Mengunjungi “Kontrakan” Dadang

Ilustrasi: Hasan Haspahani

Kebebasan bereksperimen membuat batas wilayah antara puisi dan prosa kabur. Keduanya bertingkah manasuka sehingga menyaru satu sama lain. Ada prosa yang mengandung roh puisi. Pun ada puisi yang mengenakan jubah prosa (selebihnya Anda bisa membahasakannya sesuai keperluan pengistilahan). Gejala semacam ini, antara lain, telah dikonfirmasi oleh Rachmat Djoko Pradopo: “Kesusastraan adalah produk, adalah hasil dari evolusi; sejarahnya adalah sejarah transformasi (perubahan/penjelmaan) yang tak henti-hentinya hingga tak ada kriteria yang permanen, abadi.”[1]

Puisi, lebih-lebih, merupakan makhluk paling pembangkang yang cenderung ingin sepenuhnya merdeka dari pelbagai macam kaidah, bahkan bisa saja secara radikal memberontak terhadap kodratnya sendiri demi tampil eksis sebagai entitas-entitas lain. Dibanding prosa, puisi punya lebih banyak pintu keluar dari suatu konvensi untuk memasuki banyak pintu lain di mana ruang inovasi yang lebih segar terbentang luas, sebelum pelan-pelan berubah sumuk dan berakhir menjadi konvensi baru untuk kemudian ditinggalkan lagi. Begitu terus-menerus.

Baik puisi lirik maupun puisi naratif sama-sama membawa konsekuensinya masing-masing. Penyair dituntut mampu mengantisipasi berbagai konsekuensi itu supaya puisi yang ditawarkannya kepada khalayak pembaca tidak sekadar mengumbar kegenitan model, tetapi membuktikan keberhasilannya dalam mengungkap gagasan dengan model yang tengah dipakai. Jadi, bukan soal kenarsisan corak yang menjadi mistar ukur kualitas puisi, melainkan bakat dan intelektualisme penyairnya; bagaimana ia mendayagunakan kapabilitasnya dalam mengerahkan tenaga kata-kata, tenaga bahasa. Inilah yang tampak diikhtiarkan oleh Dadang Ari Murtono dalam sebuah puisi naratifnya:

Kontrakan[2]

Sesuatu mengetuk rumah kontrakan kami pada satu pagi.
“Aku Tuhan,” katanya begitu aku membuka pintu.
“Aku akan tinggal di sini sebab Tuhan memang sudah
seharusnya berada di mana-mana, menemani setiap hamba-Nya.”

“Tak masalah,” kataku.

Kami memberinya sebuah kamar persis di sebelah
kamar kami. Kami membiarkannya menggunakan kamar mandi
dan kipas angin. Kami tak keberatan memasak lebih banyak dan
memelankan desahan sewaktu bercinta agar tak mengganggu-Nya.

Namun di awal bulan selanjutnya, kami terpaksa mengusir-Nya
sebab Ia, yang mahakuasa, menolak urun uang sewa.

“Sayang sekali,” kataku sambil mendorong-Nya ke halaman,
“rumah kami bukan panti sosial.”

Sejak kali pertama mengunjungi “Kontrakan” Dadang, saya langsung dibuat terkesima. Kesan subjektif ini disebabkan oleh cara Dadang menggarap tema sosial-agama dengan enteng sekaligus anteng, tetapi meninggalkan gema yang bertalu-talu hingga saya merasa perlu mengunjunginya kembali di lain waktu, lagi dan lagi. Secara permukaan, arsitektur “Kontrakan” memang tampak sederhana, tidak menunjukkan rancang bangun nan megah, tapi juga tidak berarti murahan. Sebagaimana dua kumpulan puisinya, Jalan Lain ke Majapahit (Diva Press, 2019) dan Sapi & Hantu (Pelangi Sastra, 2022), puisi Dadang yang sedang saya bahas relatif mudah dicerna. Barangkali karena selain memakai bahasa sehari-hari, ia dijelmakan dalam langgam wicara prosa fiksi. Kilatan peristiwa, latar, plot, tokoh, dialog, konflik, menduduki posisi sentral dalam puisi tersebut ketimbang atribut puitik. Walau begitu, sifat asosiatif dari setiap jalinan katanyalah yang berperan penting dalam memproduksi makna.

Dalam sebuah esai, Kiki Sulistyo membedah anatomi Sapi & Hantu dan menemukan kecondongannya sebagai ciri khas paling vital dari puisi Dadang: “Dalam soal menyiasati narasi, Dadang terbilang tidak banyak menggunakan perangkat puitika; ia cenderung mempertahankan narasi, dalam hal ini cerita, sehingga sebagian besar puisinya bisa kita anggap sebagai cerita mini, atau kerangka suatu cerita.”[3]

Begitu pula teknik pertukangan yang diaplikasikan dalam bangunan “Kontrakan”. Penekanannya bukan terwalak pada kekuatan diksi per diksi, keganjilan imaji, ketaksaan lambang, melainkan terletak pada kemahalan ide, kekayaan pesan, dan lebih dari itu, kecakapan dalam menarasikan peristiwa imajiner yang dikemas dengan permainan karikatural.

Seperti puisi-puisi dalam Sapi & Hantu, puisi “Kontrakan” dibangun dengan struktur minimalis, bahkan lebih minimalis lagi. Melalui bentuknya yang menyerupai “cerita mini, atau kerangka suatu cerita”, ia menanggung gagasan besar dengan kependekannya, terbaca utuh dengan keterbatasannya, serta sarat makna dalam keterusterangannya. Dalam esai yang sama, Kiki menambahkan: “Dadang seperti menyunting sebuah cerita, menyingkirkan ornamen-ornamennya, mengeluarkan isinya, dan menjahitnya kembali menjadi puisi.”[4] Langkah demikian juga Dadang lakukan dalam “Kontrakan”. Puisi ini laksana setongkol jantung yang disempal dari persoalan hidup nan kompleks, rangkuman dari wacana pelik yang membutuhkan diskusi alot pada malam-malam panjang.

Lantaran menggunakan bahasa komunikasi massa, cair, dialektis, dan komikal, saya tak ragu menyebut “Kontrakan” sebagai puisi bergaya pop. Tidak menutup kemungkinan, penyairnya sendiri menyadari hal itu, dalam arti sengaja melakukannya dengan maksud tertentu. Biarpun benar adanya, Dadang tidak mengorbankan, tetapi bernegosiasi, dengan bentuk, agar konten yang diangkat dapat diserap dengan baik, seminim-minimnya arah yang dituju dapat diterka tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai puisi. Identitas itu, antara lain, tampak dari ilustrasi kejadian yang tentu saja bukan merupakan informasi faktual ataupun imajinasi dangkal, melainkan hadir sebagai alegori yang diperas dari pengheningan cipta nan dalam.

Membingkai pemikiran falsafi dengan kisah alegoris mungkin adalah keputusan paling tepat. Terlebih karena konteks pembicaraannya menyasar pada hal-hal mendasar dari kehidupan yang kadang kala sulit dijelaskan logika. Melalui watak naratif inilah Dadang memperlakukan puisinya sebagaimana yang diidealkan Zen Hae, yang merupakan pantulan dari konsepsi Asrul Sani dan Subagio Sastrowardoyo: “… puisi mesti mendepak sentimentalisme pribadi” dan bersamaan dengan itu ia harus “memperluas dan memperkaya dirinya, menjangkau intelektualisme.”[5] Alih-alih berkutat di ruang pengap emosi personal, puisi “Kontrakan” menggapai lanskap universal dengan dua perangai yang ditonjolkannya: diskursif dan kontemplatif.

Bertalian dengan dua tabiat itu, puisi “Kontrakan” seperti ditulis untuk menjadi oposisi bagi kedaulatan sajak-sajak sufistik. Jika Abdul Hadi W.M. mengungkapkan perasaan tenteram yang menunjukkan kedekatan diri seorang aku-lirik dengan Tuhannya melalui “Tuhan, Kita Begitu Dekat” dan Joko Pinurbo melayangkan perasaan gundah akibat keberjarakan saya-lirik dengan Tuhannya dalam “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”, Dadang lebih tergoda untuk bermain-main di bibir ngarai. Ia mencoba meretas dogma suatu agama yang mengungkung akal-pikiran bahwa Tuhan memang sepatutnya diimani, disembah, dipatuhi, tanpa perlu menyangsikan sama sekali kemahakuasaan-Nya.

Sebagai perbandingan tambahan, tak berlebihan kiranya bila saya harus menukil bait terakhir puisi “Doa” Chairil Anwar untuk lagi-lagi dipertentangkan dengan puisi “Kontrakan” Dadang: Tuhanku,/Di pintu-Mu aku mengetuk/Aku tidak bisa berpaling. Jelaslah dalam nukilan tersebut bahwa aku-lirik datang mengetuk pintu rumah Tuhan, pertanda bahwa aku-lirik membutuhkan kehadiran-Nya, belas kasih-Nya, penerimaan sekaligus pengakuan-Nya terhadap si pengetuk sebagai seorang hamba. Pernyataan Aku tidak bisa berpaling semakin meneguhkan posisi aku-lirik sebagai makhluk yang lemah sekaligus merupakan pantulan dari kekuatan imannya.

Berbeda 180 derajat dengan puisi “Kontrakan” yang seolah-olah mencibir religiositas puisi “Doa” dan ketakberdayaan aku-liriknya di hadapan Sang Pencipta. Tuhan digambarkan dengan gamblang mengetuk tempat tinggal kami untuk diterima, diakui, dan dilayani sebagai sesembahan. Kami pun menerima dan memenuhi berbagai “kebutuhan-Nya”.

Namun, nahas. Tuhan seakan-akan menyia-nyiakan laku keberbaktian kami. Uniknya, kami bukanlah sosok lemah dan tipikal hamba yang gampang pasrah. Kami didudukkan sebagai manusia superior dan berwenang atas pilihan hidupnya sendiri dengan cara mengusir Tuhan. Dalam hal ini, “Kontrakan” lebih mirip—atau lebih condong sebagai perpanjangan tangan—puisi “Tuan” anggitan Sapardi Djoko Damono[6]:

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

Meski singkat dan karenanya tidak menyodorkan rangkaian peristiwa yang dapat diikuti, kita bisa menciptakan adegan sendiri dalam kepala dengan membayangkan apa yang sedang terjadi antara Tuan dan saya. Bila kita harus mengurai puisi pendek tersebut, pertanyaan mengambang tanpa disertai jawaban sebagaimana yang tertera di atas, tentu tidak akan serta-merta terlontar begitu saja dari seseorang yang sedang menyimak pidato presiden, misalnya. Saya sendiri mengasumsikan adanya dua pasang mata yang saling menatap di depan pintu. Yang satu adalah tamu (Tuan); yang lain adalah pemilik rumah (saya). Sebelum itu, adegannya mungkin sama persis dengan puisi Dadang: Tuan mengetuk pintu, kemudian saya membukanya. Bedanya, jika dalam “Kontrakan” kami tidak diberi kesempatan oleh si tamu untuk bertanya terlebih dahulu sembari menebak-nebak tentang siapa sosok asing di hadapannya (“Aku Tuhan,” katanya begitu aku membuka pintu), sebaliknya, dalam “Tuan”, hanya ada dialog tunggal yang diucapkan oleh saya dan sama sekali tidak ada waktu buat si tamu untuk berbicara.

Lantas, pikiran kita terusik oleh pertanyaan ini: Kenapa saya tiba-tiba mempertanyakan identitas Tuan dengan mencurigainya sebagai Tuhan dan bukannya yang lain? Seperti tabir rahasia mengenai figur Tuan yang tidak akan pernah tersingkap sebab memang tidak terdapat petunjuk apa pun untuk sampai ke arah sana, pertanyaan di atas rasa-rasanya juga muhal terjawab. Tuan itu bisa jadi Tuhan, bisa juga bukan, entah siapa. Kalau boleh menerka-nerka maksud di balik penciptaan puisi ini, barangkali Sapardi mengandaikan kondisi seseorang yang teramat sibuk dengan kehidupan duniawinya (saya sedang keluar) sehingga lengah terhadap tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial dan beragama. Maka, tidak begitu penting siapa sesungguhnya yang berdiri di hadapan saya, baik dari segi teks maupun konteks. Poin besarnya, dua jawaban sama-sama dimungkinkan, yakni dua objek relasi yang semestinya saya jaga: Tuhan (hubungan spiritual) ataupun bukan (hubungan sosial).

Dengan mengatakan Tunggu sebentar, subjek saya juga diposisikan sebagai manusia superior dan berwenang atas pilihan hidupnya sendiri sebagaimana kami dalam “Kontrakan”. Tapi, bukan berarti saya sepenuhnya tidak peduli. Di belakang frasa Tunggu sebentar ada secercah perhatian dalam bentuk pemberian harapan kepada Tuan untuk mendapatkan simpati dari saya. Pertanyaan yang terlintas kemudian: Sebetulnya saya sedang keluar ke mana dan berada di mana? Lagi-lagi ini pertanyaan mustahil atau susah sekali terjawab karena, selain tiadanya petunjuk, teks sudah berakhir di situ sehingga kita hanya menemukan jalan buntu. Akan beda perkara dan sudah jelas belaka jika frasa tersebut diganti menjadi saya mau keluar. Kalaupun tanpa keterangan mau keluar ke mana, setidaknya kita tahu posisi saya jelas berada di depan batang hidung si Tuan. Lain soal dengan saya sedang keluar di mana konjungsi sedang membuat pernyataan tersebut jadi ambigu dan pada akhirnya kita menyangsikan adegan perjumpaan saya dan Tuan di depan pintu.

Ambiguitas dan kesangsian itu, saya kira, hanya akan terpecahkan apabila kita mengembalikan makna konotatif keluar kepada konteks “kesibukan duniawi” tadi. Kita tidak perlu lagi mempermasalahkan saya sedang keluar ke mana dan berada di mana, sebab kata keluar rupa-rupanya adalah keputusan yang sedang saya tempuh sebagai individu yang bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Kebebasan inilah yang juga kami amalkan dalam “Kontrakan” dengan cara menerima kedatangan Tuhan sebelum kemudian mengusir-Nya. Kalau mau diparafrasakan, kami mempertanyakan, apakah manusia memang butuh Tuhan? Benarkah otoritas Tuhan tidak boleh diganggu-gugat? “Pada bawah-sadarnya,” menurut Zen Hae, “manusia sebenarnya tidak membutuhkan Tuhan—agamalah yang membuat manusia membutuhkan-Nya.”[7] Lebih jauh, Zen memaparkan:

“Pengentalan pengalaman yang filsafat juga bisa mendorong manusia kepada hasrat untuk meragukan semua yang sudah dianggap mapan. Meragukan adalah bukti bahwa manusia berpikir, bukan sekadar merasa. Jika merasa hanya melahirkan sentimentalisme yang dangkal dan cenderung palsu, maka meragukan mengantarkan kita kepada kesadaran baru, cikal bakal filsafat. Mempertanyakan kembali hakikat kebenaran bukan berarti untuk menyaksikan sesuatu terbatalkan, tetapi demi mencapai pemahaman baru atas semua itu.”[8]

Penjabaran Zen tentang “meragukan yang mapan” dan “mempertanyakan hakikat kebenaran” di atas, secara tak langsung mengafirmasikan perlunya bersikap teliti, hati-hati, dan bijaksana dalam menghadapi teks sastra yang kadang kala “nyeleneh” bagi kita, yang apabila hanya dibaca sepintas, bisa saja dianggap sarana propaganda. Dalam telaah sastra, mencurigai teks tidak sama dengan mencari-cari celah untuk dijadikan lubang intip terhadap pandangan ideologis ataupun kehidupan biografis pengarangnya. Mencurigai teks, dalam hal ini, adalah berprasangka baik kepada teks itu sendiri, alih-alih lekas menyimpulkan dengan gegabah apalagi sampai melemparkan tuduhan macam-macam kepada si pemilik teks. Ini berlaku bagi siapa pun, mau kita percaya pada jargon “kematian pengarang” atau tidak.

Kembali ke “Kontrakan”, hunian ini ialah wilayah domestik, ruang privasi, tempat tinggal yang relatif sementara dan tentu saja butuh biaya cukup besar untuk menempatinya dalam kurun waktu tertentu. Berlatar rumah sewa inilah sebuah pengalaman “ajaib” Dadang lukiskan dalam rangka mengajak pembaca untuk melihat persoalan sosial-agama secara saksama. Berbekal pemahaman lain, kita juga boleh menganggap kontrakan sebagai metonimia dari dunia fana, dan setiap dari kita yang merasa menjadi penumpang harus “membayarnya” dengan cara berbakti kepada Sang Penampung.

Namun, tidak demikian halnya dengan kami dalam “Kontrakan”. Kami menginginkan adanya hubungan transaksional dengan Tuhan. Apabila keinginan itu tidak terpenuhi, kami lebih memilih putus kont(r)ak dengan-Nya. Dari sini tebersit kecurigaan di benak saya: Jangan-jangan Dadang hendak mengkritisi kaum agamis yang beribadah bukan semata-mata karena kewajiban, melainkan atas dorongan ambisi untuk meraih imbalan (rezeki, pahala, surga, dan seterusnya). Maka, perlu kiranya kita mengulang-ulang pertanyaan yang sudah (atau takkan pernah) usang ini sebagai bahan refleksi: Jika surga dan neraka tidak ada, apakah umat beragama akan tetap beribadah?

Melalui aku-narator yang notabene tokoh utama bersama sosok-kedua-implisit yang “tersembunyi di balik punggung si aku”, mula-mula kita langsung dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan, yakni munculnya entitas misterius yang mengaku Tuhan. Tak jelas apakah Tuhan sungguhan atau cuma manusia yang mengaku-ngaku diri sebagai Tuhan. Tapi, berdasarkan T kapital, saya menafsirkannya sebagai Tuhan-yang-disembah meski tak jelas pula Tuhan dari golongan mana yang dimaksud dan memang tidak perlu Dadang jelaskan karena bukan di situ aspek pentingnya.

Frasa satu pagi menjadi penanda awal yang menjanjikan terjadinya perubahan ke dunia yang cerah. Dalam kosakata Islam, umpamanya, petunjuk menuju dunia yang cerah ini lazim disebut “hidayah”. Saya membayangkan, setelah semalam suntuk Tuhan menyimak doa-doa para hamba-Nya dengan khusyuk, Ia perlu menyambangi sebagian hamba lain yang enggan menghadap-Nya. Untuk itu, kalimat Sesuatu mengetuk rumah kontrakan kami adalah sebentuk upaya penyadaran demi terbukanya hati si hamba untuk mengenal Penguasa Jagat. Sementara itu, aku membuka pintu mengisyaratkan proses penerimaan terhadap hal yang semula asing. Itulah mengapa, entitas misterius itu mesti cepat-cepat memperkenalkan diri:“Aku Tuhan.” Tujuan kedatangan-Nya hanya satu: menemani. Di satu sisi, hal ini merupakan wujud kepedulian Tuhan kepada semua ciptaan-Nya, tak terkecuali hamba yang belum mengenal dan mengimani-Nya. Di sisi lain, ironi tentang keberadaan Yang-Liyan sudah mulai terendus karena kata kerja pasif tersebut (menemani) terlalu “semenjana” jika disandingkan dengan kebesaran-Nya.

Tak heran bila kemudian aku-lirik memberi tanggapan yang condong pasif pula: “Tak masalah.” Tanggapan ini merupakan sikap penerimaan yang terkesan acuh tak acuh dan mungkin itu sudah pilihan kata yang tepat dibandingkan dengan respons yang lebih terbuka, semisal, “Silakan, dengan senang hati.” Sikap canggung tersebut mengindikasikan keputusan dilematis antara butuh dan tak butuh terhadap hal baru yang bagi individu tertentu belum jelas manfaat dan mudaratnya. Tetapi, kita segera mengetahui reaksi kami selanjutnya di bait ketiga. Kami (aku dan dia-implisit) sudah sama-sama terlibat aktif dalam kerja sama yang seimbang, mulai dari memberinya sebuah kamar, membiarkannya menggunakan kamar mandi dan kipas angin, memasak lebih banyak, hingga merasa perlu memelankan desahan sewaktu bercinta agar tak mengganggu-Nya.

Semua pemberian dan pembiaran tersebut cukup menggambarkan perhatian si kami kepada Tamu Agung sampai-sampai di saat melakukan aktivitas profan pun, kami masih mengindahkan-Nya. Serentak dengan itu, ada kemungkinan bahwa penyair melakukan desakralisasi terhadap kedudukan Tuhan. Hal ini paralel dengan karakter kami yang memandang segala sesuatu dengan menggunakan kacamata sekuler. Kamar, kamar mandi, kipas angin, menandai sifat kecintaan material; memasak dan bercinta merepresentasikan gejolak hawa nafsu; harapan untuk menerima uluran urun uang sewa dan penekanan sinis pada “rumah kami bukan panti sosial” tak lain ialah bukti bahwa kami merupakan manusia pragmatis yang sangat menghendaki hubungan timbal-balik. Tidak ada makan siang gratis.

Hal lain yang ingin saya perkarakan, yaitu masalah ejaan. Di bait ketiga ini kita dibuat bertanya-tanya sejenak: Mengapa Dadang tidak konsisten menulis enklitik -nya dengan mengapitalkan N di satu pihak dan mengapitilkannya di pihak lain? Apakah dia lengah? Ataukah memang disengaja dengan motif khusus? Sebetulnya, inkonsistensi serupa juga terjadi pada bait pertama. Tapi, biarlah sekalian saya bahas di paragraf berikut ini demi mengejar fokus topik.

Mengingat pentingnya berprasangka baik kepada teks sampai unit terkecilnya sekalipun, dan daripada mencela si penyair tidak becus berurusan dengan teknis penulisan, ada baiknya kita berpikir positif kendati “kekeliruan” itu sedikit mengusik pembacaan. Pada bait ketiga ini, Dadang mencoba menyederhanakan laku pembaktian umat beragama kepada sembahannya. Dia melakukannya dengan cara mengonkretkan yang abstrak, katakanlah, “memanusiakan Tuhan” supaya lebih efektif dipahami selain ingin mencapai efek puitis.

Kata memberinya dan membiarkannya dengan n kecil pada enklitik -nya, barangkali ada kaitannya dengan konsep “memanusiakan Tuhan” itu. Sebab, sadar bahwa bagaimanapun dan dari segi apa pun Tuhan tidak dapat disamakan apalagi diperlakukan sama dengan manusia, Dadang memilih menulis -nya dengan n kecil yang disandarkannya kepada sifat alami manusia (tidur, mandi, makan, serta memakai kipas angin). Adapun kata mengganggu-Nya dengan N besar pada enklitik -Nya, ia labuhkan kepada Tuhan karena kata tersebut memang murni tertuju kepada Tuhan tanpa adanya sifat manusiawi ataupun sikap memanusiakan dalam klausa memelankan desahan sewaktu bercinta agar tak mengganggu-Nya. Perlu digarisbawahi, klausa agar tak mengganggu-Nya tidak selayaknya diartikan secara harfiah. Tapi, hal itu hanya akan masuk akal bila dibaca sebagai simbol ketakziman hamba kepada Sang Pencipta dalam keadaan apa pun.

Sejurus kembali ke bait pertama, kita bakal mendapati kata katanya dan hamba-Nya yang sama-sama mengacu kepada Tuhan. Namun, mengapa mesti beda cara penulisan -nya pada dua kata tersebut? Sekali lagi, ketimbang buru-buru mengecam Dadang plin-plan, tak sia-sia kiranya jika kita mengkaji ulang kedua kata itu dengan melihat konteks yang dikandung. Mengapa katanya ditulis dengan n kecil? Saya pikir, di baris kedua itu, kehadiran figur yang mendaku diri sebagai Tuhan masih menempati ruang hitam-putih karena baru berpijak di tahap pengenalan yang mungkin saja bisa dipercaya, bisa juga tidak, oleh subjek aku atau kami. Beda halnya dengan kata hamba-Nya yang berada di ujung bait. Anafora -Nya dengan N kapital itu jelas merujuk pada kata Tuhan dalam dialog yang dilontarkan oleh Tuhan sendiri.

Lebih lanjut, Dadang melompatkan latar waktu ke awal bulan selanjutnya di mana konflik pecah antara kami dan Tuhan. Konflik itu dipicu oleh keengganan Ia, yang mahakuasa, untuk urun uang sewa kontrakan sehingga berujung pada tindakan pengusiran kami terhadap-Nya. Di sini, satire dimainkan dan ironi mengenai eksistensi Tuhan kian mencolok. Sikap menolak urun uang sewa dibenturkan dengan ungkapan simpatik “Tuhan memang sudah/ seharusnya berada di mana-mana, menemani setiap hamba-Nya” di stanza pertama. Paradoks inilah yang menjadi gerbang jumbo untuk memasuki diskursus panjang-lebar tentang peran Tuhan bagi keberlangsungan hidup manusia.

“Sayang sekali,” kataku sambil mendorong-Nya ke halaman,/“rumah kami bukan panti sosial.” Di samping merentangkan citraan visual serta ucapan perpisahan yang tampak sinis sekaligus jenaka, bait pemungkas yang merupakan kelanjutan dari ikhtiar “mengonkretkan yang abstrak” ini menunjukkan taring satire yang lebih tajam. Apa boleh buat, Sesuatu yang bertandang pada satu pagi dengan maksud menjanjikan kecerahan hidup di larik pembuka puisi, rupanya dipatahkan oleh Sesuatu itu sendiri sehingga kami, terutama si aku, lebih menghendaki hidup bebas dengan tetap menghadapi bermacam beban sosial (ekonomi) yang harus dipikulnya tanpa repot-repot dibebani lagi oleh berbagai macam tuntutan agama.

Pertanyaan yang mengemuka kemudian: Mungkinkah Sesuatu itu kembali datang mengetuk pintu dan diizinkan masuk lagi? Sayang, puisi sudah tamat. Yang jelas, ada kalanya kita mesti kehilangan sesuatu untuk menyadari bahwa kita sangat membutuhkannya. Itu pun kalau kita sadar. Itu pun kalau kita butuh.

 

Catatan Kaki

[1] Rachmat Djoko Pradopo, Prinsip-Prinsip Kritik Sastra (Gadjah Mada University Press, 2018), 24.

[2] Dadang Ari Murtono, “Kontrakan” (https://kalamsastra.id/dwimingguan-3/kontrakan), 11 Maret 2024.

[3] Kiki Sulistyo, “Menyiasati Narasi” (https://tengara.id/esai/menyiasati-narasi-sayembara-puisi-dkj/), 26 September 2023. Selanjutnya ditulis “Menyiasati Narasi”.

[4] “Menyiasati Narasi”

[5] Zen Hae, Sembilan Lima Empat (Penerbit JBS, 2022), 69. Selanjutnya ditulis Sembilan Lima Empat.

[6] Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas (Gramedia Pustaka Utama, 2018), 32-33.

[7] Sembilan Lima Empat, 73.

[8] Sembilan Lima Empat, 74.

Blog29 Oktober 2026

Daviatul Umam


Daviatul Umam, menulis puisi dan prosa. Buku puisinya yang telah terbit adalah Kampung Kekasih (Halaman Indonesia, 2019). Karya-karyanya yang lain dipublikasikan di sejumlah media dan bunga rampai. Kini bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep, Madura. Ia bisa disapa di Instagram @daviatul.umam.