Individualisme yang Tanggung
Motif Laut di dalam Sajak-sajak Chairil Anwar

Ilustrasi: Wulang Sunu

Tulisan ini adalah Juara Harapan Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2022.

Unduh versi tulisan sebelum disunting dalam format PDF lewat tautan ini.

Unduh juga Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2022 dalam buku program melalui tautan ini.

 

*

 

Masih adakah ruang yang tersisa di dalam puisi-puisi Chairil Anwar untuk diberikan penafsiran baru?

Sepeninggal si penyair bohemian pada 28 April 1949, berbagai upaya untuk menguliti karya-karyanya secara serius sudah berlangsung selama sekitar tujuh dekade. H.B. Jassin (1956) membicarakan pengaruh penulis-penulis Eropa di dalam puisi-puisi Chairil; Boen Oemarjati (1972) dan Rachmat Djoko Pradopo (1979) membahas tentang gaya bahasa Chairil yang kelak pekat mewarnai bahasa Indonesia modern; Arief Budiman (1976) menyinggung soal pandangan Chairil akan eksistensialisme; dan A. Teeuw (1980) serta Umar Junus (1981) membandingkan sejumlah puisi Chairil dalam berbagai versi. Usaha untuk membaca karya Chairil secara jauh juga sudah dilakukan. Pada 2008 Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) mengadakan diskusi sastra bertajuk “Chairil dan Kota” dengan Marco Kusumawijaya, Goenawan Mohamad, dan Arif Bagus Prasetyo selaku pembicara; Saut Situmorang (2014) mempersoalkan hubungan erat antara cinta dan kematian di dalam puisi-puisi Chairil;  Hasan Aspahani (2016) meninjau syair-syair Chairil melalui perspektif biografis; dan yang terbaru adalah Arif Bagus Prasetyo (2021) mengaitkan motif laut di dalam sajak-sajak Indonesia pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan—termasuk di dalamnya sajak Chairil—dengan imajinasi puitis akan keindonesiaan.

Motif laut dalam sajak-sajak Chairil memang merupakan topik menarik mengingat lautan bukanlah elemen yang asing dalam kesusastraan; motif laut kerap kali lekat dengan gambaran petualangan menantang maut. Sajak-sajak kuno tak jarang menampilkan sosok pahlawan mengarungi samudera dengan gagah berani. Itulah sebabnya kisah-kisah lama tentang mengarungi lautan terkesan begitu heroik—dan sangat lelaki! Namun, lebih daripada gambaran tentang petualangan fantastis di atas kapal, motif laut acapkali turut menyinggung negeri-negeri sasaran: Sawerigading mengalami pertempuran di laut dalam perjalanan menuju Cina; Odisseus menghadapi monster dan digoda Siren di tengah perjuangan untuk pulang ke Ithaca; dan Sinbad mengalami tujuh pelayaran demi menggapai ‘cita-cita mulia’—menjadi orang kaya!

Bayangan akan negeri-negeri sasaran tidak lenyap dalam sajak-sajak modern—terutama Eropa dan Jepang—yang mengangkat motif laut. Bagaimana pun, perkembangan teknologi perkapalan berkat penemuan mesin uap pada abad ke-18 serta pembukaan Terusan Suez pada 1869 mempengaruhi imajinasi bangsa-bangsa tersebut akan negeri-negeri asing yang dihuni oleh penduduk asli dan belum terjamah peradaban. Jika dibaca dengan konteks imperialisme, sajak-sajak tersebut bukan hanya bicara mengenai negeri sasaran melainkan calon wilayah taklukan.

Akan tetapi, pengalaman diduduki bangsa asing selama ratusan tahun menjadikan motif laut dalam kesusastraan modern Indonesia dieksplorasi dengan cara berbeda. Bagaimanapun di bawah penjajahan Belanda, Indonesia tidak punya hak atas lautnya sendiri. Arif Bagus Prasetyo (2021) berargumen bahwa motif “menuju ke laut” di dalam kesusastraan modern Indonesia menjadi bagian dari pembentukan keindonesiaan, mengindikasikan pencarian kebudayaan baru, yakni “…kebudayaan persatuan Indonesia yang didefinisikan oleh “kemajuan” di bawah debur-gelora proyek modernitas…” (hlm. 44).

Chairil sendiri kemungkinan besar tidak terlalu mengenal lautan. Karena persinggungannya dengan laut hanya satu kali, yakni ketika merantau ke Batavia dengan menggunakan kapal uap milik KPM—perusahaan pelayaran milik Belanda—dari Pelabuhan Belawan ke Tanjung Perak pada 1941. Pada kenyataannya, Chairil adalah seorang penyair urban. Kendati demikian, laut “menjadi bahan penting yang ia olah untuk sajak-sajaknya” (Hasan Aspahani, 2016, hlm. 39). Chairil mengolah “lautan” menjadi beragam metafora; daya pembinasa dalam sajak “Penghidupan” (Desember 1942) dan “Suara Malam” (Februari 1943), istri yang penuh rahasia dalam “Kupu Malam dan Biniku” (Maret 1943), ataupun pesona laki-laki yang masih dicari-cari “perempuan” di dalam “Situasi” (1946). Namun, dalam sajak-sajak yang isinya berasosiasi kuat dengan laut, Chairil justru tidak menggambarkan apa-apa perihal petualangan menantang badai, menghadapi perompak atau apa pun selama si aku-lirik berada di atas kapal atau perahu. Sajak-sajak tersebut, antara lain “Buat Album D.S” (1946), “Kabar dari Laut” (1946), “Pemberian Tahu” (1946), “Cintaku Jauh di Pulau” (1946), dan “Senja di Pelabuhan Kecil” (1946), mayoritas menampilkan panorama di darat sedangkan pengalaman nyata si kelasi di laut absen di dalam sajak. Tujuan si kelasi pergi ke laut pun kelihatannya bukan untuk menguji kejantanan melainkan untuk menyendiri. Lautan tak ubahnya tempat bagi si aku-lirik berkontemplasi sembari memisahkan diri sejenak dari ikatan kolektif. Dalam kata-kata Arif Bagus Prasetyo (2021), laut dalam puisi Chairil “mencerminkan strategi sang penyair dalam menavigasi subjektivitas individualnya di tengah disposisi kolektivitas dan ikatan” (hlm. 60).

Esai ini mencermati bahwa motif laut dalam puisi Chairil merupakan celah sempit yang masih dapat digali, terutama berkaitan dengan  ketiadaan pengalaman ketubuhan si aku-lirik selama di laut. Esai ini menawarkan model pembacaan serupa cerita utuh dengan menjadikan ‘kisah’ seorang kelasi yang meninggalkan kekasihnya untuk pergi ke laut sebagai premisnya.

Model pembacaan semacam ini sangat bisa jadi menciutkan kekhasan masing-masing puisi, mengingat setiap puisi memiliki konteks penciptaannya sendiri. Lebih-lebih puisi bukanlah prosa yang memiliki plot yang genap sehingga dapat dijejaki mana awal cerita dan mana akhirnya. Model pembacaan ini bahkan boleh jadi mereduksi pemaknaan akan gaya bersajak Chairil. Pembaca setia Chairil tentu sudah paham betul kelakuan penyair tersebut dalam berbahasa: membuat frasa yang mengambang, mengacaukan tata kalimat, dan menciptakan kata-kata baru, yang dalam simpulan Zen Hae (2018), gaya berpuisi Chairil merupakan “strategi untuk merusak gaya bahasa Pujangga Baru yang formal, resmi, kaku, dan tidak menyerap bahasa kelisanan.” Tanpa bermaksud mengabaikan sepenuhnya, model pembacaan yang ditawarkan di dalam esai ini memang tidak akan terlalu berfokus pada kekhasan gaya berpuisi tersebut, karena esai ini bermaksud untuk memaknai ketiadaan pengalaman ketubuhan si aku-lirik dalam upaya menafsirkan imajinasi akan laut sebagai salah satu gagasan modernis yang dijelajahi oleh Chairil.

 

Si Kelasi yang Ingin Menyendiri

Puisi “Buat Album D.S”—dipublikasikan pertama kali dalam majalah Pantja Raja Th. II No. 3–4 pada 1 Januari 1947—menyajikan pemandangan tentang “kami” yang menyimak seorang gadis lagi menyanyi lagu derita di pantai yang jauh; lagu tentang kelasi bersendiri di laut biru, terpisah dari mereka yang sudah lupa bersuka. Selama mendengarkan lagu tersebut, “kami” optimistis bahwa si pujaan hati akan kembali kepada si gadis sebagaimana tergambar dalam bait ketiga: Kami rasa bahagia tentu ‘kan tiba,/Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan/Dan di negeri kelabu yang berhiba/Penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan. Akan tetapi, si aku-lirik yang berada di tengah-tengah “kami” justru ragu akan kemungkinan akhir bahagia tersebut dan membatin: Lagu merdu! apa mengertikah adikku kecil/yang menangis mengiris hati/Bahwa pelarian akan terus tinggal terpencil,/Juga di negeri jauh itu surya tidak kembali?

Melalui larik ketiga dan keempat pada bait pertama—Kelasi bersendiri di laut biru, dari/Mereka yang sudah lupa bersuka—dapat ditafsirkan bahwa si kelasi meninggalkan si gadis demi mengejar sesuatu yang menggembirakan yang sepertinya hanya bisa ia dapatkan di lautan. Kendati demikian, wujud ‘sesuatu yang menggembirakan’ itu tidak dijelaskan dalam sajak. Tidak diketahui pula alasan si aku-lirik, yang seolah-olah menyeruak di antara kerumunan (“kami”), meragukan bahwa si kelasi akan kembali ke negerinya. Aku-lirik bahkan dengan yakin mengatakan bahwa “pelarian akan terus tinggal terpencil”, seakan-akan menyamakan si kelasi dengan seorang pendosa yang kabur demi menyelamatkan diri.

Kendati puisi ini berasosiasi dengan lautan, pada dasarnya pemandangan yang ditampilkan adalah pemandangan di darat. Pembaca dipampangkan panorama akan dua daratan, yang satu adalah tempat sekumpulan orang (“kami”) yang sedang mendengarkan seorang gadis yang menyanyi di ujung daratan yang lain (“di pantai yang jauh”); di tempat yang “kami” sebut sebagai negeri kelabu yang berhiba. Sajak “Buat Album D.S” menampilkan oposisi antara yang bergerombol (“kami” dan gadis berserta penduduk negeri kelabu) dan yang sendirian (si kelasi di lautan). Nyanyian si gadis dapat dibaca sebagai kesedihan karena ditinggal oleh kekasih, tetapi bisa juga dibaca sebagai ratapan karena salah satu dari mereka selaku “penduduk negeri kelabu” pergi ke tempat lain. Sedangkan kepergian si kelasi dapat dibaca sebagai upaya memisahkan diri dari ikatan kolektif, suatu hal yang direfleksikan pula oleh sosok aku-lirik yang tiba-tiba muncul pada bait terakhir puisi sambil membawa perasaan sangsi; perasaan yang bertentangan dengan optimisme “kami”. 

Sementara itu, puisi “Kabar dari Laut”—diterbitkan pertama kali pada majalah Pantja Raja Th. II No. 5 pada 15 Januari 1947—menggambarkan isi pikiran aku-lirik, yang kini menjelma sebagai si kelasi, bergerak mondar-mandir antara kenangan dan kenyataan sekarang. Bait pertama dan kedua sajak tersebut menampilkan kondisi aku-lirik yang kini dalam keadaan sangat lemah serta menyerah karena di tubuhnya ada luka yang bertambah lebar juga mengeluar darah. Dalam keadaan seperti itu ia mengenang “kau” (si gadis?) yang pernah menciumi bagian tubuh yang kini terluka dengan napsu dan garang. Kenangan aku-lirik akan “kau” diwarnai oleh perasaan sesal: ia merasa tolol ketika itu karena mau membikin hubungan. Sajak ini juga tidak menampilkan alasan si kelasi pergi ke laut maupun yang ia alami selama berlayar. Satu hal yang pasti, sekarang ia sedang berdarah-darah. Pembaca bisa saja membayangkan bahwa di tengah pelayaran si kelasi bertempur dengan perompak atau tubuhnya dipukul-pukulkan gelombang ke karang ketika laut sedang pasang. Namun, bahkan di kala ia sangat lemah serta menyerah, ia tidak mengenang kekasihnya dengan perasaan yang melodramatis.

Pikiran yang bergerak ulang-alik antara yang lampau dan yang kini seakan-akan merefleksikan kehidupan yang dipilih oleh kelasi; berlangsung antara buritan dan kemudi. Kemudi di muka kapal mengindikasikan pergerakan  sementara buritan—selaku bagian kapal yang merapat di dermaga—mengisyaratkan geming. Pada akhirnya, bagi si kelasi, hidup bukan tentang pergi dan pulang melainkan pergi dan istirahat sebentar untuk kemudian pergi lagi.

Kalimat pada larik ketiga bait ketiga, pembatasan cuma tambah menyatukan kenang, cukup problematik karena tidak jelas perkara apa yang dibatasi dan mengapa suatu pembatasan akan tambah menyatukan kenang? Jika mengikuti kaidah kalimat bahasa Indonesia yang baik, ada kemungkinan yang dimaksud oleh Chairil adalah “kenangan”—bukan “kenang” yang merupakan kata kerja. Namun, kenangan macam apa pula yang tambah disatukan oleh pembatasan? Apabila larik tersebut dikaitkan dengan bait terakhir sajak: Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan mengaji,/Atau di antara mereka juga terdampar,/Burung mati pagi hari di sisi sangkar? Kata “pembatasan” bisa jadi merujuk pada pengekangan yang ditimbulkan melalui rutinitas sebagaimana tercermin melalui larik sembahyang dan mengaji, dua aktivitas yang lumrah dilakukan saban hari oleh muslim yang taat, ataupun kata sangkar. Kalimat gugatan aku-lirik/kelasi kepada “kau”, burung mati pagi hari di sisi sangkar, dapat dibaca sebagai perumpamaan tentang orang yang mati di rumahnya sendiri. Siapa yang dimaksud dengan mereka dalam frasa di antara mereka juga terdampar juga tidak jelas, tetapi jika dihubungkan dengan “Buat Album D.S”, kemungkinan “mereka” merujuk kepada penduduk atau kelompok tempat “kau” berada. “Mereka”—juga “kau”—di sini mencerminkan ikatan kolektif yang ingin diceraikan oleh si aku-lirik.

Puisi “Buat Album D.S” dan “Kabar dari Laut” memiliki klausa bernada sama berkenaan dengan si kelasi yang lebih memilih lautan: kelasi bersendiri di laut biru (“Buat Album D.S”) dan kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu (“Kabar dari Laut”). Bagi si kelasi/aku-lirik, tampaknya hakikat hidupnya adalah tidak hidup menetap, melainkan hilir-mudik antara tempat peristirahatan dan pengelanaan, antara buritan dan kemudi. Sebab hatinya bisa sekonyong-konyong terpanggil untuk kembali ke lautan. Akan tetapi, berbeda dengan sajak “Buat Album D.S”, dalam “Kabar dari Laut” Chairil tidak menampilkan pemandangan apa pun; tidak darat tidak juga laut! Isi puisi “Buat Album D.S” bak lukisan pemandangan; di satu sisi ada gerombolan orang di suatu pulau sedang menyaksikan seorang gadis yang sedang menyanyi dan di sisi lain seorang kelasi sedang mengarungi laut, sedangkan puisi “Kabar dari Laut” tidak menampilkan pemandangan apa-apa selain isi batin si kelasi.

Jika merujuk kepada judul sajak—“Kabar dari Laut”—bisa ditafsirkan bahwa si aku-lirik kini memang sedang berada di tengah laut. Namun, apa pula yang hendak ia kabarkan mengingat isi puisi ini tak ubahnya isi pikirannya semata? Apabila pembacaan akan sajak ini disandingkan dengan sajak “Pemberian Tahu” (1946), menjadi jelaslah bahwa kabar yang ingin si kelasi beritahukan kepada “kau”—melalui secarik surat yang ditulis di kapal, di laut tidak bernama!—adalah bahwa ia tidak akan pulang sebagaimana diindikasikan dalam larik bukan maksudku mau berbagi nasib, atau jangan satukan hidupmu dengan hidupku/Aku memang tidak bisa lama bersama. Mirip dengan “Kabar dari Laut”, puisi ini juga menyajikan isi pikiran si kelasi yang bergerak bolak-balik antara masa lalu dan masa kini. Di atas kapal si kelasi terkenang akan perasaannya kepada “kau”, sosok yang pernah ia hasratkan pada malam raya, sosok yang pernah ia peluk dan cium tidak jemu, sosok yang bahkan pernah ia rasa tak sanggup untuk dilepaskan. Namun, pada akhirnya ia tetap memilih untuk bersendiri di lautan.

Ketiga sajak Chairil tersebut memperlihatkan sosok subjek yang seakan-akan tidak tahan berada di tengah kerumunan dan laut menjadi medium untuknya memisahkan diri sejenak dari kekitaan. Andai pun si kelasi merasa bahwa panggilan hati seorang pelaut adalah tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu atau berujuk kembali dengan tujuan biru, tetap saja tidak ada penjelasan tentang pengalamannya di atas kapal atau perahu yang membuatnya sebegitu merindukan laut. Goenawan Mohamad (2008) menafsirkan laut dalam “Kabar dari Laut” sebagai “rumah si asing, atau mungkin malah anti-tesisnya” serta tindakan si kelasi yang pergi ke laut bak seorang Sinbad kecil “tanpa dongeng-dongeng mukjizat dan kekuatan magis, melainkan suatu kisah tentang perlawanan, tentang keberanian sendiri, tentang kesendirian yang membanggakan, tentang mobilitas tanpa kekang, dan pengembaraan yang menggairahkan” (hlm. 255). Perkara “kesendirian yang membanggakan” dan “mobilitas tanpa kekang” masih berterima, tetapi “kisah tentang perlawanan”, “keberanian sendiri”, dan “pengembaraan yang menggairahkan” sama sekali tidak tampak dalam ketiga sajak Chairil tersebut.

Apabila dibandingkan dengan puisi sezaman yang juga mengangkat motif laut, soal isi batin seorang pelaut yang mendambakan “kisah tentang perlawanan”, “keberanian sendiri”, dan “pengembaraan yang menggairahkan” justru lebih tercermin dalam sajak karib Chairil, Rivai Apin, dalam sajak berjudul “Pelarian”—diterbitkan pertama kali pada majalah Pantja Raja Th. II. No. 7, 15 Februari 1947. Dalam sajak tersebut, si aku-lirik merasa tiada tahan ke laut [untuk] kembali mengembara. Baginya cukup asal ada bintang di langit sebagai pemandu,  karena ia menghasratkan taufan gila, awan putih-abu berkejaran, dan ombak tinggi memegah perkasa yang membuat kayu kapal berderak-derak dan layar berkebar-kebar. Aku-lirik mendambakan petualangan yang mendebarkan jantung untuk menggairahkan hidupnya lagi. Sebab ia sempat mendongkol di akhir bait: apa di sini/batu semua! Penyematan tanda seru di akhir kalimat merefleksikan perasaan frustrasi si aku-lirik akan tempatnya saat itu berada yang tidak memberikan apa-apa selain pemandangan daratan terjal yang begitu monoton. Sajak tersebut memang tidak menampilkan si aku-lirik ketika berada di laut. Namun, melalui isi puisi dapat diketahui bahwa ia pernah mengalami langsung pengalaman menantang maut selama berlayar: dikejar topan dan didera ombak sampai-sampai layar berkibar panik dan kapal mau oleng. Pengalaman ketubuhan di laut inilah yang tidak muncul di dalam ketiga sajak Chairil tadi.

Perasaan yang sama ditegaskan kembali oleh Rivai Apin dalam sajak “Pengembara” yang diterbitkan dalam majalah Siasat, Th. II No. 51, pada 22 Februari 1948. Puisi ini sekali lagi memperlihatkan sosok aku-lirik yang berhasrat kembali ke kemudi! Ia ingin menguak misteri alam, sebab ini alam beserba dan banyak rahasia. Demi mendatangi lautan yang akan mengibarkan layar dan mendeburkan dada, si subjek dengan yakin mengucapkan selamat tinggal entah kepada siapa, tetapi yang pasti ia mengatakan bahwa kita tidak lagi akan bisa lanjut bersatu. Si aku-lirik dalam sajak “Pengembara” juga menceraikan kekitaan, sebagaimana si kelasi meninggalkan gadis dan mereka yang sudah lupa bersuka di dalam sajak “Buat Album D.S”, tetapi dengan tujuan yang lebih jelas, yakni mengeksplorasi sesuatu yang belum sepenuhnya berhasil ia kuak. “Laut” di tangan Rivai Apin berperan sebagai metafora, yakni misteri alam ataupun tempat demi mendapatkan pengalaman batin kala raga diguncang oleh kekuatan maha dahsyat. Pernyataan Goenawan Mohamad akan “kisah tentang perlawanan”, “kesendirian yang membanggakan”, maupun “pengembaraan yang menggairahkan” lebih cocok disematkan untuk si aku-lirik/kelasi dalam sajak-sajak Rivai Apin ini.

Sajak “Buat Album D.S”, “Kabar dari Laut”, dan “Pemberian Tahu” oleh Chairil maupun sajak “Pelarian” dan “Pengembara” oleh Rivai Apin sama-sama menggambarkan si aku-lirik/kelasi yang memisahkan diri dari kelompok dan memilih untuk menyendiri di lautan. Memang pada masa keduanya hidup—paling tidak sampai meninggalnya Chairil—keduanya mengalami tiga fase akan ikatan kolektif yang menjadi satu unsur penting di dalam kehidupan bangsa Indonesia:  pertama, fase ikatan primordial kedaerahan pada masa Hindia-Belanda; kedua, ikatan kolektif sebagai “sesama bangsa Asia” yang dipaksakan oleh pendudukan Jepang, dan ketiga, ikatan kebangsaan yang terbentuk oleh semangat revolusi. Sajak-sajak Chairil maupun Rivai Apin yang dibahas dalam esai ini semuanya ditulis dan dipublikasikan pada masa pascakemerdekaan.

Apabila dikaitkan dengan konteks zaman, semangat kolektif revolusioner masih berkobar demi mempertahankan kemerdekaan. Sajak “Pelarian” dan “Pengembara” oleh Rivai Apin bisa saja ditafsirkan sebagai semangat seorang individu yang ingin memisahkan diri dari ikatan primordial kedaerahan yang dirasa monoton (“batu semua!”) lalu ikut terjun ke dalam semangat revolusi. Chairil sendiri bukan berarti tidak menuliskan sajak-sajak penuh semangat pada masa sesudah kemerdekaan. Sajaknya yang berjudul “Persetujuan dengan Bung Karno” (1948), “Sudah Dulu Lagi” (1948), ataupun “Perjurit Jaga Malam” (1948) memperlihatkan semangat tersebut. Hanya saja, semua puisi Chairil yang dibahas di dalam esai ini kelihatannya ditulis ketika semangat Chairil sedang mengarah ke suasana batin yang introspektif dibandingkan ingin bergabung ke dalam semangat kolektif. Hal itu memunculkan kesan bahwa sajak-sajak Chairil yang bermotif laut mencerminkan sisi individualisnya, walaupun sisi itu bukanlah sisi yang ajek melainkan mengandung kontradiksi.

 

Individualisme yang Ambivalen

Jika sajak-sajak Chairil yang berasosiasi kuat dengan laut dibaca sebagai satu rangkaian cerita, akan terasa bahwa semakin lama si kelasi semakin murung. Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” memunculkan sosok si kelasi yang sepertinya sedang terserang melankoli. Kali ini Chairil menggambarkan panorama laut secara lebih utuh jika dibandingkan puisi “Kabar dari Laut” dan “Pemberian Tahu”. Akan tetapi, pemandangan yang ditampilkan bukan seorang kelasi yang dihantam gelombang besar ataupun dihajar topan selayaknya pengalaman aku-lirik dalam puisi “Pelarian” maupun “Pengembara”, melainkan kelasi yang sedang membayang-bayangkan kekasihnya, si gadis manis yang jauh di pulau, di atas perahu yang melancar di air yang tenang dan diembus angin mendayu. Melalui larik yang berbunyi di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar, jelaslah bahwa si aku-lirik/kelasi tidak sedang berlayar ke masa depan tetapi ke masa lalu. Si kelasi yang bisa tiba-tiba bersendiri di laut pilu rupanya berpikiran untuk kembali menemui kekasihnya. Namun, setelah bertahun-tahun mengarungi lautan sampai-sampai perahunya merapuh, si kelasi bernubuat bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali ke pelukan cintanya karena Ajal tengah bersabda: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja”. Apabila pada “Kabar dari Laut” si kelasi menyesal pernah menjalin ikatan dengan kekasihnya, kini ia menyesal karena tampaknya akan keburu mati sebelum sempat berpeluk dengan cintanya tersebut.

Puisi ini memang terasa demikian lunak jika dibandingkan sajak-sajak Chairil pada umumnya yang seakan-akan memikul ambisi si penyair sendiri dalam berbahasa. Sajak ini tidak mengandung kata kerja majemuk ciptaan Chairil yang terasa begitu jantan—meradang-menerjang (“Aku”/“Semangat”, 1943), mengada-menggaya (“Cerita”, 1943), bergenderang-berpalu (“Diponegoro”, 1943), maupun dikutuk-sumpahi (“Tak Sepadan”, 1943/“Lagu Siul”, 1945) atau pun kalimat bercampur ragam lisan yang terasa bertenaga seperti orang ngomong, anjing nggonggong (“Kesabaran”, 1943) dan mampus kau dikoyak-koyak sepi (“Sia-sia”, 1943).  Sajak ini seolah-olah ditulis ketika semangat Chairil sedang layu, tetapi terasa pula keluwesan yang muncul dari rangkaian kalimat: perahu melancar, bulan memancar/di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar atau Ajal bertakhta, sambil berkata:/”Tujukan perahu ke pangkuanku saja.” Inilah bentuk kepiawaian Chairil: ia tidak mau berada dalam zona nyaman dan berani mengubah-ubah gaya bersyairnya.

Lalu dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”—salah satu puisi terbaik Chairil—, puisi yang oleh Boen Oemarjati (1972) dianggap begitu menonjol karena stanzanya tidak diakhiri oleh tanda baca, yang oleh A. Teeuw (1983) dianggap sebagai hipogram dari puisi “Berdiri Aku” oleh Amir Hamzah; yang oleh Nirwan Dewanto dalam Kata Pembuka Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942–1949 (2011) disebut sebagai bentuk perluasan kuatrin berima (hlm. xv); dan yang oleh Hasan Aspahani (2016) ditafsirkan sebagai refleksi perasaan Chairil ketika ingin mengakhiri perasaan cintanya kepada Sri Ajati, lagi-lagi menampilkan nuansa sentimentil. Pemandangan yang disajikan dalam puisi adalah kelasi yang sedang berada di darat. Ia berjalan menyisir semenanjung sendirian, di tengah gerimis yang mempercepat kelam, tak lagi mencari cinta di antara gudang dan rumah tua. Penggunaan adverbial “tidak” dan “tiada” menciptakan nuansa geming: si kelasi tidak mencari cinta; kapal dan perahu tiada berlaut; tanah dan air tidak bergerak; dan tiada lagi yang tersisa selain si kelasi seorang diri di semenanjung. Nuansa murung juga tercipta dari kata-kata “gudang”, “rumah tua”, “kelam”, dan “muram”. Melalui larik masih pengap harap/sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dapat ditafsirkan sebagai harapan si kelasi untuk kembali tiba di “pulau yang jauh” demi mengucapkan perpisahan secara langsung kepada kekasihnya. 

Kesusastraan modern sesungguhnya tidak hanya memperlihatkan berbagai bentuk eksperimen kesadaran (consciousness) dan kedirian (selfhood) di dalam tulisan, tetapi juga mengangkat pengaruh teknologi modern di dalam kehidupan manusia. Acap kali pengaruh tersebut muncul dalam bentuk konkret. Kata-kata “kereta api”, “trem”, “mobil”, “gedung bioskop”, “kamera”, atau pun “kapal uap” yang muncul dalam kesusastraan modern memperlihatkan wujud nyata pengaruh tersebut sekaligus menjelma menjadi kiasan-kiasan baru.

Chairil sendiri kelihatan fasih menampilkan imaji kota modern sebagaimana tampak dalam sajak “Aku Berkisar antara Mereka”—diterbitkan pertama kali pada majalah Ipphos Report No.9 tahun 1949 melalui larik bioskop Capitol putar film Amerika,/lagu-lagu baru irama mereka berdansa dan Terkumpul di halte,/ kami tunggu trem dari kota. Kendati demikian, kefasihan yang sama tidak muncul di dalam sajak-sajaknya yang mengangkat motif laut. Sajak-sajak tersebut memang menyebut sejumlah penanda seperti “kelasi”, “pulau”, “pantai”, “pelabuhan”, “buritan”, “kapal”, “semenanjung”, ataupun “perahu”, tetapi cara Chairil memunculkan suasana kebaharian lebih mengingatkan pada suasana laut sebelum kapal uap ditemukan. Bahkan kata “kapal” yang digunakan oleh Chairil dalam “Senja di Pelabuhan Kecil” rasanya tidak mampu membangkitkan imajinasi akan kapal megah berteknologi modern—mungkin karena kapal yang dimaksud Chairil merapat di “pelabuhan kecil”.

Pengalaman nyata Chairil di laut lepas memang hanya satu kali. Namun, sebenarnya saat itu ia mencicipi langsung teknologi perkapalan modern, yakni ketika menaiki kapal milik KPM yang mengantarkannya untuk singgah ke Singapura sebelum kemudian menjejakkan kaki di Batavia. Namun, tampaknya pengalaman di atas kapal Belanda itu tidak cukup mengesankan untuk dijadikan bahan untuk bersajak.

Kelima sajak Chairil yang dibahas dalam esai ini mengesankan bahwa si kelasi  memang tidak mencari apa-apa di laut selain momen untuk menyendiri dan berkontemplasi. Mungkin itu pula sebabnya tidak ada gambaran pengalaman dihantam gelombang atau dihajar topan di dalam sajak-sajak tersebut, tetapi si aku-lirik yang sedang menulis surat di atas perahu yang melancar di air yang tenang dan diembus angin mendayu, atau si aku-lirik yang menimbang-nimbang kemungkinan bahwa ia tak akan sampai ke tujuan karena keburu dipanggil ajal. Si kelasi bagaikan sosok yang kagok dengan ikatan, tetapi pandangannya akan kesendirian pun terasa ambivalen. Ia menyesal karena pernah menjadi bagian dari “kita” (“Buat Album D.S”, “Kabar dari Laut”, “Pemberian Tahu”), tetapi terbersit pula harapan untuk kembali menjadi “kita” (“Cintaku Jauh di Pulau” dan “Senja di Pelabuhan Kecil”).

 

Kesimpulan

Akan menarik untuk mempertanyakan, mengapa laut yang dipilih sebagai tempat untuk bertafakur oleh si aku-lirik padahal simbolisme laut itu sendiri sepertinya tidak terlalu dieksplorasi oleh si penyair? Laut acapkali melambangkan salah satu unsur alam yang tidak bisa ditebak: gelombangnya bisa ganas dan mematikan, kedalamannya adalah misteri yang mustahil terkuak seluruhnya, dan keluasannya seakan-akan tak berujung. Akan tetapi di dalam kelima sajak yang dibahas dalam esai ini, Chairil tidak mencoba untuk menggali simbolisme laut melainkan meromantisasinya. Sebab laut dalam sajak-sajak tersebut tidak benar-benar dialami si aku-lirik melainkan cenderung dipandang dari jauh. Dalam hal ini, laut tidak berperan sebagai metafora, tetapi latar semata.  

Pada akhirnya, muncul kesan bahwa puisi-puisi Chairil yang berasosiasi kuat dengan laut mencerminkan pandangan romantik akan laut sebagaimana umum tergambar di dalam kesusastraan modern Eropa pasca-Perang Dunia II: suatu tempat pelarian sekaligus pembaruan diri (realm of escape and renewal) (Jonathan Raban, 1993, hlm. 30). Dengan menjadikan laut sebagai latar, tampaknya Chairil ingin menyajikan—meminjam kata-kata Nirwan Dewanto (2011)—semacam “lukisan suasana” (hlm. xx), tentang sosok subjek dengan gagasan individualismenya yang terasa tanggung.

 

Kepustakaan

Anwar, C. (2011). Aku Ini Binatang Jalang: Koleksi Sajak 1942–1949 (Pamusuk Eneste, ed.).

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Aspahani, H. (2016). Chairil. Jakarta: GagasMedia.

Hae. Z. (2018). Diskusi: Membaca Kembali Chairil Anwar . Jakarta: Komunitas Salihara.  https://www.youtube.com/watch?v=DF3r-jf8fA0&t=3918s

Jassin, H.B. (2013). Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Mohamad, Goenawan. (2006). Melupakan: Puisi dan Bangsa: Sebuah Motif dalam Modernisme Sastra Indonesia Setelah Tahun 1945” dalam Keith Foulcher & Tony Day (ed.), Clearing A Space: Kritik Pasca Kolonial tentang Sastra Indonesia Modern (hlm. 224–280). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia & KITLV-Jakarta.

Oemarjati, B.S. (1972). Chairil Anwar: The Poet and His Language. Leiden: Martinus Nijhoff. Prasetyo, A.B. (2021). Saksi Kata. Yogyakarta: Diva Press.

Raban, J. (1993). The Oxford Book of the Sea. Oxford: Oxford University Press.

 Teeuw, A. (1983). Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

 

Esai31 Agustus 2022

Dewi Anggraeni


Dewi Anggraeni adalah dosen di Program Studi Jepang, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI dengan peminatan susastra dan kajian poskolonial. Ia juga merupakan kandidat doktor di Graduate School of Japanese-Chinese Language and Literature, Hiroshima University, Jepang. Ia sedang merampungkan disertasi dengan tema penelitian “Representasi Indonesia oleh Pengarang-pengarang Selatan”. Ia pernah menjadi pemenang kedua Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2019 dan naskah kritiknya terpilih sebagai salah satu naskah yang dibukukan dalam Antologi kritik Sastra Badan Bahasa 2020. Ia aktif menulis tentang penelitian kesusastraan terutama untuk jurnal akademik serta menjadi penerjemah bahasa Jepang dan Inggris.