Untuk apa hidup serba-tersedia, tetapi membuat kita semakin sulit menjawab apa yang sebenarnya kita cari?
Hampir satu abad lalu, Hamidah mengajukan pertanyaan sederhana sekaligus mengusik: “Bagaimanakah dan apa gunanya hidup dengan tak mempunyai sukma? Hidup dengan tak bertujuan?”1 Pertanyaan itu muncul dari pengalaman kehilangan, tetapi maknanya tidak berhenti pada kesedihan seorang perempuan yang kehilangan orang yang dicintai. Hamidah sedang berhadapan dengan persoalan lebih dalam: Tubuh tetap hidup, pekerjaan tetap dijalankan, tetapi sesuatu yang selama ini membuat kehidupan mempunyai arah telah terguncang. Kehilangan, dengan demikian, adalah hilangnya seseorang atau sesuatu yang dicintai dan hilangnya pusat yang membuat kehidupan mempunyai alasan.
Pertanyaan itu dekat dengan kehidupan sekarang. Gawai membuat komunikasi berlangsung hampir tanpa jeda, media sosial membawa kehidupan orang lain ke ruang pribadi, sedangkan kecerdasan buatan mampu menghasilkan kalimat tentang cinta, kesedihan, Tuhan, kematian, kesabaran, dan makna hidup dalam waktu singkat. Waktu manusia dipenuhi oleh semakin banyak hal, tetapi kepenuhan aktivitas tidak dengan sendirinya menghasilkan makna. Dalam kajian mengenai meaning in life, makna berkaitan dengan kemampuan memahami kehidupan, memiliki tujuan, dan merasakan bahwa keberadaan diri mempunyai arti.2 Pertanyaan Hamidah mengenai “sukma” dan “tujuan” memang lahir dari dunia yang berbeda. Bagaimanapun, ia menyentuh persoalan yang masih kita kenal: Apa yang membuat hidup terasa sungguh dijalani dan bukan sekadar rangkaian kegiatan yang berlangsung dari hari ke hari?
Tidak ada alasan untuk menganggap Hamidah sedang meramalkan zaman digital. Kehilangan Mestika memperlihatkan bagaimana seseorang berusaha memahami kehidupannya setelah sesuatu yang penting hilang. Dalam pengalaman kehilangan, pemahaman lama tentang diri dan dunia dapat terguncang sehingga seseorang perlu menyusun kembali hubungan antara masa lalu, keadaan sekarang, dan kemungkinan masa depan. Dalam psikologi, proses semacam itu dikenal sebagai meaning-making.3 Karena itu, pengalaman Hamidah bisa digunakan untuk memahami kehilangan, tujuan, dan kehidupan pada masa ketika teknologi telah mengubah hampir seluruh lingkungan perhatian manusia.
Judul Kehilangan Mestika memberikan pintu masuk yang penting. Mestika dapat dipahami sebagai sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang selama ini menjadi pusat harapan. Ia dapat berupa seseorang yang dicintai, keluarga, pekerjaan, keberhasilan, kedudukan, pengakuan, atau gambaran mengenai masa depan. Selama sesuatu itu masih tersedia, seseorang mungkin tidak merasa perlu bertanya terlalu jauh mengenai alasan hidupnya. Tujuan seolah-olah sudah berada di depan mata. Ketika pusat tersebut hilang, persoalannya berubah. Yang terguncang, yaitu hubungan dengan sesuatu yang telah pergi dan cerita yang selama ini digunakan seseorang untuk memahami diri.
Dalam kajian mengenai identitas naratif, manusia membangun pemahaman tentang dirinya melalui cerita yang menghubungkan pengalaman, tujuan, nilai, dan masa depan. Cerita tersebut membantu pengalaman yang berbeda memperoleh hubungan dan bentuk.4 Kehilangan, karena itu, dapat mengguncang identitas karena kehidupan yang sebelumnya terasa masuk akal tiba-tiba tidak lagi dapat dijelaskan dengan cara yang sama. Dalam konteks inilah, judul Kehilangan Mestika dapat dibaca sebagai kehilangan “mestika” dan sebagian dari cerita yang membuat kehidupan terarah.
Pengalaman Hamidah berlangsung di tengah lingkungan sosial yang memiliki aturan mengenai bagaimana perempuan seharusnya menjalani kehidupan. Ia menggambarkan dunia perempuan yang dibentuk oleh adat, pingitan, dan penantian terhadap pinangan. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa perkawinan bukanlah tujuan hidup yang terutama baginya.5 Pernyataan tersebut mengacu pada persoalan hak menentukan arah kehidupan. Ada tujuan yang ditawarkan masyarakat kepada seseorang dan tujuan yang ingin ia tentukan sendiri. Tekanan sosial juga bekerja melalui pandangan orang lain. Hamidah berbicara tentang kesulitan perempuan mencari nafkah yang halal sambil menghadapi “mulut orang luar”.6 Kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana penilaian sosial dapat masuk ke dalam keputusan yang sangat pribadi. Pilihan hidup dipertimbangkan berdasarkan apa yang diyakini seseorang benar dan berdasarkan kemungkinan gunjingan, penolakan, serta rasa malu. Dengan demikian, sejak awal, persoalan mengenai tujuan hidup dalam Kehilangan Mestika tidak terlalu individual. Kehidupan batin Hamidah dibentuk sekaligus ditekan oleh lingkungan sosial tempat ia berada.
Di tengah keadaan itu, kata “sukma” memperoleh arti penting. Hamidah menulis, “Jasmaniku hidup, tetapi rohaniku rusak binasa. Bagaimanakah dan apa gunanya hidup dengan tak mempunyai sukma? Hidup dengan tak bertujuan?”7 Ada jarak antara tubuh yang masih hidup dan kehidupan batin yang tidak lagi menemukan arahnya. Kita tidak perlu buru-buru menerjemahkan keadaan itu ke dalam istilah psikologi klinis masa kini. Bahasa yang dipilih Hamidah sendiri sudah memberikan perangkat pembacaan yang cukup: jasmani, rohani, sukma, tujuan, kesabaran, kepercayaan, dan pengorbanan.
Dalam pembacaan ini, “kehilangan sukma” menunjuk pada terputusnya hubungan antara kehidupan sehari-hari dan sesuatu yang membuat kehidupan tersebut berarti. Namun, meski seseorang masih dapat bangun pagi, bekerja, berbicara dengan orang lain, memenuhi kewajiban, dan menjalankan rutinitas, semua itu dapat terasa kehilangan arah ketika ia tidak lagi mengetahui untuk apa semua kegiatan tersebut dilakukan. Dalam teori makna hidup, tujuan dan signifikansi merupakan bagian penting dari pengalaman manusia mengenai kehidupan yang bermakna8. Akan tetapi, pertanyaan Hamidah tentang hidup tanpa tujuan membuka kemungkinan pembacaan yang sejalan dengan persoalan tersebut tanpa menghapus kekhasan bahasa dan zamannya.
Karena itu, pengalaman Hamidah tidak perlu disebut sebagai depression, burnout, atau dissociation. Istilah-istilah tersebut berasal dari kerangka pengetahuan yang berbeda dan berisiko membuat pengalaman historis dalam novel tampak seperti kasus klinis. Yang lebih menarik adalah memperhatikan bagaimana kehilangan mengubah hubungan seseorang dengan kehidupan. Kajian mengenai duka menunjukkan bahwa kehilangan dapat mendorong seseorang membangun kembali pemahaman mengenai dirinya, dunianya, dan masa depannya.9 Apa yang sebelumnya dianggap stabil tidak lagi dapat digunakan begitu saja untuk menjelaskan keadaan baru. Dalam pengertian tersebut, Kehilangan Mestika berbicara tentang pekerjaan batin yang harus dilakukan setelah kehilangan: cara hidup dengan masa lalu.
Spiritualitas muncul dalam proses tersebut. Ia berada pada kalimat yang secara eksplisit menyebut Tuhan atau agama. Juga berada dalam cara seseorang menghadapi sesuatu yang berada di luar kendalinya, menafsirkan penderitaan, dan mencari alasan untuk meneruskan kehidupan. Narasi mengenai kehidupan dan spiritualitas sering kali bertemu pada usaha manusia memberikan arti terhadap pengalaman yang sulit dijelaskan secara sederhana.10 Karena itu, dalam Kehilangan Mestika, spiritualitas lebih tepat dipahami sebagai proses daripada sebagai jawaban final. Hamidah sedang mencari bentuk kehidupan yang memungkinkan dirinya tetap berjalan.
Hal itu tampak dalam pernyataannya: “Tetapi aku masih mau hidup dengan baik. Aku belum putus harapan. Biarlah aku berusaha! Biarlah aku berkorban baik kecil ataupun besar!”11 Kata “masih” mempunyai arti penting. Harapan itu muncul setelah pengalaman yang mengguncang kehidupannya. Harapan hadir sebagai keputusan untuk tetap membuka kemungkinan bagi kehidupan. Lebih penting lagi, harapan tersebut segera diikuti oleh kata “berusaha”. Ada tindakan di dalamnya. Hamidah menyatakan kesediaan untuk melakukan sesuatu terhadap kehidupan yang masih tersisa.
Dari sinilah istilah “tawakal radikal” saya gunakan sebagai konsep pembacaan. Tawakal radikal adalah kesediaan menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia tanpa menjadikan keterbatasan itu alasan untuk berhenti bertindak. Ada kehilangan yang tidak dapat dibatalkan, masa lalu yang tidak dapat diubah, dan keputusan orang lain yang tidak dapat dipaksa. Namun, dari batas tersebut masih terdapat ruang untuk memilih, bekerja, belajar, merawat, mengabdi, dan menentukan bagaimana kehidupan diteruskan. Dalam pembacaan terhadap Hamidah penerimaan dan tindakan bertemu dalam usaha mempertahankan kehidupan.
Kesabaran yang muncul dalam pengalaman Hamidah juga tidak sama dengan diam. Hamidah mengenang bahwa pada suatu masa ia mengira kesedihan karena kehilangan kekasih tidak akan berakhir. Kemudian ia menyadari bahwa kesedihan itu dapat berubah melalui kesabaran dan kepercayaan bahwa akan ada “obat dari pilu itu”.12 Hubungan dirinya dengan masa lalu berubah. Kajian mengenai spiritualitas dan duka menunjukkan bahwa proses memberi makna dapat membantu seseorang menempatkan kehilangan ke dalam pemahaman kehidupan yang lebih luas.13 Dengan demikian, kesabaran Hamidah merupakan kerja batin yang memungkinkan kehidupan bergerak tanpa harus menyangkal luka yang pernah dialami.
Karena itu, perjalanan Hamidah adalah kisah tentang berubahnya kedudukan kehilangan. Ia tidak lagi menjadi satu-satunya pusat yang menentukan masa depan. Kehidupan yang kemudian dibangun tidak mengembalikan apa yang hilang. Ia membuka kemungkinan bahwa sesuatu yang lain masih dapat dikerjakan. Spiritualitas, dalam konteks ini, adalah cara menghadapi kenyataan tanpa membiarkan penderitaan menguasai seluruh masa depan.
Akhir novel membuat pembacaan tersebut semakin penting. Hamidah kembali berhadapan dengan kesendirian setelah perceraian sehingga persoalan mengenai gunanya kehidupan tidak hilang begitu saja. Ini mencegah kita membaca perjalanan spiritualnya sebagai cerita pemulihan yang lurus dan selesai. Kesabaran tidak menghapus kesepian. Harapan tidak mengembalikan masa lalu. Pengabdian tidak membuat pengalaman pahit seolah-olah tidak pernah terjadi. Kehidupan menjadi lebih masuk akal ketika perubahan tersebut dipahami sebagai proses yang dapat berlangsung berulang kali. Rekonstruksi makna setelah kehilangan tidak selalu bergerak maju secara lurus.14
Lalu bagaimana pertanyaan Hamidah dalam konteks zaman gawai?
Lingkungan sosial kita tentu berbeda. Hamidah hidup dalam masyarakat yang secara terbuka menentukan banyak hal mengenai kehidupan perempuan. Manusia sekarang mempunyai lebih banyak pilihan dan berhadapan dengan lebih banyak ukuran mengenai kehidupan yang dianggap berhasil. Melalui layar, kehidupan orang lain hadir hampir setiap saat: pekerjaan, rumah, perjalanan, tubuh, pasangan, pencapaian, makanan, dan berbagai bentuk kebahagiaan yang dipilih untuk diperlihatkan kepada publik.
Namun, hubungan antara media sosial dan kesejahteraan ditunjukkan penelitian dalam hasil yang beragam. Dampak media sosial bergantung pada bagaimana media digunakan, aktivitas apa yang dilakukan, konteks hubungan sosial, dan pengalaman yang menyertainya.15 Meta-analisis yang lebih baru juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat berkaitan dengan kesejahteraan secara berbeda-beda, sedangkan penggunaan bermasalah dan perbandingan sosial dapat membawa konsekuensi yang kurang menguntungkan.16 Karena itu, persoalan yang menarik, yaitu bagaimana lingkungan digital mengubah cara perhatian diarahkan dan bagaimana seseorang menilai kehidupannya sendiri.
Hari ini gawai telah menjadi bagian dari cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menjaga hubungan. Persoalan muncul ketika seluruh jeda dalam kehidupan segera diisi oleh layar. Kesunyian menjadi lebih sulit ditemui karena selalu ada sesuatu yang dapat dilihat. Kebosanan segera dapat digantikan dengan hiburan. Pertanyaan yang belum selesai dapat segera dialihkan kepada mesin pencari atau chatbot. Dalam keadaan seperti itu, masalah terjadi karena kesempatan untuk mengalami waktu tanpa rangsangan yang terus-menerus datang dari luar berkurang.
Di sinilah Kehilangan Mestika memperoleh hubungan yang menarik dengan kehidupan digital. Hamidah harus berhadapan dengan pertanyaan mengenai apa yang menjadi pusat hidupnya. Manusia sekarang berhadapan dengan persoalan yang sedikit berbeda: Pusat kehidupan dapat terus berubah karena perhatian ditarik dari satu hal ke hal lain. Apa yang dianggap penting pagi ini dapat digantikan oleh sesuatu yang muncul di layar beberapa jam kemudian. Kehidupan mudah berubah menjadi kumpulan respons terhadap apa yang datang dari luar.
Kecerdasan buatan membawa persoalan tersebut ke tahap yang lain. Mesin sekarang lebih jauh daripada sekadar membantu mencari informasi, ia juga mampu menghasilkan bahasa mengenai wilayah yang selama ini dianggap dekat dengan pengalaman batin. Seseorang dapat meminta AI menulis refleksi tentang kehilangan, menyusun doa, menjelaskan kesabaran, atau mencari kata-kata untuk mengungkapkan kesedihan. Kemungkinan munculnya entitas spiritual chatbot bahkan telah menjadi bagian dari diskusi mengenai hubungan antara kecerdasan buatan dan kehidupan spiritual.17
Istilah “mesin spiritual” dalam tulisan ini menunjuk pada perubahan dalam kemampuan mesin: Bahasa tentang pengalaman batin kini dapat diproduksi secara otomatis dan dalam jumlah yang hampir tidak terbatas. Perubahan ini penting karena selama berabad-abad manusia menganggap kemampuan berbicara mengenai cinta, kehilangan, doa, iman, kesabaran, dan makna sebagai bagian yang sangat dekat dengan pengalaman manusia.
Di sinilah perbedaan antara bahasa dan pengalaman perlu dipertahankan. AI dapat menghasilkan tulisan mengenai cinta tanpa harus menjalani hubungan cinta. Ia dapat menjelaskan kehilangan tanpa memiliki seseorang yang telah pergi dari kehidupannya. Ia dapat menyusun uraian mengenai kesabaran tanpa harus menunggu sesuatu yang menyakitkan. Pertanyaan mengenai kesadaran mesin menjadi persoalan filosofis yang jauh lebih luas. Untuk pembacaan Kehilangan Mestika, pertanyaan yang lebih sederhana sudah cukup penting: Apakah kemampuan menghasilkan bahasa tentang pengalaman sama dengan menjalani pengalaman yang memberi bahasa tersebut bobot?
Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika AI memasuki wilayah makna hidup. Nyholm dan Rüther menunjukkan bahwa AI dapat dipertimbangkan dalam kaitannya dengan kondisi yang membuat kehidupan manusia bermakna.18 Jika sebagian pekerjaan, keputusan, pencarian informasi, dan produksi kreatif semakin mudah diserahkan kepada sistem AI, persoalan yang muncul, yaitu pertanyaan mengenai apa yang dapat dilakukan mesin dan perlunya mempertimbangkan apa yang terjadi pada rasa tujuan, keterlibatan, serta tanggung jawab manusia ketika proses yang sebelumnya membutuhkan usaha pribadi semakin mudah didelegasikan.
Dalam keadaan seperti itu, pertanyaan Hamidah memperoleh arti baru: Siapa yang sebenarnya menjalani kehidupan ini?
Hamidah menerima pengaruh dari norma sosial, pengalaman cinta, kehilangan, dan keadaan yang tidak ia kendalikan secara penuh. Namun, kehidupan akhirnya tetap harus ia jalani sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat mengambil alih rasa kehilangan tersebut. Ia harus menafsirkan pengalaman, mengambil keputusan, bekerja, bersabar, dan menentukan bentuk kehidupan yang akan diteruskan. Di situlah kata “sukma” mendapatkan bobotnya. Ia berkaitan dengan pusat pengalaman yang membuat kehidupan sebagai serangkaian peristiwa dan sesuatu yang dialami serta ditanggung oleh seseorang.
Sastra mempunyai kekuatan khusus dalam persoalan ini. Ia memberikan kalimat tentang pengalaman dan memperlihatkan pengalaman dalam rentangan waktu. Pembaca melihat perubahan, keraguan, keputusan, kegagalan, dan usaha untuk meneruskan hidup. Penelitian mengenai identitas naratif menunjukkan pentingnya cerita dalam menghubungkan pengalaman kehidupan dan kesejahteraan.19 Dalam Kehilangan Mestika, kita memang diberi pernyataan bahwa harapan itu penting. Namun, kita juga melihat harapan muncul setelah kehilangan ketika alasan untuk meneruskan kehidupan belum terlalu jelas.
Karena itu, sastra mempunyai sesuatu yang berbeda dari jawaban yang tersedia. Kekuatannya terletak pada kemampuan mempertahankan beragam pertanyaan dengan cukup lama sehingga pembaca dapat menghadapinya sendiri. Kehilangan Mestika memperlihatkan seseorang yang harus hidup setelah kehilangan dan perlahan menemukan alasan untuk terus berjalan.
Maka, dalam konteks pembacaan terhadap novel tersebut, AI dapat membantu manusia menemukan kata, memperoleh informasi, atau bahkan menyusun refleksi yang sebelumnya sulit dirumuskan. Persoalannya terletak pada siapa yang menggunakan kata-kata itu dan apa yang dilakukan setelahnya. Sebuah refleksi yang dihasilkan mesin tetap dapat menjadi berguna jika manusia menjadikannya bahan untuk berpikir. Sebaliknya, tulisan yang sangat indah tidak banyak berarti jika hanya digunakan untuk menghindari pengalaman yang seharusnya dihadapi.
Mestika zaman sekarang mungkin juga telah berubah bentuk. Ia dapat berupa karier, pasangan, popularitas, jumlah pengikut, citra diri, produktivitas, kekayaan, atau gambaran mengenai diri ideal yang terus ditawarkan oleh lingkungan sosial dan digital. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalah muncul ketika salah satunya berubah menjadi satu-satunya sumber nilai diri. Ketika sesuatu itu hilang, seseorang dapat merasa seolah-olah seluruh kehidupannya ikut kehilangan alasan.
Pertanyaan Hamidah membantu kita melihat bahaya tersebut dari sudut lain. Kehidupan membutuhkan sesuatu yang dianggap bernilai, tetapi manusia jangan terlalu menyerahkan nilai kehidupannya kepada satu objek yang berada di luar kendalinya. Kehilangan adalah kemungkinan yang selalu ada dalam kehidupan. Karena itu, yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk terus menyusun kehidupan ketika kehilangan terjadi.
Di sinilah gagasan tawakal radikal memperoleh tempat. Ia merupakan cara membaca hubungan antara keterbatasan dan tindakan: Ada hal yang harus diterima karena tidak dapat diubah dan ada hal yang tetap menjadi wilayah tanggung jawab manusia. Hamidah tidak dapat mengembalikan semua yang telah hilang, tetapi masih dapat memilih apa yang akan dilakukan dengan kehidupan yang tersisa.
Barangkali persoalan manusia pada zaman gawai adalah kesulitan untuk membedakan pilihan yang sungguh-sungguh kita kehendaki dari pilihan yang terus-menerus ditawarkan kepada kita. Kita dapat mengejar banyak hal karena semuanya tampak tersedia. Kita dapat berpindah perhatian dengan cepat. Kita dapat meminta mesin memberikan penjelasan mengenai hampir semua persoalan. Namun, semakin banyak jawaban yang tersedia, semakin penting kemampuan menentukan pertanyaan mana yang memang layak kita ajukan.
Dalam pengertian itu, “sukma” adalah metafora bagi pusat kehidupan yang membuat pilihan-pilihan tersebut mempunyai arah. Ia dekat dengan hubungan antara apa yang kita lakukan dan apa yang kita anggap layak diperjuangkan. Ketika hubungan itu terputus, kehidupan dapat tetap penuh kegiatan, tetapi terasa kosong. Ketika hubungan itu terbangun kembali, kegiatan yang sederhana sekalipun dapat memperoleh arti.
Hampir satu abad setelah Hamidah menulis pertanyaannya, manusia mempunyai lebih banyak informasi, hiburan, hubungan, pilihan, dan mesin yang mampu membantu menemukan kata. Namun, kelimpahan tidak otomatis menghasilkan makna. Kehidupan yang penuh kegiatan belum tentu kehidupan yang terarah. Banyak hubungan belum tentu menghilangkan kesepian. Banyak informasi belum tentu menghasilkan kebijaksanaan. Kemampuan berbicara tentang makna belum tentu membuat seseorang hidup dengan makna.
Karena itu, pertanyaan Hamidah, “Apa gunanya hidup dengan tak mempunyai sukma? Hidup dengan tak bertujuan?”20 sebaiknya tidak ditutup dengan jawaban yang terlalu cepat. Pertanyaan tersebut akan memperoleh kekuatannya karena tidak selesai dalam satu kalimat. Ia memaksa kita melihat hubungan antara kehilangan dan tujuan, kehidupan batin dan tekanan sosial, kebebasan memilih dan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Zaman kita mempunyai kecenderungan untuk segera memberi jawaban. Mesin pencari memberi hasil, media sosial memberi tren, algoritma memberi rekomendasi, dan AI memberi kalimat. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan untuk mempertahankan sebuah pertanyaan menjadi penting. Sebab, beberapa pertanyaan yang menyangkut kehidupan hanya dapat dijalani oleh orang yang mengajukannya. Kerugian terbesar terjadi ketika manusia berhenti bertanya.
Itulah sebabnya Kehilangan Mestika masih layak dibaca karena Hamidah menulis tentang keadaan yang tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia: Kehilangan dapat mengguncang pusat kehidupan, tetapi manusia masih mempunyai kemungkinan untuk menentukan apa yang akan dilakukan setelahnya.
Akhirnya, makna hidup lahir dari banyaknya kegiatan yang dapat kita lakukan. Juga berkaitan dengan hubungan antara tindakan, nilai, tujuan, dan sesuatu yang kita anggap layak diperjuangkan. Hubungan tersebut dapat retak. Bahkan, dapat hilang. Namun, pengalaman Hamidah menunjukkan bahwa kehilangan pusat kehidupan tidak harus menjadi akhir dari kehidupan itu sendiri.
Pertanyaan Hamidah akan terdengar lebih jelas ketika ditujukan kepada kehidupan kita sendiri. Untuk apa sebenarnya kita hidup? Jika sesuatu yang selama ini kita anggap penting hilang, apa yang masih membuat kita memilih untuk meneruskan kehidupan?
Di hadapan pertanyaan itu, Kehilangan Mestika berubah dari cerita mengenai kehilangan menjadi sebuah cermin. Kita melihat Hamidah, tetapi pada saat yang sama kita melihat cara kita sendiri menempatkan cinta, pekerjaan, pengakuan, teknologi, dan berbagai bentuk “mestika” dalam kehidupan.
Catatan Akhir
1. Hamidah, Kehilangan Mestika (Jakarta: Balai Pustaka, 2011), 39.
2. Frank Martela and Michael F. Steger, “The Three Meanings of Meaning in Life: Distinguishing Coherence, Purpose, and Significance,” The Journal of Positive Psychology 11, no. 5 (2016): 531–545, https://doi.org/10.1080/17439760.2015.1137623; Laura A. King and Joshua A. Hicks, “The Science of Meaning in Life,” Annual Review of Psychology 72 (2021): 561–584, https://doi.org/10.1146/annurev-psych-072420-122921.
3. Crystal L. Park, “Making Sense of the Meaning Literature: An Integrative Review of Meaning Making and Its Effects on Adjustment to Stressful Life Events,” Psychological Bulletin 136, no. 2 (2010): 257–301, https://doi.org/10.1037/a0018301; Rachel Hibberd, “Meaning Reconstruction in Bereavement: Sense and Significance,” Death Studies 37, no. 7 (2013): 670–692, https://doi.org/10.1080/07481187.2012.692453.
4. Jonathan M. Adler et al., “The Incremental Validity of Narrative Identity in Predicting Well-Being: A Review of the Field and Recommendations for the Future,” Personality and Social Psychology Review 20, no. 2 (2016): 142–175, https://doi.org/10.1177/1088868315585068.
5. Hamidah, Kehilangan Mestika, 42–43.
6. Hamidah, 42.
7. Hamidah, 39.
8. Martela and Steger, “The Three Meanings of Meaning in Life”; King and Hicks, “The Science of Meaning in Life.”
9. Hibberd, “Meaning Reconstruction in Bereavement,” 670–692.
10. Francois Wessels and Julian C. Müller, “Spirituality in Narratives of Meaning,” HTS Teologiese Studies/Theological Studies 69, no. 2 (2013), article 1187, https://doi.org/10.4102/hts.v69i2.1187.
11. Hamidah, Kehilangan Mestika, 44.
12. Hamidah, 44.
13. Ines Testoni et al., “Spirituality and Meaning-Making in Bereavement: The Role of Social Validation,” Journal of Loss and Trauma 27, no. 4 (2022): 351–366, https://doi.org/10.1080/15325024.2021.1983304.
14. Park, “Making Sense of the Meaning Literature”; Hibberd, “Meaning Reconstruction in Bereavement.”
15. Patti M. Valkenburg, “Social Media Use and Well-Being: What We Know and What We Need to Know,” Current Opinion in Psychology 45 (2022), article 101294, https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.12.006.
16. Laura Marciano et al., “Does Social Media Use Make Us Happy? A Meta-Analysis on Social Media and Positive Well-Being Outcomes,” SSM—Mental Health 6 (2024), article 100331, https://doi.org/10.1016/j.ssmmh.2024.100331.
17. Ron Cole-Turner, “Artificial Intelligence and Human Spirituality: Is a Spiritual Chatbot a Good Idea?” Theology and Science 23, no. 3 (2025): 471–486, https://doi.org/10.1080/14746700.2025.2514299.
18. Sven Nyholm and Markus Rüther, “Meaning in Life in AI Ethics—Some Trends and Perspectives,” Philosophy & Technology 36 (2023), article 20, https://doi.org/10.1007/s13347-023-00620-z.
19. Adler et al., “The Incremental Validity of Narrative Identity in Predicting Well-Being.”
20. Hamidah, Kehilangan Mestika, 39.
Daftar Pustaka
Adler, Jonathan M., Jennifer Lodi-Smith, Frederick L. Philippe, and Iliane Houle. “The Incremental Validity of Narrative Identity in Predicting Well-Being: A Review of the Field and Recommendations for the Future.” Personality and Social Psychology Review, vol. 20, no. 2, 2016, pp. 142–175. https://doi.org/10.1177/1088868315585068.
Cole-Turner, Ron. “Artificial Intelligence and Human Spirituality: Is a Spiritual Chatbot a Good Idea?” Theology and Science, vol. 23, no. 3, 2025, pp. 471–486. https://doi.org/10.1080/14746700.2025.2514299.
Hamidah. Kehilangan Mestika. Balai Pustaka, 2011.
Hibberd, Rachel. “Meaning Reconstruction in Bereavement: Sense and Significance.” Death Studies, vol. 37, no. 7, 2013, pp. 670–692. https://doi.org/10.1080/07481187.2012.692453.
King, Laura A., and Joshua A. Hicks. “The Science of Meaning in Life.” Annual Review of Psychology, vol. 72, 2021, pp. 561–584. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-072420-122921.
Marciano, Laura, Jeffrey Lin, Taisuke Sato, Sundas Saboor, and Kasisomayajula Viswanath. “Does Social Media Use Make Us Happy? A Meta-Analysis on Social Media and Positive Well-Being Outcomes.” SSM—Mental Health, vol. 6, 2024, article 100331. https://doi.org/10.1016/j.ssmmh.2024.100331.
Martela, Frank, and Michael F. Steger. “The Three Meanings of Meaning in Life: Distinguishing Coherence, Purpose, and Significance.” The Journal of Positive Psychology, vol. 11, no. 5, 2016, pp. 531–545. https://doi.org/10.1080/17439760.2015.1137623.
Nyholm, Sven, and Markus Rüther. “Meaning in Life in AI Ethics—Some Trends and Perspectives.” Philosophy & Technology, vol. 36, 2023, article 20. https://doi.org/10.1007/s13347-023-00620-z.
Park, Crystal L. “Making Sense of the Meaning Literature: An Integrative Review of Meaning Making and Its Effects on Adjustment to Stressful Life Events.” Psychological Bulletin, vol. 136, no. 2, 2010, pp. 257–301. https://doi.org/10.1037/a0018301.
Testoni, Ines, Marco Antonellini, Lucia Ronconi, Gianmarco Biancalani, and Robert A. Neimeyer. “Spirituality and Meaning-Making in Bereavement: The Role of Social Validation.” Journal of Loss and Trauma, vol. 27, no. 4, 2022, pp. 351–366. https://doi.org/10.1080/15325024.2021.1983304.
Valkenburg, Patti M. “Social Media Use and Well-Being: What We Know and What We Need to Know.” Current Opinion in Psychology, vol. 45, 2022, article 101294. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.12.006.
Wessels, Francois, and Julian C. Müller. “Spirituality in Narratives of Meaning.” HTS Teologiese Studies/Theological Studies, vol. 69, no. 2, 2013, article 1187. https://doi.org/10.4102/hts.v69i2.1187.

Dwi Scativana
Dwi Scativana Isnaeni merupakan Ahli Madya Pengelolaan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan serta Sarjana Pendidikan Seni Pertunjukan. Ia adalah seorang pendidik dan penulis yang aktif mengangkat tema-tema keislaman, isu pendidikan, serta seni dan budaya masyarakat, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun nonfiksi. Karya-karyanya telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan media digital. Ia juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam berbagai lomba esai dan opini, serta menulis beberapa jurnal ilmiah serta buku bungai rampai maupun tunggal. Beberapa karya yang telah diterbitkan antara lain novel Pucuk Asa dan Manis Asinnya Martabak. Selain itu, ia juga menulis buku referensi berjudul Industrialisasi Budaya: Budaya Massa, Pop Art, Pop Culture, dan Perubahan Budaya Menuju Peradaban Algoritmik.

