I
Dalam pembicaraan sastra pinggiran, bisa jadi sastra yang dianggap kanonlah yang sebenarnya “pinggiran” apabila dilihat dari hakikat dan fungsinya dalam kehidupan sastra orang-orang biasa.
Kita dengarkan apa kata mereka: “Eh, buat apa sih membaca puisi aneh yang tidak bisa dimengerti? Buat apa ikut-ikut memuja cerita atau novel eksperimental yang sejujurnya hanya terlihat sebagai permainan tokoh dan kata yang sia-sia? Apa hanya karena mereka sudah mendapat penghargaan dan sering disebut-sebut di kelas? Atau karena kita takut tidak menjadi bagian dari?”
Ungkapan “takut tidak menjadi bagian dari” saya dapatkan gambaran konkretnya pada suatu malam. Ketika itu, kami masih mahasiswa baru program studi pendidikan bahasa dan sastra. Bulan terlihat redup di langit timur dan kami digiring masuk ke gedung pertunjukan untuk menyaksikan penampilan para senior yang akan menunjukkan bagaimana lahir batinnya telah dicelupkan ke dalam lautan sastra. Pada tahun-tahun itu, kurang lebih sembilan belas tahun lalu, gaya mereka memang memiliki ciri khas yang mudah diingat, bahkan aneh sekali. Masih terbayang begitu nyata saat saya menulis deskripsi: rambut panjang, celana jin yang lama tidak dicuci, kaus gelap dengan kutipan kalimat perlawanan, mengapit sebatang rokok, bertopi seniman, dan seseorang yang lain di pintu masuk bertopi gambar bintang merah revolusi yang menyala. Pendek kata, mereka seperti ingin terlihat “berbeda” dan “mudah ditandai”.
Di masa depan nanti, saya mulai memahami apa itu dorongan untuk selalu tampak “berbeda dan mudah ditandai” dalam dunia sastra. Sebagai contoh, mari kita memejamkan mata sejenak dan mengingat sosok sastrawan yang kita kenal. Seketika itu pula terbayang apa yang “mudah ditandai” darinya, misalnya selalu berkaus hitam dan memanjangkan rambut putihnya dalam setiap penampilan, mengenakan syal, atau ciri khas lainnya. Itu baru ciri sosok, belum ciri karya.
Ternyata, kalau dipikir-pikir, gejala tersebut memang sudah muncul seperti yang terlihat di bawah redup cahaya bulan malam itu. Tak lama kemudian, saat pertunjukan tiba, sekelompok senior menampilkan musik puisi, lalu seseorang yang lain muncul seperti terkena sihir, membacakan puisi aneh sambil berperilaku aneh pula—tentunya aneh dalam pandangan saya waktu itu—disusul penampilan monolog, kemudian drama ringkas yang masih masuk akal. Namun, karena mereka yang di depan itu telah lama tercatat secara resmi dalam daftar nomor induk sebagai sosok yang tercelup ke dalam lautan sastra perguruan tinggi, lantas siapa saya bila sampai berani mengajukan pertanyaan? Malah sebaliknya, yang ada, saya mulai mempertanyakan diri sendiri: “Jangan-jangan inilah sastra adiluhung itu, sedangkan apa yang pernah saya cipta sebelumnya belumlah sastra sepenuhnya atau mungkin bukan apa-apanya sastra.”
Saya tidak tahu apakah teman-teman saya, yang sama lesehan berkalung papan nama kertas dan berkali-kali ikut tepuk tangan, mengalami guncangan batin serupa. Namun, apa yang saya alami pada malam bulan redup itu sudah memadai untuk disebut sebagai peristiwa “cuci otak sastra” tahap awal pada level akademik. Tanpa adanya cuci otak sastra, pengarusutamaan sastra atau kanonisasi, saya pikir, akan sulit terjadi.
Oleh karena itu, esai ini mencoba menelusuri proses tersebut secara sederhana, temporer, dan mencoba autentik, meskipun tidak dapat dipungkiri akan ditemui kecenderungan kasuistik pada beberapa bagiannya. Tujuannya sudah pasti, yakni untuk melengkapi telaah teoretis dan ilmiah dari tulisan lain dengan tema serupa yang disajikan dalam laman ini.
II
Proses berikutnya, yakni apa yang disebut, untuk mempermudah pemahaman prosedural, sebagai reaksi dan efek samping.
Reaksi dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, reaksi terhadap (1) “sastra sebagai pertunjukan” sebagaimana pada malam bulan redup itu. Kedua, reaksi terhadap (2) “sastra sebagai bacaan” yang akan terjadi pada ruang kelas keesokan harinya dan berdampak pada tahun-tahun berikutnya. Dampaknya terutama sekali dapat ditandai setelah mereka lulus dan mengambil peran sebagai agen cuci otak sastra dalam berbagai ranah: guru di sekolah, dosen di perguruan tinggi, pegawai dinas, pekerja penerbitan, praktisi sastra, pengelola komunitas, pebisnis sastra, hingga “agen sastra” dalam kehidupan rumah tangga orang-orang biasa. Saya merasa beruntung menulis esai ini sembilan belas tahun kemudian sehingga memiliki bekal waktu yang cukup untuk mengamati secara temporer dan mendalam, terutama pada sisi efeknya.
Sastra sebagai pertunjukan, atau sastra yang dipertunjukkan, yang ditampilkan oleh senior yang telah tercelup ke dalam sastra perguruan tinggi itu, mula-mula mencuci pandangan saya tentang apa itu sastra sejati di atas panggung. Pilihan kata yang digunakan dalam puisi yang dibacakan, caranya membacakan puisi, cara mengenakan kostum, tata panggung, hingga interaksi dengan penonton sangat berbeda dengan “sastra di sekolah”.
Pertanyaannya, apabila sama-sama sastra, mengapa pada setiap jenjang pendidikan ditampilkan dengan cara yang berbeda? Apakah semakin rendah jenjangnya, lantas semakin rendah pula “levelnya”? Di mana level terendahnya dan di mana pula level tertingginya? Indikator apa yang digunakan dan siapa yang mengukurnya?
Mereka yang bereaksi positif (+) tertarik pada level baru ini dan mulai mencari informasi untuk “menjadi bagian dari”. Inilah infiltrasi awal masuknya persepsi tentang sastra yang adiluhung. Ada pula yang bereaksi netral (0); menganggapnya sebagai hal biasa, pernah melihat sebelumnya, atau hanya duduk tumakninah di gedung itu karena wajib belaka. Yang berikutnya bereaksi negatif (-); tidak tertarik, tidak mengerti apa maunya, tidak terbiasa melihat lelaki gondrong atau perempuan yang merokok di panggung, tidak paham apa tujuan hal-hal aneh di hadapannya, atau sebenarnya sedang tafakur, menyesal karena salah jurusan dan berharap semua ini hanya mimpi buruk yang harus segera berakhir.
Menariknya, ketiga reaksi tersebut, (+/0/-), sama-sama berpotensi mengambil peran dalam “kanonisasi sastra di sekolah” di masa depan. Hal ini terjadi karena program studi tempat kami belajar berkaitan dengan pendidikan bahasa dan sastra, yang memang dikenal menghasilkan calon-calon guru, meskipun tentu saja tidak semuanya. Masing-masing reaksi ini, kelak, akan memberikan efek samping yang berbeda pula saat mereka harus mengajarkan sastra di sekolah atau berkegiatan sastra lainnya. Pola reaksi serupa berlaku pula saat kamu mulai memasuki ruang-ruang kuliah pada hari-hari yang berisik oleh tugas bersama musim dan cahaya bulan yang berganti.
Apabila cuci otak dimensi sastra sebagai pertunjukan dilakukan oleh senior yang telah tercelup ke dalam lautan sastra, maka dimensi sastra sebagai bacaan dilakukan oleh kurikulum. Kurikulum, paling tidak meliputi (a) apa yang diajarkan, (b) siapa yang mengajarkan, (c) bagaimana cara mengajarkan, dan (d) bagaimana asesmen atau cara menilai capaiannya.
III
Secara mendasar, cuci otak sastra pada (a) apa yang diajarkan dilakukan melalui larutan kurikulum di perguruan tinggi, khususnya pada program studi pendidikan bahasa dan sastra yang menganut dua prinsip, yaitu mengajarkan (1) sastra sebagai ilmu dan (2) sastra sebagai keterampilan. Berbagai mata kuliah terkait sastra diturunkan berdasarkan kedua prinsip tersebut. Sementara itu, mata kuliah terkait kebahasaan dan pendidikan menggunakan beberapa prinsip dan porsi berbeda. Dalam prinsip (1) sastra sebagai ilmu, pemikiran diambil, salah satunya, dari Wellek dan Warren (1956). Ilmu sastra, dalam pemahaman ini, memiliki komposisi kimiawi berupa (a) teori sastra, (b) sejarah sastra, dan (c) kritik sastra. Melalui tiga zat tersebut, secara bertahap pemahaman orang baru tentang sastra direndam, dikucek, dan dibilas dari satu kredit semester ke kredit semester lainnya.
Pada kelas awal, larutan mata kuliah yang diberikan, yaitu yang sejenis dengan pengantar ilmu sastra yang biasanya terdapat dalam (a) teori sastra. Inilah zat akademis pertama yang mencoba “melarutkan noda-noda sastra bawaan”, yang menempel pada sebagian besar seragam pemikiran kami yang bau kencur. Sebelumnya, perspektif kami tentang karya sastra sebagai bualan, gombal, khayal, buang-buang waktu, diikuti setan, atau hal-hal terkutuk lainnya, mulai dikucek-kucek secara teoretis. Tangan teoretis yang paling sering ditarik untuk menguceknya berasal dari jari-jemari Yunani Kuno (Horatius, Ars Poetica, 19 SM), melalui sepasang prinsip “dulce et utile” atau “sweet” dan “useful“. Karya sastra yang bagus, menurut pemikiran ini, memiliki “daya hibur”. Artinya, memang menarik untuk dibaca. Juga “daya guna” yang berarti mendidik, membawa nilai-nilai atau pemikiran tertentu yang dipandang berdampak baik bagi pembacanya.
Kedua aspek dalam sastra adiluhung tersebut, (1) daya hibur dan (2) daya didik, terkesan simplifikasi. Akan tetapi, entah bagaimana takdir bekerja, kedua hal inilah yang dicatat oleh umat manusia sebagai dua unsur kimiawi pencipta reaksi-reaksi perdebatan sastra sepanjang masa. Sebagai contoh, dua bersaudara inilah yang memicu isu tentang apa yang sastra dan bukan sastra, sastra serius dan sastra populer, sastra didaktis dan sastra hiburan, sastra kanon dan sastra konon, sastra eksperimental dan sastra standar, sastra masa lalu dan sastra masa depan, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir, oposisi biner itu seperti pendiri dan pemilik saham perdebatan sastra yang rutin muncul di ruang seminar.
Mari kita lihat cara kerja zat pencuci bernama (1) daya hibur, yang biasanya dilengkapi ekstra pewangi dan pelembut sesuai zamannya. Zat ini berperan utama dalam melarutkan atau mencerahkan warna sastra bawaan. Bersifat mencerahkan warna asal sastra apabila zatnya menerima segala hal. Misalnya, satu molekul proletar dalam zat itu berkata, “Sudahlah, Kawan, sastra adalah tulisan apa saja yang membuatmu terhibur dan merasa sedikit lebih baik setelah menuangkan kata-kata.” Artinya, puisi masa remaja yang saya tulis untuk “menghibur” diri yang luka masih sudi disebut sastra, karena punya fungsi menghibur. Akan tetapi, persoalan mulai hadir ketika “menghibur” ternyata memiliki maksud yang berbeda. Kita bisa membayangkan molekul elite dalam zat itu tiba-tiba muncul mengenakan toga: “Hei, bukan begitu. Tulisanmu itu bukan sastra tulen. Sastra tulen itu mesti terbit dan dibaca orang. Makin tulen lagi kalau bisa dikaji dan dapat penghargaan. Karena penghargaan-penghargaan itulah yang bakal disebut-sebut terus dalam biodatamu dan menentukan perlakuan dunia sastra terhadapmu.” Molekul elite ini, yang biasanya bersifat antikuman dan antibakteri, berperan seolah-olah sebagai pelindung “area suci sastra” saat dianggap mulai terinfeksi.
Menurutnya, semua orang boleh menulis apa saja. Akan tetapi, mohon maaf lahir dan batin, tidak semua boleh menyebutnya “sastra”. Kalau begitu, ternyata ada ukuran lain dalam daya hibur itu: “menghibur orang lain”. Sampai di sini, sebetulnya saya mulai curiga. Kalau sudah berhubungan dengan “orang lain”, urusannya pasti ribet, karena orang lain sifat dan bentuknya tidak tunggal. Orang lain di luar diri saya adalah sekian miliar yang lain, yang tak terduga apa maunya. “Oke, kalau begitu,” kata molekul elite pencuci otak sastra, “untuk memudahkan kita, sebut saja orang lain itu pembaca, bagaimana?”
IV
Istilah pembaca telah lama diringkus dalam statistik. Perhatikan keterangan-keterangan semacam ini: “Novel ini telah dibaca jutaan orang” atau “Cerpen ini telah dibagikan oleh ribuan pembaca.” Jutaan dan ribuan adalah cara barbar untuk meringkus mata pembaca yang spesial ke dalam mata industri dan mata uang; “best seller“, “mega best seller“, atau “ultra best seller“.
“Kalau begitu,” kata molekul elite, “kita perlu mengklasifikasikan pembaca.” Dari sini, muncul cuci otak tentang stratifikasi pembaca yang akan mencacah sastra. Yang sering dikutip adalah stratifikasi pembaca menurut Teeuw (1983), yakni pembaca awam, menengah, terpelajar, dan kritikus.
Ada pula pembagian pembaca berdasarkan (1) usia, (2) kelas sosial, hingga (3) tingkat pendidikan. Sebagai contoh, dari pembagian pembaca berdasarkan (1) usia, ada sastra untuk anak-anak atau “sastra anak”. Itu pun dengan berbagai level lagi, misalnya, yang sering dirujuk adalah catatan Piaget (1969). Dalam pelevelan usia, apa yang menghibur dari sastra, bagi anak-anak, tidak selalu menghibur bagi orang dewasa, begitu pula sebaliknya. Bahkan, pada kasus yang lebih brutal, pelabelan pada apa yang bersifat “kanak-kanak” tidak hanya merujuk pada kerendahan aspek linguistik, tetapi juga merujuk pada capaian etik dan otak. Sastrowardoyo (1983) membahas soal ini dengan brilian saat ngomongin sastra dan sastra anak pada era Hindia-Belanda. Lalu, bagaimana jika sastra yang menghibur bagi anak-anak di suatu kelompok sosial ternyata tidak menghibur anak-anak di kelompok sosial yang lain? Bagaimana pula bila sastra yang menghibur anak-anak pada suatu zaman ternyata tidak lagi menghibur anak-anak pada zaman yang lain?
Rasa-rasanya, dalam hal ini, mengelompokkan pembaca ke dalam suatu kategori tidak terlalu menyelesaikan masalah. Yang ada malah memperjelas pokok permasalahan dalam sastra kanon. Yang mana itu? Yang bagian ini: Sastra kanon sering kali ditunjuk oleh dan ditunjukkan pada pembaca dewasa. Kalau begitu, apa gunanya sastra anak kalau anak-anak tidak boleh menentukan kanon mereka sendiri? Ada benarnya juga, tetapi kita mungkin pernah mencoba berpikir adil dengan mengajukan pendapat agar sastra kanon melibatkan setiap level usia. Ada kanon sastra anak, sastra remaja, remaja muda, hingga dewasa. Saya tidak tahu apakah ada kategori sastra “manula”. yang mungkin saja berisi renungan-renungan masa pensiun atau penyambut datangnya kematian. Akan tetapi, pendapat yang dirasa adil itu biasanya akan segera patah sebelum dibuat seminar.
Kita perhatikan baik-baik. Yang terjadi, bahkan sastra kanon pilihan orang dewasa telah lama dipaksa-paksakan masuk ke dalam “kurikulum sekolah”, yang tentu saja bertujuan agar dibaca anak-anak.
Cermati saja istilah administratif dan spanduknya: “sastra masuk sekolah”. Pemilihan kata “masuk” seakan-akan menunjukkan bahwa merekalah yang pertama kali mendarat dan menancapkan bendera sastra ke dalam ruang kosong, yang tak ada penghuni sastranya sebelumnya, tepat di dalam kepala anak-anak yang ceria. Seolah-olah di kepala yang ceria dan imajinatif itu tak pernah ada cerita hantu dan nyanyian, tak ada sihir dan permainan, hanya dendrit dan neurit yang sunyi.
Rousseau (1763), saat membicarakan Sophie, pernah menampilkan perkara ini dengan gamblang tentang bagaimana orang tua kuno memandang anak-anak sebagai kertas kosong yang dibebani coretan petunjuk dan harapan. Barangkali termasuk harapan sastra yang adiluhung itu. Maka, jangan heran, kalau sedikit-sedikit masih sering kita dengar, “Ini harus masuk kurikulum,” atau “Itu mesti masuk pelajaran sekolah.”
Ada apa sebenarnya cuci otak sastra pada level ini? Kita akan mendalaminya saat membahas aspek (2) daya didik, pada bagian selanjutnya.
Yang pasti, akui saja bahwa orang dewasalah yang membuat permainan sastra. Tidak ada anak-anak sekolah dalam kongres, konferensi, atau rapat, yang mendengar pendapat tentang sastra masuk sekolah. “Orang dewasa” yang dimaksud, sebenarnya orang dewasa yang mana? Yang punya uang atau yang punya kuasa, yang merasa benar atau yang merasa paling pintar, yang akademisi atau yang sastrawan, yang lelaki atau yang perempuan?
V
Melihat pembaca dari (2) kelas sosial, lebih menarik lagi. Ada fenomena uniknya. Bukan pada persoalan sastra dan kelas ekonominya, melainkan pada penciptaan “kelas sosial sastra” itu sendiri. Dalam beberapa hal, sastra yang dianggap “terlalu mudah dipahami banyak orang” atau “terlalu dibaca banyak orang” akan disebut “sastra populer”. Sementara itu, yang hanya “mampu dipahami oleh orang-orang tertentu” akan dianggap “sastra serius”. Tentu, hal ini di luar persoalan konten dan bahasanya.
Akan tetapi, apakah konten dan bahasa dari sastra yang serius itu? Seperti apa orang-orang yang serius itu? Tampaknya, hal ini ada hubungannya dengan (3) tingkat pendidikan. Karena merasa memiliki pendidikan yang lebih tinggi atau secara khusus memiliki wawasan sastra yang lebih dalam dan bacaan yang lebih luas, mereka memiliki selera bacaan berbeda dengan “kehidupan sastra orang-orang biasa”. Dalam pandangan ini, orang-orang kelas bawah membaca sastra yang kata-katanya terlalu mudah dipahami, temanya terlalu klise, atau alurnya mudah ditebak.
Orang-orang serius seperti itu, sepanjang yang saya temui, sepertinya tidak lagi terhibur oleh cinta dan kata-kata manis dalam sastra. Mereka merasa mual dengan novel populer yang didaktis atau puisi terkenal yang sebenarnya hanya deretan kata yang sia-sia menghabiskan tinta, kertas, pohon, dan lem.
“Daya hibur” sastra, bagi golongan elite ini, adalah humor yang tak terduga, adegan seks yang berani, aspek psikologis yang kompleks, unsur sosiologis yang lihai, atau dengan kata lain: Apa yang mampu menghibur pikiran mereka yang melangit, bukan hanya perasaan yang sangit.
Semakin kompleks pemikiran seseorang, semakin selektif pula menentukan mana yang pantas disebut sastra dan dibaca serta mana yang diabaikan saja. Kalau tidak percaya, perhatikanlah bagaimana golongan ini tidak mudah memberi endorsement, ulasan, atau pengakuan. Selain karena persaingan di antara mereka sendiri, mereka terlihat menjaga jarak dengan golongan umum dari bangsa dan bahasa Dunia Ketiga yang hasil asesmen literasinya masih teramat rendah. Di sisi lain, mereka akan bangga apabila menjadi bagian dari golongan sastra dan pemikiran “global”, lengkap dengan kutipan dan rekomendasi bacaan.
Seperti yang sudah disinggung, sejak semula mereka ingin terlihat “berbeda” dan “mudah ditandai”. Dari sudut pandang (1) daya hibur bagi pembaca ini, lahirlah cuci otak kanon yang berbeda. Apa yang dipandang arus utama bagi kelompok serius, sebenarnya pinggiran bagi kelompok populer, begitu pula sebaliknya, walaupun dalam beberapa kasus kecil terdapat karya dan sastrawan yang mampu beririsan di antara keduanya.
Esai ini ditulis sebagai tugas akhir Kelas Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2026.
Referensi
Piaget, J., & Inhelder, B. (1969). The psychology of the child. Basic Books.
Rousseau, J.-J. (1979). Emile, or On Education (A. Bloom, Ed. & Trans.). Basic Books.
Sastrowardoyo, S. (1983). Sastra Hindia Belanda dan Kita. Balai Pustaka.
Teeuw, A. (1983). Membaca dan menilai sastra: Kumpulan karangan. Gramedia.
Wellek, R., & Warren, A. (1956). Theory of Literature. Harcourt, Brace and Company.

Eko Triono
Eko Triono merupakan staf pengajar di Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Karyanya, antara lain kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-Pohon? (Divapress, 2016) yang masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 serta novel Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing (Gramedia Pustaka Utama, 2018) yang merupakan tugas akhir Akademi Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 serta meraih juara III Unnes International Writing Contest 2017. Ia alumnus Kelas Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2026. Berkorespondensi dengannya bisa melalui Instagram @ekolalutriono.

