Usaha Menduniakan Sastra Indonesia

Ilustrasi: Hasan Aspahani

I

“Sastra Indonesia mendunia? Ha?”

Itulah yang Avav Achir dan Jems Bani ucapkan setelah Tono mengatakan bahwa karya Iwan Simatupang layak dibaca warga dunia. Tono tak menanggapi, memilih memasukkan Tegak Lurus dengan Langit ke perut tas jinjing. Lalu, dia menggeber Vario 125 cc andalannya menuju indekos. Keinginan untuk lekas merampungkan cerpen-cerpen adiluhung idolanya itu membuncah. Walakin, tatkala berhenti di lampu merah, sebuah pertanyaan merecoki pikiran Tono: Kenapa mereka sinis soal sastra Indonesia mendunia? Emang sastra Indonesia enggak bisa mendunia?

Sepanjang perjalanan, dari balik helm BMC putih bertempelkan stiker-stiker dua ribuan yang mulai pudar, Tono menimbang-nimbang ucapan dua temannya yang kerap menahbiskan diri sebagai pengembara serupa Ahasveros itu. Meski demikian, sampai sejarak enam menit dari indekosnya, dia tetap merasa bahwa anggapan dua kawannya tersebut tidaklah tepat.

Nyatanya, pikir Tono, melalui Man Tiger, delapan tahun lalu Eka Kurniawan masuk daftar panjang The International Booker Prize[1] serta menerima Oppenheimer Funds Emerging Voices Award.[2] Dua tahun setelahnya, dia dianugerahi Prince Clause Award dari Kerajaan Belanda.[3] Beauty is a Wound bahkan terpilih sebagai The 10 Best Translated Novels of the Decade versi Lithub 2019,[4] menggeser karya para peraih Nobel Sastra dan penulis top dunia macam Patrick Modiano, Olga Tokarczuk, serta Haruki Murakami.

Tono juga tak lupa bahwa Happy Stories, Mostly, terjemahan kumpulan cerpen Norman Erikson Pasaribu, masuk daftar panjang The International Booker Prize 2022[5] dan tak lama setelahnya juga memenangkan Republic of Consciousness 2022.[6] Intan Paramaditha bahkan tiga tahun mendahuluinya saat di 2019 meraih English PEN/Heim Translation Fund Grants dengan The Wandering-nya.[7]

Tentu, Tono mengharamkan diri jika tak menyebut kumpulan cerpen kesayangannya yang lain, Orang-Orang Bloomington, yang dua tahun lalu terjemahannya mendapatkan PEN Translation Prize.[8] Sementara itu, sejak dirinya belum lahir, Pramoedya Ananta Toer kerap digadang-gadang akan menerima Nobel Sastra. Ingatan tentang semua itu meyakinkan Tono bahwa sastra Indonesia bisa bersaing di kancah internasional.

Tiba di indekos dan memarkir motor, Tono lantas bergegas menuju kamar. Dia sudah memutuskan untuk tak menamatkan bacaannya seperti yang telah direncanakan sebelumnya. Alih-alih, dicabutnya buku bersampul merah jambu anggitan Anton Kurnia dari rak. Tono merasakan desakan kuat untuk mencari semacam bukti bahwa sinisme Avav dan Jems tidak pada tempatnya. Memandangi judul buku di tangan kanannya itu, Tono merasa akan mendapatkan satu hal yang agaknya merupakan tiket masuk ke gelanggang sastra dunia: penerjemahan.

 

II

Membuka Seni Penerjemahan Sastra halaman 52,[9] Tono membatin bahwa benar apa yang dikatakan Jose Saramago nyaris seperempat abad lalu: “Para pengarang hanya menulis karya sastra dalam bahasa ibunya, tetapi sesungguhnya sastra dunia adalah ciptaan penerjemah.” Dia mengangguk-anggukkan kepala menyadari pentingnya penerjemahan. Alasannya sederhana: Terlepas dari berbagai capaian dari program BIPA,[10] bahasa Indonesia belum menjadi bahasa utama dunia. Tanpa penerjemahan, terutama ke dalam bahasa Inggris, sastra Indonesia akan tetap jadi titik kecil dalam peta kesusastraan dunia.

Menautkan pemahaman tersebut dengan nama-nama penulis Indonesia yang sepuluh tahun terakhir mulai mendapat tempat di kancah global, Tono kian merasa bahwa penerjemahan jelas merupakan kunci bagi kesusastraan Indonesia untuk tegak bersanding dengan warga kesusastraan dunia lainnya. Eka Kurniawan, misalnya, tak akan dikenal di Eropa dan Amerika seandainya di 2006 novelnya tak diterjemahkan Ribeta Oka ke bahasa Jepang serta diinggriskan pada 2015 oleh Annie Tucker.[11]

Persoalannya, pikir Tono, penerjemah sastra di Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang menyulitkan.[12] Pikiran tersebut mencuat setelah dia mambaca catatan tentang apa yang McGlynn ucapkan dalam sebuah seminar bertajuk “The Translation and Promotion of Indonesian Literature: The Lontar Foundation”.[13] Bagi McGlynn, tantangan terberat penerjemahan adalah uang, dana. Sebab, penerjemahan adalah pekerjaan besar.

Lantas, Tono teringat pendapat Koesalah Soebagyo Toer, penerjemah Anna Karenina, dalam sebuah wawancara majalah Intisari, Mei 2004: “Penerjemah pada hakikatnya juga mengalihbudayakan. Karenanya, selain bahasa, penerjemah juga harus menguasai banyak hal lain, seperti sejarah, tradisi, dan situasi masyarakat. Tanpa itu, terjemahan akan kering atau banyak kesalahan.” Memikirkannya, Tono semakin yakin bahwa kondisi ekonomi memanglah faktor yang sangat berkaitan dengan kerja menerjemahkan.

Kembali melihat catatan dari seminar McGlynn, Tono semakin terkejut tatkala tahu bahwa tenggat pengerjaan terjemahan berkisar satu sampai dua tahun. Sekilas, hal itu tampak cukup lama. Jika seorang penerjemah harus membaca karya yang hendak dialihbahasakannya, membaca versi terbitan lain sebagai pembanding, membaca banyak referensi, melakukan kerja menerjemahkan itu sendiri, ditambah banting tulang ini-itu untuk kebutuhan sendiri dan anak-istri, beban yang diemban jadi teramat berat.

Mirisnya lagi, seusai terjemahannya terbit, apresiasi untuk kerja sang penerjemah baru sebatas royalti—yang nominalnya belum tentu besar. Di Indonesia, apresiasi dalam bentuk lain belumlah jamak ditemukan. Hal itu Tono simpulkan dari dugaan kuat bahwa di negaranya, nama Eka Kurniawan jauh lebih kerap terdengar tinimbang Labodalih Sembiring yang menerjemahkan novelnya menjadi Man Tiger. Nyatanya, meski terjemahan itu berhasil, Tono belum mendengar kiprah Labodalih disorot media sebagaimana Natasha Wimmer setelah menerjemahkan The Savage Detectives anggitan Roberto Bolano 2007 lalu.[14]

Akumulasi dari semua itu jelas menyulitkan sang penerjemah untuk bertahan lama dalam menekuni bidangnya, apalagi menjadikannya sebagai satu-satunya pekerjaan. Alhasil, renung Tono, usaha internasionalisasi sastra Indonesia hanya berjalan di tempat. Sebab, agar dapat diterbitkan, rata-rata penerbit luar negeri meminta sampel terjemahan dari satu atau dua bab buku yang ditawarkan sebelum  menyepakati kontrak penerbitan.

Sang penerjemah menghadapi dilema. Sebab, dengan mengirimkan terjemahan utuh atau sebagian, tak ada jaminan kontrak penerbitan akan disepakati. Dan—amit-amit jabang bayi—jika kesepakatan tidak tercapai, waktu, tenaga, pikiran, dan modal lain yang telah dikeluarkan selama proses pengalihbahasaan seperti terbuang percuma. Seorang penerjemah seperti harus bekerja dengan kemungkinan bahwa dia akan rugi.

Tono menghela napas. Dia merasa bahwa menerbitkan buku penulis Indonesia di luar negeri luar biasa sulit. Keadaan itu kian rumit karena di Indonesia belum banyak agen sastra yang mestinya bisa mengawal urusan tersebut.

 

III

Meletakkan Seni Penerjemahan Sastra, Tono menyalakan laptop dan membuka PDF makalah John H. McGlynn pada Kongres Bahasa Indonesia XII dua tahun lalu.[15] Membacanya, dia manggut-manggut tatkala tahu bahwa ingatannya tidaklah salah. Pada konferensi bahasa Indonesia tertinggi lima tahunan sekali itu, McGlynn mengatakan bahwa Indonesia belum memiliki agensi sastra yang kuat. Itulah kenapa dia menyarankan agar ke depannya pemerintah dapat memfasilitasi pelatihan-pelatihan terkait kerja-kerja agensi dengan lebih baik.

Tono pun cepat-cepat mencari fail transkrip wawancaranya dengan beberapa agen sastra Indonesia untuk mengetahui lebih lanjut soal peran agen sastra. Melakukan perjalanan ulang-alik fail demi fail dalam laptopnya yang seperti hutan rimba, dia mengklik transkrip perbincangannya dengan Thomas Nung Atasana[16] yang menjelaskan tiga skema kerja agen sastra: bekerja di lingkup pasar lokal-nasional, impor, dan ekspor.

Skema pertama yang secara umum dimulai dari mencari penerbit untuk sebuah naskah, negosiasi kontrak terbit, menagih royalti, mengawal penjualan, dan menyusun strategi marketing dan branding karier si penulis, jelas sulit dilakukan. Iklim perbukuan di Indonesia belum siap untuk hal itu. Dalam pikiran Tono, terbayang ilustrasi sederhana sebagai berikut.[17]

Penulis T menerbitkan buku berjumlah 1.000 eksemplar—tiras cukup besar untuk penerbit Indonesia—seharga Rp70.000 per eksemplar. Royalti yang dia dapatkan, anggap saja, sebesar 15% dari total penjualan buku. Darinya, penulis T menerima Rp10.500.000. Dari royalti tersebut, sang agen mendapatkan komisi, katakanlah 10%. Berapa? Rp1.050.000 untuk seabrek pekerjaan dari hulu ke hilir!

Membayangkannya, Tono tidak terlalu yakin ada banyak penulis yang mau berbagi royalti yang tidak seberapa itu dengan seorang agen. Hal ini diperparah oleh kenyataan bahwa penjualan buku, terutama buku sastra di Indonesia, memakan waktu sampai lebih dari satu tahun. Walhasil, bisa jadi sang agen harus menunggu selama itu pula untuk menerima satu juta lima puluh ribu—ditambah potongan pajak 11%! Dari sudut pandang bisnis, hitungan tersebut jelas di luar nalar. Tidak berlebihan jika Jemi Batin Tikal melabeli orang-orang yang menggeluti dunia agensi semacam ini sebagai “manusia setengah nabi”.[18]

Skema kedua yang berurusan dengan  hak cipta penerjemahan buku penulis asing untuk diterbitkan di Indonesia sedikit lebih menjanjikan. Hal tersebut merupakan simpulan Tono dari penjelasan Yani Kurniawan[19] ketika menceritakan  pertemuannya dengan Santo Manurung, direktur Maxima Creative Agency,[20] di sebuah pameran buku internasional dengan biaya sendiri.

Bayangkan! Seorang agen sastra di negara yang industri penerbitannya seburuk Indonesia dapat berkunjung ke pameran buku di luar negeri dari hasil menekuni kerja agensi! Tono paham bahwa cerita sesungguhnya tak sesederhana itu. Akan tetapi, paling tidak hal tersebut dapat dijadikan gambaran bahwa peluang skema kedua dari kerja agen sastra masih lebih baik secara materi dibandingkan skema pertama yang jelas na’użu billāh.

Meski demikian, Tono tidak menelusuri skema kedua lebih jauh karena tidak berkaitan dengan usaha mengenalkan sastra Indonesia kepada warga mancanegara. Sebab, alih-alih menjadi penjual dan pelaku aktif transaksi jual-beli hak terjemahan, Indonesia lebih berposisi sebagai konsumen, pembeli, atau objek penjualan. Hal tersebut, batin Tono, membuat sastra Indonesia tetap tidak akan dikenal di panggung sastra dunia.

Ceritanya akan lain, renung Tono, jika yang dibahas adalah skema ketiga di mana hak terjemahan karya penulis Indonesia ditawarkan untuk dibeli penerbit luar negeri. Skema inilah yang sebetulnya berhubungan langsung dengan usaha menduniakan sastra Indonesia. Dari sudut pandang ini, terang sekali bahwa agen sastra adalah “ujung tombak” dalam usaha mengenalkan sastra Indonesia kepada publik di negara manca.[21]

Persoalannya, sepanjang pengetahuan Tono, agen-agen sastra di Indonesia yang masih bisa dihitung dengan jari tangan kiri belum mendapat eksposur yang kuat. Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum tahu perihal agen sastra yang perannya begitu penting.[22] Nyatanya, dalam sebuah diskusi di Komunitas Jejak Imaji awal Maret 2024 lalu, Tono menyaksikan banyak pegiat literasi, bahkan di Yogyakarta sekalipun, belum cukup tahu tentang agen-agen sastra Indonesia yang selama ini telah aktif berkiprah.

Lantas, Tono berpikir bahwa barangkali itulah alasan kenapa agen-agen sastra Indonesia mesti bersiasat. Literasia Creativa, misalnya, memilih untuk menekan kontrak terlebih dahulu dengan beberapa penerbit, alih-alih membuka submission window untuk mewakili penulis Indonesia guna mengenalkan dan menawarkan hak terjemahan bukunya ke penerbit-pembaca luar negeri. Selain karena ekosistem perbukuan di Indonesia perlu banyak perbaikan, Tono merasa hal tersebut butuh dilakukan karena tidak adanya dukungan negara dalam bentuk pendirian lembaga khusus yang menaunginya.

 

IV

Kembali membuka Seni Penerjemahan Sastra Anton Kurnia, Tono melihat-lihat beberapa halaman akhir buku tersebut dan mengangguk-angguk. Dugaannya tentang kehadiran negara untuk mendukung usaha pengenalan kesusastraan suatu bangsa benarlah belaka. Sebab, di bagian lampiran, Tono mendapati tiga contoh negara yang memiliki lembaga khusus yang mengakomodasi usaha menduniakan khazanah kesusastraan negaranya.

Dutch Foundation for Literature di Belanda, misalnya, dibentuk guna mendukung para penulis dan penerjemah dalam mempromosikan sastra Belanda ke luar negeri.[23] Korea Selatan memiliki Literature Translation Institute of Korea yang misinya tidak hanya mendukung penulis dan penerjemah, menerbitkan buku-buku penulis Korea Selatan, dan mempromosikan sastra dan budayanya ke kancah dunia, tetapi juga untuk memberi dasar bagi industri penerbitan di sana guna memasuki pasar buku global serta memperluas pemahaman dunia tentang Korea Selatan.[24]

Tono juga baru tahu bahwa negara tetangga juga memiliki Institut Terjemahan dan Buku Malaysia.[25]  Dia miris saat sadar bahwa kini negaranya tidak memiliki lembaga serupa. Padahal, keberadaannya jelas sangat dibutuhkan untuk mendinamiskan usaha mengenalkan sastra Indonesia ke publik internasional. Lagipula, jelas sekali terbaca dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 21 Pasal 36e tentang Sistem Perbukuan bahwa “Pemerintah Pusat bertanggung jawab untuk mempromosikan kebudayaan nasional Indonesia ke khasanah budaya dunia melalui Buku.”[26]

Menyadari itu, Tono merasa, sudah selayaknya negara membentuk lembaga khusus yang bertugas untuk  mengakomodasi usaha menduniakan sastra Indonesia. Masalahnya, meski sempat ada Komite Buku Nasional (KBN), lembaga itu hanya beroperasi dari 2016 hingga 2019. Di tahun setelahnya, kontrak kerja KBN dihentikan.[27]

Tono beristigfar, sebab di tiga tahun masa kerja KBN, angin segar bagi usaha internasionalisasi sastra Indonesia embusannya begitu terasa. Thomas Nung Atasana, penanggung jawab Promosi Literasi dan Lisensi Hak Cipta Internasional KBN, misalnya, berkata bahwa lebih dari 1.500 buku berhasil diterbitkan di luar negeri.[28] Anton Kurnia yang merupakan Koordinator Program Pendanaan Penerjemahan KBN bahkan menyatakan bahwa masih terdapat sekitar 3.000-an judul lain yang sedang dalam proses negosiasi  untuk diterbitkan.[29]

Eksposur penulis-penulis Indonesia di mata dunia meningkat karena usaha tersebut. Khalayak mancanegara semakin menyadari potensi karya sastra +62. Dampak jangka panjangnya, hingga kini Indonesia masihlah satu-satunya negara ASEAN yang pernah menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair (2015),[30] market focus country di London Book Fair (2019),[31] dan tamu kehormatan Abu Dhabi International Book Fair di 2026 nanti.[32]

Semua hal menyenangkan itu jelas masihlah pucuk kecil sebuah gunung es. Di dasarnya, masih terdapat banyak hal lain yang menjadi musabab dari hasil tersebut. Yani Kurniawan, Direktur Literasia Creativa sekaligus penanggung jawab Promosi Literasi dan Lisensi Penerbitan di KBN, menerangkan bahwa KBN meluncurkan banyak program untuk mencapai semua itu. Program dana hibah terjemahan, misalnya, diadakan untuk membantu penerbit luar negeri yang hendak menerbitkan buku Indonesia di negaranya—satu hal yang sangat umum dijumpai di negara-negara yang ekosistem perbukuannya baik. KBN juga mendanai para penulis untuk melakukan residensi ke berbagai negara. Dengan itu, penulis tidak sebatas bisa melakukan riset dan merampungkan tulisannya, tetapi juga membangun jejaring dengan penulis dan pegiat literasi mancanegara.[33]

Memejamkan mata dan mengembuskan napas, Tono merasa bahwa pembentukan KBN cuma sebatas euforia sesaat setelah pada 2015 Indonesia menjadi guest of honor di Frankfurt Book Fair dan mendapatkan antusiasme yang sangat baik dari para pengunjung berbagai belahan dunia.[34] Nyatanya, pikir Tono, tak ada keberlanjutan.  Pembubaran KBN justru menebalkan betapa tidak jelasnya pemerintah dalam mengimplementasikan Undang-Undang Dasar Pasal 36e tentang Sistem Perbukuan.

Belum lama ini, pemerintah memang tampak berusaha menginsafi keteledoran itu. Kemenkebud merilis Program Laboratorium Promotor Sastra[35] serta Program Laboratorium Penerjemah Sastra pada Mei tahun lalu.[36] Darinya, harus diakui, ada kesan bahwa usaha menduniakan sastra Indonesia kembali digalakkan. Meski demikian, Tono membayangkan bahwa hasil dari dua program itu masihlah jauh jika dibandingkan dengan pendirian satu lembaga khusus—seperti KBN beberapa tahun  lalu—yang menanganinya. Dan itulah masalahnya. Hingga kini, lembaga independen macam itu belum terdengar hendak dibangkitkan dari liang kubur.

 

V

Tono menutup buku dan merebahkan badan. Matanya menerawang jauh. Dia membayangkan bahwa terlepas dari apa pun, sastra Indonesia memiliki potensi untuk bersaing secara global. Toh, di tengah kerumitan industri penerbitan yang ada, usaha mengarah ke sana tak henti juga. Karya-karya penulis Indonesia masihlah menemui pembacanya di lain-lain negara. People from Oetimu Felix K. Nessi, My Dream Job Norman Erikson Pasaribu, A Dark Tale from Cottonwood Grove Makhfud Ikhwan, dan Suspicious Days Dea Anugrah, misalnya, belum lama ini terjemahannya diterbitkan di luar negeri.

Persoalannya, pikir Tono, menyikapi ekosistem perbukuan di Indonesia memang seruwet kabel listrik di tengah kota. Negara yang jelas memiliki sumber daya dan kewenangan mengatur regulasi untuk mengurainya justru terus menyuguhkan berbagai dagelan yang hari-hari ini makin mudah kita dapatkan. Menunggu pemerintah melakukannya barangkali baru akan tercapai setelah matahari terbit di barat daya.

Membayangkan itu semua, Tono jadi mafhum kenapa Avav Achir dan Jems Bani dengan sinis berkata: “Sastra Indonesia mendunia? Ha?”

 

Mlangi, 24 Juni 2024—Kaliwanglu Kulon, 12 Desember 2025

 

[1] 2016 Man Booker International Prize Longlist – The Mookse and the Gripes (mookseandgripes.com), diakses pada 27 Juni 2024 pukul 19.52.

[2] Eka Kurniawan, winner, Emerging Voices 2016 Fiction Award (ft.com), diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.12.

[3] Eka Kurniawan Dapat Prince Claus Award 2018 dari Belanda (tirto.id), diakses pada 27 Juni 2024 pukul 19.57. Lihat juga (11) Eka Kurniawan, 2018 Prince Claus Laureate – YouTube.

[4] The 10 Best Translated Novels of the Decade ‹ Literary Hub (lithub.com), diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.02.

[5] The 2022 International Booker Prize longlist announced | The Booker Prizes, diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.15.

[6] 2022 Prize — Republic of Consciousness, diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.19.

[7] 2019 PEN/Heim Translation Fund Grants – PEN America, diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.06.

[8] PEN Translation Prize – PEN America, diakses pada 27 Juni 2024 pukul 20.22.

[9] Anton Kurnia, Seni Penerjemahan Sastra (Yogyakarta: Diva Press, 2022), hlm. 52.

[10] Capaian dari program BIPA disampaikan secara terperinci oleh Dadan Wildan dalam Kongres Bahasa Indonesia XII 2023 lalu. Makalahnya dapat diunduh melalui tautan Kongres Bahasa Indonesia-KBI (kemdikbud.go.id).

[11] Bagaimana terjemahan berperan penting dalam proses mulai diperhitungkannya Eka Kurniawan di kancah sastra dunia dibahas secara mendetail oleh Meghan Downes. Lebih lanjut, lihat “Found in Translation: Eka Kurniawan and the Political of Genre” yang dapat diunduh melalui tautan Found in Translation in: Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia Volume 175 Issue 2-3 (2019) (brill.com).

[12] Anton Kurnia, hlm. 17.

[13] Rekamannya dapat dilihat melalui tautan (11) 2023 CIS_The Translation and Promotion of Indonesian Literature by John Mcglynn – YouTube.

[14] Gambaran daripadanya dapat dilihat dalam ulasan The Savage Detectives – Roberto Bolaño – Books – Review – The New York Times (nytimes.com).

[15] Pada kongres bahasa Indonesia tertinggi yang diadakan lima tahun sekali itu, John H. McGlynn menyampaikan apa-apa saja yang perlu dilakukan untuk mendukung usaha menduniakan sastra Indonesia. Makalahnya dapat diunduh melalui tautan Kongres Bahasa Indonesia-KBI (kemdikbud.go.id).

[16] Wawancara dengan Thomas Nung Atasana, Direktur Borobudur Agency, pada 16 Desember 2023 sekitar pukul 13.15–14.55.

[17] Wawancara dengan Yani Kurniawan, Direktur Literasia Creativa, akhir Desember 2023 sekitar pukul 10.00–12.23 WIB.

[18] Jemi Batin Tikal, “Semi Agen Sastra & Industri Perbukuan yang Ah Sudahlah”, dapat diakses di https://magrib.id/2023/09/29/semi-agen-sastra-industri-perbukuan-yang-ah-sudahlah/.

[19] Wawancara dengan Yani Kurniawan, Direktur Literasia Creativa, akhir Desember 2023 sekitar pukul 10.00–12.23 WIB.

[20] Maxima Creative Agency merupakan agensi sastra yang didirikan oleh Santo Manurung pada Oktober 2004 dan berfokus pada pengurusan pembelian hak terjemahan buku berbahasa asing untuk diterbitkan di Indonesia. Informasi tentangnya dapat dilihat melalui tautan Maxima Creative Literary – An Exporter and Importer Intellectual Property.

[21] Istilah tersebut dipakai oleh Doni Ahmadi dalam esainya tentang agen sastra yang tayang di tengara.id pada 29 Juli 2022, Kerja-kerja di Pinggir Sastra Indonesia Melihat Peran Agen Sastra Lebih Dekat • tengara.id. Baca pula esai Ronny Agustinus, “Carmen Balcells: Di Balik Layar El Boom” dalam Macondo, Para Raksasa, dan Lain-Lain Hal Seputar Sastra Amerika Latin (Yogyakarta: Penerbit Tanda Baca, 2021). Untuk mengetahui lebih lanjut tentang literary agent sebagai profesi, lihat Robert Lee Brower Guide to Literary Agent 30th Edition Newly Revised and Updated (London: Penguin Random House, 2021).

[22] Di ujung Desember 2023, penulis menyebar kuesioner melalui Google Form ke lebih dari 200 orang dari berbagai pulau di Indonesia untuk mengambil sampel terkait eksposur agen sastra. Responden yang terlibat memiliki latar belakang profesi yang beragam, tetapi memiliki satu muara yang sama, yakni asumsi kedekatan dengan dunia buku, seperti dosen, mahasiswa, guru, siswa, penulis, editor, penerjemah, penjual buku, dan sebagainya. Salah satu hasilnya adalah 33,2% yang menyatakan sama sekali belum pernah mendengar istilah tersebut, 46,7% mengaku pernah mendengarnya tetapi kurang tahu, dan hanya 20,1% yang menjawab tahu. Di samping itu, ada pula yang masih belum dapat membedakan tumpang tindih antara literary agent dalam istilah teori Pierre Bourdieu dengan literary agent yang merupakan profesi.

[23] Dutch Foundation for Literature (dutchculture.nl).

[24] LTI Korea | Main.

[25] ITBM.

[26] Sistem Perbukuan | JDIH Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (kemdikbud.go.id).

[27] Diplomasi Literasi Kita: Dibangun Lama, Dihentikan Tanpa Alasan – Kompas.id, diakses pada 28 Juni 2024 pukul 01.24. lihat juga Diplomasi Literasi Kita Terhambat Birokrasi – Kompas.id, diakses pada 28 Juni 2024 pukul 10.51.

[28] Wawancara dengan Thomas Nung Atasana, Direktur Borobudur Agency, pada 16 Desember 2023 sekitar pukul 13.15-14.55.

[29] Anton Kurnia, hlm. 68.

[30] Katalog ketika Indonesia menjadi tamu kehormatan di pameran buku internasional di Jerman tersebut dapat diunduh melalui tautan Books on Indonesia 2015. Diakses pada 29 Mei 2025 pukul 20.12 WIB.

[31] LBF announces Indonesia will be Market Focus in 2019 | The Hub by The London Book Fair | Publishing News. Diakses pada 29 Mei 2025 pukul 19.35 WIB.

[32] Indonesia Named Guest of Honour for the Abu Dhabi International Book Fair 2026. Diakses pada 29 Mei 2025 pukul 19.54 WIB.

[33] Wawancara dengan Yani Kurniawan, Direktur Literasia Creativa, akhir Desember 2023 sekitar pukul 10.00–12.23 WIB.

[34] Dalam wawancara, Thomas Nung Atasana dan Yani Kurniawan sama-sama menjelaskan hal tersebut.

[35] https://www.instagram.com/p/DKI90gvysYh/?img_index=1&igsh=azQyN2sxOTVhajVn. Diakses pada 30 Mei 2025 pukul 15.39 WIB.

[36] https://www.instagram.com/p/DKD7wr2yfck/?utm_source=ig_web_copy_link. Diakses pada 30 Mei 2025 pukul 15.53 WIB.

Blog29 Maret 2026

Syafiq Addarisiy


Syafiq Addarisiy adalah pengajar bahasa Indonesia di MA Sunan Pandanaran, pengajar manthiq dan balaghoh di PP Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, dan pengajar bahasa Inggris di Rumah Inggris Jogja III. Ia senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca, serta aktif di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, kompas.id, Jurnal Kalam Sastra, bacapetra.co, basabasi.co, Suara Merdeka, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, Majalah Pewara Dinamika, dan Buletin Mimesis. Ia dapat dihubungi melalui surel: syafiq.addarisiy@gmail.com dan Instagram: @syafiqaddarisiy.