Setiap anak manusia yang terlahir ke dunia pada hakikatnya mewujud sebagai selembar bidang kanvas yang bersih, putih, dan kosong. Dalam teori pengondisian klasik dan epistemologi empirisme kebudayaan dikenal dengan istilah “tabula rasa”. Sebuah ruang eksistensial yang murni, belum terjamah oleh noda prasangka, dan terbebas dari rantai pengondisian struktural masyarakat, baik sekuler maupun tradisional. Akan tetapi, dalam realitas sosiologis, kebudayaan kontemporer, dan institusi domestik keluarga, lembaran kanvas kejiwaan yang fitri tersebut jarang dibiarkan berkembang secara organik, suci, dan merdeka. Tangan-tangan orang dewasa di sekeliling sang anak—terutama sekali diwakili figur absolut seorang ayah—sering kali bergegas-gegas penuh ambisi sosial untuk menorehkan garis-garis tebal yang sarat dogma, ekspektasi sosial berlebihan, dan tatanan moral absolut yang wajib dipatuhi tanpa ruang tawar-menawar sedikit pun. Ketika goresan-goresan struktural tersebut dipahat terlampau dalam hingga mengoyak, melukai, dan memberangus kemandirian autentik sang anak, yang tersisa dalam ruang bawah sadar yang paling gelap adalah sebongkah bom waktu psikologis berdaya ledak tinggi yang siap meletup kapan saja ke permukaan realitas sosial.
Dalam konstelasi lanskap sastra kontemporer Indonesia yang dinamis, Eka Kurniawan kembali hadir menggebrak kesadaran para pembaca melalui novel terbarunya yang penuh satire tajam bertajuk Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (2024). Melalui buku setebal 135 halaman yang dikemas apik dengan sampul keras yang provokatif, memikat, sekaligus enigmatis ini, sang penulis yang merupakan alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut jelas tidak sedang berniat menyajikan fabel jenaka bagi anak-anak menjelang tidur. Sebaliknya, dia menyuguhkan alegori surealisme yang pekat, distopia kejiwaan yang getir, dan benturan eksistensial mengenai krisis identitas maskulin remaja laki-laki. Pilihan judulnya yang anomali—sebuah gambaran dunia jungkir balik di mana anjing-anjing justru mengeong, sedangkan kucing-kucing malah menggonggong—menjadi pintu gerbang pertama yang membingungkan sekaligus menantang kita untuk menjelajahi labirin psikis karakter utama remaja bernama Sato Reang.
Sebagai pembaca yang sejauh ini terbiasa disuguhi kemegahan realisme magis khas Eka—gaya kepengarangan yang oleh para pengamat sastra internasional kerap dijajarkan dengan bayang-bayang estetika magis Gabriel García Márquez—kita langsung dihadapkan pada pola benturan profanitas yang menghentak sejak lembar-lembar awal. Karakter Sato Reang dihadirkan bukan sebagai pahlawan romantis, melainkan sebagai produk representasi dari fenomena overcontrol domestik dan tiranisasi pengasuhan keluarga tradisional. Sejak sang tokoh menginjak fase usia krusial tujuh tahun, sang ayah telah menanamkan pasak besi berupa dogma kaku “anak saleh” langsung ke dalam tempurung kepalanya. Segala gerak-gerik ragawi, desah napas, perilaku motorik, hingga lintasan pikiran terdalam Sato Reang harus tunduk secara mutlak pada sistem kontrol moralitas religius yang rigid, mekanis, dan menindas.
Namun, pada kenyataannya, eksistensi manusia bukanlah mesin mekanis atau robot biologis yang dapat diprogram secara linier, deterministik, dan searah oleh lingkungannya. Melalui psikoanalisis klasik Sigmund Freud, kita dapat melihat dengan benderang, runtut, dan jernih bagaimana segenap struktur kepribadian dalam diri Sato Reang—yang secara dinamis terbagi ke dalam wilayah id, ego, dan superego—mengalami proses keretakan hebat, fragmentasi kejiwaan akut, alienasi diri, hingga pada akhirnya bermuara pada katarsis berupa pemberontakan radikal yang destruktif, anarkis, sekaligus tragis pasca-kematian sang ayah.
Penjara Superego dan Trauma Ketukan Pintu
Untuk memahami secara komprehensif dan mendalam mengenai penyebab mengapa karakter Sato Reang di paruh akhir cerita bertindak sedemikian ekstrem, liar, dan amoral, kita wajib melacak kembali jalinan kronologis mengenai bagaimana struktur superego dalam lanskap kejiwaannya dibangun secara paksa melalui kekerasan simbolis-domestik. Dalam psikoanalisis klasik Freud, superego dipahami sebagai sistem kepribadian yang bertindak sebagai agen moral internal, sebuah representasi batin dari nilai-nilai tradisional, cita-cita ideal, kode etik, dan norma-norma kemasyarakatan yang ditanamkan secara intensif kepada individu melalui proses sosialisasi oleh figur-figur otoritas utama, terutama orang tua. Superego ini beroperasi secara konstan sebagai polisi internal, sebuah suara hati yang tidak pernah tidur dan bertugas menghukum sistem kesadaran ego dengan memproduksi rasa bersalah, kecemasan moral, serta perasaan berdosa mendalam apabila terjadi riak-riak pelanggaran terhadap hukum dan aturan kebudayaan yang berlaku.
Pada fase awal hingga menjelang pertengahan narasi, pembaca secara konstan disuguhi potret dominasi absolut dari struktur superego bentukan sang ayah yang luar biasa menekan, menginvasi, dan menghegemoni seluruh ruang batin Sato Reang. Figur ayah dalam teks ini tidak pernah ditampilkan sebagai sosok pelindung yang penuh kehangatan, kelembutan, atau kasih sayang yang suportif. Sebaliknya, sang ayah menjelma sebagai representasi nyata dari tiran moralitas domestik yang tidak sekadar mengajar atau membimbing, tetapi melakukan kolonisasi total atas ruang kesadaran anak lelakinya. Segala rutinitas peribadatan institusional, prosesi mengaji, dan ritual keagamaan tidak lagi dimaknai atau dirasakan Sato Reang sebagai ruang dialog spiritual yang teduh, intim, dan menenteramkan jiwa. Aktivitas-aktivitas sakral tersebut telah mengalami reduksi makna menjadi sebuah manifestasi paksaan sosial-kultural yang menakutkan, dingin, dan koersif.
Eka melukiskan ketegangan psikis ini secara impresif dan dramatik melalui adegan ikonik yang berulang laksana lingkaran setan: satu ketukan kasar, keras, dan bising pada pintu kamar Sato Reang yang selalu terjadi tepat menjelang fajar menyingsing. Sang ayah digambarkan penuh amarah kedisiplinan, menggedor-gedor pembatas kayu kamar tidur secara bertubi-tubi demi menyeret paksa tubuh mungil Sato Reang yang masih didera kantuk untuk pergi ke masjid demi menunaikan ibadah salat Subuh secara berjemaah. Bagi Sato Reang, bunyi gedoran kayu di waktu fajar tersebut bukan lagi sekadar penanda waktu biologis, melainkan stimulus teror domestik pemicu kecemasan neurotis yang mendalam.
Bagi psike Sato Reang, trauma pengondisian moral yang represif ini bersifat kekal, absolut, dan mengatasi batas-batas eksistensi kematian fisik itu sendiri. Hal ini dibuktikan secara gamblang melalui kalimat kunci yang membekas kuat dalam struktur narasi, sebuah kalimat yang mengekspresikan kedalaman trauma kejiwaan sang tokoh utama: “Bahkan setelah mati, Ayah terus membangunkanku agar aku pergi ke masjid dan sembahyang.” Pernyataan naratif ini jelas bukan sekadar permainan gaya bahasa metafora hiperbolis yang klise atau sekadar bumbu pemanis estetika cerita. Dalam kacamata psikoanalisis, kalimat tersebut merupakan bukti sahih yang menunjukkan bahwa struktur superego religius kaku yang ditanamkan sang ayah telah mengalami proses internalisasi yang sempurna, mengkristal, dan menghunjam kokoh dalam ketaksadaran Sato Reang.
Dengan kata lain, kematian fisik sang ayah di dunia nyata tidak serta-merta membunuh atau melenyapkan otoritas moralnya yang hegemonik. Suara gedoran dan perintah sang ayah kini bertransformasi menjadi satu entitas gaib, polisi batin yang terus-menerus berpatroli tanpa henti dalam labirin ketaksadaran di kepala Sato Reang, mengawasinya dengan mata elang sudut-sudut gelap ingatan masa kecilnya.
Dalam kondisi perkembangan psikologis yang normal dan sehat, struktur superego sejatinya berfungsi secara positif untuk menjaga individu agar tetap berperilaku sesuai koridor sosial. Akan tetapi, ketika superego bertindak terlampau tiranis, menindas, dan menghakimi tanpa pernah memberi ruang yang cukup bagi sistem kesadaran ego untuk bernapas, menimbang, serta mengekspresikan kediriannya secara realistis, yang niscaya terjadi kemudian adalah fenomena alienasi diri atau keterasingan eksistensial yang parah.
Sato Reang pada akhirnya dipaksa secara struktural untuk terus-menerus mengenakan “topeng” atau persona anak saleh. Sebuah identitas sosial yang sepenuhnya terasa asing, palsu, dan berjarak bagi kediriannya yang autentik. Setiap jengkal langkah kaki yang dia ayunkan menuju lantai masjid tidak pernah didasari kerinduan ilahi yang tulus, melainkan dijalankan dengan penuh keterpaksaan sosial. Setiap bait doa dan ayat-ayat suci yang dirapalkan bibirnya hanya sebatas mantra mekanis untuk menolak amarah, hukuman fisik, ataupun rasa bersalah yang diproduksi bayang-bayang sang ayah, bukan refleksi keimanan yang tumbuh dari kesadaran spiritual yang merdeka. Ketegangan psikis yang konstan, penindasan hasrat alamiah, dan represi batin yang menumpuk selama bertahun-tahun inilah yang perlahan-lahan mengumpulkan energi kelam psikis (libido dan dorongan agresi) yang masif di lapisan terdalam struktur jiwanya: id.
Letupan Id dan Logika Jungkir Balik
Ketika bendungan moral dan dinding represi yang dipasang figur tiran sang ayah mulai mengalami retakan-retakan struktural signifikan seiring berjalannya waktu serta bertambahnya usia Sato Reang memasuki fase remaja, dorongan-dorongan instingtif dari ranah id mulai merembes mencari celah-celah kebebasan. Menurut Freud, id merupakan bagian orisinal dan paling purba psike manusia, rahim biologis tempat ego dan superego berkembang. Id berisi segala sesuatu yang diwariskan secara genetis, termasuk insting-insting dasar, nafsu primitif, dorongan seksual, dan impuls agresi yang destruktif. Id beroperasi sepenuhnya berdasarkan prinsip kenikmatan—satu dorongan tak sadar yang selalu menuntut pemuasan dan pemenuhan hasrat secara instan, segera, serta mutlak tanpa memedulikan kaidah logika, tatanan moral, hukum positif, atau segala konsekuensi sosial.
Id dalam konstelasi kejiwaan Sato Reang memanifestasikan dirinya dalam wujud hasrat purba yang menggelegak, keinginan bawah sadar yang liar untuk melakukan pembongkaran radikal dan penghancuran total terhadap seluruh norma yang selama ini memenjarakan dan menjajah eksistensi kehidupannya. Menariknya, Eka menyusun strategi naratif di mana pemberontakan psikis ini tidak dimulai dengan konfrontasi fisik yang dramatis, tetapi dirajut secara subtil melalui pemunculan anomali-anomali perilaku minor keseharian yang terkesan sepele, tetapi sesungguhnya sarat sarkasme, ejekan, dan pembangkangan.
Dengan kesadaran eksistensial, Sato Reang mulai sengaja melanggar satu demi satu tata krama dasar, etika domestik, dan perilaku keseharian yang selama ini dianggap suci, sakral, atau tabu dalam institusi moral keluarga tradisionalnya. Dia mulai berhenti salat, menolak tegas untuk membaca doa-doa sebelum menyantap makanan, sengaja kencing sembarangan di tempat-tempat yang secara normatif dianggap tidak layak, hingga membiasakan diri untuk makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri—satu tindakan yang dalam konvensi kebudayaan ketimuran dipandang sebagai simbol ketidaksopanan. Rangkaian tindakan menyimpang berskala minor ini jika hanya dilihat lewat kacamata sosial mungkin hanya akan dicap sebagai bentuk kenakalan remaja biasa atau sekadar fase pemberontakan pubertas yang lumrah. Akan tetapi, jika dibedah secara psikoanalitis, anomali perilaku ini sesungguhnya merupakan maklumat perang terbuka dari ranah id yang tertindas terhadap dominasi tiranis superego. Sato Reang sedang melakukan eksperimen kejiwaan yang berbahaya; dia sedang menguji batas-atas ketakutan masa kecilnya untuk melihat secara empiris apakah dunia akan runtuh, langit akan terbelah, atau kutukan Tuhan akan langsung jatuh menyambarnya seketika jika melanggar aturan-aturan suci sang ayah.
Fase eksperimen moral yang menantang ini melangkah menuju plot yang lebih kompleks dan menarik ketika Eka memperkenalkan karakter sekunder bernama Jamal ke dalam jalinan cerita. Dalam ruang sosial seperti lingkungan sekolah dan masjid, Jamal dihadirkan bukan sebagai karakter tempelan, melainkan simbol sekunder dari struktur pengawasan moral kolektif. Jamal adalah representasi nyata dari sosok anak yang lurus, saleh secara normatif, dan patuh terhadap segala tatanan nilai kebudayaan—satu potret ideal mengenai apa yang seharusnya disandang Sato Reang apabila memilih bertekuk lutut di bawah doktrin tiran ayahnya.
Sato Reang, yang mulai didera rasa penasaran eksistensial akut dan dorongan bawah sadar untuk meruntuhkan kekokohan tatanan nilai di sekelilingnya, kemudian mulai melancarkan hasutan-hasutan verbal yang subtil kepada Jamal untuk mengajaknya bersama-sama mencicipi kenikmatan dosa-dosa kecil. Di sinilah dinamika pertempuran psikis id, ego, dan superego dalam diri Sato Reang memunculkan barisan dialog yang dikemas dengan gaya satire dan humor gelap yang kental, getir, sekaligus menggelitik kesadaran pembaca.
Sato merayu dan menghasut sahabatnya, Jamal, dengan menggunakan proposisi teologis yang absurd sekaligus mencengangkan: “Berbuatlah sedikit dosa, Jamal. Pahalamu sudah banyak. Bertumpuk-tumpuk.” Di permukaan teks, untaian kalimat satire ini terdengar sebagai sebuah candaan nakal remaja. Akan tetapi, apabila kita membedahnya lebih dalam dengan pisau psikoanalisis, kalimat tersebut sesungguhnya mencerminkan potret bekerjanya struktur ego Sato Reang yang telah mengalami distorsi, pembelahan, dan pergeseran fungsi secara masif.
Struktur ego yang dalam konsep dasar Freud seharusnya bertindak sebagai agen penengah yang rasional, objektif, dan realistis yang bertugas menyelaraskan tuntutan buta id dengan sensor moral superego serta tuntutan dunia nyata, dalam fragmen ini justru telah bertekuk lutut menjadi pelayan setia, tameng, dan pengacara bagi impuls-impuls liar id. Sato Reang memanfaatkan fungsi kognitif inteleknya bukan untuk menegakkan moral, melainkan untuk menyusun strategi mekanisme defensi yang dikenal dengan istilah “rasionalisasi”. Rasionalisasi sendiri adalah strategi psikologis bawah sadar di mana individu berupaya menciptakan alasan-alasan logis, pembenaran intelektual, atau argumen-argumen semu yang tampak rasional dan dapat diterima secara sosial demi membenarkan perilaku keliru, menyimpang, atau amoral, sehingga terhindar dari hantaman rasa bersalah ataupun kecemasan neurotis.
Sato Reang dengan cerdik menciptakan sebuah konstruksi teologi komparatif-matematisnya sendiri yang cacat, menyimpang, dan sesat secara dogma keagamaan, tetapi terbukti sangat fungsional, pragmatis, dan memuaskan bagi pemenuhan kebutuhan batinnya yang dahaga akan pemberontakan. Dengan membangun asumsi logis bahwa tabungan pahala dalam diri Jamal sudah melimpah ruah akibat kesalehannya, Sato Reang menciptakan sebuah pembenaran bahwa goresan dari satu atau dua dosa kecil tidak akan pernah sanggup mengikis habis seluruh investasi surgawi sahabatnya tersebut.
Logika jungkir balik ini pada hakikatnya adalah cara licin yang digunakan ego Sato Reang untuk meredakan ketegangan dan kecemasan internal dalam jiwanya sendiri. Melalui rayuan verbal tersebut, Sato Reang sesungguhnya tidak sekadar menghasut Jamal sebagai objek eksternal; dia sedang berdialog dengan bayang-bayang ketakutan batinnya sendiri. Dia ingin membuktikan secara empiris kepada kediriannya—dan terutama kepada bayang-bayang sang ayah yang terus berpatroli di kepalanya—bahwa struktur moral dunia nyata ternyata tidaklah sekaku, seseram, dan seluas yang didoktrinkan selama ini, serta bahwa jagat raya yang mahaluas ini tidak akan pernah runtuh hanya karena satu pelanggaran moral kecil.
Kematian Otoritas dan Katarsis di Ujung Alur
Titik balik psikologis terbesar, paling dramatis, sekaligus radikal yang menggerakkan paruh kedua alur Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong ini mewujud pada peristiwa kematian tragis ayah Sato Reang. Dalam struktur jalinan narasi sastra konvensional yang bercorak moralistik-didaktik, hilangnya sang tiran domestik atau figur otoritas utama yang selama bertahun-tahun bertindak menindas, mengekang, dan menjajah kehidupan karakter utama semestinya akan membawa resolusi cerita yang melegakan, membahagiakan, serta penuh kedamaian—satu akhir bahagia di mana sang anak akhirnya dapat menghirup udara bebas, menjalani hidup dengan normal, dan menemukan ketenteraman jiwanya kembali. Akan tetapi, Eka bukan penulis cerita populer yang naif dan terjebak pada pakem moral hitam putih. Sebagai sastrawan yang memiliki latar belakang pendidikan formal filsafat Barat dan akrab dengan kompleksitas eksistensialisme serta dinamika psikoanalisis, Eka barangkali memahami kebenaran psikologis yang kelam bahwa rantai opresi, represi, dan penindasan kejiwaan yang dipasang dengan ketat selama bertahun-tahun tiba-tiba diputus paksa secara mendadak oleh peristiwa kematian fisik tidak akan pernah melahirkan kedamaian organik, tetapi menghasilkan sebuah disorientasi nilai yang parah, kekosongan eksistensial yang mengerikan, serta kekacauan perilaku yang destruktif.
Ketika sang ayah mengembuskan napas terakhirnya dan terkubur dalam tanah, struktur superego religius kaku yang selama ini bertindak mengontrol batin Sato Reang secara otomatis kehilangan jangkar realitas fisiknya di dunia nyata. Kini, tidak ada lagi sosok kekar yang nyata yang akan mendatangi dan menggedor-gedor pintu kamarnya dengan kemarahan di waktu Subuh; tidak ada lagi mata elang yang tajam yang akan menatapnya dengan pandangan menghakimi di teras masjid; tidak ada lagi tangan bapak yang akan menjatuhkan hukuman fisik jika dia mengabaikan bait doa.
Namun, hilangnya kehadiran fisik sang ayah secara ironis justru membuat bendungan represi kejiwaan yang selama ini menyimpan rapat-rapat segala energi kelam di alam bawah sadar Sato Reang meledak tanpa ada lagi dinding pembatas normatif yang mampu menahannya. Apa yang kemudian tersaji di hadapan pembaca pada bagian akhir novel (terutama berkisar dari halaman 90 hingga 133) adalah satu manifesto mengerikan mengenai kemenangan total, mutlak, dan brutal dari sistem kepribadian id atas ranah ego serta superego. Sato Reang meluncur bebas tanpa rem ke dalam jurang degradasi moral, keliaran perilaku, serta anarkisme yang ekstrem. Dia tidak sekadar berhenti total dari segala bentuk ritual peribadatan; dia menerobos batas kriminalitas dengan menenggak minuman keras hingga mabuk berat, melakukan serangkaian aksi vandalisme di ruang publik, hingga mencapai puncaknya pada dua tindakan anarkistis yang radikal dan sarat simbolisme bawah sadar: membakar gedung bioskop hingga luluh lantak oleh api dan sengaja mengencingi apel.
Sebagai kritikus sastra, bagaimana kita mampu menjelaskan rangkaian tindakan yang terkesan gila, irasional, amoral, dan tanpa motif yang jelas ini? Freud menawarkan satu konsep penjelas yang dinamakan pelepasan energi psikis terpendam akibat proses represi bertahun-tahun (repressed resistance atau abreaction). Ketika energi emosional negatif yang intens—seperti kemarahan yang membara, ketakutan yang mencekam, dendam yang mengkristal, dan rasa tertekan yang hebat—ditekan terlampau dalam ke dalam lapisan alam bawah sadar tanpa pernah diberi sublimasi yang sehat dan edukatif, energi tersebut tidak akan pernah menguap begitu saja. Energi kelam itu akan memadat, membusuk, berlipat ganda, dan pada akhirnya bertransformasi menjadi daya destruktif anarkis yang dahsyat, menunggu momen benteng kesadaran untuk meledak.
Tindakan Sato Reang membakar gedung bioskop setempat dapat dijelaskan secara psikologis melalui mekanisme pertahanan diri yang bernama displacement atau pengalihan objek. Mekanisme displacement terjadi apabila seseorang mengalihkan dorongan instingtif atau emosi negatif yang intens (seperti kemarahan, agresi, dan dendam) dari objek asli yang menjadi pemicu utama kepada objek eksternal yang dirasa lebih aman, lebih memungkinkan, atau lebih rentan, sebab objek asli tidak dapat dijangkau atau diserang. Sato Reang menyimpan dendam dan kebencian besar terhadap figur ayahnya, tetapi sang ayah kini telah mati dan terkubur dalam tanah—menjadi objek yang mustahil diserang secara fisik di dunia nyata. Kemarahan kolektif yang kehilangan sasaran itu kemudian dialihkan oleh ego Sato Reang yang rusak kepada gedung bioskop—sebuah institusi budaya, ruang publik sekuler, serta simbol tatanan modern dan ketertiban sosial. Gedung bioskop tersebut dihancurkan dengan kobaran api sebagai bentuk sublimasi negatif atas hasratnya yang terpendam untuk menghancurkan otoritas sang ayah.
Sementara itu, aksi provokatif Sato Reang yang membuka celana dan mengencingi apel membawa simbolisme bawah sadar yang tidak kalah pekat serta mengejutkan. Dalam lanskap mitologi dunia dan teologi agama-agama Abrahamik, apel kerap kali diletakkan pada posisi terhormat sebagai simbol universal yang mewakili pengetahuan, buah kejatuhan awal manusia ke dalam dosa, atau lambang kemurnian, kesucian, serta fitrah eksistensi manusia. Ketika Sato Reang memutuskan untuk melakukan tindakan profanitas ekstrem dengan mengencingi apel, aksi itu sesungguhnya merupakan sebuah proklamasi eksistensial yang disengaja. Sato Reang sedang melakukan tindakan penistaan simbolis yang radikal terhadap segala hal yang selama ini dianggap suci, murni, bernilai luhur, dan sakral oleh sistem moral religius ayahnya. Mengencingi apel adalah cara terselubung dari alam bawah sadar Sato untuk memproklamasikan kepada semesta—dan terutama kepada bayang-bayang ayahnya yang mengawasinya dari alam barzakh—bahwa dirinya telah sepenuhnya memutus hubungan, mengoyak, dan keluar dari tatanan nilai yang sakral. Dia tidak takut lagi pada dosa, dia tidak peduli lagi pada definisi kesucian, dan dia telah siap menjadi manusia yang sepenuhnya bebas dalam amoralitasnya yang sunyi.
Di bawah langit malam yang diterangi kobaran api bioskop yang membara, Sato Reang sesungguhnya tidak sedang mencari kesenangan profan. Dia sedang melakukan ritual katarsis yang akbar. Dia sedang memuntahkan seluruh racun dogma yang pernah dicekokkan secara paksa ke dalam kepalanya sejak berusia tujuh tahun. Melalui tindakan anarkis destruktif tersebut, dia merasakan ilusi kemerdekaan batin absolut; satu momen magis di mana dia merasa benar-benar memegang kendali penuh atas tubuh, pilihan tindakan, dan takdir kehidupannya sendiri, terbebas dari bayang-bayang teror ketukan pintu kamar oleh sang ayah di waktu Subuh.
Fragmentasi Jiwa
Dampak paling tragis, mengenaskan, sekaligus memilukan dari pertempuran sengit yang tidak seimbang antarstruktur kepribadian dalam diri Sato Reang pada kenyataannya bukan terletak pada kerusakan fisik bangunan gedung bioskop yang terbakar atau sampah botol-botol minuman keras yang berserakan di jalanan. Dampak terjahatnya mewujud pada runtuhnya arsitektur psikis, hancurnya integritas kepribadian, dan keretakan mental dalam diri Sato Reang sendiri sebagai seorang manusia. Sepanjang jalinan narasi yang bergerak cepat dan sarkastik, Eka dengan brilian, tajam, serta tanpa tedeng aling-aling mengeksplorasi fenomena krisis identitas akut serta kemunculan fenomena “diri ganda” atau kepribadian terbelah pada tokoh utama. Sato Reang secara konstan dikisahkan mengalami keterbelahan kesadaran batin yang ekstrem, sebuah kondisi patologis yang berbatasan langsung dengan gejala split ego atau pembelahan ego.
Sato Reang sering kali meracau dalam kesendiriannya, merasa asing, terkejut, dan tidak mengenali lagi tubuh serta tindakan ragawinya sendiri. Muncul sebuah dualitas kesadaran yang mengerikan dalam dirinya, sebuah kondisi keterbelahan jiwa yang diekspresikan secara apik melalui kalimat reflektif yang kerap dia ucapkan: “Kadang aku, kadang Sato Reang.”
Di titik krusial inilah kita sedang menyaksikan terjadinya fenomena alienasi diri atau keterasingan eksistensial mendalam. Subjek kata ganti “aku” dalam kalimat tersebut mewakili ranah kesadaran yang liar, insting purba yang otentik, dan dorongan-dorongan bebas dari sistem id yang menuntut kemerdekaan absolut tanpa batas moral. Sementara itu, objek nama diri “Sato Reang” adalah satu konstruk sosial, satu wadah kedagingan yang selama bertahun-tahun telah diamati, dihakimi, dinilai, dan dibentuk secara paksa oleh ekspektasi moral tiranis sang ayah serta pandangan normatif.
Ketika Sato Reang melakukan tindakan-tindakan menyimpang, maksiat, dan amoral—seperti menenggak miras atau melakukan perusakan—struktur kesadaran ego-nya melakukan tindakan pemisahan protektif yang radikal seolah-olah subjek “aku” yang liar sedang berdiri di kejauhan, menonton serta mengamati dari jarak aman sebuah tubuh objek bernama “Sato Reang” yang sedang berkubang kemaksiatan. Pemisahan diri atau disosiasi kejiwaan ini merupakan mekanisme defensi yang sesungguhnya teramat rapuh, yang dilakukan oleh jiwanya yang telah compang-camping demi melindungi sisa-sisa kewarasannya yang terakhir. Sato Reang pada hakikatnya tidak sanggup menanggung beban rasa bersalah yang terlampau besar atau kecemasan moral yang menghancurkan jika harus mengakui secara utuh dalam satu kesadaran tunggal yang jernih bahwa dirinya telah menjelma sosok manusia yang sepenuhnya rusak, jahat, dan amoral. Dengan membelah kepribadiannya menjadi subjek yang mengamati dan objek yang diamati, dia berupaya melarikan diri dari tanggung jawab moral, melepaskan rasa berdosa dari jiwanya yang rapuh, serta menciptakan benteng eskapisme psikologis.
Kondisi psikologis Sato Reang yang hancur berantakan dan terfragmentasi di akhir novel ini menjadi satu bukti sahih mengenai kegagalan fatal dari model pola asuh anak yang menerapkan sistem overcontrol dan otoritarianisme religius yang kaku dalam institusi keluarga. Pola asuh yang opresif, militeristik, dan hanya mengandalkan paksaan fisik serta teror psikologis tidak akan pernah berhasil melahirkan manusia yang saleh, bermoral, dan bajik secara autentik. Pendekatan tiranis seperti itu hanya akan subur melahirkan individu-individu munafik yang pandai mengenakan topeng kepatuhan, sedangkan di ruang gelap alam bawah sadarnya tersimpan rapat sebuah bom waktu psikologis berupa neurosis akut dan disorientasi nilai yang parah.
Seorang anak yang dibesarkan di bawah bayang-bayang ancaman hukuman, bentakan, dan ketakutan tidak akan pernah memiliki kesempatan psikologis yang sehat untuk menginternalisasi nilai-nilai kebaikan, etika, dan spiritual melalui proses pemahaman yang rasional, dialogis, serta penuh cinta. Akibatnya, ketika figur pengawas eksternal yang tiranis itu tiba-tiba runtuh, tiada, atau mati, sang anak akan mengalami kebutaan moral seketika, kehilangan navigasi eksistensialnya, dan terombang-ambing di antara keinginan purba menjadi diri yang bebas (real self) atau terus berpura-pura memakai topeng diri ideal menurut kehendak orang tua (ideal self). Mereka rentan jatuh ke dalam tindakan eksplorasi diri yang ekstrem, merusak, dan anarkistis sebagai bentuk balas dendam psikologis atas ruang kebebasan masa kecil yang telah diinvasi secara semena-mena.
Metafora Alam Bawah Sadar dan Batas Estetika
Gaya surealisme yang diusung secara berani oleh Eka di sepanjang plot novel ini tentu saja bukanlah sebuah eksperimen estetika tanpa makna filosofis. Dalam tradisi kritik sastra psikoanalitik yang mapan, elemen-elemen absurd, anomali, dan sureal yang berseliweran dalam jalinan narasi dapat diperlakukan dan dibedah layaknya simbol-simbol metaforis yang muncul dalam fenomena mimpi manusia. Simbol-simbol absurd tersebut merupakan bentuk perwujudan konkret dari jajaran hasrat, keinginan terlarang, ketakutan neurotis, dan dorongan-dorongan terpendam yang disensor kesadaran di dunia empiris, sehingga mereka hanya mampu merembes ke permukaan teks dalam bentuk kode-kode metafora yang enigmatis.
Mari kita membedah secara kritis metafora utama yang dipajang pengarang pada judul novel ini: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong. Jika ditinjau dari kacamata biologi, hukum alam, dan realitas empiris, judul novel ini jelas merupakan bentuk kemustahilan ilmiah yang konyol, absurd, serta tidak logis. Akan tetapi, dalam semesta psikis dan lanskap alam bawah sadar Sato Reang, judul anomali tersebut mewujud sebagai satu refleksi visual yang akurat, presisi, serta jujur mengenai kondisi jiwanya yang telah mengalami jungkir balik. Karakter anjing dan kucing dalam teks cerita dapat dibaca sebagai simbol dari benturan insting-insting liar, agresi primitif, sekaligus ketakutan-ketakutan neurotis yang bersemayam di ranah ketaksadaran sang tokoh utama. Ketika fungsi-fungsi vokal alamiah dari kedua hewan tersebut tertukar secara radikal—anjing yang semestinya menggonggong justru mengeong dan kucing yang seharusnya mengeong malah menggonggong—Eka sesungguhnya sedang memberikan sebuah kode estetik kepada pembaca mengenai kondisi batin Sato Reang yang telah mengalami anomali struktural yang parah. Sistem navigasi moral, logika berpikir rasional, dan tata nilai dalam diri Sato Reang telah mengalami kerusakan total; garis pembatas yang kokoh antara apa yang benar dan yang salah, terpuji dan tercela, suci dan profan, kini kabur, cair, lebur, serta bertukar rupa di bawah tekanan trauma domestik masa kecilnya.
Simbolisme naratif lain yang tidak kalah kuat dan mencengangkan dalam novel ini adalah pencarian konstan dan obsesif Sato Reang terhadap apa yang dia namakan “hukuman Tuhan”. Sepanjang petualangan kemaksiatan dan aksi destruktif yang dia lakukan di paruh akhir cerita, di sudut terdalam jiwanya yang paling sunyi, Sato Reang sesungguhnya terus-menerus didera ketakutan neurotis yang hebat. Dia dikisahkan kerap kali menatap langit malam, menunggu dengan penuh kecemasan bercampur rasa penasaran, berharap ada sekelebat petir yang menyambar tubuhnya atau bumi yang tiba-tiba terbelah untuk menelan eksistensinya sebagai konsekuensi metafisik instan atas segala dosa dan pelanggaran moral yang telah dia perbuat.
Namun, ketika realitas fisik-empiris membuktikan secara dingin bahwa “tidak adanya hukuman Tuhan” yang bersifat instan itu terjadi di dunia nyata—ketika langit tetap membisu, matahari tetap terbit tepat waktu di ufuk timur, serta tidak ada bencana gaib yang menghancurkan tubuhnya—terjadi satu benturan kognitif dan eksistensial yang dahsyat dalam diri Sato Reang. Ketiadaan hukuman langsung dari langit ini bukannya membawa kelegaan psikologis atau kedamaian batin bagi dirinya; sebaliknya, hal tersebut justru memperparah krisis eksistensial dan keterasingan jiwanya ke titik nadir. Sato merasa kehilangan kompas hukum universal yang absolut. Jika tidak ada hukuman langsung yang empiris dari Tuhan atas sebuah kemaksiatan, hal itu membuktikan bahwa dogma ketakutan yang ditanamkan oleh ayahnya selama ini tidak memiliki sanksi nyata di dunia empiris; jika aturan moral itu terbukti tidak nyata, dinding pembatas dunia telah runtuh sepenuhnya.
Kebebasan mutlak yang kini digenggam Sato Reang secara tragis berubah wujud menjadi ruang hampa udara yang luas, dingin, menakutkan, nihil, dan absurd. Di sinilah letak ironi eksistensial terbesar karakter Sato Reang: Di tengah kebebasan amoralnya yang anarkistis, dia justru merindukan satu tangisan bebas yang mendalam—satu tangisan yang merepresentasikan bentuk represi emosi yang begitu pekat, satu jeritan minta tolong bawah sadar seorang anak remaja yang tersesat dalam rimba kebebasannya sendiri dan merindukan hadirnya batas-batas moral yang sehat serta penuh cinta untuk menyelamatkan jiwanya dari kehancuran total.
Keberanian Simbolis atau Ambiguitas yang Berjarak?
Sebagai sebuah tulisan yang bercorak kritik sastra objektif dan komprehensif, tentu tidaklah adil dan tidak proporsional apabila kita hanya melancarkan pujian teoretis terhadap kedalaman dimensi psikologis tokoh cerita tanpa bersedia menelisik secara kritis, jeli, dan ketat mengenai struktur kepengarangan, teknik estetika, serta dampak kultural yang ditimbulkan oleh
teks novel ini terhadap khalayak pembaca secara luas. Novel Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong harus kita akui secara jujur memiliki tingkat orisinalitas tematis yang sangat tinggi dan keberanian konseptual yang patut diberikan apresiasi dalam jagat kesusastraan nasional. Eka dengan sangat piawai, tajam, dan menggunakan satire yang dingin berhasil membongkar sisi gelap fenomena komodifikasi religiositas domestik serta bahaya laten pola asuh otoriter yang mengabaikan kesehatan mental anak. Karakter Sato Reang telah berhasil dikonstruksi secara apik sebagai sebuah simbol kompleks yang relevan untuk merefleksikan fenomena krisis identitas remaja laki-laki di era modern.
Satire, humor gelap, danstruktur narasi yang nonlinier serta penuh kejutan alur menjadi senjata estetika utama Eka dalam memikat pembaca. Narasi cerita bergerak lincah, dinamis, melompat dari satu fragmen memori kelam masa kecil ke fragmen pemberontakan anarkistis masa remaja dengan ritme ketegangan yang terjaga rapi. Pemilihan sudut pandang internal yang berfokus pada isi kepala Sato Reang yang bising dan kacau berhasil memberikan satu pengalaman membaca yang intim, mencekam, sekaligus menggugah kesadaran.
Namun demikian, di balik segala kejeniusan teknis dan kemegahan estetika tersebut, novel ini sesungguhnya menyimpan satu kelemahan potensial yang cukup riskan dan fundamental pada tataran komunikasi sastra. Pendekatan estetika Eka yang condong pada absurditas yang ekstrem, surealisme yang pekat, dan simbolisme yang rumit di sepanjang alur cerita berpotensi menciptakan “jarak estetika” yang lebar, dingin, dan membingungkan antara teks novel dengan khalayak pembaca awam. Banyaknya metafora anomalis yang berseliweran tanpa jangkar realitas yang membumi membuat pesan sosial, refleksi filosofis, serta muatan moral dari novel ini menjadi kabur, multitafsir, dan ambigu.
Muncul sebuah kekhawatiran sosiologis yang memiliki dasar teoretis yang beralasan: Tanpa adanya penegasan mengenai konsekuensi psikologis yang tragis atau resolusi naratif yang benderang di akhir plot, rangkaian perilaku menyimpang, amoral, vandalisme, dan tindakan anarki murni yang dilakukan secara heroik oleh tokoh Sato Reang dapat memicu terjadinya salah tafsir oleh lapisan pembaca tertentu. Khususnya, risiko ini mengintai kalangan pembaca usia muda yang kebetulan sedang berada di fase pencarian jati diri. Mereka dapat membaca teks ini sebagai satu bentuk glorifikasi, perayaan, dan pembenaran estetis terhadap kebebasan mutlak yang destruktif serta amoral, alih-alih mampu melihat dan mengkritisi rangkaian tindakan Sato Reang tersebut sebagai satu potret tragedi kehancuran kejiwaan yang memilukan akibat trauma masa kecil.
Di samping itu, beberapa jalinan fragmen cerita di pertengahan menuju akhir novel juga terasa agak “sengaja dipaksakan menjadi aneh dan eksentrik” semata-mata demi mempertahankan label surealisme posmodern yang disandang sang pengarang. Akibatnya, pada momen-momen emosional tertentu yang semestinya krusial, daya pukul emosional dan kedalaman empati kemanusiaan dari konflik batin tokoh utama justru menguap begitu saja, digantikan oleh rasa bingung dan jengkel pembaca atas logika dunia cerita yang terlampau eksperimental dan artifisial.
Novel terbaru Eka ini tampaknya akan jauh lebih efektif, bertenaga, dan bergema kuat apabila ditempatkan, dibahas, dan dinikmati dalam ruang-ruang akademik yang ketat, atau oleh kalangan penikmat sastra serius yang telah memiliki alat interpretasi kritis tingkat tinggi. Sementara itu, bagi kalangan pembaca populer yang mengharapkan jalinan cerita yang membumi, menyentuh kalbu, dan membawa pesan moral yang benderang, karya fiksi ini mungkin hanya akan terasa mengesankan, eksentrik, serta memikat di permukaan luarnya saja, tetapi belum sepenuhnya mampu menggigit, mengakar, dan memberikan kepuasan batin di kedalaman maknanya.
Eskapisme dan Krisis Eksistensial Posmodern
Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong pada hakikatnya mewujud sebagai potret buram, kelam, sekaligus tajam mengenai bagaimana institusi moral domestik dan pola asuh otoriter orang tua yang salah arah dapat menghancurkan arsitektur psikis serta integritas mental seorang anak manusia secara permanen. Lewat petualangan kejiwaan yang jungkir balik, absurd, dan getir Sato Reang, kita laksana diingatkan kembali secara keras olehFreud bahwa masa kecil seorang anak manusia bukanlah satu fase perkembangan biologis yang dapat dilewati begitu saja secara sepele tanpa meninggalkan bekas-bekas psikis yang mendalam. Setiap bentuk tekanan struktural, setiap bentakan amarah, setiap teror psikis, dan setiap doktrin keagamaan yang dipaksakan secara tiranis tanpa kesadaran cinta, akan menetap, mengkristal, dan mengakar dalam ketaksadaran, membentuk jalinan labirin rumit yang akan mendikte secara kejam mengenai siapa diri kita, bagaimana kita berperilaku, dan bagaimana kita merespons realitas di masa depan.
Karakter Sato Reang dalam novel ini berdiri tegak sebagai seorang martir budaya sekaligus korban tragis sebuah eskalasi perang dingin kejiwaan yang berkecamuk antara hasrat purba instingtual manusia untuk merdeka, bebas, dan mencari kenikmatan (id) dengan benteng pertahanan moral rigid bentukan institusi masyarakat tradisional (superego). Ketika kesadaran ego mengalami kegagalan fatal untuk menjalankan fungsinya yang sehat sebagai jembatan realitas yang objektif dan rasional, yang tersisa dalam diri manusia hanyalah tindakan anarkis, kriminalitas, fragmentasi jiwa, keterbelahan kepribadian, serta pencarian identitas eksistensial yang tragis dan tak pernah menemukan muaranya.
Dengan segala kompleksitas estetika postmodernisme, satire yang memikat, humor gelap yang getir, dan surealismenya yang anomali, novel ini harus diakui telah berhasil memperkuat kembali posisi tawar kepengarangan Eka Kurniawan sebagai salah satu begawan sastra kontemporer Indonesia terkemuka yang paling konsisten dan berani dalam menantang batas-batas konvensi narasi tradisional. Akan tetapi, di saat yang bersamaan, karya fiksi ini juga memberi kita sebuah ruang cermin raksasa yang mahaluas sehingga kita bisa berkaca secara jujur di depannya sebagai sebuah bangsa dan institusi keluarga: sudahkah kita mendidik, membesarkan, dan memanusiakan anak-anak kita dengan pendekatan penuh cinta, keterbukaan dialogis, dan kehangatan yang sehat? Ataukah tanpa disadari, kita sesungguhnya sedang sibuk menanam bom waktu kejiwaan dan menciptakan monster-monster anarkistis masa depan yang telah siap memegang korek api untuk membakar bioskop-bioskop peradaban kemanusiaan kita sendiri? Sebuah pertanyaan kritis yang monumental, yang ditinggalkan oleh Eka Kurniawan di atas meja baca kita, menunggu untuk dijawab oleh kesadaran kita masing-masing.

Nurul Astna
Nurul Astna adalah mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta asal Bantul, kelahiran 12 Juli 2005. Di samping mendalami dunia literatur dan kebahasaan, dia memiliki ketertarikan mendalam terhadap industri penyiaran. Baginya, menggabungkan kekuatan bahasa dan dunia penyiaran adalah sebuah ruang kreatif yang luar biasa. Ia dapat dihubungi melalui surel nurulastna12@gmail.com.

