Siapa Sasaran Pembaca tengara.id?

DEWAN Kesenian Jakarta (DKJ) patut dipuji untuk keputusan dan keberanian meluncurkan tengara.id dengan niat menjadikannya medium berkala. Setahu saya baru dalam periode ini, sepanjang masa DKJ berdiri, pengurus menerbitkan medium semacam ini.

Tapi untuk apa sesungguhnnya tengara.id didirikan? Kenapa baru sekarang? Seberapa penting kritik sastra bagi pertumbuhan karya-karya sastra (bermutu)? Apa yang diharapkan DKJ dengan penerbitan tengara.id? Kritik sastra atau tulisan macam apa yang diharapkan akan mengisi ruangnya? Siapa saja yang diharapkan mengisinya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang selayaknya dijawab dan dijelaskan dalam editorial perdana tengara.id agar publik pembaca mendapat cukup jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Kesempatan ini disia-siakan oleh editorial yang sudah terbit. Si editorial malah berpretensi menjadi kritik sastra itu sendiri, bukan menjalankan fungsi dasar sebagai fasilitator. Tulisan itu mungkin layak menjadi pengisi rubrik tersendiri, katakanlah sebagai tinjauan umum tentang state of the art sastra Indonesia; tapi pasti tidak tepat sebagai editorial—untuk edisi perdana pula.

Desain isi tengara.id mengesankan. Keterbacaannya sangat baik. Barangkali kehitaman tinta (blackness) body text perlu ditambah agar makin terang dibaca. Yang tampil sekarang terlalu tipis; terlalu abu-abu. Redaksi tengara.id pasti mampu mengatasi problem yang sangat mudah ini.

Pembesaran paragraf-paragraf tertentu juga siasat desain yang cerdik dan menghasilkan tampilan yang bagus. Media massa biasanya membuat pull out quotation. Ini menimbulkan pengulangan teks yang cukup sering. Cara tengara.id ini membuat irama paragraf tidak monoton, tapi tanpa menimbulkan pengulangan yang tak perlu.

Apakah semua gaya ilustrasi akan seperti itu; bergaya abstrak dan surealistik? Mungkin perlu diminta jasa empat-lima ilustrator yang berbeda agar ada variasi. Ini bisa dilakukan dengan mudah. Di luar sana ada banyak ilustrator muda yang saya duga akan senang dan merasa terhormat jika diminta membuat ilustrasi untuk medium seperti tengara.id.

Soal isi dan kebijakan atau orientasi redaksional perlu dipikir serius. Perlu ada kesamaan persepsi dasar antara DKJ dan redaksi tengara.id tentang hal-hal mendasar situs ini.

Rubrik wawancara di edisi perdana mungkin bisa dijadikan contoh tentang tiadanya keserasian persepsi dasar tentang apa yang layak dan tak-layak untuk ditampilkan di tengara.id antara DKJ dan redaksi. Wawancara itu membosankan karena mengungkap hal-hal yang sungguh tidak perlu—bahkan kalaupun prestasi dan reputasi si narasumber setinggi Vladimir Nabokov atau Kazuo Ishiguro.

Pewawancara tidak punya strategi wawancara yang jelas; malah terlalu banyak bertanya tentang aspek yang paling tidak penting: apa dan bagaimana kakek si narasumber—membuat pembaca tak sabaran seperti saya harus menghentikan pembacaan.

Terasa ada tendensi untuk menyiasati ketakmampuan mengulas karya seseorang dengan layak, maka percakapan (atau penulisan) dibelokkan ke arah yang sejak lama dikeluhkan: seorang pengarang dilihat dalam aspek-aspek remeh-temehnya (tentang mobil-mobilan kayunya yang rusak semasa dia kecil, misalnya), dan bukan berfokus pada kualitas karyanya.

Ini memang gejala yang makin terasa; para pengarang pun sering dengan bahagia menjelaskan segi remeh-temeh hidupnya; atau dengan bersemangat menceritakan proses kreatif dalam pembuatan novelnya. Seorang novelis dalam percakapan dengan penerbit (untuk keperluan promosi), dengan riang menerangkan: “Semula karakter utama di novel saya ini adalah seorang musisi. Tapi kemudian saya sadari itu akan membuat novel ini terlalu biografis—sebab saya juga kan musisi.” Padahal ia tidak suka karyanya dibaca sebagai fiksionalisasi biografinya sendiri. “Jadi karakter itu saya ganti jadi pelukis,” katanya—tanpa menyadari betapa tak perlunya dapur semacam itu dipamerkan, setidaknya di sekitar masa terbit karyanya.

Wawancara di edisi perdana juga terlalu banyak berisi bahasa ragam cakapan atau informal: “cuma itu aja, paling”; “saya diem aja, nggak ngapa-ngapain”—ungkapan-ungkapan semacam ini.

Tampaknya ada godaan untuk menyesuaikan diri dengan informalitas “bahasa gaul” supaya situs ini terasa aktual dan relevan. Jadi, siapa sebetulnya sasaran pembaca tengara.id? Aspek ini termasuk yang penting disepakati oleh DKJ dan redaksi tengara.id.

Semua kritik ini bukan berarti kegembiraan dan harapan saya berkurang atas munculnya tengara.id. Karya-karya yang bagus harus dibangunkan, forum yang baik harus diberikan, agar mutu terjaga—Anda tentu tahu dari siapa gaya ungkapan ini saya curi.

Meja Bundar15 September 2021

Hamid Basyaib


Hamid Basyaib adalah mantan wartawan, dan Komisaris Utama Balai Pustaka (2015-2020). Ia menerbitkan banyak buku tentang isu Islam, sosial, politik, budaya, sains, dan buku anak-anak. Dua buku terbarunya Membela Sains dari Obskurantisme Filsafat dan Kitab Keadilan dan Kisah-kisah Lainnya.