Merayakan Fiksi Populer Indonesia

Ilustrasi: Candrika Soewarno

Catatan Awal Sastra Populer

Sastra populer Indonesia telah memiliki perjalanan yang panjang. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia telah dikenal istilah sastra yang diresmikan dan sastra yang tidak diresmikan (sastra pinggiran). Hal ini tidak lepas dari munculnya penerbit milik pemerintah Belanda bernama Balai Pustaka, yang berdiri pada tahun 1917. Karya sastra yang diterbitkan Balai Pustaka ketika itu dianggap sebagai karya sastra resmi dan mempunyai tendensi tertentu dalam proses penerbitannya. Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaja, dan Salah Asuhan merupakan contoh karya terbitan Balai Pustaka dengan penggunaan bahasa Melayu tinggi, dianggap standar, dan isi yang tidak bertentangan dengan ideologi pemerintah Belanda.

Selain Balai Pustaka, pada masa penjajahan Belanda sebenarnya ada penerbitan karya sastra yang dilakukan oleh pihak-pihak selain pemerintah kolonial. Karya-karya itu dimuat di media-media antara lain adalah Bondsblad, Medan Prijaji, dan media milik etnis Tionghoa seperti surat kabar Li Po (1901) serta Sin Po (1910). Ada pula penerbit-penerbit kecil lainnya yang menerbitkan karya sastra secara ilegal. Namun, pemerintah Belanda menyebut karya-karya terbitan di luar Balai Pustaka sebagai “bacaan liar” dan menganggapnya sastra pinggiran. Bahkan, karya pinggiran tersebut dilarang beredar luas dan dibaca di sekolah-sekolah sehingga menjadi sastra yang termarginalkan.

Ariel Heryanto menyebut konsepsi pengotakan karya sastra Indonesia pada masa itu sebagai praktik hegemoni. Hegemoni ini tercipta melalui pembentukan asumsi bahwa kesusastraan resmi mendapat tempat tertinggi dan sastra di luar itu berada pada strata yang lebih rendah. Konstruksi hegemoni sastra dibentuk oleh individu dan lembaga yang memegang kekuasaan (politik) tertinggi pada masa itu. Hegemoni tersebut dimunculkan melalui bentuk represi pemerintah terhadap karya-karya sastra pinggiran yang tentunya tidak diterbitkan di Balai Pustaka.

Sastra pinggiran, oleh pihak berwenang, dinilai sebagai karya yang tidak memiliki fungsi dan tujuan sosial. Penggunaan bahasanya cenderung dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, bukan bahasa yang distandarkan seperti dalam karya-karya Balai Pustaka pada mulanya. Karya sastra pinggiran pada akhirnya menjadi sastra yang cenderung diremehkan. Akan tetapi, sebagai karya yang diremehkan, sastra pinggiran sesungguhnya banyak diminati oleh kalangan pembaca. Dalam hal ini, sastra yang terpinggirkan tersebut tak ubahnya sastra yang populer dan memiliki banyak penggemar.

Dalam perkembangan era berikutnya, setelah kemerdekaan republik, sastra populer tumbuh dan mendapat tempat di hati penikmat sastra Indonesia, khususnya pembaca remaja. Novel populer juga banyak diminati oleh tokoh-tokoh dari kalangan sastra sendiri, dan ini terjadi baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di Inggris, sudah pada tahun 1897, Neuburg (dalam Damono, Sosiologi Sastra 19) menganggap bahwa sastra populer diasumsikan dapat memberi gambaran mengenai wujud sebenarnya masyarakat yang relatively unlettered. Konsep relatively unlettered merujuk pada cara berpikir dan merasa atau cara memandang kehidupan yang khas, beserta sikap dan nilai-nilai yang diyakini, yang didasarkan pada tradisi lisan dan kepercayaan pada kelompok/komunal, yang lebih mempercayai pengalaman langsung, bukan dari tradisi teks tertulis.

Di Indonesia, gejala munculnya sastra populer terjadi sejak pertengahan dasawarsa 1970-an. Menurut Sumardjo (179), sastra populer lahir dan kemudian menjadi bacaan dengan jumlah pembaca besar karena beberapa alasan. Alasan pertama, pembaca dengan latar belakang pendidikan sekolah menengah atau pendidikan meningkat pada tahun 1970-an. Generasi pembaca tersebut adalah mereka yang lahir setelah tahun 1950-an yang, menurut statistik, pada masa itu memang terjadi pertambahan drastis jumlah penduduk. Meningkatnya jumlah kaum terpelajar diasumsikan juga terjadi karena peningkatan kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia.

Sastra populer pada era ini sering kali dibedakan dengan sastra kanon, serius, atau adiluhung, dan dianggap sebagai karya rendahan, meskipun kenyataannya banyak diminati masyarakat. Menurut Adi (20–24), anggapan demikian muncul karena sastra populer diciptakan secara cepat, sehingga terkesan tergesa-gesa demi memenuhi tuntutan pasar. Tema, cara penyajian, teknik bahasa, dan penulisannya mengikuti pola umum yang tengah digemari masyarakat pembacanya. Dengan demikian, tidak mengherankan apabila sastra populer menjadi sarana untuk menghibur pembaca, tidak seperti sastra adiluhung yang umumnya digunakan sebagai sarana pembelajaran nilai-nilai kehidupan sekaligus mengeksplorasi estetika manusia.

Industri budaya, dari mana sastra populer tumbuh dan berkembang, membentuk selera dan kecenderungan massa sehingga melahirkan kesadaran dengan cara menanamkan keinginan atas kebutuhan-kebutuhan palsu. Industri tersebut mengesampingkan kebutuhan riil atau sejati sampai seseorang tidak menyadari sesuatu yang tengah terjadi dan memengaruhi kehidupannya (Dewojati, Sastra Populer Indonesia 8). Kuntowijoyo (12) menyebutnya sebagai budaya massa yang terekspresikan dalam bermacam-macam bentuk, seperti kesenian, buku-buku (novel, komik, majalah, koran), elektronika (film, sinetron), barang konsumsi, dan kebijaksanaan populer (ungkapan, plesetan, bahasa remaja). Basis sosial budaya massa ini adalah generasi muda, yang dicirikan sifat-sifat sangat eksplosif, sensitif, emosional, dan suka sensasi.

Selain latar belakang pendidikan, waktu luang yang umumnya dimiliki warga perkotaan serta ibu-ibu rumah tangga juga memengaruhi peningkatan jumlah pembaca sastra populer. Hal itu didorong oleh naluri mereka sebagai kalangan terpelajar yang ingin mengisi waktu luang dengan kegiatan membaca. Dengan demikian, fungsi bacaan populer yang pada awalnya diproduksi sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan akan pengalaman baru, kemudian dimanfaatkan oleh industri penerbitan.

 

Dari Karmila hingga Teenlit

>Perkembangan sastra populer dimanjakan oleh perekonomian Indonesia yang mulai stabil sekitar tahun 1970. Pada saat yang sama, teknologi percetakan yang berkembang di dunia industri Indonesia membantu meningkatkan kemeriahan jenis bacaan populer. Dengan adanya mesin cetak berteknologi baru, novel-novel populer dimunculkan dalam wajah yang rapi dengan ilustrasi kulit beraneka warna dalam hasil cetak yang berkualitas lebih baik. Hal itu banyak memberikan andil untuk menarik calon pembaca. Fungsi wajah baru cetakan novel Indonesia dibuktikan dengan tidak lakunya buku saku berisi kumpulan cerpen yang dicetak tanpa tampilan warna.

Kultur bacaan populer merupakan alasan berikutnya yang mengakibatkan lahirnya novel dan cerita pendek dalam jumlah besar. Sastra populer tidak bisa lepas dari unsur perdagangan, di mana penerbitannya melibatkan gambaran keuntungan yang besar bagi penerbitnya. Ukuran sukses penerbitan seperti ini adalah terjualnya karya dalam oplah besar dan capaian bestseller, sehingga buku sastra yang membuat pusing dan menuntut pembaca berpikir tidak menjadi target penerbitan. Hasilnya, yaitu munculnya penerbit-penerbit musiman yang mencari naskah-naskah yang sejenis dengan harapan buku laris.

Merebaknya penerbitan buku populer selalu diawali oleh kemunculan satu atau dua buku yang sukses sebelumnya. Pada pertengahan tahun 1970-an, muncul dua tokoh penulis yang berhasil menarik minat pembaca, yakni Marga T. dengan Karmila dan Ashadi Siregar dengan Cintaku di Kampus Biru. Cerita-cerita ini menimbulkan semacam candu bagi pembaca, seolah-olah mereka meminta lebih banyak lagi ditulis novel semacam dua novel tersebut hingga muncullah demam novel kampus. Menurut Sumardjo (180), masa demam novel kampus berakhir dengan larisnya novel dengan tokoh utama pelajar sekolah menengah yang ditulis oleh Eddy D. Iskandar pada akhir 1980-an.

Dengan demikian, jelas terlihat bahwa munculnya novel-novel populer melibatkan jelinya para pelaku pasar dalam menyimak minat pembaca pada umumnya. Massa dijejali dengan bacaan tertentu sampai bosan, kemudian mereka mencari kemungkinan baru yang bisa menjadi kegemaran berikutnya. Bagi para pembaca sastra populer, bacaan populer dianggap lebih mudah dipahami daripada sastra serius. Bacaan populer memiliki karakter isi yang tidak ruwet dan cenderung santai. Fenomena ini  justru menarik dan studi mengenai sastra populer mulai dipandang penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, terbukti dari banyaknya perhatian dari kalangan akademisi yang mengkaji sastra populer dewasa ini.

Kajian sastra populer mulai dianggap sebagai bidang studi yang sungguh-sungguh karena para akademisi mulai menghadapi sastra sebagai praktik komunikasi yang memiliki akar sosial dan historis. Maka, kita sama sekali tidak bisa mengesampingkan dunia fiksi yang mengendalikan khalayak luas itu. Kajian sastra populer dapat menghadirkan kaitan antara bidang sastra dengan bidang seni lainnya; analisis sastra populer dapat memunculkan peristiwa kecil yang terlewatkan oleh sastra elite atau sastra kanon. Bahkan, studi sastra populer dapat memberikan penjelasan mengenai keadaan anggota masyarakat yang dianggap tidak berbudaya atau uncultured. Dengan demikian, sastra populer dapat menyediakan jendela untuk melihat dunia orang kebanyakan atau masyarakat biasa.

Dengan banyaknya peminat sastra populer dan kedudukan yang patut untuk diperhitungkan, studi mengenai sastra populer menghasilkan kritik akademik maupun nonakademik. Perkembangan ini ikut memunculkan genre-genre baru dalam dunia sastra populer, seperti chicklit, momlit, dan teenlit. Chicklit dan teenlit, misalnya, ikut menjadi bagian dari gaya hidup perempuan metropolitan Indonesia (Dewojati, Sastra Populer Indonesia v).

Buku-buku chicklit menarik minat pembaca yang pada umumnya para perempuan muda, termasuk para pelajar SMA. Pada awalnya, novel-novel tersebut hanya merupakan karya terjemahan yang judulnya sangat terbatas. Untuk mengisi pangsa pasar yang ternyata potensial ini, upaya mencari penulis-penulis baru dari kalangan lokal pun dilakukan oleh para penerbit. Lomba penulisan cerita remaja digelar penerbit dan mampu memunculkan penulis-penulis remaja yang dianggap berbakat pada masanya, seperti Dyan Nuranindya, Gisantia Bestari, Maria Ardelia, Sasya Fitrina, Fatina Dianissa, dan sebagainya.

Dalam waktu cepat, perubahan terjadi di belantara sastra populer di Indonesia. Pada era 2000-an, pembaca bisa menjumpai chicklit dan teenlit asli buatan Indonesia di berbagai toko buku terkemuka di seluruh Indonesia. Jumlah penjualannya tidak kalah dengan chicklit dan teenlit impor. Dealova, teenlit karya Dyan Nuranindya, misalnya, yang terbit pada April 2004 telah memasuki cetakan kelima dan terjual lebih-kurang 30.000 kopi pada akhir tahun yang sama. Filsafat popcorn yang populer, ringan, manis, tidak mengenyangkan, tetapi laris, diadopsi habis oleh fiksi jenis ini. Novel populer benar-benar telah memasuki era komoditas, industrialisasi, dan kapitalisme sastra di Indonesia (Dewojati, Wacana Hedonisme 12–13).

Lebih dari itu, kesusastraan Indonesia era tahun 1990-an hingga 2000-an memang sangat riuh dengan berkibarnya industri penerbitan genre sastra populer. Ledakan sastra populer pada tahun-tahun tersebut merupakan fenomena sastra yang sangat menarik. Bisa dikatakan bahwa di Indonesia, kurun dua dekade tersebut adalah masa emas literasi sastra sepanjang sejarah jauh sebelum era digital tiba. Pada periode tersebut, jumlah penulis genre ini dalam daftar pengarang di toko buku Gramedia Grup tercatat lebih dari 150 orang dan 99 persennya adalah perempuan. Pada masa itulah, ribuan cerpen, novel, novelet, dan cerita bersambung diproduksi dalam setahun dan diterbitkan di berbagai majalah, surat kabar, dan penerbit buku cetak. Pembaca belia, remaja, dan ibu rumah tangga selalu menunggu terbitan berikutnya. Karya sastra populer dinikmati pembaca dengan kesadaran penuh, bahwa mereka sedang merayakan imajinasi literer sebagai oase di tengah hiruk-pikuk persoalan yang dihadapi masyarakat urban kelas menengah di kota-kota besar.

Selain melesatnya sastra populer yang berupa cerpen, tahun 1990-an hingga 2000-an juga merupakan masa kejayaan bagi novel remaja Indonesia. Para penerbit yang semula enggan menerbitkan karya sastra remaja saat itu berubah agresif. Mereka berlomba berburu penulis, berburu naskah novel populer, dan kemudian menerbitkannya. Bahkan, penerbit besar hingga penerbit baru kelas ecek-ecek pun tidak mau ketinggalan dengan beramai-ramai membentuk divisi baru yang memfokuskan diri untuk menerbitkan novel jenis ini. Mereka juga membuat pelatihan bagi penulis pemula hingga membentuk wadah komunitas pembacanya. Semua penerbit seolah berbondong-bondong berebut mengadakan “kenduri” dan ambil bagian dari hajatan besar sastra populer ini.

Karya sastra populer, khususnya teenlit dan chickit pada masa itu telah memasuki fase industrialisme dan kapitalisme sastra yang edan-edanan. Hampir semua penerbit Indonesia latah menjadi “pabrik” sastra. Pada masa itu, genre teenlit segera lekat menjadi bagian gaya hidup dan “fitur” remaja Indonesia, khususnya di kota-kota besar, bersama-sama dengan kegiatan shopping, hangout di mal, ngopi mahal, dan bermedia sosial (Friendster, Hi5, Facebook)—gaya hidup kosmopolit dan kontemporer “yang wajib diikuti” remaja trendi. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila semua toko buku saat itu ramai-ramai memajang novel dengan cover mencolok di pajangan paling depan. Hampir semua buku jenis ini laris manis diserbu pembaca remaja—ada yang terjual hingga 400.000 eksemplar, sesuatu  yang muskil terjadi dalam sejarah penerbitan sastra sebelumnya.

Lalu, apa yang sebenarnya menjadi magnet novel ini bagi pembacanya? Novel teenlit bercerita tentang dinamika kehidupan remaja dan gaya hidup remaja kota besar, lengkap dengan mimpi-mimpi kaum urban di kota metropolitan. Isi cerita yang renyah, ringan, topik cerita dunia pelajar yang sangat dekat pembaca, dan dituturkan dengan gaya bahasa gaul khas remaja, sangat memikat pembaca belia. Adapun hal lain yang menarik sekaligus mengejutkan adalah hampir 80% dari ratusan judul novel teenlit dan chicklit pada periode tersebut menyajikan konten yang nyaris seragam, yaitu membangun imajinasi tentang kehidupan keluarga kelas atas, perjuangan meraih kelas sosial yang diimpikan, kemudahan mendapatkan fasilitas sesuai mimpi pembaca, hedonisme anak muda, gaya hidup kosmopolit sebagai standar, dan tantangan kehidupan cinta remaja anak sekolah. Mimpi dan “halu” anak muda untuk “pansos” ternyata menjadi ciri khas novel populer masa itu. Penyeragaman “rasa” novel mereka tidak lepas dari peran penerbit sebagai sumber kapital, yang rupanya mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan penulis selera pembacanya. Di balik layar, tentu ada peran editor dan agenda pemilik modal yang menginginkan uang kembali secara cepat dan berlipat ganda.

Di sisi lain, karya sastra jenis ini memberikan banyak informasi dan gambaran tentang tren gaya hidup remaja yang “happening” dan populer pada zaman ketika teks itu ditulis; gaya hidup remaja metropolitan yang sarat gelembung hedonisme; semangat zaman yang penuh dengan budaya instan dan kekinian; serta respons dan gudang pengalaman penulis terhadap budaya populer remaja di Indonesia.

Salah satu novel teenlit yang fenomenal adalah Eiffel… I’m in Love. Novel ini ditulis oleh Rachmania Arunita dan diterbitkan pada tahun 2003 oleh Gramedia. Sayangnya, tidak ditemukan informasi tentang tiras (jumlah cetak) novel ini. Akan tetapi, patut diduga, novel ini dicetak lebih dari 50.000 eksemplar karena mendapat sambutan luar biasa dari pembaca Indonesia. Novel ini terkenal karena menggambarkan romansa remaja khas awal 2000-an, dengan pola khas sastra populer. Sejoli yang disajikan sebagai tokoh-tokohnya sangat menarik perhatian, memenuhi mimpi dan “halu” pembaca karena berasal dari keluarga kaya. Tita, gadis kencur 15 tahun dengan gampang membeli tiket dan terbang ke Paris (tanpa digambarkan susahnya mengurus visa serta reservasi tiket dan hotel) hanya untuk menemui Adit, remaja pria yang menyebalkan, meski akhirnya dia jatuh cinta. Kesuksesan novelnya diikuti oleh larisnya film di bioskop yang mengangkat cerita komedi romantis ini. Film tersebut, dengan tajuk yang sama, Eiffel… I’m in Love, dan dirilis pada tahun yang sama (2003), disutradarai oleh sutradara kawakan Nasri Cheppy. Film yang dibintangi Shandy Aulia dan Samuel Rizal itu berhasil menarik lebih dari dua juta penonton dan menjadi salah satu film Indonesia terlaris pada masanya.

 

Manisnya Negosiasi  Ideologi 

Masifnya produksi sastra Islami pada tahun 1990-an menambah semarak jagat sastra populer. Forum Lingkar Pena (FLP) yang digawangi oleh Helvy Tiana Rosa menjadi lokomotif yang penting dan menarik dalam fenomena industrialisasi sastra populer di Indonesia. Sebelumnya, sektor penerbitan buku Islam tidak banyak berkembang karena berbagai alasan. Pertama, manajemen penerbitan masih tradisional dan gagal mengembangkan strategi pemasaran inovatif, selain sampul buku yang tidak menarik bagi masyarakat umum. Di samping itu, pada tahun 1970-an hingga 1980-an, sebagian besar bukunya hanya berisi dakwah, ajaran agama yang sangat formal, normatif, dan kaku. Hal ini mulai berubah dengan terbitnya majalah Ummi pada tahun 1989. Majalah ini, dengan bagian khusus yang dirancang untuk pembaca perempuan, menarik lebih banyak pembaca karena  membicarakan isu-isu Islam dengan nada lebih lembut daripada sekadar memaksakan doktrin.

Kemudian, manajemen Ummi menerbitkan majalah untuk remaja, Annida, yang dipimpin oleh Helvy Tiana Rosa sebagai editor in chief dari tahun 1991 hingga 2001. Strategi sukses Annida dalam menjangkau remaja, yaitu dengan menggunakan nada yang ramah dan bahasa yang ringan menyapa pembaca, menyebarkan optimisme, menyajikan lembar komik, dan mengangkat isu-isu sehari-hari yang menjadi perhatian remaja muslim. Hal-hal inilah yang membantu Annida terjual dengan baik di pasar.

Kesuksesan majalah tersebut menginspirasi Helvy Tiana Rosa untuk mendirikan FLP pada tahun 1997, hampir bersamaan dengan tren sastra profan yang memberikan dorongan baru bagi sastra Indonesia. FLP adalah organisasi yang bertujuan untuk “membentuk penulis baru” dan berniat menyebarkan nilai-nilai Islam melalui narasi yang lebih santai. Organisasi ini memberikan kesempatan bagi penulis muda dan calon penulis untuk berkumpul, berbagi ide, berlatih, dan menulis sastra. FLP telah menjadi magnet, terutama bagi calon penulis muda, ditandai dengan banyaknya anak muda yang bergabung dalam acara-acara yang diselenggarakan organisasi ini.

Dengan lebih dari 13.000 anggota di 32 provinsi dan 12 negara, yang banyak di antaranya produktif menulis cerita pendek dan novel Islam, kelompok ini telah memainkan peran penting dalam sastra Indonesia. Hingga tahun 2010, karya-karya yang telah diterbitkan oleh FLP berjumlah lebih dari 500 buku dan ribuan cerita pendek dan diterima dengan baik di pasar (Arnez dan Dewojati 14). Salah satu hal yang menjadi daya tarik sastra pop Islam adalah tema-tema kehidupan sehari-hari yang “dianggap” sebagai tuntunan praktis keislaman (ready-to-use Islam) dalam mengarungi kehidupan. Narasi tersebut disuguhkan dengan paragraf-paragraf pendek, bahasa sederhana yang tidak menggurui, seperti “bisikan” halus seorang teman yang bersahabat, dan dilengkapi ilustrasi yang menggugah. Novel Islami yang banyak diminati tersebut, di antaranya: Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy; Surga yang Tak Dirindukan dan Sehidup Sesurga Denganmu karya Asma Nadia; 99 Cahaya di Langit Eropa dan Bulan Terbelah di Langit Amerika karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra; Negeri 5 Menara karya A. Fuadi, serta beberapa karya Tere Liye seperti Hafalan Shalat Delisa. Karya-karya tersebut terus diproduksi dan dikonsumsi secara masif, sebelum kemudian diangkat menjadi film hingga menarik jutaan penonton sekaligus meraup cuan yang tidak sedikit (Dewojati dkk. v).

Kehalusan dalam menuturkan ulang Islamisme populer ke dalam bahasa aksara oleh para penulis dalam karya-karya mereka nyatanya berbuah manis. Jumlah generasi muda milenial yang menjadi pembaca literatur dengan tema Islamisme populer menempati urutan pertama jika disandingkan dengan pembaca karya sastra atau buku bernapas Islami lainnya. Pada sisi yang lain, selera pasar yang demikian bukannya tanpa konteks yang melingkupinya. Studi yang dilakukan Kailani atas fenomena rohis di Indonesia memberi gambaran mengenai generasi muslim milenial yang menjadi arena subur untuk menyemai pemahaman Islami melalui beragam cara. Salah satu medium yang banyak digandrungi adalah cerita fiksi dengan kisah utama memperjuangkan maqam kesalehan sosial atau yang lebih populer dikenal dengan istilah hijrah (Kailani 7). Konsep hijrah berakar dari pergeseran pola konsumsi keagamaan masyarakat muslim urban karena mengalami apa yang disebut “terguncangnya kemantapan identitas keagamaan” (destabilisation of religious identity) yang disebabkan transformasi sosial-budaya. Pendapat itu dikuatkan dengan argumen yang menyatakan bahwa terdapat kecemasan masyarakat berkaitan dengan “hantu” budaya pop yang melanda kaum muda—disebut dengan “moral panics” (Thompson 7). Maka, premis cerita yang dibangun berkisar pada daya persuasif budaya populer ketika menampilkan tradisi Barat yang dinilai tidak selaras dengan kultur Timur. Kaum muslim milenial menganggap penetrasi itu sebagai risiko dan sumber risiko dalam kepanikan moral. Contoh konkret fenomena kepanikan moral ini, yaitu perayaan Hari Valentine. Berbagai media Islam mewartakan pelarangan bagi remaja dan muda-mudi muslim untuk merayakannya.

Penulis Islamis populer dengan cerdas menangkap peluang di atas dan mengonversinya menjadi bahan menarik untuk merangkai cerita rekaan. Para penulis tersebut aktif memproduksi novel Islami sebagai respons atas kebutuhan generasi milenial dalam mencerna ajaran agama yang “transendental” ke dalam bahasa populer sehingga memunculkan imajinasi dan sensasi agama yang mereka butuhkan (Hasan 100). Proses tersebut menjadikan penulis tidak hanya dilirik oleh penerbit dan menghasilkan pundi-pundi ekonomi (kapital ekonomi), tetapi juga berkesempatan memeroleh prestise melalui berbagai nominasi penghargaan, yang dalam perspektif Bourdieu merupakan salah satu bentuk kapital simbolik. Habiburrahman El Shirazy pernah mendapat titel Tokoh Perubahan Republika (2007), Penulis No. 1 Indonesia oleh Insani Press Undip (2008), dan sederet penghargaan lainnya. Tidak berbeda jauh dengan Habiburrahman, Asma Nadia juga sukses mengoleksi gelar kepenulisan, seperti pengarang fiksi remaja terbaik dari Mizan Award (2003), novelis Islami terbaik dari anugerah Islamic Book Fair Award (2008), dan sederet penghargaan lain atas karya-karyanya. Masih banyak penulis novel Islami lainnya yang juga pernah menyandang penghargaan, seperti A. Fuadi, Hanum Salsabiela Rais, dan Helvy Tiana Rosa sendiri. Selain kapital simbolik dan ekonomi, dua kapital lainnya yang diperinci Bourdieu—kapital sosial dan kapital budaya—juga menjadi landasan penting untuk menggambarkan perjalanan kepenulisan figur para pengarang ini hingga mencapai titik kepopulerannya.

Pada gilirannya, kepopuleran novel-novel Islami dalam industri sastra menjadi daya jual yang tinggi saat dilayarperakkan. Produser berbondong-bondong membeli hak adaptasi novel-novel populer tersebut untuk difilmkan. Akan tetapi, bukankah fenomena tersebut juga dapat dimaknai sebagai penggambaran efek domino epigonisme dalam produksi film-film adaptasi atas karya sastra Islami? Pada akhirnya, selera publik lebih rentan didikte oleh logika industri perfilman sebagai produsen kapitalis.

 

Sastra Majalah dan Cuan yang Berkibar 

Di samping novel, sastra populer tahun 1990–2000-an juga berkibar di berbagai majalah. Majalah remaja yang sangat terkenal dengan tiras besar dan  menyediakan ruang sastra di masa itu, misalnya Gadis, Kawanku, Hai, Anita Cemerlang, Aneka Yess!, Annida, dan Ummi. Adapun majalah perempuan dewasa yang cerpen dan suplemen noveletnya selalu ditunggu oleh pembaca adalah Femina dan Kartini. Perlu diketahui bahwa majalah-majalah remaja dan perempuan dewasa ini terbit dengan tiras hingga ratusan ribu eksemplar.

Majalah Kartini, misalnya, pernah tembus 230.000 eksemplar pada masa jayanya. Sementara itu, majalah remaja lain seperti Hai dan Kawanku yang memuat cerpen dapat mendongkrak oplahnya hingga 100.000–200.000 eksemplar sekali terbit. Adapun tiras tertinggi pernah diraup Aneka Yess! dengan oplah 600.000 eksemplar setiap minggunya. Artinya, ada ratusan ribu orang rela mengeluarkan uang untuk membeli majalah dan membaca sastra dengan sukacita, bahkan menanti terbitan berikutnya. Pencapaian 600.000 eksemplar tentu cukup fantastis untuk industri penerbitan majalah saat itu.

Adalah cerpen-cerpen yang dimuat di berbagai majalah remaja di atas yang tergolong jenis karya yang bisa menggambarkan roh budaya pop, khususnya tahun 1990-an hingga 2000-an. Kawanku dan Hai, dengan puncak popularitas pada awal tahun 2000, sangat populer di kalangan remaja, digandrungi para pelajar SMP dan SMA karena sering menampilkan penyanyi, bintang film, dan idola remaja yang sedang naik daun pada halaman sampulnya. Mula-mula kedua majalah ini menyasar pembaca remaja pria dengan menampilkan wajah artis tampan dan maskulin sebagai model dan tajuknya. Sebut saja Kawanku terbitan 18–24 April 1994,  yang menampilkan Simon Le Bon, vokalis band Inggris Duran Duran. Lalu edisi 12–19 Maret 1995, yang memajang Joey Lawrence yang merupakan penyanyi, bintang film, dan dancer pria Amerika. Akan tetapi, lama-lama Kawanku juga menyerah dan ikut terseret arus pasar, mengubah tampilannya dengan mengunggah model perempuan di kover dua edisi Juni 1998, yaitu model Dwi Denita dan Ananda, untuk menyasar pembaca remaja perempuan. Sementara itu, berbeda dengan Hai dan Kawanku, majalah-majalah lainnya, seperti Aneka Yess! yang terbit pertama kali tahun 1990, memang sejak awal sudah condong pada pembaca perempuan muda.

Perubahan pangsa pasar pembaca Kawanku membuat desain warna sampulnya berubah menjadi lebih mencolok dan girly. Isi artikelnya dibuat dengan topik yang lebih disukai perempuan, misalnya yang terlihat pada terbitan 1998 dan tahun-tahun berikutnya. Akan tetapi, menariknya, cerpen yang dimuat di majalah tersebut masih memunculkan nama penulis laki-laki, tidak hanya penulis perempuan. Misalnya, cerpen “Seuntai Salam Secarik Cinta” karya Saiman Ian Mahesa (Kawanku, 40/XXIII, April 1994), “Kado untuk Keke” karya Makpul Ilhamawan (Kawanku, Maret 1995) “Antara Cinta dan Persahabatan” karya Dwi (Kawanku, 50/XXVII 1998), “Penolong Berwajah Tampan” karya Donatus A. Nugroho (Kawanku, 49/XXVII 1998), dan “Sang Pengamen” karya Iman Syahputra (Hai, XVII, 4 Mei 1993).

Cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah tersebut menggambarkan dinamika dunia remaja dengan sangat intens dan menunjukkan detail peristiwa kecil-kecil mikrokosmik khas budaya populer anak-anak muda kota besar. Tema-tema tersebut dekat dengan kehidupan mereka, seperti persaingan antarteman atau kakak-adik dalam memperebutkan cinta seorang gadis yang sama; kehidupan persaingan pelajar di sekolah; utopia perjuangan remaja kelas bawah dalam menggapai mimpi untuk mengubah kelas sosialnya; perempuan yang bisa menerima kekasih berbeda kelas; pentingnya ketulusan persahabatan; serta pentingnya menilai seseorang bukan dari ketampanan dan kekayaannya. Adapun setting yang digunakan biasanya berputar di sekolah, rumah, mal, kafe, diskotek, dan kadang-kadang di luar negeri.

Bahasa gaul remaja tahun 1990-an yang sedang tren pun berhamburan dalam cerpen-cerpen tersebut, menjadikannya terasa dekat dengan keseharian, dengan diksi seperti “norak”, “ge-er”, “doi”, atau “gila lu”, “tengsin”, serta interjeksi seperti “ehm-ehm” dan kata reduplikasi “cuap-cuap”. “Ehm-ehm” berfungsi sebagai kode sosial yang menggantikan penyebutan langsung rasa suka, mencerminkan budaya komunikasi remaja yang penuh gengsi dan permainan simbolik. Sementara itu, “cuap-cuap” merepresentasikan gaya tutur informal yang meniru bahasa lisan sehari-hari. Kedua bentuk ini memperkuat kesan komunikatif, ringan, dan dekat dengan pengalaman pembaca, yang merupakan ciri utama cerpen populer 1990-an. Penamaan tokoh seperti Rey, Riri, Keke, Iva, Agra, Rinda, Nike, Nuko, atau Justine mencerminkan dunia urban dan keakraban dunia remaja, sekaligus membangun identitas karakter yang sederhana, tetapi efektif mendekatkan dengan pembacanya.

Majalah lain yang tidak bisa ditinggalkan untuk dibicarakan adalah majalah cerpen Anita Cemerlang. Majalah yang terbit pertama kali tahun 1978 ini membidik pasar pembaca remaja perempuan usia 13 hingga 18 tahun. Tahun 1980-an hingga 1990-an adalah masa kejayaan yang luar biasa bagi majalah ini, semakin bersinar karena beroperasi dalam timing yang tepat. Pada saat itu, yang banyak dicari dan ditunggu pembaca adalah rubrik cerpen atau cerbungnya. Anita Cemerlang tidak hanya menyediakan satu atau dua cerpen seperti majalah remaja biasa, melainkan 14 cerpen sekaligus di setiap terbitannya. Oleh karena itu, Anita Cemerlang mudah menarik antusiasme dan loyalitas pembacanya.   

Adapun hal yang membedakannya dengan majalah remaja yang lainnya adalah desain sampul yang sangat khas, yakni gambar wajah perempuan-perempuan cantik hasil lukisan ilustratornya. Para pembaca perempuan dibuat mengimajinasikan dan mengidentifikasikan dirinya muncul dalam sampul majalah itu. Kadang-kadang lukisan cat air itu menyerupai artis yang sedang populer, seperti Desy Ratnasari, Paramitha Rusady, atau Nurul Arifin. Dengan moto “Lambang Idola Para Gadis”, dengan mudah majalah bulanan ini mencapai tiras 65.000 eksemplar setiap kali terbit.

Hadirnya 14 cerpen pilihan dan andalan yang judulnya dipilih sebagai cover story itu mengiringi para gadis-gadis remaja di kota-kota besar Indonesia bertumbuh dan terpapar sastra selama dua dekade. Cerpen dan cerita bersambung biasanya mengangkat tema yang tak jauh dari cerita tentang kehidupan remaja: jatuh cinta, patah hati, persahabatan, dan pertemuan. Konflik yang muncul di antara tokohnya umumnya berkisar pada romansa remaja, status sosial orang tua, rebutan pacar, persaingan antarteman, kecemburuan, persahabatan, atau persoalan-persoalan kecil yang berlangsung di sekitar usia pubertas. Tokoh-tokohnya dilukiskan sangat ideal, tampan atau cantik. Cerpen yang dimuat bahkan tidak jarang memakai tokoh remaja idola (laki-laki atau perempuan). Umumnya, cerpen-cerpen tersebut juga menampilkan tokoh-tokoh yang tidak jelas identitas tradisi-kulturalnya, sementara latar belakang orang tuanya mapan, berkecukupan, penuh fasilitas, seperti mimpi-mimpi remaja perempuan pada umumnya. Majalah Anita Cemerlang akhirnya berhenti terbit pada tahun 2002 karena tidak bisa bersaing dengan majalah remaja lainnya yang tampil semakin menarik dan kemudian datangnya era baru, yaitu era digital.

 

Sastra Siber dan Film Indonesia

Dalam dua dasawarsa terakhir ini mulai muncul dan berkembang bentuk sastra pop siber. Karya-karya yang menggunakan internet sebagai media publikasinya ini memuat keunikan jika dibandingkan dengan karya sastra cetak yang biasa kita temui pada periode sebelumnya. Di antara keunikan itu adalah dalam sastra siber tulisan prosa tidak hanya dapat dinikmati berupa cerita pendek atau cerpen saja tetapi ada beberapa bentuk penceritaan maupun penulisan lain seperti fiksi mini (flash fiction) dan cerita bersambung. Hal ini merupakan inovasi sastra yang dalam perkembangannya tidak dapat dipandang sebelah mata, yakni penceritaan karya yang memilih bentuk sangat pendek dan tidak mengambil bentuk utuh cerpen biasanya, melalui proses adaptasi penggunaan media siberpada penulisan karya. Pada fitur tambah status di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, penggunaan karakter dibatasi. Dalam Instagram, penggunaan caption atau takarir dibatasi 2200 karakter, sementara di Facebook batas maksimal posting status adalah 63.206 karakter tidak termasuk foto dan video. Adapun di Twitter batasan untuk mencuit pada setiap kolom cuitan adalah 280 karakter. Sudah jamak kini pengguna Twitter yang membagikan kisahnya dalam bentuk utas (thread) atau cerita bersambung.

Kini banyak sastrawan atau penulis ternama juga menggunakan internet untuk wadah berkreasi dan saling mengapresiasi. Hal tersebut menandakan bahwa sastra siber bukan lagi genre baru yang terpisah dari genre sastra yang telah mapan dan media itu justru menjadi media baru yang dapat dimanfaatkan oleh semua penulis dalam bersastra. Menyebut beberapa contoh, penulis Agus Noor dan Clara Ng memotori fiksi mini, sedangkan dalam tingkat lokal seperti komunitas Fiksi Mini Sunda dimotori oleh sastrawan dan budayawan Sunda Godi Suwarna. Selain itu, ada juga komunitas sastra yang bergiat di luar jaringan (luring) dan kini membentuk komunitas daring seperti Rumah Dunia, Apresiasi Sastra, Forum Lingkar Pena (FLP), Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Utan Kayu dan lain-lain. Tidak dipungkiri pula, terdapat beberapa komunitas yang lahir dan bergerak dalam ranah siber seperti Komunitas Fiksimini dan Kampung Pentigraf.

Selanjutnya, maraknya alih wahana sastra populer yang diangkat ke dunia film dan platform bacaan berbasis laman juga menjadi isu penting.  Pada umumnya, novel-novel yang direspons secara antusias oleh pembaca akan selalu mempunyai peluang besar untuk dijadikan tontonan layar lebar dengan kemasan yang sering kali dimodifikasi. Perubahan yang terjadi antara novel dan film, yang berangkat dari kisah yang sama, biasanya akan mendapatkan sambutan pro dan kontra dari pembaca. Ada yang kecewa dan ada pula yang puas dengan sajian visualnya. Akan tetapi, terlepas dari beragam dukungan ataupun kecaman, alih wahana tetap dinanti, diinginkan, dan dinikmati oleh pembaca, bahkan oleh masyarakat yang sebelumnya belum mengetahui cerita dalam suatu novel. Film-film adaptasi bisa berhasil menarik jutaan penonton dengan keuntungan finansial yang besar. Hari ini, di samping industri film yang sukses, adanya platform digital untuk membaca karya sastra turut mewarnai alih wahana dalam arena kesusastraan populer Indonesia (Dewojati dkk. 9–10).

Perkembangan sastra siber yang sangat masif di Indonesia pada gilirannya berpengaruh pula terhadap industri sastra cetak dan film. Bahkan, karena kepopuleran di dunia siber, beberapa karya diburu oleh penerbit media konvensional untuk dicetak, karena popularitas tersebut membuka peluang keuntungan yang besar. Tidak hanya berhenti dipublikasikan pada media cetak, hak adaptasi karya sastra siber kemudian banyak dibeli oleh produser film karena menjanjikan pasar penonton yang banyak seperti pembaca novel siber atau novel cetaknya.

Sejauh ini telah terdapat beberapa karya sastra populer yang dialihwahanakan dari aplikasi digital seperti Webtoon, Wattpad, Instagram, Facebook, Twitter, Karyakarsa, Storial.co, Cabaca, NovelMe, Dreame, Fizzo Novel, GoodDreamer, dan lainnya ke media percetakan menjadi buku fisik yang digemari oleh banyak pembaca yang didominasi oleh kaum remaja dan kaum dewasa. Contoh beberapa karya sastra siber ialah Sin (Faradita, 2017), Matt & Mou (Wulanfadi, 2016), Geez & Ann (Rintik Sedu, 2018), Mariposa (Luluk HF, 2019), Cinta Subuh (Alii Farighi, 2019), dan Layangan Putus (Mommy ASF, 2020). Karya-karya mereka pun diproduksi menjadi film yang dipasarkan di platform film digital/berbayar/berlangganan maupun film bioskop konvensional.

Karya sastra siber karangan Faradita yang berjudul Sin, misalnya, telah diterbitkan sebagai novel pada tahun 2017 oleh penerbit Kubus Media. Novel ini awalnya adalah sastra siber yang diunggah pada platform Wattpad dan mendapatkan pembaca yang sangat banyak. Novel Sin, dicetak dengan dengan jumlah halaman mencapai 444, menceritakan seorang perempuan bernama Ametta Rinjani, tokoh perempuan tercantik di sekolahnya. Tokoh Ametta memiliki hobi dugem dan memiliki sifat sombong serta tidak peduli pada apa pun selain dirinya sendiri. Dia dikenal dengan julukan playgirl, perempuan yang memiliki banyak mantan pacar. Digambarkan di dalam novel, tokoh perempuan ini keinginannya hanya satu, yakni membuat laki-laki berlutut di bawah kakinya, kemudian menendang laki-laki untuk menjauh dari hidupnya.

Novel dengan tema percintaan remaja di sekolah seperti itu tentu telah ada di pasaran sejak tahun 1970-an, seperti yang telah diungkapkan sebelum ini. Akan tetapi, kesuksesan penulis yang mengunggah karya di media digital dengan ribuan pembaca, demikian pula setelah diterbitkan menjadi buku, membuat produser film tertarik untuk memproduksinya sebagai film digital, hingga diproduksi dua film dengan judul SIN: Saat Kekasihmu Adalah Kakakmu Sendiri (2019) dan Sin Extended (2021). Film yang dibintangi oleh Mawar de Jongh dan Bryan Domani tersebut jelas membidik penonton remaja yang membaca novel pop siber dengan judul yang sama sebelumnya.

Karya sastra siber selanjutnya ditulis oleh Wulanfadi dengan judul Matt & Mou, diterbitkan dalam bentuk novel cetak fisik setebal 342 halaman pada tahun 2016 oleh penerbit GagasMedia.  Awalnya sastra siber ini diunggah di internet oleh penulisnya pada platform Wattpad. Novel Matt & Mou menceritakan kehidupan seorang remaja laki-laki bernama Matt serta bertutur seputar kisah cintanya dan dinamika kehidupan siswa di sekolah menengah. Tokoh Matt digambarkan sebagai sosok laki-laki yang antisosial, penyendiri dan  biasa ditemui di pojok kelas atau di kantin bersama buku bacaannya yang tebal. Dia juga dikenal sebagai laki-laki dengan kepribadian tertutup, terutama perihal perasaan. Salah satu faktor yang membangun karakter Matt menjadi seperti itu adalah kematian ayahnya. Peristiwa yang memukul jiwanya itu membuatnya semakin tidak ingin membuka diri terhadap lingkungannya.

Kesuksesan novel tersebut di dunia siber dan cetak lantas disambut baik oleh produser film Indonesia. Oleh sutradara Monty Tiwa, novel ini diangkat menjadi film dengan judul sama, Matt & Mou, pada 2019, dengan dibintangi Prilly Latuconsina dan Maxime Bouttier. Film ini mendapat sambutan penonton yang cukup luas karena dipasarkan dan didistribusikan di platform film digital seperti Disney+ Hotstar, Netflix, Viu, dan Iflix.

Karya sastra siber berikutnya yang cukup penting untuk dibicarakan ditulis oleh Rintik Sendu dengan judul Geez & Ann. Karya ini diterbitkan dalam versi novel cetak setebal 369 halaman pada tahun 2018 oleh GagasMedia. Seperti halnya Matt & Mou, awalnya novel ini diunggah pada platform Wattpad dan segera menggaet banyak penggemar. Geez & Ann menceritakan kisah cinta remaja bernama Keana Amanda atau Ann dan Gazza Cahyadi atau Geez. Hubungan keduanya digambarkan mengalami pasang-surut bagaikan ombak di lautan. Hubungan keduanya dibatasi oleh jarak dan misteri karena tokoh Geez sering kali menghilang sehingga membuat tokoh Keana bertanya-tanya tentang apa yang dialami oleh Geez.

Geez dan Ann kemudian diproduksi menjadi film yang dipasarkan di platform digital mulai tahun 2021. Sutradara film ini adalah Rizki Baiki, produsernya adalah Raam Punjabi, serta menampilkan artis Hanggini, Junior Roberts, dan Roy Sungkono. Film ini mampu bertahan bertahun-tahun di beberapa kanal, seperti Vidio dan Netflix. Hal ini menunjukkan bahwa sambutan penonton terhadap sastra siber yang difilmkan cukup tinggi, meskipun film ini diproduksi tiga tahun setelah novelnya beredar di platform digital.

Selanjutnya, ada pula novel siber yang ditulis oleh Luluk H.F. dengan judul Mariposa yang diterbitkan pada tahun 2019 oleh penerbit Coconut Books. Seperti novel-novel yang sudah dibahas sebelumnya, karya ini awalnya juga diunggah pada platform Wattpad. Novel ini sangat fenomenal  karena berhasil mencapai rekor jumlah terbanyak, yakni 23 juta pembaca, pada tahun ketika pertama diunggah, 2017. Novel yang kemudian dicetak setebal 482 halaman ini menceritakan seorang gadis cantik bernama Natasha Kay Loovi, akrab disapa Acha, yang memperjuangkan cintanya terhadap laki-laki berhati beku dan super dingin bernama Iqbal. Keduanya sama-sama merupakan siswa yang pintar dan cerdas di sekolah.

Jumlah pembaca Mariposa yang mencapai 23 juta itu tentu sangat menggiurkan bagi kapitalis karena menjanjikan keuntungan besar. Film Mariposa diproduksi dengan sutradara Fajar Bustomi, menampilkan artis Angga Yunanda dan Adisty Zara, serta ditayangkan pada tahun 2020 di bioskop dan tahun 2021 di platform digital seperti Netflix dan Klikfilm. Konon, keuntungan produksi film ini cukup fantastis karena menjadi tontonan yang diburu oleh remaja pada masa pandemi Covid-19.

Masih oleh penerbit Coconut Books, ada pula Cinta Subuh karangan Alii Farighi. Juga dari platform Wattpad, Cinta Subuh diterbitkan secara fisik  pada tahun 2019 dengan tebal 292 halaman. Cinta Subuh menceritakan Angga yang sedang berusaha mencari identitas dirinya dan Ratih yang taat menjalankan ibadah agamanya. Tokoh Angga digambarkan sebagai laki-laki yang sangat kacau hidupnya karena sedang mengalami patah hati akibat putus dari mantan pacarnya. Angga pun menjalani kehidupan yang tidak teratur sehingga jarang melakukan ibadah sholat subuh. Akan tetapi, suatu hari, Angga bertemu dengan sosok perempuan yang membuatnya jatuh hati, yaitu Ratih, yang dikenal sangat religius, selalu memakai kerudung bergaya khas, rajin menjalankan ibadah, dan kehidupannya dipenuhi dengan segala kebaikan yang bermakna.

Novel Cinta Subuh mengingatkan pada karya-karya sastra bernuansa Islam yang diterbitkan oleh kelompok penulis FLP yang didirikan oleh Helvy Tiana Rosa dan sukses sepanjang 2000-an. Dakwah Islam yang menyapa pembacanya dengan simpatik dan lembut telah berhasil memikat ribuan anak-anak muda muslim. Rupanya pengaruh Helvy sebagai pionir sastra pop Islam masih dapat dilihat jejaknya pada novel ini. Genre sastra pop Islam ternyata masih mempunyai pasar pembaca yang besar di Indonesia, yang tidak mengherankan mengingat mayoritas masyarakat pembaca muda adalah muslim. Kesuksesan Cinta Subuh tentu membuat produser film tidak ragu untuk mengangkatnya ke layar lebar. Hal ini mengulang kesuksesan film-film yang diangkat dari novel-novel pop Islam yang ditulis oleh kelompok FLP selama dua dekade. Film Cinta Subuh, yang disutradarai oleh Indra Gunawan dan dibintangi oleh Dinda Hauw, Roger Danuarta, dan Rey Mbayang, akhirnya ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada bulan Mei 2022.

Terakhir, karya sastra siber yang patut diperbincangkan adalah karya Mommy ASF berjudul Layangan Putus. Novel yang ceritanya didasarkan pada kisah sedih pribadi penulis yang dikhianati suaminya itu semula diunggah di platform Wattpad dan mendapatkan respons pembaca yang luar biasa banyak, terutama pembaca wanita. Kisah yang meraup simpati jutaan pembaca ini kemudian menjadi viral dan banyak pembaca yang mendorong agar kisahnya diterbitkan menjadi novel cetak, hinggal terwujud pada tahun 2020 oleh RDM Publisher. Novel setebal 268 halaman ini menceritakan kisah seorang gadis polos dari pedesaan bernama Kinan, yang tumbuh dan berkembang di kota tempatnya merantau. Mimpinya sederhana, yaitu bisa menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Tidak bisa dipungkiri, bukan hanya mimpi itu berhasil dia raih, melainkan juga pertemuannya dengan laki-laki bernama Aris mampu mengubah hidupnya menjadi berwarna dan penuh arti. Kinan sangat bahagia bisa berkuliah di universitas sekaligus bertemu bertemu dengan kekasih idamannya, laki-laki dengan siapa dia bisa berbagi cerita sedih dan gembira. Bagi Kinan, Aris merupakan sosok laki-laki yang sempurna dan memiliki kepribadian baik, tangguh, bertanggung jawab, perhatian, dan mandiri. Kehadirannya merasuki hati Kinan secara mendalam hingga mereka memutuskan menikah. Kinan yang dulu sangat terobsesi untuk menjadi wanita karir yang mandiri kemudian berkorban, memilih menjadi ibu rumah tangga, merawat Aris dan anak-anaknya di rumah. Pada awal pernikahannya dengan Aris, Kinan merasa begitu bahagia. Memiliki suami ganteng, mapan, bertanggung jawab, dan pekerja keras merupakan “suatu investasi” bagi wanita. Keberadaan Aris mampu membuatnya menjadi wanita paling beruntung karena memilikinya. Akan tetapi, tidak ada sesuatu pun yang berjalan begitu mulus di dunia ini, termasuk pernikahannya.

Gencarnya media sosial dalam mempublikasikan Layangan Putus membuat produser film sangat antusias mengadaptasikannya ke layar lebar.  Film seri dengan judul yang sama dan dibintangi pemain film seperti Reza Rahadian, Putri Marino, dan Anya Geraldine ini menjadi viral dan sukses meraup keuntungan sangat besar. Jutaan orang telah menonton film ini di platform WeTV dan Iflix pada bulan September 2021 hingga tahun 2022. Lebih jauh lagi, Layangan Putus juga mendapatkan penghargaan seperti di Tokyo Drama Award tahun 2023 dan Festival Film Bandung tahun 2022.

Kehadiran sastra pop siber di Indonesia yang cepat melesat kepopulerannya adalah fenomena yang tidak bisa dibendung. Kehadiran sastra jenis ini membuka ruang kemungkinan bagi para penulis pemula untuk berani mempublikasikan karya secara mandiri tanpa perlu saringan editor redaksi seperti dalam media konvensional yang ketat pakemnya. Kehadiran platform digital seperti Wattpad, yang menjadi wadah baru dalam transmisi dan kontestasi kesusastraan kontemporer, layak mengisi ruang-ruang kosong dalam diskusi sastra selama ini.

Kesuksesan karya-karya sastra populer yang berisi dunia problematika percintaan remaja di sekolah dalam bentuk sastra siber merupakan efek domino epigonisme karya-karya pendahulu mereka selama hampir 20 tahun ini. Sin, Matt and Mou, Gezz & Ann, dan Mariposa,  adalah contoh teenlit siber yang booming karena mengekor kesuksesan sastra populer  sebelumnya. Cinta Subuh dan Layangan Putus adalah contoh genre chicklit Indonesia yang juga tidak memunculkan sesuatu yang benar-benar baru. Dalam produksi film-film adaptasi karya sastra siber di atas selama ini, selera publik lebih rentan didikte oleh logika industri perfilman sebagai produsen. Jumlah pembaca, kepopuleran di media sosial, dan perbincangan yang viral hingga saat ini masih menjadi  penentu utama karya sastra siber yang diproduksi sebagai film adaptasi. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa budaya populer dan kapitalisme masih menjadi pemandu utama selera masyarakat dalam menikmati produksi film dari sastra pop siber Indonesia mutakhir.

 

Daftar Pustaka

Adi, Ida Rochani. Fiksi Populer: Teori dan Metode Kajian. Pustaka Pelajar, 2016.

Arnez, Monika dan Cahyaningrum Dewojati. “Sexuality, Morality and the Female Role: Observations on Recent Indonesian Women’s Literature.” Asiatische Studien Études Asiatiques. LXIV, 1, 2010.

ASF, Mommy. Layangan Putus. RDM Publisher, 2020.

Damono, Sapardi Djoko. Alih Wahana. Gramedia Pustaka Utama, 2018.

___. “Masalah Sastra Populer.” Sosiologi Sastra: Sebuah Antologi, disunting oleh Faruk H.T., KMSI Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM, 1980.

___. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984.

Dewojati, Cahyaningrum. Sastra Populer Indonesia. UGM Press, 2015.

___. Wacana Hedonisme dalam Sastra Populer Indonesia (cet. II). Pustaka Pelajar, 2022.

Dewojati, Cahyaningrum, dan Nurhayati. Menyingkap Tabir-tabir Maskulinitas: Kajian Novel Pop Islami Mutakhir Indonesia. Pustaka Larasan, 2023

Dewojati, Cahyaningrum, dkk. Sastra Populer Islami: Antara Produksi dan Kontestasi. Gambang Buku Budaya, 2024.

Faradita. Sin. Kubus Media, 2017.

Farighi, Alii. Cinta Subuh. Coconut Books, 2019.

Hasan, Noorhadi, dkk. Literatur Keislaman Generasi Milenial Transmisi, Apriori, Kontestasi. Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, 2018.

HF, Luluk. Mariposa. Coconut Books, 2019.

Kailani, Najib. Kepanikan Moral dan Dakwah Islam Populer: Membaca Fenomena Rohis di Indonesia. Jurnal Analisis Volume XI, No. 1. 2011.

Kuntowijoyo. Maklumat Sastra Profetik. Yogyakarta, 2019.

Sendu, Rintik. Geez & Ann. GagasMedia, 2018.

Sumardjo, Jakob. “Sastra Populer dan Pengajaran Sastra.” Basis edisi 31, Mei 1982.

Thompson, Kenneth. Moral Panics. Taylor & Francis e-Library-Routledge, 2005.

Wulanfadi. Matt & Mou. GagasMedia, 2016.

 

Esai30 April 2026

Cahyaningrum Dewojati


Cahyaningrum Dewojati lahir di Yogyakarta, 31 Desember 1968. Pendidikan S-1 hingga S-3 ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM). Sekarang aktif mengajar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Pernah menjadi dosen tamu di Tokyo University of Foreign Studies selama dua tahun. Selain itu, ia beberapa kali diundang sebagai dosen tamu atau narasumber simposium di beberapa universitas, di antaranya di Jepang, Thailand, Jerman, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Penulis pernah dianugerahi sebagai dosen berprestasi  FIB UGM 2023. Ia telah menulis sekitar 20 buku kajian sastra. Selain dalam buku, beberapa cerpen, esai, dan artikelnya juga dimuat dalam surat kabar, antologi, dan jurnal. Korespondensi dengannya dapat melalui cahyaningrum@ugm.ac.id.