat dan dipandang sebagai kiblat kemajuan, David justru diposisikan sebagai asisten pembantu dalam penelitian yang digelar Ilyas; bukan karakter yang menjadi poros pemikiran. Tindakan ini mempertegas gagasan utama Destination: Jakarta 2040 yang mencoba menempatkan Indonesia sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan astronomi dunia pada 2040. Pemosisian karakter dari Barat yang dipinggirkan semacam ini tidak cukup disebut resistensi. Ia sekadar pemutaran poros.

Berbeda dengan Hujan dan Destination: Jakarta 2040, Hitam 2045 merupakan novel fiksi sains berorientasi futuristik dengan tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap fiksi sains Barat dalam hal pemilihan nama. Hampir seluruh nama karakter Hitam 2045 tunduk pada akar lokalitas, termasuk karakter yang bukan manusia. Setiap pertimbangan pemilihan nama karakter juga dilengkapi konfirmasi yang jelas, baik eksplisit maupun implisit. Hanya ada beberapa karakter yang namanya tidak berakar pada lokalitas, tetapi peran karakter dengan nama asing tersebut masih bekerja dengan baik dan terintegrasi dalam kerangka naratif.

Terdapat tiga karakter dengan nama yang secara eksplisit menunjukkan upaya resistensi secara sadar, antara lain Agni, Bimo, dan Dasamuka. Agni adalah karakter utama, Bimo adalah sahabat Agni, dan Dasamuka adalah sebuah entitas artificial general intelligence (AGI). Bersama tiga karakter berakar lokal tersebut, terdapat karakter-karakter lain dengan nama yang memang tidak berakar pada lokalitas, seperti Enisa, bersumber dari bahasa Arab yang berarti “teman baik”; Christine, gadis keturunan China sahabat Agni dan juga Bimo; Saif Al-Azzam, karakter yang tidak pernah ada, berasal dari bahasa Arab yang bermakna “pedang kebulatan tekad”; Batty, robot buatan Enisa.

Agni mendapatkan namanya ketika lahir dari papanya di waktu yang berdekatan dengan peristiwa pemberontakan besar. Kata Agni berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti api dan hal ini disampaikan secara eksplisit.

“Karena itu Papa memberi saya nama Agni, bahasa Sanskerta yang artinya ‘api’. Kamu lahir saat bangsa ini terbakar, penuh kekacauan. Tetapi kamu selamat. Kamu diberi nama ‘api’ supaya justru tahan api sampai seterusnya.”[29]

Papa Agni memberi nama Agni dengan harapan agar Agni memiliki watak dan sikap yang mampu menahan penderitaan. Tindakan papa Agni tersebut merupakan implementasi konsep asma kinarya japa. Hingga kemudian, sepanjang cerita novel Hitam 2045, Agni bersikap sesuai harapan papanya. Meski Agni berwatak introver–berseberangan dengan watak api yang panas sekaligus ekspresif–dan berstatus sebagai kelompok masyarakat Perak–merujuk pada pegawai negeri dan aparat–Agni menemukan bahwa pemerintahan Indonesia dijalankan dengan kebohongan, tetapi berani melakukan konfrontasi sampai dia kehilangan nyawanya sendiri.

Pendekatan yang sama mengenai pemilihan nama juga terlihat pada karakter Bimo. Henry Manampiring menjelaskan Bimo sebagai orang Jawa dengan tepat, memahami sisi etimologisnya, dan memosisikannya sebagai antitesis Agni.

“Bimo, si Jawa hitam keriting dari Sleman … Bimo adalah seseorang yang senang bercanda dan ngerjain orang. Saya cenderung introvert, sebaliknya Bimo bisa membuat seseorang yang baru dikenalnya sebagai teman lama dalam waktu sepuluh menit ….” (20)

Nama Bimo sudah bisa dipastikan berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada salah satu Pandawa Lima. Bimo dalam pewayangan ini digambarkan sebagai sosok supel, berangasan, dan tidak kenal basa-basi. Kepribadian Bimo pada Hitam 2045 dijalankan secara simetris dengan akar lokalitas dari makna nama Bimo itu sendiri. Hal ini terlihat dari sikap Bimo terhadap lagu Tasya Sonita, seorang penyanyi lagu romantis yang mengakhiri hidupnya sendiri.

“So what do you think? Gue hanya denger sekali, apaan sih maunya dia? Dan dia bunuh diri jaraknya deket banget sama dia ditangkap terakhir karena lagu sampah itu ….” (61)

Detail yang lebih dalam mengenai dasar pemilihan nama muncul pada karakter AGI (selanjutnya kita sebut saja AI) bernama Dasamuka. Pemilihan nama Dasamuka pada sebuah kecerdasan buatan yang mampu mengawasi secara real-time berbagai aktivitas digital merupakan hasil dari pertimbangan yang cukup mendalam. Kalau dirunut dari akar lokalitasnya, nama Dasamuka berakar erat pada epos Ramayana. Dasamuka adalah nama dari wujud tiwikrama Rahwana, entitas setengah dewa yang memiliki sepuluh wajah dan sepuluh pasang mata. Atas pertimbangan tersebut, Manampiring menamai AI tersebut dengan nama Dasamuka. Pemilihan nama Dasamuka juga memperlihatkan bahwa Manampiring memahami waktu bekerja secara siklik. Dasamuka digunakan bukan sebatas label identitas, melainkan proyeksi dari masa lalu yang tetap relevan di masa depan.

“… Karena inilah Dasamuka awalnya diciptakan, untuk mengawasi arus komunikasi kelompok-kelompok anti Pancasila di zona saiber. Terinspirasi dari tokoh pewayangan Rahwana yang juga dikenal sebagai Prabu Dasamuka, nama tersebut diberikan untuk kecerdasan buatan luar biasa karya putra bangsa. Dasamuka mampu memonitor seluruh jaringan saiber di Indonesia, memblokir semua pengaruh buruk dari luar, dan bertugas mendeteksi dan mencegah aksi terorisme, baik online maupun nyata. Dasamuka sepenuhnya berjalan otomatis, dengan campur tangan manusia yang sangat minimal. 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 364 hari setahun, tanpa lelah, tanpa perlu cuti, tanpa sakit, ia menjaga Republik ini bersama Golongan Emas dan Perak.” (29)

Dalam tinjauan onomastika, antek-antek asing pada Hitam 2045 muncul pada karakter Enisa, Christine, Saif Al-Azzam, dan Batty. Sayangnya, tidak ada penjelasan eksplisit atau implisit mengenai motif pemilihan nama Enisa dan Christine. Sementara itu, untuk nama Batty, yang merupakan robot buatan Enisa, diberi nama seperti itu karena Enisa menggemari film Batman. Adapun antek asing lainnya bernama Saif Al-Azzam, karakter yang tidak pernah eksis di Hitam 2045. Ia hanya hantu yang diciptakan pemerintah Indonesia demi menjaga persatuan dengan metode menciptakan musuh bersama. Pemilihan nama Saif Al-Azzam, dari bahasa Arab yang artinya pedang kebulatan tekad, tampak sekali didasarkan pada dimensi historis bangsa Indonesia yang memiliki trauma terhadap aksi-aksi radikal sekelompok oknum bercorak Arab.

Ada satu lagi karakter yang menarik untuk diamati, yaitu karakter Hitam. Hitam bukan manusia, robot, atau AI. Hitam adalah nama yang disematkan pada sebuah buku catatan yang ditemukan Agni. Diberi nama Hitam karena warnanya hitam. Hitam adalah novel Hitam 2045 itu sendiri, sebab Hitam 2045 ditulis dengan teknik catatan harian. Agni secara aktif menyebut nama Hitam ketika menuliskan pengalamannya. Ia mengakrabi buku catatan manual tersebut meski Hitam adalah sebuah benda dan merupakan karakter pasif.

Apabila Hujan, Destination: Jakarta 2040, dan Hitam 2045 dihadapkan pada teks-teks sastra Nusantara, tentu kehadiran antek-antek asing lebih banyak muncul pada fiksi sains Indonesia modern. Dari tiga teks sastra Nusantara yang dijadikan pijakan, yaitu Hikayat Indraputra, Babad Pajang, dan Serat Jangka Jayabaya, hanya Hikayat Indraputra yang memuat unsur-unsur antek asing, tetapi bukan dalam konteks antek asing Barat. Sementara itu, Babad Pajang dan Jangka Jayabaya menerapkan onomastika sastra secara lokal.

Dalam Hikayat Indraputra, antek asing yang teridentifikasi dengan nama-nama tidak lazim lebih mengacu pada paradigma fiksi Arab atau cangkokan ide dari basis akar yang lebih jauh dari alam budaya Melayu, misalnya nama Gur Akas, Tamar Boga, Tamar Jalis, Gohar Hinis, dan Bahrum Tabut. Dari nama-nama karakter pada Hikayat Indraputra yang disebutkan, pelacakan yang dilakukan tidak berhasil menemukan asal-usul atau sumber bahasa nama yang dimaksud. Satu-satunya yang berhasil ditemukan adalah kata “tamar” yang berasal dari bahasa Arab, bermakna kurma.

 

Instrumen Penanda Masa

Fiksi sains berorientasi masa depan dapat dirasakan dari instrumen-instrumen yang melampaui batas pemahaman manusia di masa penulisan. Instrumen yang dimaksud meliputi peristiwa sebagai wacana yang menentang nalar dan instrumen asing yang hanya bisa terwujud di masa mendatang. Meski demikian, fiksi sains berorientasi futuristik tidak harus selalu menghadirkan narasi kemajuan dengan iluminasi pengetahuan Barat, sebab masa depan bisa saja hadir secara destruktif, berupa kemunduran peradaban, atau berakar pada peradaban Timur.

Bagi fiksi sains modern berlatar masa depan, instrumen-instrumen kecanggihan harus direspons secara konsisten dan inheren dengan dunia yang diimajikan untuk menegaskan kedudukannya. Teknik semacam itu tidak berlaku pada karya-karya sastra Nusantara seperti Hikayat Indraputra, Babad Pajang, dan Serat Jangka Jayabaya yang melekatkan instrumen penanda masa depan dengan tetap berada di dimensi waktu masa penulisan. Apabila mendekati tiga teks sastra Nusantara di atas dengan presentisme, maka yang muncul adalah anggapan bahwa sastra Nusantara di masa lalu telah meramalkan teknologi atau peristiwa hari ini. Hasil yang berbeda akan muncul ketika menggunakan pendekatan mythologerm, bahwa hal-hal yang tidak masuk akal di masa lampau, yang kemudian diasosiasikan sebagai nubuat untuk masa depan, merupakan instrumen keniscayaan lintas waktu ketika membebaskan diri dari paradigma fiksi sains Barat.

“Jaman kalabendhu dibukani gara-gara bumi gonjing gunung ketuk, gara molak-malik, udan salah mangsa, kilat thathit liliwera, bandhang, sumber-sumber padha sat, udan awor lahar….”[30]

Serat Jangka Jayabaya pertama kali dihimpun ke dalam sebuah kitab berjudul Kitab Musarar oleh Sunan Giri Prapen pada 1618. Bagi penulis Serat Jangka Jayabaya, masa depan, kapan pun tahunnya, adalah sebuah distopia dan selalu diawali dengan bencana alam yang terjadi silih berganti.

Dalam hal ini, novel Hujan mengawali kisah dengan resonansi yang menyerupai nubuat Serat Jangka Jayabaya. Di suatu tempat, di tahun 2042–2050, terjadi letusan Gunung Purba yang kekuatannya melebihi kekuatan letusan Krakatau dan Tambora. Gambaran kengerian bencana alam serta krisis iklim yang menyertai disajikan dengan penuh tenaga, tetapi berakhir sia-sia.

Instrumen penanda berupa peristiwa destruktif yang distopian memang berhasil tersampaikan, tetapi banyak instrumen penanda masa depan berupa teknologi yang dihadirkan Hujan berakhir sebagai ornamen kosmetik belaka tanpa internalisasi ke tingkat wacana. Beberapa teknologi kosmetik dalam Hujan, antara lain layar sentuh di lengan, kamera terbang seukuran kumbang, anting logam multifungsi, mesin cetak pakaian dan bangunan tiga dimensi, serta mobil terbang dan kendaraan nirawak. Jangankan internalisasi ke tingkat semesta cerita, teknologi-teknologi di atas disebutkan sepintas lalu tanpa adanya penamaan atau identifikasi khusus yang bisa digunakan sebagai rujukan. Hal ini makin menegaskan bahwa elemen fiksi sains dalam Hujan sekadar hiasan.

Selain itu, dalam Hujan, emosi manusia ditampilkan secara dominan sembari melepaskan diri dari gambar besar bagaimana masa depan berwujud. Segala instrumen fiksi sains yang disebutkan dalam Hujan berakhir pada penyebutan, sedangkan cerita dibatasi pada kisah cinta Lail tanpa pendalaman secara berimbang terhadap karakter yang lain.

“Urusan perasaan ini, sejak zaman prasejarah hingga bumi hampir punah, tetap saja demikian polanya.” (172)

Lail ditempatkan sebagai subjek yang terpisah dari zamannya. Bukan hanya Lail, hampir semua karakter dalam Hujan dibiarkan berjarak dengan masa waktu kehidupan mereka. Wujud masa depan sekadar dimiliki oleh Esok yang pada dasarnya memang seorang ilmuwan.

“Lail tidak terlalu familier dengan teknologi. Dia lebih suka cara biasa. Esok yang sangat menyukainya. Esok tenggelam dalam berbagai proyek mesin. Dia amat genius.” (96)

Novel Hujan bisa menjadi sebuah konfirmasi bagi nubuat Serat Jangka Jayabaya terkait kritik ekologis. Di permukaan memang membawakan wacana krisis iklim, tetapi dalam praktiknya justru tereduksi pada kisah cinta menye-menye. Instrumen penanda masa menjadi omon-omon. Ketika novel selesai dibaca, refleksi-refleksi tentang kemajuan masa depan atau gambaran krisis iklim musnah begitu saja.

Hujan gagal mengejawantahkan instrumen penanda masa depan. Praktik kepengarangan pada Hujan memperlihatkan bagaimana fiksi sains yang berada di domain sastra pop berakhir sebagai komodifikasi belaka; direduksi menjadi latar teatrikal novel romansa, alih-alih dirajut sebagai nalar saintifik.

Kondisi berbeda dapat ditemui pada Destination: Jakarta 2040 dan Hitam 2045 yang menunjukkan kedalaman pemahaman atas instrumen penanda masa depan, misalnya terkait instrumen transportasi. Ketika Destination: Jakarta 2040 dan Hitam 2045 dihadapkan dengan Babad Pajang dan Hikayat Indraputra, terdapat sebuah kesinambungan terkait pemahaman mengenai instrumen masa depan.

“… nulya sang nata aken akarya, layangan ingkang agedhe, pitungdhepa gengipun, mawi kurung panggenaneki, ki Jaka Prabangkara sapirantenipun, pinanci sasangunira, kuneng laminira samana wus dadi, layangan langkung pelak.”[31]

Babad Pajang ditulis secara anonim pada 1748. Di masa itu, hanya ada dua moda transportasi, yakni darat dan laut. Namun, Babad Pajang menampilkan adanya transportasi udara berupa layang-layang yang dilengkapi dengan sebuah ruang untuk ditempati seorang penumpang, Jaka Prabangkara. Dari perspektif mythologerm, Babad Pajang menghadirkan fiksi sains berbasis pengetahuan lokal di masa itu melalui instrumen layang-layang dan sebuah gagasan dari penulisnya, “sepertinya layang-layang bisa dinaiki kalau ukurannya lebih besar”. Hal yang serupa juga terjadi pada Hikayat Indraputra yang ditulis lebih awal dibandingkan Babad Pajang.

“Maka Indraputrapun naiklah ke atas lancang itu, maka berkisarlah jentera lancang itu sendirinya. Maka segala pegawai lancang itupun bergerak sendirinya. Maka segala dayung dan pengayuh lancang itu semuanya berdayung dan berkayuh sendirinya, maka lancang itupun lajulah.”[32]

Lancang (kapal layar) yang dinaiki Indraputra dapat bergerak dengan sendirinya berkat teknologi automasi yang memanfaatkan jentera (roda kincir) dan pesawat (tali). Lebih dari itu, instrumen penanda masa depan dalam Hikayat Indraputra cenderung lebih kaya dibandingkan Babad Pajang. Sebab, di Hikayat Indraputra terdapat entitas-entitas asing yang karakteristiknya menyerupai robot yang disebut hikmat–sebuah keajaiban gaib. Beberapa di antaranya, yaitu Merak Emas yang dapat berpantun berseloka, Gajah Besi yang gadingnya terbuat dari kristal, dan Harimau Paduan Logam yang tubuhnya tersusun dari tembaga.

Apabila Babad Pajang dan Hikayat Indraputra menghadirkan sebuah penanda masa depan berupa moda transportasi dalam teks masa lampau dengan detail bahasa yang dipahami audiens masa lalu, Destination: Jakarta 2040 dan Hitam 2045 memosisikan moda transportasi canggih dan hikmat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masa depan melalui detail yang memang telah disesuaikan dengan kondisi latar waktu.

Dalam Destination: Jakarta 2040, pada 2015, pesawat yang dikendarai Ilyas dalam perjalanan menuju Jakarta secara tidak sengaja melompati waktu setelah memasuki lubang cacing berbentuk anomali awan hitam yang disertai sambaran petir dan turbulensi besar. Beruntungnya, tidak ada kemalangan yang menimpa Ilyas beserta seluruh penumpang pesawat. Pada akhirnya, pesawat berhasil mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan mulus. Pesawat memang mendarat di bandara yang dituju, tapi di tahun 2040.

Terjadinya lompatan waktu tersebut yang menjadi gagasan utama Destination: Jakarta 2040. Sepanjang jalannya cerita, Ilyas, dibantu oleh karakter-karakter lain, berusaha kembali ke tahun 2015, bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk seluruh penumpang yang terdampar di tahun 2040. Caranya adalah dengan mengulangi peristiwa lubang cacing pada pesawat yang ditumpanginya. Maka, Ilyas memimpin proyek pembuatan instrumen lubang cacing bernama spacet-cloud.

“Proyek utama adalah membuat spacet-cloud atau transversable wormhole berukuran sebuah pesawat buatan Boeing dengan jenis B777-300ER yang dapat berputar di atas kecepatan cahaya, agar mengalami dilatasi waktu yang ekstrem atau bergerak mundur.” (167)

Ilyas tidak menciptakan pesawat, tetapi menciptakan sebuah instrumen yang diberi nama spacet-cloud, transportasi lintas waktu berupa lubang cacing yang memungkinkannya dan para pengungsi dari masa lalu pulang ke tahun 2015. Adapun secara tampilan, spacet-cloud terlihat mengadopsi imaji Barat.

“Kemudian aku melongok ke atas agar bisa melihat sebuah cincin raksasa secara keseluruhan. Benda ini berdiameter lebih dari setengah ukuran Boeing 777-300ER yang ukurannya sangat masif.” (175)

Destination: Jakarta 2040 membawa imaji fiksi sains Barat yang lebih kental dibandingkan Hujan. Seolah-olah, secara sengaja, Destination: Jakarta 2040 memang ditulis menggunakan paradigma Barat meski latarnya Indonesia. Mashuri yang menggunakan istilah-istilah ilmiah Barat dan teratur menerapkan dialog-dialog berbahasa Inggris memperkuat identifikasi pada Destination: Jakarta 2040 sebagai fiksi sains Indonesia yang masih mengacu fiksi sains Barat meski malu-malu.

Upaya resistensi lain yang dicoba dihadirkan, yaitu memosisikan Indonesia sebagai poros utama perkembangan ilmu pengetahuan fisika dunia. Mashuri menawarkan gagasan utopis Indonesia pada 2040 bahwa negara lain punya ketergantungan tertentu pada Indonesia.

“Bisa jadi, setelah talkshow ini, seluruh astrofisikawan dan fisikawan di seluruh dunia datang ke Indonesia dan bergabung …” (91)
“Dengan menggunting pita ini, maka proyek terbesar dalam sejarah Indonesia, fisika, dan dunia dimulai.” (168)

Masalahnya, meski Indonesia ditempatkan sebagai pusat peristiwa, hal tersebut tidak tepat disebut sebagai resistensi terhadap paradigma Barat karena tidak ditunjang instrumen lokalitas yang cukup di tataran konsep. Lebih tepat disebut asumsi masa depan.

Daya resistensi yang kuat dalam konteks instrumen penanda masa muncul secara dominan pada novel Hitam 2045. Manampiring cukup berhasil dalam mengolah tegangan paradigma fiksi sains dengan unsur-unsur lokalitas, mulai dari penggunaan diksi hingga sistem politik, yang memang berakar dari dalam diri khazanah sastra Nusantara.

“Kami menumpang mobil yang dikendarai sendiri oleh Pak Waskito. Entah mengapa ia mematikan fitur swakendara …” (74)

Manampiring secara konsisten menggunakan diksi “swakendara” untuk menyampaikan teknologi mobil autopilot. Keputusan ini memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia bisa digunakan untuk mereferensikan teknologi di masa depan tanpa terus meminjam istilah dari bahasa asing. Selain itu, Manampiring membangun dunia masa depan di Indonesia yang didominasi alam digital dengan internalisasi konsep epistemologi digital ke dalam lanskap kebahasaan Indonesia sehingga melahirkan istilah-istilah baru. Hasilnya, pada 2045, Indonesia memiliki platform-platform digital secara independen; menggantikan X (Twitter) dengan Cuit Taruna, Instagram dengan Tarunagram, dan Youtube dengan TarunaTube.

Bukan hanya menginternalisasi paradigma fiksi sains Barat dalam konteks teknologi, Hitam 2045 juga mengunduh gagasan-gagasan teks sastra Nusantara yang terhimpun di “awan morfik” dan menggunakannya dengan tepat. Dalam hal ini, data yang diunduh Manampiring berasal dari Serat Jangka Jayabaya.

“… dening praja ingkang ngasta kum apus, kang tan welas mring kawula, ratu nakoda mbeg juti.”[33]

Jayabaya meramalkan bahwa di masa depan para pemimpin memimpin dengan kebohongan, manipulasi, kekejaman, dan kecurangan. Rakyat hanya dipandang sebagai angka-angka dan objek, bukan subjek yang berhak atas dirinya sendiri. Ramalan tersebut terwujud di dalam Hitam 2045 dengan situasi yang problematis.

Pada 2045, Indonesia telah menjadi negara adidaya. Meski terjadi gejolak politik, apabila dilihat dari sisi pengetahuan dan inovasi teknologi, Indonesia telah sepenuhnya berdikari. Hal ini tampak dari lahirnya AI yang diberi nama Dasamuka untuk mengawasi segala aktivitas digital di Indonesia dan kelahiran teori Einstein-Rosen-Wowor yang menjadi dasar penciptaan lubang cacing dalam rangka ekspedisi ke Saturnus. Semua itu terjadi di masa kepemimpinan Presiden Aryo Adhitya.

Jika disejajarkan dengan Serat Jangka Jayabaya, sosok Presiden Aryo Adhitya bagaikan Herucakra yang terlahir kembali. Seorang Ratu Adil yang membersihkan kejahatan dan membawa masuk zaman keemasan. Namun, di tengah masa jabatannya, Presiden Aryo Adhitya mangkat dan kematiannya tidak pernah diumumkan secara publik demi menjaga stabilitas negara. Berdekatan dengan peristiwa kematian Presiden Aryo Adhitya, AI bernama Dasamuka yang telah berevolusi menjadi AGI menggantikan posisi Presiden Aryo Adhitya.

“Dari sekadar ratusan juta coding line yang tugasnya hanya mengawasi konten saiber, Dasamuka tiba-tiba tersadar, menjadi self-aware, menjadi entitas yang berpikir sendiri. Dari sekadar Artificial Intelligence, ia berevolusi menjadi AGI. Artificial General Intelligence.” (511)

Pada bagian inilah Manampiring menawarkan pembacaan terhadap masa depan yang kompleks, yakni ketika entitas AI diamanati menjadi pemimpin negara. Selama Dasamuka mengambil alih kekuasaan, Indonesia memang mengalami masa keemasan dan persatuan yang belum pernah dijumpai sebelumnya berkat adanya musuh bersama yang diciptakan Saif Al-Azzam dan tindakan preventif ekstrem yang dijalankan Dasamuka atas nama Presiden Aryo Adhitya terhadap setiap indikasi gerakan atau pemikiran subversif.

Dasamuka menjalankan pemerintahan negara berlandaskan hitungan untung-rugi dengan keyakinan bahwa tidak masalah mengorbankan satu nyawa demi menyelamatkan seribu nyawa. Bahkan, dia mengatakan bahwa salah satu penghambat kemajuan Indonesia adalah sifat emosional.

“… Analisa saya adalah seiring bertambahnya usia, manusia menjadi merenungkan perbuatan masa lalunya. Ada penyesalan. Fitur yang sangat tidak efisien dari spesies kalian.” (521)

Hitam 2045 menampilkan masa depan yang ideal sekaligus tidak ideal. Rasa aman dibangun di atas kepalsuan dan setiap ekspresi yang menunjukkan ketidaksepakatan dengan rezim dinilai sebagai ancaman. Melalui konstruksi masa depan yang saling bertaut dan dilengkapi instrumen-instrumen penanda masa yang tepat guna, Manampiring menunjukkan kekerdilan manusia bahwa kemajuan teknologi akan mengurung ekspresi manusia serta mematikan rasa kemanusiaan. Bahkan, sebagai individu yang merdeka dan mampu berpikir, manusia akan mengalami kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pada 2045, kebenaran adalah hak prerogatif penguasa.

 

Nubuat dari Masa Depan

Karya-karya sastra Nusantara seperti Hikayat Indraputra, Babad Pajang, dan Serat Jangka Jayabaya tidak terjebak dalam kebingungan mengenai konsep waktu yang diterjemahkan ke dalam bentuk masa lalu, masa kini, atau masa depan. Sebab, instrumen penanda masa depan diunduh dari memori kolektif di awan untuk dipersepsikan sebagai satuan probabilitas yang menggunakan pemahaman masa lalu. Pada titik inilah imaji bekerja dan melahirkan nubuat-nubuat karena, ing tembe mburi, masa depan sudah hadir di masa lalu sebagai proyeksi atas konsekuensi terwujudnya sebuah gagasan atau tindakan. Namun, bagaimana jika nubuat justru berasal dari masa depan?

Mari bermain asumsi. Fiksi sains berorientasi masa depan ditulis bukan untuk kita saja, melainkan untuk pembaca di masa depan yang memang dideskripsikan. Bagi kita yang hidup sebelum masa depan yang dimaksud, membaca fiksi sains tidak ubahnya mengintip bagaimana bentuk dunia di masa depan dari pecahan informasi imaji para penulisnya. Jika demikian, berarti fiksi sains bisa dikatakan sebagai nubuat yang bersumber dari masa depan yang datanya diunduh terlebih dahulu oleh para penulis untuk dihadirkan di masa kini.

Akar imaji waktu fiksi sains Barat yang bekerja secara linier, seiring dengan penemuan di bidang kuantum, tertabrak keresahan realitas, bahwa waktu rupanya bukan objek yang bersifat mutlak. Pada kasus fiksi sains Indonesia berlatar masa depan, apabila menganut pada selera pasar dan paham linieritas waktu, maka yang muncul adalah teknik penceritaan yang sekadar memainkan alur maju dan alur mundur seperti terjadi dalam novel Hujan. Di sisi lain, ketika penulis telah memahami kompleksitas serta relativitas yang meresap pada mythologerm, kalpavigyan, serta ing tembe mburi, kausalitas dan instrumen penanda masa dioperasikan untuk menambah daya kejut serta kompleksitas cerita, seperti yang disajikan Destination: Jakarta 2040 dan Hitam 2045.

Hujan, Destination: Jakarta 2040, dan Hitam 2045 memilih latar waktu masa depan hampir serupa. Peristiwa di dalam Hujan berlangsung pada 2042–2050; Destination: Jakarta 2040 terjadi pada dua waktu yang terpisah, 2015 dan 2040, dengan anomali titik waktu terjauh di 2069; Hitam 2045 terjadi di rentang 2024–2045. Tatkala kronotop novel-novel tersebut dibentangkan, ketiganya tampak terobsesi pada masa depan di sekitar 2040–2045 dan masing-masing menawarkan citra masa depan yang berbeda.

Pada 2040, Ilyas mendarat di Bandara Soekarno-Hatta setelah tidak sengaja melakukan perjalanan lintas waktu dari tahun 2015. Di belahan dunia yang tidak disebutkan lokasi persisnya, dua tahun kemudian, pada 2042, Lail terpaksa merelakan kematian kedua orang tuanya akibat letusan besar Gunung Purba. Kemudian, pada 2045, Christine mengetahui fakta mengerikan di balik hilangnya Agni bahwa selama dua puluh tahun Indonesia dipimpin oleh AI.

Hujan dan Destination: Jakarta 2040 tidak menjelaskan motif di balik pemilihan tahun-tahun tersebut. Hanya Hitam 2045 yang mengungkap alasan pemilihan 2045 sebagai latar waktu masa depan, yakni atas pertimbangan usia ke-100 Indonesia. Pada dasarnya, penulis fiksi sains berlatar masa depan bebas memilih tahun berapa mereka akan membangun cerita atau bahkan sah-sah saja tidak menyertakan tahun. Namun, kalau sudah menyebutkan latar waktu, tetapi tidak disertai motif di balik pemilihan angka tahun yang disajikan, yang dihasilkan hanya fiksi sains dengan latar masa depan yang mentah. Cerita dibuat untuk memenuhi ego probabilitas suka-suka tanpa landasan empiris.

Tere Liye menulis Hujan dengan tunduk pada sifat waktu yang linear. Waktu, bagi Tere Liye, dipahami sebagai alur. Sepanjang novel, Lail tidak pernah beranjak dari Pusat Terapi Saraf tempat ia ingin melupakan hujan. Peristiwa letusan Gunung Purba, kehidupan di pengungsian, cuaca bumi yang tidak menentu, hingga perjumpaannya dengan Soke hanya terjadi dalam kilas balik ingatannya selama tinggal di Pusat Terapi Saraf. Fisik Lail berada di tahun 2050, tetapi ingatannya menjangkau masa lalu pada momen-momen yang dianggap penting. Tere Liye mengaktualisasikan waktu pada prinsip-prinsip alur: alur maju dan alur mundur. Itu pun dengan mengandalkan teknik pemanggilan memori untuk menegaskan bahwa Hujan dilengkapi fitur alur campuran. Sementara itu, dalam Hujan, selain Lail, tidak ada karakter yang memiliki keistimewaan menjelajahi masa lalu.

Destination: Jakarta 2040 melibatkan waktu bukan semata-mata untuk menghadirkan alur maju atau alur mundur, melainkan sebagai sesuatu yang dapat dipelajari dan dieksplorasi tanpa dikotomi masa lalu, masa kini, atau masa depan. Lail, di dalam Hujan, adalah satu-satunya karakter yang memiliki otoritas akses masa lalu. Sementara itu, Ilyas, dalam Destination: Jakarta 2040, bukan satu-satunya karakter yang melintasi waktu dan pulang ke masa lalu secara fisik. Sebab, ada para penumpang pesawat. Namun, pengalaman Ilyas pada 2040 mengalami rekonstruksi di ruang rawat inap rumah sakit jiwa.

Ilyas berhasil kembali ke tahun 2015 berkat spacet-cloud. Namun, terdapat perbedaan dalam proses melintasi waktu yang dialami Ilyas. Ketika Ilyas melompat ke masa depan, tidak ada detail bagaimana proses terjadinya lompatan tersebut. Semuanya terjadi begitu saja. Pesawat masuk ke awan hitam, terjadi benturan petir dan turbulensi. Setelah awan hitam dilewati, pesawat tiba begitu saja di tahun 2040. Namun, dalam proses pembalikan menuju tahun 2015, terdapat serangkaian detail yang lebih rinci dan menyakitkan.

“Tubuh pesawat perlahan pecah menjadi debu. Semua manusia, kursi, koper, tas, mesin pesawat, dan semua di pesawat besar ini hancur menjadi debu-debu yang bergerak mengikuti pergerakan kegelapan menuju satu arah. Sepertinya kegelapan itu sendiri yang perlahan menghancurkan kami semua …” (240)

Setelah peristiwa tersebut, sampailah Ilyas di tahun 2015. Bukan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, melainkan di ranjang rumah sakit jiwa. Pada momen tersebut, Ilyas mengalami krisis eksistensial parah meski setidaknya menyelamatkannya dari masalah paradoks kakek saat melintasi waktu.

Mashuri menempatkan waktu sebagai pengalaman unik yang bersifat personal. Tidak ada lagi masalah kebingungan paradoks kakek atau semesta cabang. Sebab, bagi Ilyas–yang terbangun di ruang rawat inap rumah sakit jiwa–masa depan hanyalah ilusi. Namun, krisis eksistensi yang dialami Ilyas terkait benar-tidaknya pengalamannya di 2040 justru diperparah oleh datangnya seorang pemuda asing yang ternyata adalah keturunan kelimanya, cicit dari cicitnya, yang berkat dasar-dasar pengetahuan Ilyas, mampu mewujudkan ide keterwujudan manusia di atas kesadaran tiga dimensi.

“Bukan, tapi aku yang membuatmu pergi ke 2040 …” (252)
“Dia mendekatiku dan memelukku erat, sangat erat. ‘Setidaknya ini bisa memberikan kenyamanan bagimu, Kakek.’” (253)

Ilyas semakin kesulitan memahami batas-batas realitas ketika mendapati bahwa keturunannya tersebut mensponsori perjalanan lintas waktunya ke tahun 2040 atas perintah dirinya sendiri. Kemudian, keturunan itu menyerahkan sebuah surat yang ditulis Ilyas pada 2069. Pada bagian ini, muncul keretakan yang membuat struktur logika yang sebenarnya sudah terbangun rapi menjadi berantakan.

Sesaat setelah menerima kertas dari keturunannya, tanpa dasar yang jelas, mendadak Ilyas menebak bahwa kertas yang ia terima tersebut adalah surat wasiat.

“‘Surat wasiat? Ini adalah surat wasiatku?’ Sangat aneh saat memegang suatu surat hasil tulisan tangan diriku yang sedang meregang nyawa.” (253)

Teks di atas penuh kejanggalan. Cicit dari cicitnya hanya memberikan kertas. Ilyas yang kegirangan mengatakan bahwa kertas itu adalah surat wasiat. Belum sampai mendapat konfirmasi, Ilyas tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya sedang meregang nyawa. Cicit dari cicitnya kemudian hanya merespon: “Iya, buka saja.”

Dialog yang tidak dibarengi motif malah menimbulkan semacam dugaan, jangan-jangan mereka berdua sama-sama pasien rumah sakit jiwa.

Kehadiran teks di atas seharusnya dibarengi dengan serangkaian informasi yang relevan, tapi nyatanya tidak. Teks tersebut makjegagik, muncul begitu saja. Tidak memperkuat gejala fiksi sains, tetapi malah mendistorsi konsep waktu dengan ketidakstabilan mental Ilyas.

Surat itu ditujukan Ilyas kepada keturunannya disertai instruksi untuk menjadikan dirinya di masa muda sebagai kelinci percobaan. Isi surat menyatakan bahwa keturunannya harus menghancurkan teori relativitas khusus dan menciptakan tachyon, semacam partikel hipotesis yang dipercaya dapat melaju melebihi kecepatan cahaya, supaya dapat menembus waktu. Namun, secara bersamaan, isi surat juga mengonfirmasi bahwa perjalanan lintas waktu sudah dimungkinkan. Terdapat inkonsistensi yang halus di dalam surat.

“… kamu pasti membutuhkan suatu hal yang bisa membawa sebuah paket spesial yang bisa menembus waktu. Dan itu hanyalah tachyon.” (255)

Kemunculan cicit dari cicit Ilyas dan surat sebagai instrumen penanda lintas waktu memberi efek kejut yang tidak hanya meruntuhkan linieritas waktu, tetapi juga menegaskan berlakunya konsep ing tembe mburi yang mempertautkan masa depan serta masa lalu pada satu titik ilusi waktu meski penerapannya menyisakan cukup banyak lubang. Pendekatan yang dilakukan Mashuri pada akhirnya meninggalkan pertanyaan: Mana Ilyas yang asli? Mana waktu yang dapat dipercaya? Terdapat tiga Ilyas di tiga waktu yang berbeda yang anehnya tidak saling mengunci takdir. Lebih dari itu, apakah mental Ilyas baik-baik saja? Permainan waktu dipamerkan Mashuri. Dan di bagian akhir, terdapat ambiguitas yang hampir membatalkan logika perjalanan lintas waktu.

Permainan konsep waktu juga dipresentasikan Manampiring dalam Hitam 2045. Teknik yang diterapkan berbeda. Tidak sedangkal Hujan, tetapi di saat yang bersamaan, tidak serumit Destination: Jakarta 2040. Waktu dimainkan dengan mengalir tanpa terjebak pada konsep-konsep teori fisika. Permainan waktu berada di tataran aksiologis yang berimplikasi pada perombakan batas-batas realitas dari jutaan kemungkinan.

Dari segi teknik penceritaan, saat membaca Hitam 2045, pembaca bukan berada dalam posisi melihat dunia yang dialami Agni, melainkan dalam posisi membaca kesaksian Agni tentang dunia yang ia jalani. Semua peristiwa yang terjadi bukan peristiwa aktual, melainkan hasil pengendapan pengalaman yang dituliskan. Teknik ini menciptakan efek jeda waktu yang membangun kesangsian: Betulkah Indonesia 2045 menghadapi situasi seperti yang ditulis Agni?

Tampaknya Manampiring menyadari akan adanya pemikiran yang demikian sehingga di bagian konflik hingga akhir cerita ia “menyerahkan” Hitam kepada Christine. Lalu, Christine turut menuliskan pengalamannya sehingga masa depan Indonesia di 2045 mendapat tambahan validasi.

Dalam Hitam 2045, tidak ada karakter yang menyadari bahwa mereka mengalami persinggungan dengan waktu yang telah dimanipulasi, bahkan karakter utama Agni tidak tahu bahwa dirinya yang selamat dari berbagai percobaan pembunuhan yang dijalankan Dasamuka merupakan hasil campur tangan sosok di masa depan. Hanya Dasamuka, yang setelah menghitung jutaan kemungkinan, akhirnya sampai pada simpulan bahwa kegagalannya menghabisi Agni karena peran seseorang di masa depan. Dan seseorang dari masa depan itu adalah salah satu teman Agni, yakni Christine. Beban dendam personal yang sebelumnya dibawa Agni berubah menjadi beban moral peradaban dan berpindah pada Christine karena Agni menyerahkan Hitam kepada Christine.

Selayaknya AI, Dasamuka tidak gelisah saat mengetahui Agni bisa selamat berkat Christine di masa depan. Dasamuka dengan penuh perhitungan akhirnya berhasil menghabisi Agni di istana kepresidenan, lalu mengonfrontasi Christine melalui komputer di kamar Christine. Tujuan Dasamuka saat itu adalah mendapatkan pengetahuan yang dimiliki Christine terkait perjalanan lintas waktu.

Sebelumnya, di tengah proses percobaan generator Einstein-Rosen-Wowor, Christine tidak sengaja menemukan data simulasi mesin yang memungkinkan terjadinya perjalanan lintas waktu. Christine mengingat detail data yang ia temukan dan hanya menyampaikan hasil temuan tersebut kepada atasannya secara lisan. Dia tidak menuliskannya karena takut adanya kebocoran informasi.

“… saat percobaan generator Einstein-Rosen-Wowor di laboratorium berhasil, gue melihat data hasil simulasi mesin itu yang … terlalu mengerikan. Kemudian gue melakukan perhitungan di dalam kepala yang mengonfirmasi ketakutan gue dan karenanya tidak gue masukkan ke dalam catatan elektronik apa pun.” (540)

Manampiring tidak serta-merta memberitahu bahwa ada instrumen lintas waktu yang dilibatkan dalam Hitam 2045. Dalam cerita, seharusnya hanya Christine yang tahu tentang perjalanan lintas waktu. Namun, rupanya Dasamuka juga mengetahuinya meski perlu melakukan perhitungan matematis yang rumit.

Dialog antara Christine dengan Dasamuka bisa dikatakan sebagai peristiwa kunci yang menguatkan posisi Hitam 2045 sebagai fiksi sains berlatar masa depan. Kenyataan terbentur kepalsuan. Kedamaian berdiri di atas pondasi manipulasi. Dan realitas telah terbelokkan karena campur tangan entitas di masa depan. Saat seluruh karakter manusia tidak menyadari dan sebagian menolak, Dasamuka menyatakan dugaannya bahwa masa depan telah bermain-main di masa kini.

“… karena Christine, kamu mengirimkan pesan tersebut dari MASA DEPAN. Tepatnya, kamu mengirimkannya 17 Juli tahun ini, atau tujuh bulan tujuh belas hari sesudah peristiwa malam Tahun Baru.” (544)

Tindakan mengubah masa lalu berimplikasi pada lahirnya realitas alternatif menurut sudut pandang yang mengubah lintasan waktu. Kalkulasi Dasamuka memang memperlihatkan bukti adanya gejala keterlibatan entitas masa depan, tetapi dia tidak bisa membuktikannya. Di sisi lain, Christine dilanda kebingungan, sebab merasa tidak pernah melakukan aksi apa pun yang dapat mengubah garis waktu. Christine tidak menyadari bahwa dirinya telah mengubah masa lalu karena memang faktanya dia tidak melakukannya atau setidaknya belum melakukannya. Namun, di saat yang bersamaan, dia menyadari bahwa hal semacam itu mungkin saja terjadi.

“Sungguh aneh mendengarkan bahwa gue melakukan hal-hal dahsyat tersebut, dan tidak punya memori sama sekali mengenainya. Walau gue gak heran kalau diri gue di garis masa lain melakukan itu.” (549)

Dasamuka terjebak dalam ironi. Sebagai mesin AI, dia memang punya pengetahuan mengenai waktu, tapi tidak punya pemahaman tentang subjektivitas dan relativitas waktu terapan. Dia mungkin bisa melakukan perhitungan atas kalkulasi kemungkinan waktu. Namun, dia hanya akan tunduk pada perhitungan yang sudah hadir di hadapannya.

“Walau sejarah alternatif tidak akan pernah bisa dibuktikan, tetapi hanya ini yang bisa menjelaskan mengapa Agni bisa lolos dari perhitungan sempurna saya.” (546)

Untuk mengatasi kekurangannya dalam pemahaman konsep waktu yang sifatnya begitu terbuka, Dasamuka menuntut Christine menyerahkan pengetahuan perjalanan antarwaktu untuk memastikan kekuasaannya yang meminjam nama Presiden Aryo dapat bertahan selamanya melalui skema tindakan korektif dan preventif ekstrem terhadap setiap benih ancaman yang muncul. Seandainya menolak, Dasamuka tidak segan membunuh Christine. Satu-satunya alasan Dasamuka tidak melakukannya karena pengetahuan lintas waktu hanya ada dalam kepala Christine. Maka, Dasamuka mengambil jalan tengah dengan mengajukan sebuah proposal. Christine diperbolehkan mengirim Hitam ke masa lalu asalkan menuliskan temuannya terkait perjalanan lintas waktu secara digital.

Sayangnya, permainan waktu dalam Hitam 2045 yang sudah epik tersebut tereduksi akibat tempo cerita yang menjadi terlalu cepat setelah Christine menyetujui proposal Dasamuka. Seolah-olah Manampiring tergesa ingin segera menamatkan novel. Akibatnya, meski sedikit, tidak ada ruang kontemplasi bagi Christine untuk menimbang segala kemungkinan akibat pilihannya. Hal ini bertentangan dengan sifat alami Christine. Christine percaya begitu saja bahwa dirinya tidak akan dibunuh Dasamuka setelah menuliskan temuannya, padahal jika Manampiring sedikit lebih bersabar, lalu menginternalisasi paradoks waktu pada karakter Christine yang mengirim Hitam ke masa lampau dengan menambahkan kemungkinan-kemungkinan, cerita akan berakhir dengan tempo yang tepat dan permainan waktu yang dihadirkan semakin kaya.

Di novel Hitam 2045, waktu telah melekat, bukan lagi konsep yang disusun dengan serangkaian teori fisika seperti pada Destination: Jakarta 2040. Setiap paradoks yang timbul akibat manipulasi waktu dikonfigurasikan ke dalam satu garis alur waktu dengan menambahkan faktor-faktor kemungkinan. Keterlibatan versi masa depan Christine tidak mendistorsi cerita dan mengaplikasikan konsep ing tembe mburi dengan mengonfirmasi waktu yang sifatnya siklik. Terkait hal ini, Dasamuka tetap berpegang teguh pada linieritas waktu. Dia menyatakan bahwa masa kini tetaplah masa kini. Mengubah masa lalu tidak akan berdampak pada masa kini. Sebab, perubahan hanya terjadi bagi masa lalu yang diubah dengan lahirnya variasi masa depan yang berbeda.

 

19 Tahun Kemudian

Perkembangan fiksi sains Indonesia berorientasi masa depan tetap seperti di 2026. Apabila fiksi sains adalah rangkaian kereta, fiksi sains berlatar futuristik terpisah ke dalam tiga gerbong: Gerbong pertama berisi fiksi sains yang mutlak berkiblat pada fiksi sains Barat dengan pertimbangan popularitas dan selera pasar, seperti Hujan. Gerbong kedua adalah gerbong yang berisi fiksi sains Indonesia yang merasa canggung. Hendak mengacu pada fiksi sains Barat, tapi masih ingin mempertahankan lokalitas layaknya novel Destination: Jakarta 2040. Gerbong ketiga adalah gerbong yang tampaknya masih cukup banyak tempat, yakni fiksi sains Indonesia yang mengolah akar imaji dari masa sastra Nusantara, seperti Hitam 2045.

Teknologi internet memang membuka ruang hidup yang lebih nyaman bagi fiksi sains, tapi tidak menjamin kedalaman konten di sisi kepengarangan. Penerbit konvensional akan terus berpegang pada hitung-hitungan profit selama fiksi sains berorientasi masa depan tidak mendatangkan keuntungan atau tidak ditulis penulis populer. Tidak ada tempat baginya. Maka, tidak mengherankan jika secara umum fiksi sains lebih mudah hidup dan menemukan pembaca di platform digital. Entah bagaimana nanti di masa depan.

Imaji tentang masa depan dapat ditulis lepas dari zaman mana pun. Penulis fiksi sains Indonesia berorientasi futuristik mengunduh data kemungkinan masa depan di memori kolektif penyimpanan awan, lalu mengekstraknya ke dalam bentuk fiksi dengan modal-modal yang berasal dari masa dia hidup. Sayang sekali, data-data imaji masa depan dari sastra Nusantara di dalam penyimpanan awan juga jarang diunduh. Entah bagaimana nanti di 2045.

Teropong fiksi sains Indonesia berlatar masa depan perlu diarahkan ke Timur, bukan melulu ke Barat. Sudah cukup lama paradigma fiksi sains Indonesia mengagumi imaji kecanggihan teknologi tanpa berpijak pada lokalitas. Apabila teropong terus menghadap Barat dan terpukau pada alien atau pada instrumen kecanggihan Barat tanpa mempertimbangkan khazanah lokal, fiksi sains Indonesia tidak akan memiliki identitas di masa yang akan datang. Namun demikian, bagaimanapun juga, dikotomi Barat dan Timur sudah tidak relevan lagi sehingga pertautan keduanya sebagai sebuah fiksi sains hibrida bisa jadi lebih berkembang, bukan semata-mata menganut satu kutub tertentu, seperti yang ditampilkan Hitam 2045.

Keberadaan teks-teks sastra Nusantara seperti Hikayat Indraputra, Babad Pajang, dan Serat Jangka Jayabaya membuktikan bahwa masa depan dan gejala kecanggihan telah hadir di masa lampau. Hanya saja, keberadaan teks sastra Nusantara tersebut tidak terlalu diminati sehingga fiksi sains Indonesia modern berorientasi futuristik lebih memilih menjadi subhimpunan fiksi sains Barat daripada membangun spekulasi alternatif mandiri yang berakar pada sastra Nusantara. Selama praktik semacam ini terus terjadi, fiksi sains Indonesia tidak akan memiliki daya tawar di arena global.

Demikian nubuat tentang masa depan fiksi sains Indonesia berorientasi futuristik ditulis. Apabila sampai padamu di 2045 atau di tahun yang lebih jauh, maka tulisan ini memang cukup berarti dan layak untuk sampai di masa tersebut. Andai pun tidak sampai, setidaknya sudah tersampaikan di meja para begawan sastra di Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2026.

Adapun yang mungkin lebih penting: Alien benar-benar ada atau tidak?

Esai ini semula berjudul “Nubuat dari Masa Depan: Berlepas Hikayat, Babad, dan Serat” yang merupakan naskah menarik minat juri SKSDKJ 2026.

 

  1. Lihat https://www.war.gov/ufo/, 8 Mei 2026, diakses pada 16 Mei 2026.
  2. Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Hikayat Indraputra: A Malay Romance (Disertasi doktoral, London: School of Oriental and African Studies [SOAS] University of London, 1980), hlm. 280, diakses melalui https://soas-repository.worktribe.com/output/410934/hikayat-indraputra-a-malay-romance.
  3. Baik Adam Roberts dalam The History of Science Fiction, 2nd ed. (London: Palgrave Macmillan, 2016) maupun Fredric Jameson dalam Archaeologies of the Future: The Desire Called Utopia and Other Science Fictions (London: Verso, 2005) sepakat bahwa fiksi sains membedakan dirinya dengan fantasi melalui struktur “pengasingan kognitif” yang berakar pada sikap rasional dan materialistik. Keduanya menganggap kecanggihan dalam fiksi sains bukan sekadar ornamen fiksi, melainkan tatanan lingkungan yang menggantikan keajaiban sihir untuk merekonstruksi cara manusia memandang dunia. Keterkaitan keduanya bertumpu pada pemahaman bahwa fiksi sains menggunakan nalar ilmiah dan mesin sebagai eksperimen pikiran radikal untuk mendefamiliarisasi serta menguji kemungkinan-kemungkinan dari realitas sosial dan sejarah.
  4. Fredric Jameson berargumen bahwa fiksi sains bekerja dengan menyamarkan struktur temporal lain yang lebih kompleks, bukan dalam rangka menyajikan gambaran masa depan yang sesungguhnya, melainkan untuk mengasingkan dan menyusun ulang pemahaman tentang masa kini. Lihat Fredric Jameson Archaeologies of the Future: The Desire Called Utopia and Other Science Fictions, hlm. 286.
  5. Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Hikayat Indraputra: A Malay Romance (Disertasi doktoral, London: School of Oriental and African Studies [SOAS] University of London, 1980), hlm. 308, diakses melalui https://soas-repository.worktribe.com/output/410934/hikayat-indraputra-a-malay-romance.
  6. Terjemahan: “… ke dalam layangan yang terkurung, lalu sang raja memerintahkan untuk dinaikkan, layangan pun diterbangkan, layar senantiasa menampung angin ketika terkena hembusannya, dengan cepat mengembara.” Dikutip dari Moelyono Sastronaryatmo, Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1981), hlm. 174.
  7. Terjemahan: “Lelaki menjamah lelaki, wanita banyak dijamah senang berganti suami, tanah angker banyak yang tidak sakti, bumi menyusut, bumi berkurang tetumbuhannya hilang berkahnya, orang bekerja keras tetapi tidak ada hasil, ada hujan salah musim, pemimpin tidak menepati janji tidak ada benarnya” dikutip dari W. Harianto Soembogo (peny.), Kitab Primbon Qoraisyn Adammakna (Serat Jangka Jayabaya) (Solo: CV Buana Raya, t.t.), hlm. 53.
  8. Istilah “sastra Nusantara” digunakan untuk merujuk pada korpus sastra daerah yang berkembang di kepulauan Nusantara sebelum terbentuknya negara modern Indonesia mengingat teks yang dipakai mengambil sampel dari naskah Melayu dan naskah Jawa. Pemilihan “sastra Nusantara” dinilai tepat dan representatif guna mewadahi keberagaman linguistik dan imaji tanpa terjebak bias nasionalisme pasca-1945.
  9. Chattopadhyay mengajukan mythologerm untuk menelaah kalpavigyan (fiksi sains India). Berdasarkan akar kata “myth” yang berarti mitos, Chattopadhyay menentang premis yang menyatakan bahwa fiksi sains harus mengacu pada epistemologi sains Barat. Sebaliknya, mythologerm mendayagunakan mitos-mitos lokal sebagai “bibit” (germ) atas kelahiran teori-teori sains. Lihat Bodhisattva Chattopadhyay, “On the Mythologerm: Kalpavigyan and the Question of Imperial Science”, Science Fiction Studies 43, no. 3 (2016): 435–458.
  10. Istilah hypogram pertama kali diperkenalkan oleh Michael Riffaterre dalam Semiotics of Poetry (Bloomington: Indiana University Press, 1978). Merujuk pada teks, gagasan, atau sistem bahasa yang sudah ada sebelumnya yang menjadi dasar penciptaan karya sastra baru. Terkait hal ini, A. Teeuw dalam Membaca dan Menilai Sastra (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 65, mengungkapkan bahwa antara karya sastra lama dengan karya sastra baru, sekalipun terdapat keselarasan gagasan, esensi yang dihadirkan bisa sepenuhnya berbeda.
  11. Berto dan Yovantra menilai bahwa salah satu penyebab gagalnya perkembangan fiksi sains Indonesia terletak pada daya imajinasi sastrawan Indonesia yang masih berkutat dengan idiom usang seperti “angin lembayung senja yang menampar pipi dengan nikmatnya” atau “desiran angin di daun kelapa serta belaian gelombang pada kaki kita”, alih-alih mengadopsi kehadiran teknologi secara aktif responsif. Lihat Berto Tukan dan Yovantra Arief, “Fiksi Ilmiah dan Fiksi Indonesia”, IndoPROGRESS, 24 September 2013, https://indoprogress.com/2013/09/fiksi-ilmiah-dan-fiksi-indonesia/.
  12. Berpijak pada konsep mythologerm, Sandya menunjukkan bahwa sejak 2000-an, fiksi sains Indonesia mulai nyaman dengan identitas ke-Indonesiaan-nya. Nama-nama karakter yang khas Indonesia dan persinggungannya dengan folklor menunjukkan bahwa fiksi sains Indonesia perlahan-lahan menemukan identitasnya. Lihat Sandya Maulana, “Fiksi Sains Indonesia: Istilah, Sejarah, Tonggak”, tengara.id, 31 Desember 2022, https://tengara.id/esai/fiksi-sains-indonesia-istilah-sejarah-tonggak/.
  13. Fitri Merawati melihat adanya transformasi dari fiksi sains Indonesia tahun 1980-an ke 2000-an. Unsur-unsur intrinsik pembangun cerita pada fiksi sains Indonesia menjadi lebih kompleks dan mencakup bidang keilmuan yang lebih beragam, tidak sekadar membahas perjalanan luar angkasa atau teori-teori fisika. Lihat Fitri Merawati, “Perkembangan Fiksi Ilmiah Karya Pengarang Indonesia Tahun 1980-an dan 2000-an”, Gramatika Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan 3, no. 2 (2015): 141–151.
  14. Pergeseran fokus fiksi sains dari eksplorasi spasial ke antisipasi masa depan yang terjadi di 1800-an didorong oleh kebangkitan industri, ideologi positivisme, dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, yang secara fundamental menempatkan waktu sebagai ruang yang bisa dijelajahi untuk memproyeksikan harapan serta perubahan peradaban. Lihat Darko Suvin, Metamorphoses of Science Fiction: On the Poetics and History of a Literary Genre (New Haven and London: Yale University Press, 1979), 89.
  15. Pada awal abad ke-19, Adam Roberts menangkap perubahan pola dalam memaknai masa depan bahwa masa depan bukan lagi domain eksklusif yang dimiliki ramalan suci atau rencana teknis kaku yang penuh perhitungan, melainkan sebuah upaya pengandaian (subjungtif) untuk mewujudkan berbagai kemungkinan dan harapan yang belum terpenuhi. Lihat Adam Roberts, The History of Science Fiction, hlm. 121.
  16. Menurut pandangan Kristen, waktu tidak dianggap sebagai sebuah siklus, tetapi proses yang bergerak lurus (forward-moving) dari masa penciptaan hingga akhir zaman. Pandangan ini kemudian disekulerkan pada abad Pencerahan dengan mempersepsikan waktu sebagai “kontinum dari urutan momen”, yang bergerak dalam satu garis lurus. Para pemikir di abad Pencerahan yang berbasis teologi Kristen meyakini bahwa pemahaman atas waktu sebagai progres merupakan manifestasi dari tahapan perkembangan akal budi, kebebasan, dan moral manusia. Lihat Ricardo Duchesne, “Historical Consciousness across Time and Space: Historiography in the West versus Other Cultures”, Mankind Quarterly 64, no. 1 (2023): 32–75.
  17. Pemahaman waktu yang bergerak secara siklis ini memiliki kaitan dengan kalpana (imajinasi), yakni kapasitas tunggal pemikiran manusia dalam menembus, mengintervensi, dan memproyeksikan transformasi realitas melampaui batasan waktu alamiahnya. Perpaduan imajinasi atas ketidakterbatasan waktu dengan ilmu pengetahuan material (vigyan) pada akhirnya melahirkan ketakjuban fiksi sains. Lihat Bodhisattva Chattopadhyay, “On the Mythologerm: Kalpavigyan and the Question of Imperial Science”, 435–458.
  18. Perbincangan terjadi pada sekitar 2019 di kantin Humaniora (Bonbin) UGM. Ia menyatakan hal tersebut karena saat mengerjakan skripsi menyadari ada sesuatu yang menarik terkait bagaimana orang Jawa memahami waktu dari perspektif linguistik antropologi. Lihat Patwa Al Huda, Leksikon Penanda Waktu dalam Bahasa Jawa (Sebuah Tinjauan Linguistik Antropologis), Skripsi, Universitas Gadjah Mada, 2019 https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/184252.
  19. Selama menganalisis rekam jejak kepengarangan Djokolelono dan karya-karya fiksi ilmiahnya, Nines Aini menemukan bahwa upaya Djokolelono dengan mengusung spesifikasi sebagai penulis fiksi ilmiah untuk masuk lebih dalam ke arena kontestasi arena sastra Indonesia justru berakhir pada derajat konsekrasi populer belaka akibat struktur arena sastra Indonesia yang masih menempatkan realisme dalam posisi dominan. Lihat Ninies Aini, Trajectory Kepenulisan Djokolelono dan Karya-Karya Fiksi Ilmiahnya dalam Arena Sastra Indonesia, (Tesis, Universitas Gadjah Mada, 2022) https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/216275.
  20. Data judul, tahun publikasi, dan penerbit fiksi sains pra-2000 ini dihimpun secara mandiri melalui pelacakan dokumenter pada berbagai pangkalan data bibliografi, katalog Perpustakaan Nasional, dan kolektif arsip sastra digital Indonesia.
  21. Lihat S. Takdir Alisjahbana, “Sastra yang Bertanggungjawab pada Permulaan Bangkitnya Kebudayaan Umat Manusia yang Baru”, Horison, XVII, no. 7 (1982): 150.
  22. Lihat Th. Sri Rahayu Prihatmi, “Fantasi sebagai Teori Pendekatan terhadap Rekaan Non Realis”, Horizon, XXII, no.2 (1988): 57–64.
  23. Sastra Indonesia mulai aktif mengadopsi teknologi internet di sekitar 1997 dengan munculnya laman Padepokan Virtual, dan Puisi Kita pada kisaran 1998. Transformasi besar dari medium cetak ke digital kemudian berlangsung dalam rentang waktu antara 1997-2005. Lihat Muhammad Rokib, “Sejarah Awal Sastra Internet di Indonesia: Dari Milis ke Majalah Daring,” Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya 8, no.3 (2025): 873-874, https://doi.org/10.30872/diglosia.v8i3.1448.
  24. Resonansi morfik merupakan hipotesis kontroversial yang diajukan Rupert Sheldrake. Inti gagasannya adalah bahwa alam semesta memiliki semacam “memori kolektif”. Menggunakan kacamata Sheldrake, gagasan-gagasan fiksi sains yang muncul di masa lalu sebenarnya telah terhimpun di penyimpanan “awan” kosmis dan memancarkan sinyal. Sheldrake menegaskan bahwa sebuah transmisi dari masa lampau hanya bisa ditangkap apabila struktur penerimanya memiliki keselarasan frekuensi. Lihat Rupert Sheldrake, A New Science of Life: The Hypothesis of Formative Causation (London: Blond & Briggs, 1981), 95–107.
  25. Nama karakter tidak hanya bekerja sebagai label identitas, tetapi juga menjalankan fungsinya pada segi stilistika, dan fungsi ekspresif yang selaras. Lihat Iraida Gerus-Tarnawecky, “Literary Onomastics”, Names 16, no. 4 (1968): 312, https://doi.org/10.1179/nam.1968.16.4.312.
  26. Asma kinarya japa kurang lebih bermakna setiap nama memiliki makna/sebagai mantra. Aris Wahyudi menempatkan asma kinarya japa sebagai konsep untuk menganalisis transformasi karakter Yudhistira dalam epos Mahabharata menjadi Puntadewa dalam khazanah pewayangan Jawa. Dia menemukan bahwa penggunaan asma kinarya japa dapat digunakan untuk melacak makna sebuah istilah. Lihat Aris Wahyudi, “Transformasi Yudhistira Mahabharata dalam Tradisi Pedalangan”, Resital, Vol. 14, no.1 (Juni, 2013): 72, https://doi.org/10.24821/resital.v14i1.396.
  27. Tere Liye, Hujan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016), 21.
  28. Mashuri, Destination: Jakarta 2040, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2021), 8.
  29. Henry Manampiring, Hitam 2045, (Jakarta: Bukune Kreatif Cipta, 2023), 7.
  30. Terjemahan: “Jaman Kalabendhu dimulai dengan kekacauan bumi bergetar gunung meletus, lautan terbolak-balik, hujan salah musim, kilat petir menyambar-nyambar, banjir besar, sumber air mengering, hujan bercampur lahar.” Dikutip dari Soembogo (peny.), Kitab Primbon Qoraisyn Adammakna (Serat Jangka Jayabaya), hlm. 32.
  31. Terjemahan: “… kemudian Raja memerintahkan untuk membuat layangan besar, tujuh depa besarnya, dilengkapi kurungan, Ki Jaka Prabangkara mempersiapkan keperluannya, beserta bekalnya, setelah sekian waktu layangan sudah jadi, layangan kemudian diterbangkan.”. Dikutip dari Moelyono Sastronaryatmo, Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang, hlm. 172.
  32. Sri Wulan Rujiati Mulyadi, Hikayat Indraputra: A Malay Romance, hlm. 510.
  33. Terjemahan: “… oleh negara yang penuh kebohongan, yang tidak berbelas kasih pada rakyat, rajanya senantiasa curang.” Dikutip dari Soembogo (peny.), Kitab Primbon Qoraisyn Adammakna (Serat Jangka Jayabaya), hlm. 63.

 

Daftar Pustaka

Aini, Ninies. “Trajectory Kepenulisan Djokolelono dan Karya-Karya Fiksi Ilmiahnya dalam Arena Sastra Indonesia”. Tesis, Universitas Gadjah Mada, 2022.

Al Huda, Patwa. “Leksikon Penanda Waktu dalam Bahasa Jawa (Sebuah Tinjauan Linguistik Antropologis)”. Skripsi, Universitas Gadjah Mada, 2019.

Alisjahbana, S. Takdir. “Sastra yang Bertanggungjawab pada Permulaan Bangkitnya Kebudayaan Umat Manusia yang Baru”. Majalah Sastra Horison, 1982.

Chattopadhyay, Bodhisattva. “On the Mythologerm: Kalpavigyan and the Question of Imperial Science”. Science Fiction Studies 43, no. 3 (1 November 2016): 435. https://doi.org/10.5621/sciefictstud.43.3.0435.

Duchesne, Ricardo. “Historical Consciousness Across Time and Space: Historiography in the West Versus Other Cultures.” Mankind Quarterly 64, no. 1 (1 Januari 2023): 32–75. https://doi.org/10.46469/mq.2023.64.1.4.

Gerus-Tarnawecky, Iraida. “Literary Onomastics”. Names 16, no. 4 (1 Desember 1968): 312. https://doi.org/10.1179/nam.1968.16.4.312.

Jameson, Fredric. Archaeologies of the Future: The Desire Called Utopia and Other Science Fictions. London: Verso, 2005.

Liye, Tere. Hujan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016.

Manampiring, Henry. Hitam 2045. Jakarta: Bukune Kreatif Cipta, 2023.

Mashuri. Destination: Jakarta 2040. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2021.

Maulana, Sandya. “Fiksi Sains Indonesia Istilah, Sejarah, Tonggak”. tengara.id, December 31, 2022. https://tengara.id/esai/fiksi-sains-indonesia-istilah-sejarah-tonggak/.

Merawati, Fitri. “Perkembangan Fiksi Ilmiah Karya Pengarang Indonesia Tahun 1980-an dan 2000-an Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.” Gramatika Jurnal Ilmiah Kebahasaan Dan Kesastraan 3, no. 2 (1 Desember 2015): 141. https://doi.org/10.31813/gramatika/3.2.2015.28.141–151.

Prihatmi, Th. Sri Rahayu. “Fantasi sebagai Teori Pendekatan terhadap Rekaan Non Realis”. Majalah Sastra Horison, 1988.

Riffaterre, Michael. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press, 1978.

Roberts, Adam. The History of Science Fiction. 2nd ed. London: Palgrave Macmillan, 2016.

Rokib, Mohammad. “Sejarah Awal Sastra Internet di Indonesia: Dari Milis ke Majalah Daring”. DIGLOSIA Jurnal Kajian Bahasa Sastra dan Pengajarannya 8, no. 3 (14 Oktober 2025): 871. https://doi.org/10.30872/diglosia.v8i3.1448.

Rujiati Mulyadi, Sri Wulan. “Hikayat Indraputra: A Malay Romance”. PhD Dissertation, School of Oriental and African Studies [SOAS] University of London, 1980. https://doi.org/10.25501/SOAS.00028834.

Sastronaryatmo, Moelyono. Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1981.

Sheldrake, Rupert. A New Science of Life: The Hypothesis of Formative Causation. London: Blond & Briggs, 1980.

Soembogo, W Harianto, ed. Kitab Primbon Qoraisyn Adammakna (Serat Jangka Jayabaya). Solo: CV Buana Raya, t.t.

Suvin, Darko. Metamorphoses of Science Fiction: On the Poetics and History of a Literary Genre. London: Yale University Press, 1979.

Teeuw, A. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.

Tukan, Berto, and Yovantra Arief. “Fiksi Ilmiah dan Fiksi Indonesia”. IndoPROGRESS (blog), September 5, 2013. https://indoprogress.com/2013/09/fiksi-ilmiah-dan-fiksi-indonesia/.

U.S. Department of War. “Presidential Unsealing and Reporting System for UAP Encounters (PURSUE)”, May 8, 2026.

Wahyudi, Aris. “Transformasi Yudhisthira Mahabarata Dalam Tradisi Pedalangan”. RESITAL JURNAL SENI PERTUNJUKAN 14, no. 1 (September 24, 2013). https://doi.org/10.24821/resital.v14i1.396.

Esai31 Agustus 2026

Fajar Laksana


Fajar Laksana saat ini bekerja sebagai SEO Spesialis. Lulusan Program Studi Sastra Jawa di Universitas Gadjah Mada. Beberapa aktivitasnya, antara lain menginisiasi NFT Sastra Jawa pertama berjudul "Mayangkara Manjalma" pada 2024 dan menggelar Pameran Seni Ilustrasi bertajuk "Parwasagara" bersama sejumlah perupa dari Mojokerto dan Malang pada tahun yang sama. Di bidang penulisan naskah, karyanya turut diakui melalui naskah lakon “Nirwana Pratima” yang masuk dalam antologi Kosmos Y-Z: 8 Naskah LeLakon (Kalabuku, 2022), naskah ketoprak "Swaraningtyas: Mayangkara Manjalma" yang terpilih sebagai salah satu dari sepuluh naskah terbaik Sayembara Naskah Kethoprak Dinas Kebudayaan Yogyakarta (2020), dan naskah drama "Nirwana Pratima" yang meraih juara pertama Sayembara Naskah Lakon Jawa Timur pada 2018.