Seni Bercerita Nona Koelit Koetjing

Barat. Sebuah pengaruh yang mungkin tak bisa disangkal oleh kebanyakan orang—atau ditolak dengan malu-malu. Kesusastraan Barat inilah yang mula-mula menjadi kiblat para pengarang peranakan Tionghoa Hokkian di Hindia, wabilkhusus dalam penulisan prosa fiksi.

Di akhir abad ke-19, para pengarang bumiputra telah mengenal cerita-cerita klasik—untuk tidak berkata “populer”—yang telah lama masyhur di Barat. Kala itu, istilah “novel” atau “cerpen” belumlah digunakan. Menurut Jakob Sumardjo dalam Kesusastraan Melayu Rendah: Masa Awal (2004), istilah “cerpen” baru digunakan pada 1936. Sebelum itu, orang-orang dan para pengarang Hindia yang didominasi keturunan Tionghoa Hokkian menyebut “hikajat” atau “tjerita”, baik untuk novel maupun cerpen (106).

Model-model cerpen dari masa sebelum tahun 1930-an, misalnya, dapat kita baca dalam himpunan cerita Nona Koelit Koetjing: Antologi Cerita Pendek Indonesia Periode Awal (1870-an1910-an) (2005) yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa sebagai produk program Penelitian Sejarah Sastra Indonesia sejak tahun 1993. Kolofon cerita-cerita dalam antologi tersebut berkisar pada 1873–1914.

Cerita-cerita dalam Nona Koelit Koetjing akan dipertanyakan orisinalitasnya jika pembaca mengamini apa yang dikemukakan Sumardjo bahwa genre cerpen “asli” Indonesia ditandai oleh hadirnya cerita-cerita yang berkisah tentang masyarakat bumiputra itu sendiri, seperti Nyai Dasima karya pengarang Indo, G. Francis, pada 1896. Pada tahun yang sama, terbit Tiga Tjerita yang diklaim Claudine Salmon (dalam Sumardjo 106) sebagai karya penulis anonim peranakan Tionghoa yang diterbitkan Tjoe Toei Jang di Batavia. Tentu, tulisan ini tidak akan membahas kedua karya tersebut dan lebih memilih membidik cerita-cerita dalam Nona Koelit Koetjing.

Dalam bagian pendahuluan Nona Koelit Koetjing, Jakob Sumardjo (dalam Budianta 10) berkata bahwa

cerpen-cerpen Melayu Cina yang bertebaran kala itu banyak—jika bukan dominan—berangkat dari laporan-laporan kriminal dan berita-berita lainnya. Dan mungkin, ide cerita-cerita pendek dalam bunga rampai ini berangkat dari berita-berita tersebut. Maka, dengan mengadopsi faktualitas jurnalistik, cerpen-cerpen tersebut berwatak realis.Dalam Politik dan Poetik (17), Faruk memberi latar motif pada argumen Budianta bahwa perkembangan karya sastra Indonesia memang dipengaruhi ledakan politik sekaligus perkembangan media cetak.

Di samping diangkat dari laporan-laporan kriminal, problem dalam cerpen-cerpen yang ditulis pada masa ini juga diadopsi, jika bukan menyadur, dari dongeng-dongeng Eropa, katakanlah “Cinderella” (Budianta 17). Plot dan penokohan cerpen “Nona Koelit Koetjing”, misalnya, memiliki keserupaan karakter dan alur dengan dongeng “Cinderella”. Cerpen yang dianggit Touchstone tersebut sebelumnya pernah terbit di majalah Penghiboer pada 1914.

Perbedaan “Cinderella” dengan “Nona Koelit Koetjing” terletak pada bagaimana identitas tokoh utamanya dibangun. Jika protagonis “Cinderella” adalah gadis yang tidak dikehendaki oleh ibu tirinya, dalam “Nona Koelit Koetjing”, tokoh utamanya diperankan seorang gadis yang tak diinginkan sang ayah. Jika tokoh utama “Cinderella” bergegas pulang dari sebuah pesta tepat pukul dua belas malam, si nona kulit kucing “berlalu dari itu pesta dengen terburu-buru dan kombali ka utan buat simpen ia punya baju yang bagus; kamudian ia pake pula itu baju dari bulu kucing” (hlm. 179). Jika “Cinderella” ditutup dengan kisah sang pangeran yang menemukan cinta sejati, cerpen “Nona Koelit Koetjing” tidak diakhiri oleh pernikahan si tokoh utama dengan lelaki hartawan. Cerita masih berlanjut ketika ibu mertua sekaligus majikannya belum sepenuh hati menerima gadis kulit kucing yang beridentitas tidak jelas. Oleh karena itu, setelah dinikahi pria hartawan, si gadis berusaha menelusuri bibit-bebet-bobot identitasnya sendiri. Akhirnya, cerita dipungkasi oleh bertemunya si gadis dengan keluarganya yang ternyata terpandang.

Melihat keserupaan yang nyaris sempurna itu, patutlah kita meragukan keorisinalan “Nona Koelit Koetjing”.

Akan tetapi, pada masa itu, tampaknya orisinalitas bukan hal penting, bahkan bisa jadi sama sekali tak penting. Yang penting ialah bagaimana “pengarang” mengolah kisah tersebut semeyakinkan mungkin.

Dari awal hingga akhir, “Nona Koelit Koetjing” tampak benar-benar memperhatikan kronologi dan, tentu saja, aspek didaktis, laiknya karya-karya peranakan Tionghoa saat itu. Perhatian terhadap aspek kronologis tersebut menunjukkan watak tulisan jurnalisme yang mesti jelas dalam urutan kala pada sebuah peristiwa. Sementara itu, kelugasan fungsi didaktis seakan-akan menampakkan bahwa cerpen-cerpen tersebut belum sepenuhnya lepas dari kecenderungan tabiat hikayat, dongeng, atau pepatah-petitih yang kerap memajankan petuah tanpa tedeng aling-aling.

Dengan demikian, di samping perkembangan media cetak—sebagaimana yang dikemukakan Salmon (149–150), sepertinya karya-karya peranakan Tionghoa sarat pesan karena mereka lebih tertarik pada, baik dalam karya sendiri maupun maupun hasil terjemahan roman Barat, yang selaras dengan kebudayaan leluhurnya, tentu saja dengan tidak mengesampingkan aspek hiburan. Secara sadar atau tidak, para pengarang peranakan Tionghoa agaknya patuh pada formula dua fungsi sastra ala Horatius: dulce et utile. Karya sastra mesti menjadi “tontonan” sekaligus “tuntunan”.

H.F.R. Kommer merupakan penulis yang karya-karyanya paling banyak termuat dalam Nona Koelit Koetjing, yaitu sebanyak tujuh cerita. Selain dalam antologi tersebut, cerpen-cerpen penulis Indo itu sebenarnya juga terhimpun dalam buku berjudul Boekoe Tjerita Warna Sari atau Roepa-Roepa Tjerita jang Indah-Indah terbitan Boekhandel Tan Swan Ie Soerabaia. Cerpen-cerpen tersebut belum bisa dikatakan “asli” sebagaimana yang dicatat Sumardjo (106). Tujuh cerita dimaksud adalah “Alksenof ataoe Satoe Soedagar jang Soedah Dihoekoem Tiada Berboeat Salah Satoe Tjerita dari Negeri Roes” yang dianggap terpengaruh—jika bukan menjiplak—karya Leo Tolstoy,  “Henry Lest ataoe Habis Oejan Tentoe Panas Lagi”, “Prins Radjam Panahore Harganja Reroentoengan”, “Nona Lizzij ataoe Saorang Prampoean Moeda Aloes Adat”, “Di Toeloeng Saekor Andjing Satoe Tjerita dari Negeri Frans”, “Malaikat Djibrail dan Doea Orang Bersaoedara Satoe Dongeng dari Negeri Arab”, dan “Si Marinem ataoe Mata Gelap”. Berbeda dengan enam cerpen lainnya, Sumardjo menyatakan bahwa cerita “Si Marinem ataoe Mata Gelap” benar-benar terjadi di Malang, Jawa Timur (110–111). Bahkan, Budianta, mencatat bahwa “Si Marinem ataoe Mata Gelap”, dalam buku sumbernya, Boekoe Tjerita Warna Sari, diberi subjudul “Satoe Tjerita jang Betoel Soedah Djadi di Djawa Wetan Belon Sebrapa Lama”(11).

“Si Marinem ataoe Mata Gelap” mengisahkan seorang serdadu bernama Amat yang hendak merayu Marinem, istri Sidin—juga serdadu yang tengah bersiap berpindah tugas ke negeri Aceh—untuk hidup bersamanya. Bujukan Amat kepada Sarinem yang terjadi di rumah seorang pembatik tua berujung penolakan. Penolakan itulah yang kemudian menyulut api amarah dalam diri Amat. Dendam itu memuncak pada malam pesta keberangkatan Sidin ke Aceh. Amat datang dengan membawa senjata laras panjang yang telah dikokang, menunggu Sarinem di kamarnya. Tanpa banyak pikir, dia melepaskan tembakan. Letusan itu mengundang perhatian Sidin yang segera masuk dan mendapati jasad istrinya.

Dari apa yang terjadi dalam “Marinem atau Mata Gelap”, pembaca mungkin akan mengira bahwa kisah ini benar-benar terjadi di Malang sesuai latar kisahnya, mengingat cerpen-cerpen kala itu banyak yang based on true story. Jika memang berdasarkan kisah nyata, cerpen tersebut barangkali juga memuat faktualitas lain, yakni kecamuk perang Aceh.

Hal unik lainnya, Nona Koelit Koetjing juga memuat cerpen karya penulis anonim bertajuk “Dari Khitsah Perdjalanan Abdoellah Pergi Meliat Tentehoewi”. Sebelumnya, cerpen ini pernah terbit di majalah Çahabat Baik pada 1891. Dalam segi cerita, cerpen ini berbeda dari cerpen-cerpen lainnya. Cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang terlibat dalam cerita. Artinya,

meskipun cerpen-cerpen pada saat itu memiliki konvensi yang lazim diterapkan para pengarangnya, aspek invensi ternyata turut tumbuh dalam kerja keperajinan sebagai panggilan kreatif seorang seniman. Itulah mengapa, kendatipun ada formula yang tampak seragam dalam cerpen-cerpen tersebut, kita juga bisa menilik desakan inovasi dalam laku kepengarangan para penulis fiksi Melayu pasar.

Dalam cerpen “Dari Khitsah Perdjalanan Abdoellah Pergi Meliat Tentehoewi”, tindak tanduk tokoh-tokohnya berjalan ajek. Tokoh utamanya dipanggil Encik Abdoellah oleh tokoh-tokoh lain. Si aku-narator juga menyebut dirinya “sahaya” ketika bercakap dengan tokoh lain. Teknik penceritaannya berpotensi membuat pembaca merasakan cerita lisan atau nuansa dongeng yang kental. Akan tetapi, untuk meyakinkan pembaca, pengarang menggambarkan suasana dengan penanda waktu dan kronologi yang detail.

Satelah itu, maka pada lusanya, pagi-pagi, hari Sabtu pukul lima pagi, datanglah iya memangil aku, katanya: Ada sehaya bawa roti dan gula pasir dan pisang; boleh encik makan. Maka tawakkullah aku kapada Allah, lalu berjalanlah aku pergi, dengan memakai seluwar buruk koyak-koyak dan satu selimut buruk, dan sapu tangan koyak-koyak aku ikat kapala. Maka aku bawa duwit satu rupiyah, dan sabilah pisau kecil, dan sabatang pensil dan sakeping kartas, lalu berjalanlah kami berenam orang, lima orang Cina dan aku saorang. (hlm. 57)

Kisah yang seolah-olah mengajak pembaca untuk menelusuri negeri Tentehoei—sarang para penyamun Tionghoa di perbatasan Malaka dengan Singapura—diolah sedemikian realistis. Kita bisa berkata bahwa cerita yang diremehkan kaum Belanda sebagai jenis “bacaan liar” ini sesungguhnya ditulis dengan pertukangan yang tak amatir. Hal ini misalnya tampak pada betapa teknik penggambaran suasana, kehadiran artefak-artefak, dan kebatinan tokoh, begitu diperhatikan.

 Maka apabila aku menengar perkataannya, maka berpikirlah aku: Bahwa betullah ini akal pencuri; patutlah mata-mata pon takut pargi ka tempat itu. Adapon sapanjang jalan itu bertemulah orang-orang Tjina itu ada yang pergi, ada yang datang, tapi kulihat samuwanya itu kenai iya anak Tjina, kawanku itu (hlm. 57).

Salah satu cerpen penulis anonim Nona Koelit Koetjing juga piawai memadukan kisah “Sinbad sang Pelaut”—salah satu epik dalam Hikayat Seribu Satu Malam—pada narasinya. Cerpen bertajuk “Tjeritera Saorang Saoedagar Jang Bernama Talip” tersebut sebelumnya pernah terbit di majalah Çahabat Baik. Dalam cerpen ini, Talip, tokoh utama yang miskin, sejak awal dituntut sang istri untuk menjadi seperti Sinbad yang merupakan saudagar kaya raya di Bagdad. Maka, kita boleh berkata bahwa para pengarang abad ke-19 akhir tak dipengaruhi khazanah sastra Barat belaka, tetapi juga kesusastraan Timur Tengah.

Pada masa pra-Balai Pustaka, bentuk cerpen ternyata juga telah mengenal teknik kisah berbingkai—sebagaimana strategi naratif Hikayat Seribu Satu Malam. Cerpen “Ditoeloeng Saekor Andjing Satoe Tjerita dari Negeri Frans”, misalnya, juga menggunakan teknik penceritaan semacam itu.

Cerpen ini dibuka ketika tokoh utama, Mayor Duran, mengisahkan perjalanan hidupnya kepada opsir-opsir muda di rumah bola sehingga cerita menjadi berlapis.

Adapun cerpen “Ditoeloeng Saekor Andjing Satoe Tjerita dari Negeri Frans” karya Kommer menawarkan kisah jenaka. Bagaimana tidak, sesuatu yang semula dikira merugikan tokoh utama—diganggu seekor anjing—berbalik menjadi nasib yang menguntungkan. Dalam cerpen ini, Mayor Duran gagal menikahi gadis bernama Fenande de Labriolle karena kehilangan sebelah sepatunya yang digondol anjing. Nona Fenande yang kebelet pergi ke pesta dansa meninggalkan Mayor Duran yang sibuk mencari sepatu. Lantas, perempuan itu pergi dengan si Baron dan kepincut pria tersebut. Terbahak-bahaklah para opsir muda yang menyimak kisah Mayor Duran, yang merasa berutang budi kepada si anjing karena secara insidental telah menyelamatkannya dari perempuan mata keranjang.

Akhirnya, membaca cerita-cerita Nona Koelit Koetjing akan mengajak kita untuk melihat transformasi bentuk dan isi cerpen Indonesia. Cerpen-cerpen kontemporer yang kita baca hari ini sesungguhnya tidak benar-benar baru, tak banyak beranjak dari cerita-cerita pengarang peranakan Tionghoa abad ke-19, kecuali dalam perkara stilistika, lantaran perbedaan struktur kalimat dan ejaannya. Membaca cerpen-cerpen Nona Koelit Koetjing juga menjadi penting untuk mengingat betapa karya-karya pengarang peranakan Tionghoa selama ini dihilangkan dari sejarah dan kanon, padahal karya-karya tersebut berkontribusi besar pada kesusastraan Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Budianta, Melani, dkk. Nona Koelit Koetjing. Pusat Bahasa, 2005.

Faruk, Prof. Politik dan Poetik dalam Sastra dan Film. Jual Buku Sastra, 2021.

Salmon, Claudine. Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tioghoa. Kepustakaan Populer Gramedia, 2010

Sumardjo, Jakob. Kesusastraan Melayu Rendah Masa Awal. Galang Press, 2004.

Marginalia30 April 2026

Wardedy Rosi


Wardedy Rosi adalah alumnus Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Madura. Dia menulis di Jawa Pos, Radar Madura, Kabar Madura, magrib.id, telusuri.id, basabasi.co, dan lain-lain. Juara I lomba cerpen Funbahasa dan juara harapan II lomba menulis feature Gramedia Pustaka Utama. Saat ini bergiat di Sivitas Kotheka.