Jalan Lain Fiksi Melayu Pasar Menggeliat Kembali

Ilustrasi: Candrika Soewarno

Bersama gelombang media sosial yang memungkinkan individu memegang sendiri narasi yang ingin disuarakan, kita telah melihat berbagai narasi kelokalan di layar gawai setiap harinya. Kita menyaksikan berita-berita lokal yang dipegang oleh anggota masyarakat, mulai yang berpusat di Jakarta (@infojakarta30, misalnya) hingga yang berlatar daerah (misalnya @info_malang). Bahasa yang dipakai pun beragam, mulai dari bahasa Jakarta hingga bahasa daerah yang disampaikan tanpa malu dianggap udik.

Dalam karya-karya seni yang lebih konvensional, misalnya musik dan film, kita mudah menemukan fenomena populernya karya-karya dengan corak lokal. Yang terbaru, kita melihat tren musik Indonesia timur dengan “Stecu-Stecu”. Dari pulau Sumatra kita melihat munculnya film-film bercorak budaya dan bahasa Padang atau Batak. Dari sepertiga timur pulau Jawa, kita menyaksikan keberhasilan seri film Yo Wis Ben dan gelombang dangdut Jawa yang salah satu suara terkencangnya berasal dari Ngawi di bawah komando Denny Caknan.

Di antara berbagai corak lokal ini, ada satu corak lokal yang juga muncul, baik di media sosial maupun di media yang lebih konvensional. Di media sosial, ada satu ceruk khusus yang berisi konten-konten budaya dan kebiasaan etnis Tionghoa, dari sudut pandang anak yang menggali perjalanan pribadinya sebagai “Chindo” di Jakarta (misalnya @sellygow), hingga yang bergaya Surabaya (misalnya Andy Sugar). Sementara itu, untuk versi yang lebih konvensional, kita bisa menemukan film Cek Toko Sebelah dan Susi Susanti Love All yang juga ikut menggali identitas Tionghoa Indonesia. Dalam hal arsitektur, kita sudah melihat belasan Masjid Cheng Ho di berbagai penjuru Indonesia. Di beberapa kota juga terdapat Festival Kampung Pecinan untuk merayakan tradisi Tionghoa Indonesia. Bahkan, saya sendiri kebetulan mengajar di satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang menyandang nama Tionghoa.

Namun, dari berbagai karya niche khusus Tionghoa, ada satu ceruk begitu dalam yang belum hadir sebagaimana mestinya, yaitu karya sastra berbahasa Melayu oleh para penulis peranakan Tionghoa. Karya-karya ini pernah mendapat label “bacaan liar” pada masa Balai Pustaka. Pramoedya Ananta Toer memasukkan karya-karya ini ke dalam karya “sastra pra-Indonesia” dalam antologi yang dia susun: Tempo Doeloe, Antologi Sastra Pra-Indonesia. Sayangnya, hari ini, karya serta penulis dari ceruk ini tidak banyak dibahas, kecuali dalam artikel-artikel ilmiah yang terbit di jurnal-jurnal ilmiah yang pembacanya cenderung terbatas.

 

Terjebak di “Minat Khusus”

Untuk sekadar mengetahui posisinya di kalangan pembaca, belum lama ini saya membuat survei kecil tentang “sastra Melayu Tionghoa” yang, setelah dibuka selama dua hari, berhasil mendapatkan isian dari 150 orang. Survei tersebut mengungkapkan sebuah fakta yang lebih-kurang selaras dengan kurangnya ekspos ini. Ada 36% pengisi survei yang mengaku tidak pernah mendengar tentang “sastra Melayu Tionghoa”. Sementara itu, 45% pernah mendengar dan tahu istilah ini. Terdapat 19% pengisi survei yang pernah mendengar, tetapi tidak tahu maksud istilah “sastra Melayu Tionghoa”. Ketika ditanya lebih jauh, apakah mereka tahu bahwa ada lebih dari 3.000 karya penulis peranakan Tionghoa sebelum tahun 1942, hanya 24% yang tahu mengenai hal tersebut dan 76% sisanya tidak tahu, dan baru kali ini mendengar bahwa ada sebanyak itu karya semacam itu.

Ketika mendapat pertanyaan yang lebih spesifik, tampaklah bahwa keakraban para pembaca Indonesia dengan kelompok yang Marcus A.S. dan Pax Benedanto sebut sebagai “kesastraan Melayu Tionghoa” ini sangat sedikit. Saat ditanya mengenai keakraban dengan nama-nama penulis yang sering dikaitkan dengan ceruk sastra ini atau penulis Tionghoa Indonesia yang terkenal, terungkap fakta unik. Penulis Tionghoa yang paling dikenali adalah Kho Ping Hoo (sebanyak 42%), yang justru menerbitkan karya originalnya pada tahun 1962, beberapa tahun sebelum terbit Inpres No. 14 Tahun 1967 yang membatasi praktik agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa di ranah keluarga. Salah satu penulis yang dikenal paling awal di kelompok ini, yaitu Kwee Tek Hoay, malah hanya dikenali oleh 11% responden. Ada 33% responden yang menyatakan sama sekali tidak pernah mendengar nama-nama yang ditunjukkan. Hasil survei di atas, meskipun hanya melibatkan 150 orang, bisa memberikan sedikit cuplikan mengenai tingkat keakraban pembaca sastra Indonesia hari ini dengan sastra berbahasa Melayu karya penulis peranakan Tionghoa.

Rendahnya keakraban dengan kelompok karya-karya sastra ini cukup memprihatinkan mengingat sudah cukup banyak usaha untuk memberikan pengakuan terhadap kesastraan Melayu Tionghoa. Pada awal dekade 1960-an, ketika sastra Indonesia bergeliat dan banyak penulis yang mulai menerbitkan karya-karyanya, penulis Nie Joe Lan membahas adanya sastra Melayu Tionghoa. Akan tetapi, telaah yang dilakukan oleh Nie Joe Lan ini lebih sebagai elemen atas diskusi mengenai etnis Tionghoa Indonesia, yaitu dalam buku Peradaban Tionghoa Selajang Pandang.[1] Dalam buku yang memberikan pengenalan umum mengenai kebudayaan Tionghoa Indonesia ini, sastra Melayu Tionghoa dipandang hanya sebagai salah satu bagian dari kebudayaan tersebut. Akan tetapi, di tengah masa yang sudah mulai berbicara tentang karya-karya sastra Indonesia, baik dari versi resmi maupun pasca-kemerdekaan tersebut, diskusi yang cukup serius mengenai kelompok karya sastra ini (sekaligus dengan tradisi penerjemahan cerita-cerita dari Tiongkok yang terjadi tepat sebelum gelombang ramainya karya-karya sastra Melayu Tionghoa) adalah sebuah pengakuan tentang keberadaan satu kelompok yang tidak bisa diingkari keberadaannya di semesta literasi Indonesia.

Claudine Salmon memberikan kontribusi tak kalah penting pada awal dekade 1980-an dengan bukunya yang secara khusus membahas kesastraan Melayu Tionghoa. Dalam buku Literature in Malay by the Chinese of Indonesia, Salmon merangkum sejumlah kajian terhadap kesastraan Melayu Tionghoa, baik yang dilakukan di Indonesia (misalnya oleh Nio Joe Lan yang disinggung di atas) maupun yang dilakukan oleh peneliti dari luar Indonesia, misalnya C.W. Watson pada tahun 1971, atau John Kwee pada tahun 1977 mengenai arti penting karya-karya Melayu Tionghoa dalam proses menuju sastra Indonesia pada era pasca-kemerdekaan.[2] Kajian-kajian yang disinggung Salmon ini menentang pandangan dominan bahwa karya sastra Indonesia baru lahir pada dekade 1920-an.

Di dalam buku inilah Salmon mengungkap hasil penelusurannya, yaitu adanya 3.005 judul karya yang bisa masuk ke dalam kelompok karya berbahasa Melayu oleh peranakan Tionghoa di Indonesia antara 1870-an hingga 1960-an. Angka ini jauh lebih banyak daripada karya-karya yang pernah diterbitkan Balai Pustaka hingga masa itu.

Namun, hingga tahun 2000, banyak karya para penulis di kelompok ini tidak bisa diakses lagi oleh publik pembaca sastra Indonesia. Ada beberapa faktor yang tampaknya membuat karya-karya Melayu Tionghoa tidak lagi diakses. Menurut Salmon dalam prakata bukunya, setelah tidak adanya publik yang memiliki keterkaitan dengan cerita-cerita Melayu Tionghoa, buku-buku tersebut mulai tersingkir dari “taman bacaan”.[3] Di sisi lain, Myra Sidharta menduga bahwa perubahan aturan ejaan dari Van Ophuijsen ke Suwandi, dan akhirnya menjadi Ejaan yang Disempurnakan, juga memiliki dampak atas kurangnya minat terhadap karya-karya yang masih menggunakan ejaan Van Ophuijsen.[4] Yang mungkin paling bisa diakses pada masa ini adalah karya para penulis Tionghoa Indonesia yang tidak lagi diasosiasikan dengan sastra Melayu Tionghoa, misalnya Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang cerita-cerita silatnya sangat populer dan menjadi pengetahuan umum hingga era 1980-an.

Publik pembaca Indonesia mulai kembali terpapar  karya-karya Melayu Tionghoa pada tahun 2000, tepatnya ketika Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun tersebut mulai menerbitkan sepilihan karya Melayu Tionghoa, mulai karya terjemahan, puisi, naskah drama, cerpen, novel, hingga nonfiksi kreatif. Seri yang saat ini sudah mencapai 10 jilid itu menjadi sumber yang mudah diakses untuk mendapatkan karya-karya Melayu Tionghoa. Di akademia, hasil dari penyediaan kembali akses ke khazanah karya Tionghoa Indonesia itu mulai tampak dalam kajian-kajian yang telah dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah, yang banyak di antaranya menggunakan seri Kesastraan Melayu Tionghoa sebagai sumber primernya.[5][6][7][8][9]

Tampaknya, upaya-upaya untuk memberikan pengakuan terhadap posisi karya-karya Sastra Melayu Tionghoa ini mulai menunjukkan dampaknya. Pada beberapa esai dalam Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sapardi Djoko Damono menyoroti kontribusi karya-karya sastra Melayu Tionghoa dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Dalam esai berjudul “Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia”, Sapardi memandang sastra berbahasa Melayu pasar karya para penulis peranakan Tionghoa sebagai salah satu titik perkembangan bahasa Indonesia. Alih-alih menyebutnya sebagai sastra Melayu Tionghoa secara positif, Sapardi hanya menyampaikan bahwa “sastra Melayu Cina” adalah label yang disematkan “beberapa pengamat”.[10] Dalam buku tersebut, Sapardi secara konsisten menggunakan istilah “Cina”, istilah yang lazim dipakai pada masa ketika istilah Tionghoa dan ekspresi budaya serta keyakinan Tionghoa dilarang. Penerbitan pers dan sastra oleh peranakan Tionghoa ini turut berkontribusi sebagai upaya “pengembangan bahasa Indonesia [yang] dikerjakan bersama-sama” oleh berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia.[11] Di sini, Sapardi mengindikasikan posisinya yang memandang karya sastra berbahasa Melayu karya peranakan Tionghoa sebagai bagian dari perkembangan sastra Indonesia.

Sapardi bukanlah satu-satunya penulis yang menunjukkan apresiasi terhadap karya-karya para penulis Tionghoa dalam bahasa Melayu. Maman S. Mahayana dalam sebuah esai di buku Bermain dengan Cerpen (2006) bahkan mengajukan sebuah periodisasi cerpen Indonesia dengan memberikan pengakuan khusus terhadap cerpen para penulis Tionghoa pada era pra-kemerdekaan. Alih-alih mengamini tesis A. Teeuw, Ajip Rosidi, Zuber Usman, dan Umar Yunus mengenai lahirnya sastra Indonesia yang secara mendasar bersifat “Nederlando sentris”, Maman mengajukan argumen berbeda.[12] Maman mengajukan pendapat bahwa salah satu milestone sebelum munculnya cerpen di era Balai Pustaka dan Pujangga Baru adalah cerpen-cerpen berbahasa Melayu pasar oleh para penulis peranakan Tionghoa yang terbit di surat-surat kabar, yang banyak di antaranya adalah terbitan para pengusaha surat kabar Tionghoa. Dalam dua penawaran periodisasinya, Maman memosisikan karya sastra Melayu Tionghoa di “Periode Kelahiran” dan “Pencarian Bentuk”.[13] Dengan argumen Maman dan Sapardi ini saja, kita sudah bisa melihat adanya satu koreksi penting terhadap sejarah sastra Indonesia yang sebelumnya memandang kesastraan Melayu Tionghoa sebagai ceruk yang ada di luar sistem sastra Indonesia.

Namun, kembali menyitir hasil survei kecil yang saya singgung di awal, tampaknya koreksi terhadap sejarah sastra itu belum sepenuhnya menetes ke pembaca umum sastra Indonesia. Diskusi mengenai karya-karya sastra Melayu Tionghoa masih kurang. Bahkan, nama-nama penulisnya pun masih sangat kurang dikenal pembaca sastra Indonesia. Lazimnya, kalau belum pernah membaca karyanya, setidaknya kenal nama penulis adalah sekurang-kurangnya pengenalan. Ataukah label sastra Melayu Tionghoa itu sendiri telah menjadi penghalang dikenalnya para penulis ini? Apakah “kampanye” yang dilakukan oleh Claudine Salmon, Myra Sidharta, Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana, dan para akademisi lain itu gagal? Bukankah tidak semestinya karya-karya ini tetap terjebak di “minat khusus” para sarjana sastra?

 

Jalan Lain

Di atas, kita bisa melihat bahwa di akademia telah ada perubahan sikap yang cukup signifikan terhadap posisi karya-karya berbahasa Melayu pasar para penulis peranakan Tionghoa ini. Alih-alih menggunakan periodisasi sastra atau pengakuan sejarah sastra yang berpusat pada otoritas budaya Hindia Belanda dan peran kolonialisasi terhadap bahasa Indonesia, para akademisi dewasa ini mengakui posisi karya-karya tersebut. Bahkan, sudah mulai banyak yang mengkajinya. Akan tetapi, kenapa hasil survei yang saya sampaikan di atas masih menunjukkan bahwa para penulis serta karya-karya peranakan tersebut masih belum dikenal oleh publik pembaca sastra dewasa ini? Jangan-jangan, kita perlu cara lain dalam mendekati karya-karya sastra ini?

Ada beberapa tahap untuk mencapai hal tersebut. Hal pertama, yaitu bagaimana kita menyebut sastra berbahasa Melayu pasar karya para penulis peranakan Tionghoa tersebut. Marcus A.S. dan Pax Benedanto menggunakan istilah “kesastraan Melayu Tionghoa” untuk menyebut khazanah sastra ini. Cakupan dari istilah ini adalah naskah drama, puisi, novel pendek, novel, hingga nonfiksi kreatif. Dengan mencakup berbagai genre karya dalam 10 jilid Kesastraan Melayu Tionghoa yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini, label tersebut memiliki cakupan yang amat luas.

Di sisi lain, terdapat pula label “bacaan liar” yang merujuk pada karya-karya di luar gaya Balai Pustaka atau majalah Pujangga Baru. Istilah “bacaan liar” berasal dari asumsi dasar bahwa ada bacaan-bacaan tertentu yang secara linguistik lebih terarah, secara estetika dinilai lebih indah, dan secara isi dipandang lebih aman karena tidak menghasut. Faruk H.T. dalam Politik dan Poetik dalam Sastra dan Film (2021) menyinggung bahwa Balai Pustaka menyebut bacaan-bacaan di luar standar keamanan dan ketertibannya sebagai bacaan yang “merusak moral dan menghasut”.[14] Tampaknya, Faruk merujuk pada esai D.A. Rinkes yang menyebutkan bahwa pengembangan bacaan di Hindia Belanda perlu menghindari bacaan-bacaan sensasional, takhayul, bertendensi modern atau politik, yang dianggap tidak sesuai agenda pendidikan yang bersifat netral dan tenang.[15]

Dari sini, setidaknya ada dua kategori karya yang dianggap bacaan liar, yaitu karya-karya yang merusak moral karena terlalu mengeksploitasi hiburan dan plot cerita serta bentuk karya-karya yang terlalu politis sehingga berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat—dan karenanya  dipandang menghasut. Ini menunjukkan bahwa istilah “bacaan liar” sebenarnya tidak merujuk pada satu jenis karya. Ada dua kategori besar yang tercakup di dalamnya.

Dari dua penyebutan ini saja, sungguh sebuah penyederhanaan bila kita hanya menggunakan satu istilah untuk merujuk pada karya-karya ini. Dengan menyebutnya sebagai “kesastraan Melayu Tionghoa” atau “bacaan liar” atau “sastra pra-Indonesia”, yang kita lakukan bisa dibilang memasukkan sebuah bentangan yang luas ke dalam satu gerbong. Label-label ini membuat khazanah sastra berbahasa Melayu karya peranakan Tionghoa sebagai sebuah kelompok besar dan membuat kekhasan masing-masing penulis atau masing-masing karya tidak muncul. Hal ini terlepas dari apa intensi atau motivasi di baliknya.

Namun, perlu disadari bahwa hal ini sama sekali tidak berarti bahwa yang dilakukan oleh Claudine Salmon dan kemudian dilanjutkan oleh Marcus A.S. dan Pax Benedanto dengan pengantar Myra Sidharta itu salah. Melakukan katalogisasi atau bibliografi beranotasi dan antologisasi adalah satu upaya yang dibutuhkan untuk mengangkat karya-karya ini dari keterkuburan. Katalogisasi dan antologisasi akan membuat karya-karya yang sekian lama tidak tampak tersebut menjadi terlihat. Upaya Claudine Salmon telah membuat apa yang sudah dilakukan oleh Nio Joe Lan tetap terdengar bagi pembaca pasca-1967. Antologisasi dan penerbitan seri Kesastraan Melayu Tionghoa membuat karya-karya yang telah dianotasi oleh Claudine Salmon bisa diakses oleh publik pembaca abad ke-21. Seperti yang telah disinggung di atas, adanya penyegaran akses berkat antologi ini berkontribusi besar dalam membuka jalan untuk lahirnya kajian-kajian akhir-akhir ini terhadap karya-karya Kwee Tek Hoay dan para penulis seangkatannya. Saat ini, kajian-kajian tersebut bisa dengan mudah dicari di Google Scholar atau Portal Garuda.

Yang perlu dilakukan saat ini, yaitu memberikan perhatian kepada karya-karya yang sudah terdaftar dan tersedia tersebut secara individual. Yang perlu dilakukan selanjutnya, yaitu menyoroti kekuatan masing-masing karya dan bagaimana karya-karya tersebut masih bisa berbicara kepada publik hari ini. Hal ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi kesastraan. Contohnya adalah karya-karya yang merespons Jane Austen yang juga banyak dibahas di akademia. Alexander-Jones membahas bagaimana karya terakhir Jane Austen yang belum sepenuhnya rampung bisa dilengkapi dengan penggunaan lokasi syuting yang diambil dari adaptasi terdahulu atas karya-karya Austen lainnya.[16] Hasilnya, meskipun karya adaptasi itu memiliki penggambaran yang kurang akurat dengan naskah aslinya, adaptasi filmnya tetap dipandang meyakinkan karena kedekatannya dengan lokasi-lokasi syuting dalam film-film adaptasi terdahulu atas karya-karya Jane Austen. Contoh lainnya adalah bagaimana karya-karya klasik Austen seperti Pride and Prejudice menjadi inspirasi buat sinetron Brasil yang berjudul Pride and Passion.[17] Contoh lainnya tampak pada bagaimana Ibi Zoboi, seorang penulis Afro-Amerika, mengadaptasi Pride and Prejudice karena merasa karya Austen terlalu sosio-politis.[18] Contoh adaptasi terakhir yang paling ekstrem adalah gagasan Gomez Calista yang membahas tentang bagaimana roman abad ke-19 itu menjadi inspirasi untuk sebuah reality show.[19] Kasus-kasus tersebut memberikan gambaran atas bagaimana karya yang sudah tua dicari-cari relevansinya untuk masa saat ini. Hal ini menjadikan kisah yang berusia lebih dari 100 tahun masih bisa bertemu dengan pembaca kiwari.

Sorotan semacam ini bisa dilakukan terhadap karya-karya berbahasa Melayu dari penulis peranakan Tionghoa di Indonesia yang aksesnya semakin mudah. Sorotan terhadap penulis yang kemudian diikuti kajian-kajian per karya akan membuka jalan bagi para pembuat film, komikus, atau penulis fiksi pada hari ini untuk melakukan adaptasi atau menghadirkan kembali versi terbaru karya-karya tersebut. Adaptasi terhadap karya-karya yang beragam jenis itu bisa menghasilkan karya-karya yang dalam satu atau lain hal pernah terbukti menarik perhatian banyak orang, tetapi tetap disesuaikan dengan era saat ini.

Ada satu hal yang perlu dikhawatirkan dari upaya semacam ini, yaitu bahwa kita harus siap menghadapi keberagaman yang bisa saja tak terbatas. Di atas, saya menyitir Faruk H.T. yang menyatakan bahwa setidaknya ada dua jenis kelompok karya dari populasi ini, yaitu yang politis dan yang menghibur. Dengan pendekatan yang bersifat individual ini kita harus mau memasuki karya-karya yang, misalnya, menghibur sebagai cerita komedi-romantis, menghibur sebagai saga keluarga, menghibur sebagai kisah aksi, atau bahkan menghibur sebagai cerita silat. Kita perlu terbuka terhadap berbagai genre atau subgenre ini sehingga benar-benar bisa mengenali unsur-unsur literernya dan menyoroti hal-hal lain yang mungkin berupa suara politis atau etis penulisnya. Di sinilah kita benar-benar bisa menemukan geliat fiksi dari kelompok yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai kesastraan Melayu Tionghoa itu.

Untuk lebih dapat melihat geliat tersebut dan sebagai sumbangsih untuk kajian ini, marilah kita masuki dua karya dari genre yang sangat berbeda, yang sama-sama bisa kita gali dan berpotensi untuk dihadirkan kembali di era ini. Dua karya yang bisa kita ulas untuk kebutuhan ini adalah karya yang berlainan. Karya pertama berjudul Nonton Capgome dari Kwee Tek Hoay, penulis dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang sangat produktif dan mungkin paling dikenal (dan menurut survei, lebih dikenal di antara dua penulis lain, meskipun tidak sepopuler Kho Ping Hoo). Cerita kedua yang akan diulas di sini adalah novela berjudul Satu Milliun karya Soe Lie Piet, penulis yang juga merupakan ayah tokoh Soe Hok Gie dan Arief Budiman. Sebagaimana akan dibahas, karya ini tampak berdialog dengan tren novel detektif di dunia.

 

Kritik Tradisi di Keluarga Urban

Karya sastra era kolonial, Nonton Capgome, akan membuat pembaca baru heran karena karya ini jauh dari kesan muram yang biasanya ada ketika kita membicarakan kolonialisme. Bayangan sebagian besar orang Indonesia ketika berbicara tentang masa kolonial adalah bahwa pada masa tersebut orang Belanda menguasai Indonesia dan karenanya orang Indonesia tidak bisa banyak bergerak serta hidup dalam kesengsaraan. Kesan ringan itu benar-benar terasa karena Nonton Capgome karya Kwee Tek Hoay ini menghadirkan motif comedy of errors atau komedi kesalahan dengan mengusung permasalahan hati sepasang suami-istri yang sedang terbentur tembok tradisi dalam keluarga Tionghoa urban.

Sebagai gambaran sekilas, novel pendek Nonton Capgome berkisah tentang pengantin baru Thomas dan Lies yang terjebak di antara kepatuhan kepada tradisi dengan dorongan modernitas. Thomas ingin mengajak Lies makan malam dengan kawannya pada saat perayaan Capgome, tetapi orang tua Lies tidak mengizinkannya karena menurut mereka tidaklah pantas perempuan dan laki-laki berduaan serta menunjukkan kemesraan di ruang publik , meskipun suami-istri. Thomas yang cenderung modern akhirnya ingin memberikan pelajaran dengan cara membuat Lies dan keluarganya sebal, yaitu keluar bersama seorang gadis—meskipun hanya pria yang pura-pura jadi wanita. Akan tetapi, alih-alih menjadi pelajaran, hal tersebut malah menciptakan kesalahpahaman yang akhirnya berujung pada konflik antarkeluarga. Kisah yang terjadi dari sore hingga tengah malam ini pun bergulir, dari perbedaan pendapat suami dan istri menjadi perseteruan antara dua keluarga. Untungnya, setelah melibatkan seorang kawan Thomas yang menjadi polisi Tionghoa, kesalahpahaman tersebut bisa diluruskan dan akhirnya keluarga Lies memahami bahwa mereka terlalu kaku dalam memandang tata pergaulan.

Yang langsung terasa justru kecenderungannya yang mengingatkan kita kepada apa yang disoroti oleh Scott McCracken mengenai roman populer dalam buku Pulp: Reading Popular Fiction (2024). Menurut McCracken, ada empat hal yang bisa ditemukan dalam roman populer, yaitu fantasi, feminisme, femininitas, dan formula.[20] Dalam pengamatan McCracken, k roman populer sangat kaya dengan caranya memancing fantasi pembaca dan membuat mereka terus bertahan serta mengikuti cerita hingga ujung. McCracken juga menyinggung adanya ketegangan antara karakter yang ditampilkan dengan karakter yang diharapkan dapat menjadi feminin, elok, dan penuh cinta kasih, tetapi juga memiliki karakter yang punya kecenderungan untuk lebih tangguh serta ingin mengarahkan jalannya cerita. Selain itu, untuk kasus-kasus tertentu, McCracken menyoroti bagaimana formula menjadi sesuatu yang penting dan lazim ada dalam roman populer. Ada sebuah formula yang dipegang oleh para pembuat cerita bersambung yang menjadikan minat seorang pembaca terus mengikuti cerita tersebut.

Perwatakan para tokoh perempuan muda dalam cerita ini menghadirkan tarik-ulur femininitas dan feminisme. Sebagai seorang anak, sebenarnya Lies cukup berpendidikan dan memiliki pendirian yang kuat. Akan tetapi, kondisi keluarga mengondisikan dia untuk cenderung patuh pada nilai-nilai tradisional. Menurut cerita, Lies sebenarnya modern dan pandai meskipun pendidikannya tidak tinggi, “tapi lantaran ia idup dalam udara kekunoan, maka itu hal ada berpengaruh juga pada sikep dan tabeatnya.”[21] Melengkapi Lies, kita bisa menyaksikan tokoh Diana Ong, keponakan Lies yang sedang belajar di Kweekschool Mr. Cornelis, yang memiliki pandangan modern dan berani bertindak. Kecenderungan Lies yang ingin harmonis dengan orang tua dan kakak-kakaknya serta tidak ingin berkonflik dengan suaminya itu diimbangi oleh Diana yang menguatkan Lies untuk memperjuangkan haknya sebagai istri. Dengan ini, Lies menjadi medan tarik-ulur antara kecenderungan harmonis, cinta kasih, damai dan anggun, dengan tuntutan untuk memperjuangkan hak dalam perspektif kesetaraan gender. Di sinilah terjadi tarik-ulur antara femininitas dengan feminisme yang bertemu dalam satu karakter, seperti pendapat yang diajukan oleh Scott McCracken tentang roman populer.

Meskipun terbilang pendek untuk sebuah novel, Nonton Capgome juga tak urung menunjukkan bagaimana formula pengocok konflik bekerja. Setiap bagian berakhir dengan sesuatu yang menjanjikan kejutan. Bab pertama yang memperkenalkan konflik ini berakhir dengan rencana Thomas dan Frans untuk memberi keluarga Lies pelajaran. Bab dua yang diawali sandiwara Thomas dan Frans yang berpura-pura menjadi perempuan berakhir dengan kecemburuan Lies serta kemarahan keluarganya. Bab tiga yang diawali kecemburuan Lies berakhir dengan rencana pembalasan dendam oleh Lies dan Diana. Hal ini berlanjut sampai akhir cerita. Formula itu ternyata berulang dan dijalankan dengan rapi atau bahkan simetris. Kecenderungan ini menjadikan Nonton Capgome layaknya sebuah cerita populer yang memang bertujuan memberikan hiburan dengan memberikan rasa penasaran dan harap-harap gemas.

Namun, menghibur tidak berarti apolitis. Memang, Nonton Capgome bukanlah cerita yang politis atau mengkritisi kolonialisme, yang merupakan permasalahan terbesar pada masa itu. Tidak ada sorotan terhadap otoritas tentara Belanda atau pemerintah kolonial yang membuat aturan-aturan yang mencekik Bumiputera dan non-Eropa. Yang tampak adalah bahwa kehadiran Belanda serta sistem pendidikan Belanda membuat anak-anak muda di dalam cerita ini memiliki pandangan yang berubah dan mengkritisi tradisi mereka sendiri.

Dengan kata lain, pendidikan ala Barat yang hadir bersama kolonialisme di tanah Nusantara ini membawakan sesuatu yang lebih cocok bagi generasi muda. Di sini, terlihat jelas bagaimana Nonton Capgome memang tidak politis terhadap kondisi kolonialisme.

Sebaliknya, yang dikritisi adalah tradisi dalam komunitas asal para tokohnya, yaitu komunitas Tionghoa. Nonton Capgome menunjukkan kepada kita sebuah tema kuat mengenai resistensi terhadap tradisi lama dan gelombang perubahan. Sejak halaman pertama, kita dihadapkan pada pertentangan Thomas terhadap tradisi orang-orang tua Tionghoa. Thomas dan Lies yang hanya ingin bisa bergandengan tangan di ruang publik harus berhadapan dengan orang-orang yang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak boleh ditunjukkan di muka umum, yang membuat Thomas memandang orang-orang tua itu “keras kekepin segala aturan dan kabiasaan kuno.”[22] Hal ini diperparah oleh apa yang menurut anak-anak muda sangat bermasalah, yaitu bahwa apa yang dianggap orang-orang tua itu sebagai aturan, sebenarnya adalah ekspresi dari kegagalan mereka dalam menjalin hubungan cinta kasih.[23] Konflik ini dibangun sejak awal cerita sehingga memancing fantasi pembaca tentang bagaimana cerita akan bergulir.

Cerita ini berakhir dengan kesan adanya keberpihakan terhadap gaya hidup modern. Sebagai penengah, Liauw Lo menegaskan bahwa apa yang menjadi pangkal dari bencana salah paham sesorean hingga tengah malam itu adalah

aturan kuno yang orang masih coba pegang tegu dan belaken mati-matian. Kalu dari masih sore Lies didzinken berjalan sama-sama lakinya seperti biasanya orang-orang muda yang masih teritung penganten baru, ini perbuatan salah mengarti dan bikin orang jadi ribut dan jengkel tida karuan, niscaya tida nanti timbul.[24]

Memang betul bahwa Thomas, Lies, Frans, dan Diana sama-sama punya andil dalam drama keluarga selama perayaan Capgome. Akan tetapi, yang menjadi pangkal masalah adalah generasi tua yang masih mencoba mempertahankan tata pergaulan lama yang tidak lagi sesuai dengan semangat anak-anak muda. Karya Kwee Tek Hoay ini menyoroti persoalan lintas generasi yang tampaknya juga menggelitik hati para pembaca pada masa itu.

Kritik sosial yang muncul di sini adalah kritik sosial yang dibungkus dalam hiburan yang memikat. Selain perbedaan antargenerasi dengan fokus pada ketidakcocokan nilai untuk sebuah zaman, kita juga menemukan permasalahan yang tidak kalah mendasarnya, yaitu kemunafikan. Yang paling mencolok mata pembaca tentunya adalah penekanan yang terlalu besar pada kesopanan, sedangkan nilai seorang perempuan direndahkan. Hal ini tertangkap pada pandangan Hujin Tjiauw Koe, ibu Diana:

Hujin Tjiauw Koe punya pandangan agak unik. Menurutnya perempuan berendeng dengan laki-laki di jalan kurang baik, tapi kalau perempuan bermain judi di rumah meladenin untuk yang berjudi. Dia juga tidak menganggap buruk seorang lelaki yang punya wanita simpanan, dan bahkan suaminya punya wanita simpanan.[25]

Kesopanan sangat dijunjung. Padahal, di balik kesopanan itu terdapat sesuatu yang secara hakiki lebih menyakitkan: lelaki yang memiliki simpanan atau perempuan yang melayani laki-laki bermain judi. Kritik semacam ini dihadirkan dalam kerangka hiburan yang terus membuat pembaca berharap-harap cemas akan laju ceritanya.

Semua elemen dan kecenderungan Nonton Capgome ini tak ayal mengingatkan kepada berbagai cerita komediromantis yang bisa kita temukan hari-hari ini. Baik dalam bentuk buku, sinetron, maupun film lepas, kita bisa menemukan hal-hal ini. Tentu, kita bisa menemukan banyak cerita komedi-romantis yang mengkritisi berbagai fenomena sosial atau benturan generasi karya para novelis atau sineas Indonesia di dekade kedua dan ketiga abad ke-21, seperti serial Induk Gajah yang hadir di layanan video on demand belum lama ini. Bila membaca Nonton Capgome, kita bisa merasakan bahwa pada tataran domestik, era kolonial ternyata bisa terasa cukup ceria dan aman-aman saja, persis seperti bagaimana cerita-cerita karya Jane Austen bisa sama sekali tidak berbicara tentang bangsa Inggris yang saat itu sedang mengeruk sumber daya negara-negara koloninya.

 

Menumbangkan Gangster Kosmopolitan

Berbeda dengan Nonton Capgome yang plotnya digerakkan oleh kesalahpahaman, Satu Milliun adalah cerita dari sebuah semesta yang ceritanya digerakkan oleh niat jahat dan usaha mengatasinya. Nuansa yang terbentuk pun lebih terasa penuh risiko. Bila genre komedi-romantis seperti yang dihadirkan Kwee Tek Hoay dalam Nonton Capgome di kemudian hari semakin populer—dan bahkan sempat meledak dalam sejarah sastra Indonesia—Satu Milliun mewakili genre yang tidak pernah sangat hidup dalam sejarah novel Indonesia. Di kemudian hari, kisah-kisah serupa justru banyak hadir dalam bentuk terjemahan seperti karya-karya Sidney Sheldon, Agatha Christie, James Patterson, dan sebagainya. Akan tetapi, justru di sinilah geliat sastra dari penulis peranakan Tionghoa pada masa pra-kemerdekaan itu tampak.

Satu Milliun diawali kisah seorang lelaki yang meninggalkan bayi di teras rumah di kawasan Cicurug pada tengah malam gelap gulita. Bayi tersebut dititipkan kepada seorang pendidik dengan janji akan terus dibiayai dan 18 tahun kemudian akan diambil. Bayi itu tumbuh dengan kerinduan kepada orang tua yang telah menitipkannya tanpa dia kenal. Delapan belas tahun kemudian, seorang pria bernama Loen Bing yang selama ini bertualang dan bersembunyi di berbagai penjuru bumi akhirnya kembali ke Batavia. Sayangnya, Loen Bing tanpa sengaja bertemu Sing Kow, seorang anggota Perkumpulan Kedok Item yang telah lama mengincarnya—dia mengincar harta Loen Bing yang kabarnya sejumlah satu juta. Ternyata, Loen Bing adalah ayah dari bayi perempuan yang dia titipkan di Cicurug 18 tahun sebelumnya. Si gadis perempuan yang bernama Lian Hwa itu akhirnya diajak kembali ke rumah Loen Bing, tetapi tidak kunjung berkesempatan bertemu Loen Bing karena Perkumpulan Kedok Item kembali mengejarnya pasca-pertemuan tersebut. Kedok Item menggunakan tipu daya untuk memperalat Lian Hwa yang sangat ingin bertemu ayahnya dan mengenal siapa ibunya. Setelah berbagai tipu daya dan insiden, berkat bantuan Tin Liang, akhirnya Loen Bing berhasil mengalahkan Sing Kow dan Perkumpulan Kedok Item. Cerita berakhir dengan Lian Hwa yang hidup berbahagia dengan peninggalan Loen Bing, sedangkan Loen Bing sendiri berkelana mengikuti isi hatinya, karena tidak lagi ada tanggungan untuk menjaga anaknya.

Dari gambaran sekilas tersebut, tentunya sudah tampak bahwa Satu Milliun adalah sebuah kisah yang mungkin kita kenal sebagai kisah aksi atau action-adventure. Yang menjadi daya tarik utama cerita ini adalah aksi Loen Bing untuk menyelamatkan putrinya dari musuh-musuh dan bagaimana dia akhirnya bisa melumpuhkan musuh utamanya. Satu Milliun menggambarkan kisah seseorang yang hidupnya sudah dikoyak oleh kejahatan terorganisasi, sehingga sang tokoh utama harus menyingkir, menghapus egonya, dan bahkan bertarung mempertaruhkan nyawanya. Buat pembaca, kisah ini bisa menawarkan wisata pikiran yang diakhiri dengan pelepasan emosi. Kisah Soe Lie Piet ini berada di antara Agatha Christie dan Mary Higgins Clark, dua sosok tangguh dalam novel misteri di abad ke-20, baik yang relatif konvensional dengan kehadiran detektifnya maupun yang lebih menegangkan. Ada beberapa poin yang menjadikannya sebagai khas genre yang sayangnya tidak terlalu populer di kalangan penulis Indonesia sendiri.

Terkait kecenderungan umum ini, Satu Milliun juga selektif dalam penggambaran kondisi kolonial. Novel ini diterbitkan pada tahun 1938, sebuah tahun yang cukup sibuk, baik di Nusantara maupun di Asia. Pasca-Sumpah Pemuda, pemerintah Hindia Belanda, khususnya Gubernur Batavia, cukup keras merespons gerakan pemuda. Karena berbagai gagasan pergerakan yang disampaikan dengan tegas melalui tulisan-tulisannya, Bung Karno ditangkap pada tahun 1933 dan pada tahun 1934 dibuang ke Ende, Flores.[26]  Sementara itu, Tiongkok telah diinvasi oleh Jepang pada tahun 1937 dan pada 1938 itu terjadi banyak pertempuran yang diakhiri dengan kemenangan Jepang. Hal-hal ini tidak muncul sama sekali dalam Satu Milliun. Sebaliknya, yang muncul justru pernyataan narator bahwa Pulau Jawa adalah ”negri yang begini aman yang jarang terjadi keributan.” [27] Tidak hanya menghindari pembicaraan tentang politik di tanah Jawa, Satu Milliun malah mengesankan sesuatu yang sebaliknya, di mana tanah Jawa disitir sebagai tempat yang ”begini aman”. Sebagian kritikus bisa menafsirkan bahwa novel ini dapat dipandang sebagai novel eskapis. Dia menghadirkan hiburan yang bisa dijadikan sarana melarikan diri dari kenyataan.

Yang lebih penting bagi novel ini adalah plot yang memikat dengan dua elemen sensasionalisme dan kehidupan urban. Kehidupan urban memang tidak bisa dilepaskan dari cerita detektif atau crime story. Kehidupan urban selalu memberikan kesan modernitas, dan habitat asli cerita detektif adalah masyarakat yang telah meninggalkan pola hidup tradisional, menuju pola hidup modern, kosmopolitan, serta  lebih saintifik. Dalam cerita detektif klasik, memang ada kalanya figur detektif pergi ke pedesaan, seperti halnya yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita Arthur Conan Doyle atau Agatha Christie. Akan tetapi, dalam konteks seperti itu pun mereka menjadi figur urban yang “selalu membawa sentuhan kota ke desa-desa kecil yang sepi dan lambat.”[28] Kota adalah habitat asli kisah kriminal.

Dalam Satu Milliun, latar yang kita dapatkan adalah Batavia dengan segala kemajuannya, seperti adanya restoran mewah, penerbitan surat kabar, dan kemudahan aksesnya yang memungkinkan Loen Bing mudah melompat ke berbagai penjuru dunia. Selain itu, Loen Bing juga digambarkan sebagai tokoh istimewa yang kaya dan cerdik pandai, yang telah berkelana ke Tiongkok, Eropa, Hong Kong, dan Singapura.[29]  Narator menggambarkannya sebagai sosok yang sangat unik.

Satu hal yang langka dalem rumah hartawan-hartawan Tionghoa, apalagi kutika seprapat abad yang lalu, adalah dalem gedongnya Loen Bing terdapet satu kamar bibliotheek besar yang terisih penuh sama buku-buku huruf Tionghoa dan Inggris. Dari apa ternyata, bahua Loen Bing bukan cuma satu money-maker, tukang cari duwit belaka, sebagimana umumnya Tionghoa totok biasa yang mengumbara ke pulo Jawa, tapi ia pun ada seorang terplajar Tionghoa kuno yang tinggi, satu scholar, dreamer dan tukang melancong yang boleh dikata pernah injek antero bola dunia—a wide traveler![30]

Hal yang sama juga tampak pada diri Lian Hwa yang meskipun menjalani pendidikan di kawasan Cicurug, tetapi sudah disiapkan untuk menjadi warga urban dengan berbagai pendidikannya, termasuk kemampuannya bermain piano dengan piawai.[31] Begitu pula yang terlihat pada mendiang istri Loen Bing atau Miss Hwa Ing yang menjadi kaki-tangan Sing Kow. Selain itu, tidak bisa dilewatkan bahwa meskipun kisahnya diawali dengan perjalanan tengah malam gelap gulita ke Cicurug untuk menitipkan bayi Hwa Ing, berbagai kejahatan dan keseruan yang ditawarkan oleh novel ini baru terjadi ketika karakter berada di kota.

Pukauan cerita menjadi lebih kuat ketika kejahatan yang sensasional dalam kisah ini terungkap sedikit demi sedikit. Ketika Sing Kow mulai berada di persembunyiannya bersama Miss Hwa Ing, kita melihat bahwa ternyata dia adalah bagian dari sebuah perkumpulan yang menguasai “dunia hitam” bernama Perkumpulan Kedok Item yang menjalankan berbagai operasi kejahatan besar. Di satu bagian, narator menggambarkan perkumpulan Kedok Item sebagai berikut.

… tinggal Sing Kow bersama satu orang, Kang Bing namanya yang menjadi jago nomor satu dari perkumpulan Kedok Item, siapa sanget terpake tenaganya buat jalanken maksud-maksud dari perkumpulan itu.

Dari urusan pembunuhan orang-orang besar dan berpengaruh, sehingga orang-orang biasa; urusan rampok bank-bank, kantoor post dan sebaginya yang telah banyak kali dilakukan di Tiongkok dan Straits Settlements; itu semua ia pandeng enteng laksana barang permaenan.[32]

Penggambaran sensasional ini memberikan kesan bahwa mereka terlibat dalam semacam sindikat internasional. Di bagian lain bahkan disebutkan bahwa anggota perkumpulan ini, bila diperlukan, bisa menyaru sebagai polisi.[33] Kini, mereka akhirnya menemukan Loen Bing yang mereka kejar-kejar karena telah mengkhianati mereka dan karena memiliki uang sebesar satu juta.[34] Hal-hal memukau semacam ini diungkap selapis demi selapis untuk memberikan gambaran yang semakin lama semakin utuh dalam mengetahui dunia kejahatan sensasional yang menjadi latar kisah ini. Loen Bing pun menjadi sasaran karena sebuah praktik persekongkolan modern.

Dari aspek kehidupan urban dan sensasionalisme inilah Satu Milliun tampak berbeda dengan kisah kejahatan atau kisah detektif klasik. Kita tidak lagi berhadapan dengan sosok M. Auguste Dupin dari Edgar Alan Poe, Sherlock Holmes dari Arthur Conan Doyle, atau Hercule Poirot dari Agatha Christie dengan segala metode ilmiah mereka;. Di sini kita berhadapan dengan tokoh yang menghadapi ancaman dari perkumpulan kejahatan Kedok Item yang lebih menyerupai salah satu perkembangan cerita kriminal awal abad ke-20, yaitu kisah tentang kejahatan yang terorganisasi. Menurut John G. Cawelti yang pernah memetakan formula yang dipakai dalam karya-karya sastra populer, pada abad ke-20 terdapat perkembangan menarik dalam cerita detektif di Amerika Serikat, yaitu munculnya gangster perkotaan dan detektif “hard-boiled.[35] Sosok gangster muncul seiring bergulirnya penyelidikan tentang Al Capone dan semakin banyaknya fakta terkuak tentang tokoh dari Chicago ini. Sementara itu, detektif hard-boiled merujuk pada sosok detektif yang bukan lagi hanya sebagai instrumen pemecahan masalah dalam kisah Holmes, Poirot, dan Dupin, melainkan seorang detektif yang terlibat secara personal ke dalam pemecahan masalah—dan ada kalanya si detektif adalah tokoh yang memikul atau dibebani oleh permasalahannya sendiri sebagai manusia yang tak lepas dari salah. Tokoh Don Vito Corleone dalam kisah The Godfather (1969) karya Mario Puzo dan tokoh Philip Marlow dalam The Big Sleep (1939) karya Raymond Chandler adalah contoh paripurna untuk sosok semacam itu. Satu Milliun memiliki kecenderungan kisah gangster dengan adanya Perkumpulan Kedok Item yang melakukan berbagai tindak kejahatan terorganisasi, misalnya pembunuhan dan pencurian yang dilakukan dengan tipu daya dan operasi penyamaran.

Yang menjadi pertanyaan saat ini: Apakah Satu Milliun tidak cukup berarti karena menyodorkan kisah sensasional belaka? Apakah novel ini layak disingkirkan begitu saja ke dalam gudang sejarah karena tidak masuk ke dalam apa yang ditegaskan oleh Rinkes 15 tahun sebelum penerbitannya? Meski konfliknya tampak berat di awal dan seolah-olah tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja, kisah ini berakhir dengan tuntas. Keteguhan Loen Bing untuk menyembunyikan putrinya selama 18 tahun menunjukkan bagaimana dia sama sekali tidak mau berkompromi dengan sindikat kriminal. Ketika Sing Kow dan komplotannya berhasil dilumpuhkan, segala awan yang menggelayuti Loen Bing dan Lian Hwa langsung hilang. Cerita berakhir dengan Lian Hwa yang menikahi Tin Liang, jurnalis muda yang selama ini berkawan dengan Loen Bing dan telah ikut bertarung untuk memastikan keselamatan Lian Hwa. Cerita yang berakhir tuntas setelah berbagai kesulitan yang sepertinya tidak bisa diatasi itu memberikan kesan bahwa kisah ini adalah kisah hiburan. Akan tetapi, tentunya hiburan itu tidak akan berhasil memukau pembacanya tanpa bisa menyentuh hati, misalnya dengan menawarkan sebuah ketakutan atau kesamaan prinsip moral mendasar yang dianggap penting.

Satu Milliun mempertemukan prinsip moral dengan tren cerita detektif dunia ini saat itu, dan semestinya hal ini menjadikan karya tersebut penting. Di antara berbagai genre populer yang ada di Indonesia, kisah detektif atau crime story termasuk genre yang paling jarang diproduksi di dalam negeri. Memang ada beberapa penulis dan judul fiksi yang menyoroti tema ini, misalnya S. Mara Gd. dengan serial Kapten Kosasih dan Gozali, Arswendo Atmowiloto dengan Detektif Imung, atau yang lebih baru ada trilogi Elang Bayu Angkasa karya Sidik Nugroho, dan sedikit lainnya.

Yang justru kaya dengan cerita-cerita kriminal adalah komik, yang sejak era 70-an pun sudah banyak menghadirkan kisah kriminal, baik yang menghadirkan tokoh detektif maupun pahlawan super seperti Gundala Putra Petir. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa orang Indonesia tidak suka cerita kriminal. Kita bisa menemukan berbagai novel karya Agatha Christie, Arthur Conan Doyle, Mary Higgins Clark, James Patterson, Sidney Sheldon, dan berbagai nama lainnya yang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Novel-novel ini banyak terdapat di toko buku dan pernah mendominasi tempat persewaan komik dan buku. Satu Milliun tidak hanya berbicara tentang tokoh yang kosmopolitan; dia sendiri kosmopolitan melalui dialognya dengan karya-karya fiksi yang berkembang saat itu.

 

Kisah Lama Menggeliat Kembali

Dari dua pembacaan di atas, semakin tampak bahwa karya-karya berbahasa Melayu yang dihasilkan para penulis peranakan Tionghoa memang cukup beragam. Selain itu, dalam banyak hal, karya-karya ini menyerupai apa yang pada saat ini disebut sebagai sastra populer. Tidak bisa dipastikan sejauh mana pengaruhnya terhadap sastra populer yang ada saat ini. Perlu kajian lebih jauh terhadap tahap kreatif atau penggalian biografis para penulis untuk bisa memastikan hal tersebut. Pada tahap ini, yang bisa ditegaskan adalah bahwa tidak mengherankan bila ada beberapa kritikus sastra yang memperjuangkan agar karya-karya semacam ini tidak terkubur begitu saja tanpa mendapatkan rekognisi dalam sejarah sastra Indonesia.

Nonton Capgome dan Satu Milliun memang memiliki banyak unsur yang menjadikannya layak disebut sebagai karya sastra populer dengan pola berbeda. Bagaimana masing-masing karya ini, yang mengikuti sebuah formula yang sama, menjadi bagian dari sebuah tradisi penulisan atau genre. Nonton Capgome memiliki unsur-unsur yang bisa disebut bagian dari genre komedi-romantis, yang memanjakan fantasi pembaca serta menghadirkan tokoh perempuan yang terjebak di antara bersikap anggun dan tegas dalam memperjuangkan sesuatu. Di sisi lain, Satu Milliun memukau pembaca dengan unsur-unsur cerita detektif, atau lebih tepatnya cerita kriminal dengan latar kota, tokoh yang terancam bahaya, dan adanya karakter yang diperdaya karena watak sentimentalnya. Yang sama-sama menonjol adalah bahwa karya-karya ini tampaknya lebih memilih untuk menggali konflik dari sesuatu yang sifatnya domestik, seperti benturan generasi yang terjadi di sebuah keluarga atau keserakahan dan kejahatan yang tidak dibahas sebagai bagian dari sebuah konstruksi sosial. Kedua karya ini memiliki kemiripan dalam hal mengikuti sebuah tradisi genre, tetapi tampak berkembang ke arah yang berbeda.

Gaya yang berbeda ini tentunya tidak akan tertangkap saat kita merujuk pada keduanya hanya sebagai bagian dari “sastra Melayu Tionghoa”. Yang tampak dari sebutan tersebut adalah bahasa Melayu dan etnis Tionghoa. Memang tidak ada yang salah dengan sebutan ini, tetapi dengan kondisi yang ada saat ini ketika karya-karya tersebut sudah tersedia kembali, sudah waktunya kita masuk ke dalam karya-karya tersebut dengan diskusi yang lebih substansial. Menimbang kekayaan cerita-cerita yang ada di sana dan geliatnya yang tampak berdialog dengan berbagai tradisi literasi, sayang kiranya kalau kita membicarakan karya-karya ini hanya karena bahasa yang dipakai dan demografi para penulisnya. Tak bisa dipungkiri, hal semacam ini cukup menantang mengingat adanya kesan sebagaimana disitir Myra Sidharta bahwa ejaan yang berbeda dan gaya bahasa yang terasa asing bagi pembaca hari ini kemungkinan dapat mengusik pembaca awal.

Lebih jauh lagi, karya-karya yang sangat beragam ini berpotensi untuk ikut mengisi ruang baca dan ruang tonton kita hari ini. Seperti karya-karya Jane Austen, mulai Pride and Prejudice hingga Sandition (karya anumerta yang belum tuntas) yang diadaptasi untuk pembaca dan penonton zaman sekarang, karya-karya Kwee Tek Hoay, Soe Lie Piet, serta para penulis lain juga berpotensi untuk dihadirkan kembali buat audiens hari ini. Sekadar membayangkan, kisah semacam Satu Milliun pastinya sangat bisa menjadi inspirasi untuk film-film seperti yang diproduksi atau disutradarai oleh Joko Anwar. Ernest Prakasa yang menghadirkan seri Cek Toko Sebelah tentu bisa mengambil inspirasi dan mengolah kembali karya-karya semacam Nonton Capgome untuk dihadirkan kepada pembaca yang mengapresiasi komedi etnis. Kalau Badai Pasti Berlalu, film-film horor yang menampilkan Suzanna, dan film-film komedi Warkop DKI hidup kembali, tentunya kekayaan sastra pra-kemerdekaan juga sangat terbuka untuk digali lebih jauh.

Dunia fiksi di Indonesia telah melewati banyak hal, yang semestinya menjadi pengingat kita. Sebagaimana disinggung di awal tulisan ini, kita pernah teguh berpendapat bahwa sastra Indonesia diawali dengan lahirnya bahasa Indonesia sambil mengabaikan bahasa Melayu pasar. Pandangan kita tentang sastra pernah dibentuk oleh sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan tujuan menggariskan apa yang sesuai dan apa yang dianggap tidak membangun, sebagaimana bisa kita lihat dalam esai Rinkes.[36]

Kini para sarjana sastra kita sudah banyak mengajukan argumen koreksi terhadap periodisasi sastra Indonesia yang selama puluhan tahun tak bisa lepas dari tradisi ini.[37] Telah ada argumen tentang tidak perlunya lagi pembedaan antara “sastra elite” dan “sastra populer” karena pada dasarnya hal tersebut tidak lagi relevan untuk konteks Indonesia yang perkembangan sastranya tidak bisa dilepaskan dari selera massa.[38] Hal-hal ini bisa terus mengingatkan, apakah sikap kita sebagai penelaah atau pembaca sudah berubah.

Di sinilah penelaah karya sastra, industri perbukuan, penulis, dan sineas bisa bertemu kembali. Geliat karya sastra Melayu pasar bisa tampil kembali ke publik. Pekerjaan untuk memberikan pengakuan, yang telah dilakukan oleh berbagai pihak perlu didukung dengan aktivasi atau adaptasi yang dapat menghadirkan kisah-kisah itu untuk era saat ini. Seperti halnya Jane Austen yang tidak harus hadir kembali di pelajaran sekolah supaya dikenal audiens pembaca atau penonton saat ini, demikian pula karya-karya Kwee Tek Hoay, Soe Lie Piet, Liem Khing Hoo, Njoo Cheong Seng, Tan Lam Nio, dan lain-lain. Rasanya sudah waktunya audiens hari ini lebih mengenal nama-nama tersebut meskipun mungkin bagi sebagian besar warga Indonesia awalnya akan terasa sulit mengingatnya karena tidak akrab. Kalau nama Kho Ping Hoo dan Lim Swie King bisa muncul dalam perbincangan sehari-hari, tentu Soe Lie Piet atau Njoo Cheong Seng juga bisa diakrabi pembaca atau penonton film hari ini. Demikianlah cara yang tepat untuk mengapresiasi kontribusi dan kerja mereka bagi sastra Indonesia. Bersama dengan gelombang kelokalan, tidak ada alasan bagi karya-karya berbahasa Melayu pasar ini untuk tidak bisa menggeliat kembali.

 

[1] Lan, Nio Joe. Peradaban Tionghoa Selayang Pandang. Kepustakaan Populer Gramedia, 2013.

[2] Salmon, Claudine. “Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography”. Etudes Insulindiennes-Archipel, 2, 1981.

[3] Salmon, “Literature in Malay by the Chinese of Indonesia”.

[4] Sidharta, Myra. “Pengantar.” Kesastraan Melayu Tionghoa Jilid 1, disunting oleh Marcus A.S. and Pax Benedanto, vol. 1, Kepustakaan Populer Gramedia, 2000, hlm. xiii–xix.

[5] Nugroho, Anung, dan Danang Try Purnomo. “Citra Perempuan Dalam Karya Sastra Peranakan Tionghoa”. Buana Gender: Jurnal Studi Gender Dan Anak, vol. 2, no. 2, 2017.

[6] Isnaini, Heri. “Mistik-Romantik pada Novel Drama dari Krakatau Karya Kwee Tek Hoay: Representasi Sastra Bencana”. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, vol. 9, no. 1, 2022, hlm. 21–32.

[7] Hapsari, Dyah Eko, dan Rosana Hariyanti. “Idealisme Kwee Tek Hoay Tentang Sistem Pendidikan Berbasis Budaya Tionghoa dalam Cerita Pendek ‘Ruma Sekola yang Saya Impiken’ (Kwee Tek Hoay’s Idealism in Establishing a Tionghoa-Culture Based System of Education in ‘Ruma Sekola yang Saya Impiken’)”. Metasastra, vol. 8, no. 1, 2015, hlm. 1–16.

[8] Ardiansyah, Irna Gayatri D. “Sejarah dan Fiksi dalam Dua Novel Karya Kwee Tek Hoay”, Gramatika, Vol 3 No 1, 2015

[9] Alaudin, Faris. “Wacana Paradigma Pembangunan Masyarakat Cina Peranakan: Refleksi atas Novel Berjuang Karya Liem Khing Hoo”. Academia. 2015.

[10] Damono, Sapardi Djoko. Politik, Ideologi dan Sastra Hibrida. Pustaka Firdaus, 1999, hlm. 8.

[11] Damono, Politik, Ideologi dan Sastra Hibrida 9.

[12] ​Mahayana, Maman S. “Sebuah Periodisasi.” Bermain dengan Cerpen: Apresiasi & Kritik Cerpen Indonesia. Gramedia Pustaka Utama, 2006, hlm. 7.

[13] Mahayana, Bermain dengan Cerpen 22–23.

[14] H.T., Faruk. Politik dan Poetik dalam Sastra dan Film: Sejumlah Esai. JBS, 2021, hlm. 18–19.

[15] Rinkes, Douwe Adolf. “Volkslectuur”. Gedenkboek voor Nederlandsch-Indië 1898–1923, disunting oleh L. F. van Gent dkk., G. Kolff & Co., 1923, hlm. 183–92.

[16] Alexander-Jones, R. “Legitimizing and Authenticating a Post-Heritage Austen Diegesis through Filming Locations”. Film Fashion and Consumption, vol. 13, no. 1, 2024, hlm. 47–64.

[17] Biajoli, M.C.P. “Pride and Prejudice in Brazil’s Popular Culture: A Photonovel and a Soap Opera”. Humanities (Switzerland), vol. 11, no. 4, 2022.

[18] McQueen, K. “Austen, Adaptation, and American Literature: An Analysis of Ibi Zoboi’s Pride”. Adaptation, vol. 17, no. 2, 2024, hlm. 253–64.

[19] Gomez-Galisteo, C. “An Eligible Bachelor: Austen, Love, and Marriage in Pride and Prejudice and Eligible by Curtis Sittenfeld”. Anglo Saxonica, vol. 20, no. 1, 2022.

[20] ​McCracken, Scott. Pulp: Reading Popular Fiction. Manchester University Press, 2024.

[21] Hoay, Kwee Tek. “Nonton Capgome”. Kesastraan Melayu Tionghoa Jilid 4, disunting oleh Marcus A.S. and Pax Benedanto, vol. 4. Kepustakaan Populer Gramedia, 2001, hlm. 9.

[22] Hoay, “Nonton Capgome” 8–11.

[23] Hoay, “Nonton Capgome” 12.

[24] Hoay, “Nonton Capgome” 66.

[25] Hoay, “Nonton Capgome” 10–11.

[26] Sunaryo, F. X., dan Nuryahman. Sukarno di Pengasingan Ende 19341938: Empat Tahun Sembilan Bulan Empat Hari. Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, 2012.

[27] Piet, Soe Lie. “Satu Milliun”. Kesastraan Melayu Tionghoa Jilid 6, disunting oleh Marcus A.S. and Pax Benedanto. Kepustakaan Populer Gramedia, 2002, hlm. 294.

[28] Cawelti, John G. Adventure, Mystery, and Romance. University of Chicago Press, 2014, hlm. 140.

[29] Piet, “Satu Miliun” 293, 295, 302.

[30] Piet, “Satu Miliun” 293.

[31] Piet, “Satu Miliun” 341.

[32] Piet, “Satu Miliun” 303.

[33] Piet, “Satu Miliun” 338.

[34] Piet, “Satu Miliun” 304.

[35] Cawelti, Adventure, Mystery, and Romance 59.

[36] Rinkes, “Volkslectuur”.

[37] Mahayana, Bermain dengan Cerpen 23.

[38] Damono, Politik, Ideologi dan Sastra Hibrida 155.

Esai30 April 2026

Wawan Eko Yulianto


Wawan Eko Yulianto adalah penulis, penerjemah, dan dosen. Sebagai penulis, ia secara reguler menulis esai, resensi, dan tulisan perjalanan di portal daring. Esai-esainya dibukukan dalam Di Luar Sampul (2024). Karya-karya terjemahannya cukup beragam, mulai dari fiksi karya James Joyce, autobiografi Sidney Sheldon dan Azadeh Moaveni, lagu-lagu populer, puisi-puisi sastrawan muslim Amerika, hingga film dokumenter. Sebagai dosen, ia mengajar di Program Studi English for Global and Creative Communication, Universitas Ma Chung, di mana ia mengampu mata kuliah bahasa, sastra, budaya, dan penerjemahan. Beberapa waktu terakhir, ia aktif dalam kegiatan-kegiatan literasi bersama komunitas Pelangi Sastra Malang.