Majalah Garpu Lima Puluh Tujuh Tahun

Surat Pembatja:

 

Goen, Saja pembatja setia Madjalah Garpu sedjak terbit edisi pertama hingga ka-tiga. Lepas itu, jakni lepas Maret 1966, saja tida temuken djuga liat terbitan2 Madjalah Garpu. Inilah jang saja tanjaken, dimana saja bisa membatja edisi baru Madjalah Garpu? Beberapa waktu kedepan banja isu en asumsi rakjat. Apakah bener Madjalah Garpu tida terbit lagi seperti duga jang beredar itu?

-1966

Moedya, Saja denger Garpu dalem bermasala. Sungguh menjakitkan! Sebagai sorang jang pernah menulisken sabuah artikel saderhana, saja turut prihatin! Apabila kita dipaksa ditenggelemkan ke dalam poros kejahatan, maka tulisan perlu mulia berkobar. Menjala di mana pun. Samua orang perlu tahu! Samua orang butuh kebenaran! Saja optimis Garpu harus hadir kembali!

-1966

Nawir Dwanti, Bulan lalu saja mengirim papan poster iklan sigaret en sedjumlah rupiah untuk dipasang pada halaman Garpu. Saja menunggu edisi Madjalah Garpu dengan gelisah. Sebab halnja orang2 membitjaraken madjalah ini telah bangkrut, dituduh sumber musuch negara. Jang ingin saya tanja, bagaimana dengan iklan dan uang saja?

-1966

Hei Ka, Kepada rekan Madjalah Garpu jang terhormat. Saja senang mengisi Teka-Teki di Garpu kerna berbeda dari laen-nja sekaligus baru mengasah utek. Semoga Garpu terus terbit dengan kolom Teka-Teki berhadiah.

-1966

Redaksi kepada Pembaca, terima kasih atas kesetiannya kepada Majalah Garpu. Lima puluh tujuh tahun yang lalu, benar adanya soal isu yang beredar, bahkan lebih dari yang terdengar. Maaf baru berkesempatan membalas pesan saudara/i dan semoga terbitnya edisi “Lima Puluh Tujuh Tahun”, dapat menjawab keresahan anda membaca Garpu sekaligus membayar lunas iklan-iklan yang tertunda. Teka-Teki Silang tetap ada.

-2023

 

Pengantar:

Mari kita bayangkan sekelompok orang dalam belenggu, semua dihukum mati, di mana beberapa orang dibunuh setiap hari di depan yang lain, dan mereka yang tersisa melihat nasib mereka sendiri dalam nasib rekan-rekan mereka, dan menunggu giliran, saling memandang dengan dukacita dan tanpa harapan…….

–Blaise Pascal, Pensées (1670)

Seribu kura-kura gemuk, tanpa malu-malu meloncat ke sumur kering. Tak ada yang melihat kecuali kucing tanpa bulu yang meloncat keluar dari sumur. “Mereka masuk, kami keluar,” sebut kucing, dalam bahasanya kepada rekan-rekan.

Novgorodsky Katarzyna, Vsyo v Bardake (1888)

Dalam edisi Lima Puluh Tujuh Tahun Majalah Garpu yang baru terbit, kita dihadapkan pada uraian yang menggambarkan deretan peristiwa setelah tanggal 1 Oktober 1965. Peristiwa yang masih meninggalkan luka mendalam. Waktu itu adalah masa yang penuh dengan teror, intimidasi, dan penderitaan yang melibatkan berbagai bentuk penyiksaan. Ada pemaksaan untuk memberikan pengakuan palsu, tindakan penghilangan secara paksa, penyiksaan fisik dan mental, penahanan tanpa proses hukum yang adil, serta perlakuan diskriminatif dan penindasan berdasarkan faktor agama, etnis, dan ideologi politik. Kekerasan seksual, pemerkosaan, bahkan pembunuhan tertulis dalam kronik-kronik, mencerminkan kegagalan sistem dalam melindungi hak asasi warga negara.

Majalah Garpu, dalam penerbitan edisi perdana pada bulan November 1965, tampaknya ingin menjadi suara yang berani dan tegas. Memberikan perspektif alternatif di tengah cengkeraman media yang tunduk pada kekuasaan militer. Di kemudian hari, perjalanan majalah ini menemui tantangan yang serius. Ancaman lisan hingga fisik, dan upaya-upaya lain mengubah kantor Garpu menjadi tumpukan kayu bakar pada Maret 1966, pasca supersemar. Siapa yang bertanggung jawab atas penghancuran ini menjadi pertanyaan yang tak terjawab, bahkan dipaksa untuk dibebankan pada pembenaran atas semuanya.

Dari periode yang penuh gejolak ini, beberapa fakta terangkum dengan jelas. 

Pertama, sehari sebelum bangunan kantor hancur, jurnalis bernama Sjafiraoewn menghilang bersama mesin tik satu-satunya, sekaligus membawa Garpu dalam posisi kekacauan. Sejak bergabung dengan Garpu, Sjafiraoewn menawarkan masa depan cemerlang dari kebanyakan media yang telah menjadi alat propaganda Angkatan Darat untuk menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI), sebagai dalang utama atas Gerakan 30 September, serta penyebaran isu menyesatkan. Sjafiraoewn membongkar tindakan rahasia PKI, rencana pembunuhan, persediaan senjata, serta ancaman terhadap negara tidaklah benar. Rangkaian peristiwa dimulai dengan siaran RRI pada 1 Oktober yang membingungkan. Kemunculan Dewan Revolusi secara tiba-tiba, penangkapan dan penghilangan paksa oleh Angkatan Darat dalam hari-hari berikutnya, dan terus berlanjut.

Sjafiraoewn berusaha memahami, menggali, dan mengurai kolom-kolom berita yang tersebar di surat kabar, siaran RRI, dan berbagai sumber lainnya. Hasilnya adalah kesimpulan bahwa ada kekeliruan yang sengaja dihadirkan oleh pihak-pihak yang memiliki agenda tertentu. Dalam pandangan Sjafiraoewn, seperti era Renaisans yang mengajarkan bahwa setiap informasi yang hanya mengalir dari satu sisi (otokratis), pasti memiliki motif terselubung di baliknya.

Berkat pengalaman membaca dan pengetahuan yang diperoleh dari sumber-sumber masa lalu, Sjafiraoewn bertekad untuk memberikan perspektif baru melalui Majalah Garpu. Ia ingin membandingkan, mengingatkan, dan mengubah pandangan berbagai kelompok dalam menghadapi situasi yang penuh pengaruh dan pengendalian. Dengan aktif menyimak perkembangan informasi terkini, Sjafiraoewn berusaha menciptakan landasan berpikir yang objektif dalam menghadapi peristiwa aktual, serta menghasilkan tulisan bermutu dan berbobot, sekaligus menentang. Dengan semangatnya, Sjafiraoewn mengibaratkan upayanya dengan perumpamaan telinga kiri yang ditulikan, mata kiri yang dibutakan dan, lidah yang dipotong habis pada pangkalnya.

Kedua, ketika melihat kembali jejak langkah Sjafiraoewn, tampak jelas bahwa pekerjaannya sejalan dengan kata-katanya. Sejak ia bergabung dan mulai menulis untuk Majalah Garpu, kolom-kolom tulisannya telah menarik perhatian yang kurang mengenakkan dari Angkatan Darat dan kelompok-kelompok yang terkait. Di tengah suasana yang tegang, terutama setelah peristiwa satu bulan tujuh jenderal tewas, dimana di antaranya terdapat seorang yang keliru dianggap letnan—Sjafiraoewn dengan berani menuliskan artikel berjudul “TJALON MAJAT: TJATATAN DAFTAR NAMA BUKAN HANJA BALAS DENDAM!” Artikel ini menyoroti pentingnya daftar nama sebagai bukti, bukan sekadar alat balas dendam. Tulisannya ini menjadikan kelompok tak dikenal, yang tidak pernah menunjukkan identitas mereka, untuk mendatangi kantor Majalah Garpu dan menemui Sjafiraoewn. Kejadian itu dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Suasana di kantor pagi dipenuhi dengan lagu tembang dari Bing Slamet. Beberapa orang di kantor bergoyang, sementara yang lain fokus dalam membaca laporan untuk edisi majalah yang sedang dipersiapkan. 

Tiba-tiba, dari arah luar terdengar suara mobil berhenti dan bau solar pekat tercium. Langkah kaki cepat bergerak masuk kantor sebelum siapa pun tahu siapa yang datang. Mereka yang tiba, wajah mereka terkesan seram, masuk seperti binatang, memberikan tatapan tajam sebelum bergerak menuju Sjafiraoewn yang terdiam saat itu.

“Kami datang dengan niat baik,” kata salah satu dari kelima orang yang memasuki kantor. 

Satu dari mereka mematikan pemutar kaset. 

“Jangan ada yang dengar lagu busuk ini!” katanya, tanpa memberi kesempatan untuk berbicara. Orang itu mendekati pintu dan memperhatikan situasi, sementara empat lainnya memfokuskan pandangan pada Sjafiraoewn. Kemudian salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau kecil dan menyodorkannya ke arah Sjafiraoewn.

“Pegang ini, Bung. Adik, Bung ditahan dan dalam bahaya. Kami datang hendak membantu.”

Sjafiraoewn dan orang di kantor terkejut mendengarnya. Tidak jelas apa yang ada dalam pikiran Sjafiraoewn ketika ia menggenggam pisau kecil tersebut. Dia tiba-tiba berdiri dan tanpa melirik ke sekeliling, pandangannya fokus pada pisau di tangannya dan mata tajam dari empat orang yang menatapnya dengan dingin.

Sebelum mereka meninggalkan kantor bersama Sjafiraoewn, salah satu dari mereka yang membawa pisau bertanya apakah Sjafiraoewn pernah terlibat dalam perkelahian atau membunuh seseorang. Sjafiraoewn menjawab pernah, namun tidak sampai membunuh. Yang lain mengangguk mengerti dan mengarahkan Sjafiraoewn ke pintu. Seseorang yang tadi mengawasi situasi memberikan penutup kepala kepada Sjafiraoewn.

“Kami datang dengan niat baik. Percayalah dan pakailah ini,” katanya dengan tegas.

Salah satu dari mereka mengeluarkan semacam kalung—mungkin milik adik Sjafiraoewn. Lalu yang lain menambahkan dengan penuh keyakinan bahwa mereka ingin menjaga agar Sjafiraoewn tidak terlalu emosional dan mampu mengendalikan diri. Mereka ingin menyelamatkan adik Sjafiraoewn dengan strategi yang telah mereka susun. Mereka membutuhkan Sjafiraoewn untuk mematuhi rencana mereka. Sjafiraoewn cepat memahami situasi dan bersedia menggunakan penutup kepala tersebut

 

Di ruangan yang gelap, ketika penutup kepala dari Sjafiraoewn akhirnya dilepas, dia menghadapi pemandangan yang penuh kengerian: adiknya, Sjarifin, terikat dengan tangan yang menggantung di atas kepala, tubuhnya penuh dengan luka dan memar akibat penyiksaan. Bekas-bekas tusukan benda tumpul dan luka dari objek tajam masih segar, beberapa goresan di kulit masih basah dan tetes darah terus jatuh. Begitu Sjafiraoewn kembali ke kantor Garpu setelah penyiksaan—yang juga berlaku pada dirinya, ia mengatakan bahwa sejak mobil bergerak ia tidak lagi menggenggam pisau kecil yang diberikan. Sebelum ia sempat banyak bertanya tentang strategi dan urutan kejadian penangkapan serta penyiksaan Sjarifin, ia telah dipukuli di dalam mobil hingga ia kehilangan babak belur. Saat tiba di suatu tempat, ia melihat sesuatu yang membuatnya memahami rencana dan peraturan yang dimaksudkan oleh kelompok “orang baik” tersebut. Dia menyadari penyebab peristiwa ini dan siapa sebenarnya yang berada di balik mereka. Akhirnya, pada saat itu, dia dihadapkan pada dua pilihan. Dia bisa menjadi penonton Sjarifin disiksa dengan mencabut satu per satu kuku di jari-jarinya, dari jari kaki hingga jari tangan. Atau dia bisa menutup matanya dan membantu adiknya dalam cara yang sangat tidak bermoral, yakni menghisap kelamin adiknya dan dengan begitu penyiksaan berakhir[1].

Ketiga, meskipun Sjafiraoewn menghadapi ancaman dan trauma akibat apa yang dia alami dan apa yang telah dilakukan terhadap adiknya, itu tidak mengakhiri kariernya sebagai jurnalis di Majalah Garpu. Meskipun Majalah Garpu menyarankan agar Sjafiraoewn mengundurkan diri, dia dengan tegas menolak dan bersikeras melanjutkan pekerjaannya sesuai dengan perjanjian awal. Dia siap untuk menghadapi semua risiko yang mungkin terjadi. Dia juga mengecam tindakan kejam dan biadab yang telah dan akan terjadi pada dirinya dan orang lain. 

Ketika edisi kedua Majalah Garpu mendekati tenggat waktu yang direncanakan untuk terbit pada bulan Januari 1966, Sjafiraoewn menulis kolom berjudul “SUWARA DARI KESENJAPAN: BUKTI BARU TJALON MAJAT BUKAN MAIN2!” Meskipun awalnya redaksi Garpu sangat berhati-hati untuk menerbitkannya, Sjafiraoewn tetap bersikeras. Keputusan ini memiliki konsekuensi besar dan membuktikan kebenaran dari informasi yang dia miliki. Sjafiraoewn kembali ditangkap dan mengalami penyiksaan yang lebih brutal. Dua giginya dicabut paksa dan dua jarinya dipotong dengan gunting rumput. Meskipun dia akhirnya dibebaskan melalui intervensi dari utusan Duta Besar Amerika, atas permintaan dari sebuah telegram rahasia yang dikirim ke Garpu[2], di jalan Pondok Gede.

Keempat, dalam kondisinya yang telah cacat secara fisik, Sjafiraoewn mendapati dirinya dituduh sebagai ancaman bagi negara, menyamar sebagai seorang jurnalis. Tulisan-tulisan yang dia hasilkan dituduh memprovokasi konflik. Namun, Sjafiraoewn membela diri dengan argumentasi yang kuat. Ia menunjukkan bahwa pada tanggal 8 Oktober 1965, koran harian Angkatan Bersendjata telah memprovokasi secara terang-terangan melalui kolom “Perang Sutji”, yang mengandung kalimat-kalimat seperti, “Pedang tidak bisa dihadapi dengan Al-Quran… tetapi harus dihadapi dengan pedang. Al-Quran sendiri mengatakan bahwa siapa pun yang menentangmu harus ditentang sebagaimana mereka menentangmu.”[3]

Kelima, setiap hari setelah terbitan kedua Majalah Garpu, kantor dibanjiri oleh berbagai telegram berisi ancaman pembunuhan dan hukuman gantung bagi semua yang terlibat dalam majalah. Salah satu telegram bahkan diarahkan langsung kepada Sjafiraoewn, dengan isinya yang menyatakan, 

“Sodara Sjafiraoewn. Perlu diketahoi, selaen Sjarifin, ke-2 orangtuwa sodara, suda kami tangkep en tinggal tunggu waktu aken kami bunu lalu kami kirim ke kantor Garpu djika sodara masi menerusken berita2 busuk di madjalah Garpu! Kami tunggu pembuktien, seberapa tanggu sodara.”

Menghadapi ancaman ini, Sjafiraoewn dengan diam-diam membuat salinan telegram tersebut dan menyisipkannya ke dalam cetakan pada kolom khusus untuk edisi ketiga majalah, yang direncanakan terbit pada bulan Maret 1966. Hal ini dilakukan tanpa pengetahuan atau persetujuan dari tim redaksi. Inilah langkah awal menuju bencana yang lebih besar. Dalam usahanya untuk mempertahankan kebenaran, Sjafiraoewn melupakan bahaya yang mengancam adik dan kedua orangtuanya. Cara Sjafiraoewn berhasil menyelipkan salinan telegram tersebut tetap menjadi misteri, namun yang jelas, tindakan ini semakin memperdekat ancaman yang nyata.

Keenam, masalah serius melanda Majalah Garpu. Beberapa jam setelah edisi ketiga disebarluaskan, sebuah bungkusan berisi majalah Garpu yang terikat erat ditemukan di kantor pada pagi yang dingin. Di dalamnya terdapat gajih setebal kepala babi dewasa. Dalam waktu singkat, keputusan dramatis diambil oleh tim redaksi untuk memecat Sjafiraoewn dengan cara yang sangat tidak pantas. Berita ini langsung dicetak dalam sebuah edisi tambahan yang mendesak: “RATJUN MANGKUK BUBUR MAJALAH GARPU TELAH LENYAP”. Namun, langkah ini dilihat oleh banyak pihak sebagai lelucon yang gagal dan tidak serius.

Kantor Garpu segera dibanjiri oleh orang-orang yang meminta penjelasan atas situasi yang penuh tanda tanya dan kebingungan. Hingga larut malam, mereka berkerumun di sudut-sudut gelap dan menunggu. Meskipun suasana berlarut dan tak lagi tampak tegang, sebenarnya ada api kemarahan yang menyala. Walaupun tidak ada tindakan fisik yang merusak atau mencoba menangkap Sjafiraoewn, beberapa orang dengan penutup kepala yang semula tersembunyi, kini muncul dan bergerak di antara bayangan, sementara mereka berbisik-bisik dan melempar kotoran ke arah jendela.

Teror semacam ini membuat suasana di kantor menjadi sangat tidak stabil. Semua orang merasa panik dan mencari tempat persembunyian di sudut-sudut kantor. Suasana ini hanya terhenti saat menjelang subuh, seorang rekan kantor dengan berani berdiri dan memberikan sinyal bahwa situasi aman. Namun saat itu Sjafiraoewn tak dapat ditemukan. Baik di sisi satu maupun lainnya, ia telah menghilang secara misterius. Setelah menyelidiki dan melihat bahwa mesin tik yang biasanya berada di atas meja juga telah menghilang bersama Sjafiraoewn, rekan-rekan mulai curiga bahwa ada permainan yang terjadi.

Niat dan rencana di balik penghilangan ini tidak pernah terungkap sepenuhnya. Hal ini tetap menjadi misteri hingga lima puluh tujuh tahun kemudian, ketika Majalah Garpu, yang kini telah tidak ada lagi, menerima kiriman terjemahan dan jurnal yang ditulis oleh Sjafiraoewn setelah ia menghilang bersama mesin tik tersebut.

Dini hari, sekitar pukul dua, sebuah edisi tipis yang ditujukan untuk meredakan ketegangan tidak mengubah segala yang terjadi. Garpu tetap mendapat teror dan ancaman. Pemandangan mengerikan datang ketika seorang pria dan seorang wanita, keduanya telanjang dan wajahnya ditutupi oleh kain hitam, ditarik hidup-hidup oleh sekelompok orang menuju kantor Garpu. Di antara barisan orang tersebut, kami melihat ada Sjarifin yang ikut serta, yang tentu saja mengejutkan semua rekan yang masih berada di dalam kantor saat itu.

Ketika sampai di depan kantor Garpu, seorang dari mereka yang bersenjata memerintahkan Sjarifin untuk mengikatkan tali tambang di sekitar leher kedua orang tersebut. Rekan-rekan Garpu yang masih berada di dalam kantor tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan dengan ngeri bagaimana Sjarifin dipaksa di bawah ancaman orang-orang bersenjata[4]. Setelah pasangan tersebut diikatkan dan digantung di halaman depan kantor, Sjarifin dipaksa untuk menulis kalimat yang mengerikan di atas lembaran kertas: “INIKAH KESUNGGUHAN SETELAH RENTJANA BOM JANG GAGAL?! NERAKA TIDA TUNTAS DI SINI.” Ia juga dipaksa menambahkan inisial namanya dengan arang yang telah disediakan. Dengan aksi ini, suasana mencekam akhirnya memuncak dan menjadi akhir dari eksistensi bangunan kantor Garpu. Beberapa jam kemudian, bangunan Garpu dirobohkan, dikecam sebagai sumber benih-benih musuh negara. Dan mayat yang sempat tergantung di depan kantor, tidak pernah diketahui akhir nasibnya.

Kantor Garpu lenyap, termasuk sebagian besar arsip cetakan, catatan keuangan, dan naskah yang hangus terbakar menjadi abu. Meskipun sebagian naskah lainnya berhasil diselamatkan meskipun dalam kondisi rusak. Beberapa surat yang tiba setelahnya, dikirim oleh berbagai pihak, berisi tuntutan perjanjian iklan dan masalah lain yang semakin membebani situasi.

Hancurnya kantor Garpu menambah catatan buruk dalam daftar kejahatan dan perbuatan sadis terhadap berbagai bangunan penting, seperti yang juga terjadi pada Perpustakaan Thomas Jefferson yang digunakan sebagai tempat pemerkosaan dan aksi-aksi kekejaman lainnya pada tahun 1965.

Tindakan keji dan sadis semacam ini telah menghancurkan seluruh kehidupan dan harapan generasi muda, serta masa depan bangsa. Akibat kutukan pahitnya menjalar dan terus terasa, menjadikan manusia seakan berubah menjadi iblis yang lebih kejam dari para penghasut. Semua ini dilakukan dengan penuh kesadaran, berdasarkan perintah, dorongan, atau alasan-alasan lain yang menyebabkan ketakutan dan dilema, antara menangkap atau ditangkap, serta membunuh atau dibunuh.

Setelah melalui tahun-tahun kelam dengan pergulatan antara Sjafiraoewn yang berjuang keras melawan pengendalian atas sumber-sumber berita, serta melalui bacaan berbagai laporan, karya tulis, jurnal, film yang mengangkat isu pembantaian, serta Rekomendasi Ketua Hakim Zak Yaccob setelah sidang Pengadilan Rakyat Internasional atas Kejahatan Terhadap Kemanusiaan 1965 di Indonesia, yang berlangsung di Nieuwe Kerk, Den Haag, Belanda, pada 10-13 November 2015. Semangat untuk berpartisipasi dalam menyuarakan kebenaran semakin berkobar. Terlebih lagi, ketika lampiran jurnal Sjafiraoewn tiba secara tak terduga setelah lima puluh tujuh tahun sejak ia menghilang, semangat tersebut semakin terbakar; hasilnya adalah keputusan untuk menerbitkan edisi spesial Majalah Garpu dalam rangka peringatan Lima Puluh Tujuh Tahun Setelah Sjafiraoewn Hilang.

Meskipun masih menjadi misteri besar tentang ke mana Sjafiraoewn menghilang dan mengapa ia membawa mesin tik pada malam itu, serta apa yang ia lakukan sebelum menulis jurnal dan mengapa ia mengirimkan jurnal dan terjemahannya ini, satu hal jelas: misteri adalah suatu perjalanan panjang penuh penelusuran. 

Majalah Garpu kali ini terbit dalam tiga gaya bahasa, mempertimbangkan kolom-kolom yang telah disiapkan untuk edisi keempat yang seharusnya terbit pada April 1966. Di samping itu, Majalah Garpu turut menghadirkan jurnal Sjafiraoewn sebagai penghormatan atas dedikasi Sjafiraoewn, dengan keputusan untuk tidak mengubah, mengedit, atau menambahkan apapun pada jurnal tersebut.

 

 

[1] Pengakuan ini mengklarifikasi foto cetakan yang ditempel pada dinding kantor Garpu, dua hari setelah Sjafiraoewn dilepaskan berkat surat sakti yang intinya berisi pertukaran saling menguntungkan. Waktu itu Sjafiraoewn merahasiakan aib ini, tetapi banyak orang yang lebih dulu datang ke kantor pada pagi hari, lalu melihat foto—yang telah ditempel—tidak pantas itu, sehingga Sjafiraoewn perlu menjelaskan kejadian sesungguhnya secara terbuka, meski itu berisiko.

[2] Ada kekeliruan besar mengenai telegram rahasia ini. Dan perlu diakui yang sesungguhnya terjadi adalah keberuntungan mutlak kepada Sjafiraoewn. Telegram yang sempat didebatkan oleh Garpu ini, akhirnya dimusnahkan demi menyelamatkan Sjafiraoewn, mengingat dan mempertimbangkan keselamatan jurnalis dalam kontrak kerja.

[3] Menjadi pertanyaan serius mengapa arsip koran ini telah dicuri dari Sjafiraoewn dan dihancurkan? Garpu pernah membaca, namun tidak ingat keseluruhan bunyinya. Garpu juga sempat mencari-cari jejak koran ini ke beberapa teman, termasuk penelusuran internet, namun tetap tidak mendapatkan hasil. Kemudian, agar hal ini tidak menjadi mitos, Garpu kutip dari bab “Language, Media and Propaganda”, yang ditulis Geoffrey Robinson dalam Journal of genocide Research. Volume 19, Issue 4. 2017. Sebagai berikut: “On 8 October, for example, the army newspaper Angkatan Bersendjata called for holy war: “The sword cannot be met by the Koran … but must be met by the sword. The Koran itself says that whoever opposes you should be opposed as they oppose you.”

[4] Kesaksian rekan Garpu yang melihat kejadian itu, dibenarkan oleh Hardiono. Pada Desember 1971, ketika Hardiono diputuskan tuntutan hukum mati atas tuduhan yang kurang jelas, Hardiono melempar selebaran kertas yang langsung dikerubuni banyak wartawan. Salah satu kertas itu merupakan wawancara kesaksian Sjarifin yang mengatakan, dia menyesal setelah mengetahui kedua orang yang digantungnya pada malam hari di depan Kantor Garpu adalah orang tua kandungya.

Blog13 Desember 2025