Fiksi Sains Indonesia
Istilah, Sejarah, Tonggak

Ilustrasi: Nadya Noor
Buat Lia Cyntia,
dengan harapan
semoga lanjut
karya2nya menulis
fiksi ilmiah.
Salam
16-8-1987
Prof. Dr. Fuad Hassan
(Mendikbud RI)[1]

 

 

Perihal Istilah: Fiksi Ilmiah atau Fiksi Sains?

Dalam peristilahan kesusastraan Indonesia, kita mengenal istilah “fiksi sains” dan “fiksi ilmiah”. Keduanya adalah terjemahan dari istilah berbahasa Inggris science fiction. Di antara kedua istilah tersebut, fiksi ilmiah adalah istilah yang lebih populer. Kita, sebagai penutur bahasa Indonesia, telah cukup terbiasa dengan istilah “fiksi ilmiah” untuk melabeli kisah-kisah perang bintang, penjelajahan antariksa dan pahlawan super yang identik dengan kemajuan sains dan teknologi. Akan tetapi, sekalangan orang, terutama sekali sejumlah pegiat, kritikus dan peneliti sastra saat ini, termasuk saya, cenderung menggunakan istilah “fiksi sains”, sesuatu yang saya lakukan sejak menyusun tesis magister saya tentang fiksi sains Indonesia kontemporer sekitar dua belas tahun lalu. Istilah ini juga yang akan saya gunakan seterusnya dalam tulisan ini. Lalu mengapa saya memilih istilah “fiksi sains” dan bukan “fiksi ilmiah” yang lebih populer? Dalam sastra Indonesia, apakah kita akan terus menggunakan “fiksi ilmiah” ataukah beralih ke “fiksi sains”?

Fiksi sains memang terdengar seperti terjemahan letterlijk dari “science fiction”, tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam “science fiction”, nomina fiction diterangkan oleh nomina lain, yakni science, bukan oleh sebuah adjektiva, misal scientific. Fiksi ilmiah bisa disalahterjemahkan kembali menjadi “scientific fiction”. Pada awalnya pun, sebelum istilah “science fiction” dicetuskan, Hugo Gernsback, editor majalah Amazing Stories, mencoba menamai sub-genre fiksi yang mulai populer di Amerika Serikat di awal abad kedua puluh ini, yang oleh banyak pembacanya disebut “science stories”. Istilah pertama yang ia ajukan adalah “scientifiction”, yang tentunya merupakan penggabungan “scientific” dan “fiction”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, mungkin “scientifiction” bisa saja jadi “fiksi ilmiah” atau malah “fiksilmiah”.

Pada awalnya, Gernsback pun mendefinisikan fiksi ini sebagai fiksi yang instruktif dan memberikan pengetahuan bagi pembacanya dalam volume pertama majalah Amazing Stories[2].

 

By ‘scientifiction’ I mean the Jules Verne, H G Wells and Edgar Allan Poe type of story—a charming romance intermingled with scientific fact and prophetic vision . . ., Not only do these amazing tales make tremendously interesting reading—they are always instructive. They supply knowledge . . . in a very palatable form . . . New adventures pictured for us in the scientifiction of today are not at all impossible of realization tomorrow . . . Many great science stories destined to be of historical interest are still to be written . . . Posterity will point to them as having blazed a new trail, not only in literature and fiction, but progress as well.

 

Dalam istilah “scientifiction” yang diperkenalkan Gernsback seolah terkandung suatu beban untuk menjadi suatu jenis fiksi yang bersifat didaktik dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip sains.

Seiring dengan berubahnya “scientifiction” menjadi “science fiction”, kecenderungan  didaktik ini pun semakin ditinggalkan, begitu pula dengan akurasi ilmiahnya. Kendati awalnya (dekade 1930-an hingga 1950-an), akurasi dan ketaatan pada prinsip-prinsip sains menjadi prasyarat science fiction, fiksi ini terus memperluas jangkauannya dengan menyertakan cerita-cerita sebelum abad kedua puluh yang mendekati atau menyerupai science fiction dan juga cerita-cerita dari paruh kedua abad kedua puluh yang semakin kompleks menginvestigasi hubungan sains dan manusia.

Setelah 1950-an, sebagian penulis dan kritikus sastra meyakini bahwa science fiction adalah genre fiksi yang beragam dan tidak homogen. Para penulis dan kritikus, seperti Ursula LeGuin, John Clute, Patrick Parrinder, dan J.G. Ballard menawarkan berbagai definisi fiksi sains. Yang senada dari berbagai definisi ini adalah bahwa science fiction bukan lagi sebentuk fiksi yang menumpukan penceritaannya pada prinsip-prinsip sains dan bertujuan didaktik. Ia bukan lagi semata-mata fiksi pedagogik yang dihasilkan oleh para penulis dari Amerika Serikat, tetapi sudah menjadi fiksi global, kendati umumnya masih berbahasa Inggris, yang mencakup bukan hanya masa lalu, tetapi juga masa kini dan apa yang akan dihasilkan di masa depan. Brian Aldiss, misalnya, menetapkan bahwa science fiction modern tidak berawal dari cetusan Hugo Gernsback, tetapi dari novel Frankenstein (1818) karya Mary Shelley. Aldiss pun menyatakan bahwa dari sepilihan karya sejak Frankenstein hingga dekade 1970-an, science fiction adalah fiksi tentang (pencarian definisi dan) status manusia di alam semesta, di tengah karut-marut kondisi sains dan pengetahuan[3]. Robert Scholes lebih jauh lagi menegaskan bahwa karakteristik utama science fiction adalah eksplorasi fiktif situasi manusia(wi) yang disebabkan oleh perkembangan sains terkini. Dengan demikian, yang menjadikan suatu karya fiksi science fiction adalah observasi kondisi dan respons manusia(wi) terhadap kemajuan sains dan teknologi.

Jika kita kembali membahas penggunaan istilah “fiksi ilmiah” dan adjektiva “ilmiah”, ia seolah lebih merupakan terjemahan dari “scientifiction” dan bukan “science fiction” yang diterangkan di atas. Seperti pula “scientifiction”, “fiksi ilmiah” terdengar seperti sebuah genre fiksi yang harus bersifat ilmiah, dan padanya bertumpu beban untuk menjadi akurat, dan terkadang pedagogik dan didaktik, menurut prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Menurut hemat saya pun, adjektiva ini pulalah yang turut membuat kita bersalah kaprah tentang seperti apa seharusnya fiksi ini. Sebagian dari kita mengagungkan pengandaian kemajuan sains dan teknologi, dengan bantuan deskripsi atau visualisasi yang imajinatif, sebagai karakteristik dari fiksi ini. Sebagian lagi berpendapat, bahwa fiksi ini punya bentuk yang tulen, yang setia kepada akurasi prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, sehingga yang tidak tulen kemudian dianggap menjadi “pseudo-fiksi-ilmiah”.

Dengan menggunakan istilah “fiksi sains”, dan bukan “fiksi ilmiah”, dalam sastra Indonesia, sepertinya kita dapat meringankan beban untuk melulu menjadi ilmiah dan akurat tersebut. Dengan menggunakan istilah “fiksi sains”, semoga kita bisa memperluas pandangan kita tentang genre fiksi ini dan eksistensinya dalam sastra Indonesia, serta menghindari salah kaprah tentang apa yang kita seharusnya harapkan dari genre ini.

 

Perihal Sejarah: Mulai dari Mana?

Fiksi sains Indonesia mulai dari mana? Sejak kapan? Mungkin kita akan terus mencari. Toh fiksi sains dalam bahasa Inggris pun baru didefinisikan setelah ia berjalan selama lebih dari satu abad. Sebagian karya fiksi sains pun baru dianggap sebagai fiksi sains secara retroaktif, dan dengan terus berubahnya definisi dan kategorisasi fiksi sains, bukan tidak mungkin fiksi sains Indonesia ternyata muncul jauh lebih awal dan mencakup lebih banyak karya yang sementara ini mungkin tidak kita anggap sebagai fiksi sains, atau bisa jadi karya-karya yang dilupakan dalam khazanah sastra Indonesia.

Apabila kita mencoba memetakan riwayat penerbitan fiksi sains di Indonesia (dan ini pun bukan sebuah riwayat yang panjang dan runut), kita akan bertemu dengan sebuah nama: Djokolelono. Sementara ini, para peneliti dan pembaca fiksi sains Indonesia seakan bersepakat bahwa Djokolelono adalah seorang pelopor penulisan fiksi sains Indonesia. Beberapa karya fiksi sainsnya telah terbit sejak dekade 1970-an. Beberapa sumber menyebutkan bahwa karya fiksi sains pertama Djokolelono, dan demikian (kemungkinan) karya fiksi sains pertama, adalah Jatuh ke Matahari, yang diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

Selain karena konsensus populer, secara akademik nama Djokolelono menjadi dikenal sebagai pelopor fiksi sains Indonesia karena skripsi yang disusun M.V. Wresti Budiaju pada tahun 1992[4].  Skripsi tersebut memuat nukilan wawancara antara Budiaju dengan Djokolelono, yang di dalamnya Djokolelono menyatakan bahwa novel fiksi sains pertamanya adalah Getaran yang terbit pada 1968, tahun yang kemudian oleh Budiaju dianggap menjadi tonggak penerbitan fiksi sains pertama di Indonesia. Kendati demikian, dalam katalog Perpustakaan Nasional, tercatat bahwa Getaran diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 1972[5], tidak seawal yang disebutkan Djokolelono, tapi tentu lebih awal daripada Jatuh ke Matahari, yang tercatat terbit pada 1976. Bahkan sebelum Getaran diterbitkan (ulang?), Pustaka Jaya telah menerbitkan Terlontar ke Masa Silam (1971), yang mungkin bisa disebut karya fiksi sains pertama Djokolelono bersama Pustaka Jaya. Terlontar ke Masa Silam baru dibicarakan akhir-akhir ini. Buku ini mungkin awalnya sedikit diabaikan karena ia “hanya” sebuah cerita perjalanan waktu, dan tidak terkesan “ilmiah” dibandingkan Getaran dan Jatuh ke Matahari yang berurusan dengan perjalanan ke antariksa menggunakan roket berteknologi mumpuni.

Akan tetapi, perlu diingat pula bahwa Djokolelono sendiri pun meragukan kepeloporannya dalam fiksi sains Indonesia. Dalam skripsi Budiaju, Djokolelono mencoba mengingat sebuah buku fiksi sains berbahasa Indonesia yang ia katakan terbit pada 1956. Kita mungkin tidak akan pernah tahu buku apa yang dimaksud oleh Djokolelono, tetapi sangatlah mungkin fiksi sains Indonesia sudah ada sebelum kepengarangan Djokolelono. Dalam media lain, setidaknya kita bisa menyebut fiksi sains telah muncul dalam buku komik berseri dalam bentuk pahlawan super pertama Indonesia, Sri Asih karya R.A. Kosasih yang pertama terbit pada 1954. Pada tahun yang sama, Sri Asih muncul pula di layar lebar, diperankan oleh Mimi Mariani, diarahkan oleh Turino Djunaidi.

Di pengujung dekade 1960-an, dua pahlawan super Indonesia terpopuler, Gundala dan Godam, muncul dalam dunia perkomikan Indonesia, dan tentunya fiksi sains Indonesia dalam media lain menjadi lebih marak. Dengan demikian, semakin sulit untuk mengajukan kepeloporan Djokolelono (yang ia sendiri menyangkalnya) dalam fiksi sains Indonesia. Fiksi sains Indonesia telah ada sebelum Djokolelono, dan mungkin melalui suatu studi pustaka dan kearsipan dalam beberapa tahun ke depan, kita bisa lebih tepat menentukan kapan dan siapa yang mengawali, dan bagaimana dimulainya fiksi sains Indonesia.

Jika kepeloporan Djokolelono dalam fiksi sains Indonesia bisa dipertanyakan, yang tidak bisa dipertanyakan adalah produktivitas Djokolelono dalam menghasilkan fiksi sains berbahasa Indonesia selama dekade 1970-an dan 1980-an.

Tidak dapat dimungkiri bahwa karya-karya Djokolelono adalah wajah fiksi sains Indonesia pada kedua dekade tersebut.

Pustaka Jaya menerbitkan serangkaian novel fiksi sains Djokolelono sepanjang dekade 1970-an; Gramedia mengambil alih penerbitan fiksi sains karya Djokolelono sepanjang dekade 1980-an, terutama seri Penjelajah Antariksa sebanyak tujuh buku. Pada dekade 1980-an, Gramedia sepertinya melihat fiksi sains, setidaknya fiksi sains Djokolelono, sebagai karya-karya yang menarik secara komersial. Seri Penjelajah Antariksa telah pula dicetak dan diterbitkan ulang oleh Kepustakaan Populer Gramedia sepanjang 2015.

Yang perlu juga kita pertimbangkan adalah para penulis fiksi sains yang tidak seproduktif, sekonsisten dan sepopuler Djokolelono, yang tidak diterbitkan oleh penerbit sebesar Gramedia. Ada H. Zubir Mukti yang diketahui hanya menulis novel Petualangan Planet Tau Ceti (1984) atau Lia Cyntia yang menulis Sabotase di Bulan (1987) dan Pengkhianat dari Planet Venturion (1987). Selain dalam bentuk novel, kita juga perlu mencatat cerita-cerita dan komik-komik bersambung yang dimuat di majalah-majalah anak dan remaja seperti Ananda dan HAI. Selepas ini, periodisasi fiksi sains Indonesia pun terpaksa terhenti pada 1991, karena pada tahun itulah Budiaju membatasi akhir penelitiannya. Hingga saat ini, belum ada peneliti yang melanjutkan mengisi kekosongan sejarah fiksi sains Indonesia dari 1992 hingga 2000. Dengan demikian, sekali lagi, sejarah fiksi sains Indonesia ditentukan oleh ketelitian dalam studi retrospeksi pustaka dan kearsipan.

Fiksi sains Indonesia pada dekade 2000-an lebih mudah dicatat keberadaannya. Ini terjadi bukan hanya karena kebaruannya, tapi juga karena munculnya dua tonggak yang menurut saya cukup mengalihkan perhatian khalayak pembaca Indonesia ke arah fiksi sains, setidaknya pada paruh pertama dekade 2000-an.

Tonggak yang pertama adalah terbitnya novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh karya Dee (Dewi Lestari) pada 2001, sebuah novel yang terbukti sangat populer dan juga kontroversial. Subjudulnya seolah-olah menjanjikan suatu kisah fiksi sains, walaupun apakah novel pertama dari seri Supernova ini adalah sebuah novel fiksi sains masih perlu kita diskusikan dengan saksama. Yang terang, buku-buku selanjutnya dalam seri Supernova lebih nyaman mengakrabi aspek-aspek fiksi sains dan fantasi.

Tonggak yang kedua adalah penerbitan novel Area X: Hymne Angkasa Raya karya Eliza Vitri Handayani pada 2003, sebuah novel yang dikembangkan dari sebuah novelet yang berawal dari sebuah calon naskah film (treatment) yang memenangi sebuah penghargaan pada 1999. Naskah yang telah menjadi novelet menarik perhatian Taufiq Ismail yang kemudian memuatnya secara bersambung di majalah Horison dan memasukkan nukilan novel tersebut ke dalam antologi sastra Horison: Dari Fansuri ke Handayani (2001)[6]. Bisa jadi inilah kali pertama sebuah karya fiksi sains masuk ke dalam antologi besar sastra Indonesia, pun nama penulisnya bersanding di judul dengan Hamzah Fansuri, penyair Melayu abad ke-16, yang oleh A. Teeuw disebut sebagai Sang Pemula Puisi Indonesia. Setelah dikembangkan menjadi sebuah novel dan diterbitkan pada 2003, novel Area X pun memperoleh penghargaan IKAPI pada 2004.

Selama dekade 2000-an, fiksi sains Indonesia dapat dikatakan menjadi perhatian pemirsa sastra Indonesia. Novel-novel fiksi sains pun beterbitan setelahnya. Perhatian ini kembali berlanjut, walaupun dalam skala yang lebih kecil, ketika novel Lanang karya Yonathan Rahardjo memperoleh penghargaan Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Lanang memperkenalkan unsur folklor dan takhayul ke dalam fiksi sains Indonesia saat itu, aspek yang juga bisa ditemukan di novel-novel fiksi sains yang terbit dalam kurun waktu yang sama, seperti Lesti, Nyatakah Dia? karya Hario Kecik dan ORB karya Galang Lufityanto. Fiksi sains Indonesia terus terbit dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, semakin beragam dan marak. Ia berkelindan dengan berbagai genre, dengan berbagai pemikiran dan identitas keindonesiaan seperti yang dibahas di bagian berikutnya.

 

Perihal Tujuan dan Kritikan: Fiksi Sains Indonesia sebagai Sastra Kolonial dan Pacaskolonial Modern

Seperti telah disinggung di bagian pertama, fiksi sains bukanlah suatu upaya untuk menghadirkan prinsip-prinsip dan inovasi sains secara akurat. Seperti kata J.G. Ballard, jika anda ingin membaca tentang inovasi sains, bacalah jurnal ilmu pengetahuan, bukan fiksi sains. Secara retroaktif dan retrospektif, fiksi sains terus berupaya menawarkan respons manusia(wi) terhadap kemajuan sains dan teknologi serta konsekuensinya. Kemajuan sains dan teknologinya pun dapat sepenuhnya spekulatif dan semu. Pun fiksi sains saat ini tidak serta-merta memiliki beban untuk menjadi instruktif, untuk menjadi genre didaktik.

Jika ia adalah fiksi sains yang ditujukan untuk pembaca anak dan/atau remaja, maka tentunya ia dapat bermuatan didaktik seperti halnya bacaan untuk anak dan remaja pada umumnya. Jika kita memperhatikan buku-buku fiksi sains Indonesia yang terbit sepanjang dekade 1970-an dan 1980-an, dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki tradisi fiksi sains anak dan remaja yang cukup didaktik.

Sebagian besar novel fiksi sains Djokolelono, misalnya, ditujukan untuk pembaca anak dan remaja. Demikian juga karya-karya H. Zubir Mukti dan Lia Cyntia, yang secara eksplisit menyasar pembaca anak dan remaja. Ucapan penyemangat di epigraf di awal tulisan ini, untuk Lia Cyntia dari Fuad Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, seolah menjadi penguat fiksi sains Indonesia pada masa itu sebagai suatu genre fiksi yang didaktik.

Novel-novel Djokolelono menyajikan fakta-fakta tentang kemajuan sains dan penelusuran antariksa yang diekstrapolasi menjadi alur-alur spekulatif tentang penjelajahan angkasa dan perjumpaan dengan makhluk antariksa asing. Karakter-karakter utamanya adalah anak-anak dan remaja-remaja cerdas yang menginspirasi orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Getaran, misalnya, menyajikan karakter Prim, seorang anak yang tiba-tiba menjadi jenius dan menggunakan kecerdasannya untuk menemukan bentuk kehidupan lain di luar bumi, sebelum para ilmuwan dunia mampu melakukannya. Getaran menggunakan banyak informasi faktual tentang penjelajahan antariksa di masa itu (awal 1970-an), terutama euforia pendaratan manusia di bulan dan rencana penjelajahan tempat-tempat lain dalam tata surya, dengan spekulasi-spekulasi tentang kehidupan asing di antariksa yang juga marak pada masa itu.

Petualangan ke Planet Tau Ceti karya H. Zubir Mukti berpremis serupa dengan Getaran. Seorang anak bernama Rian terlibat dalam perjalanan antariksa ke planet Tau Ceti dan perebutan kekuasaan di planet-planet tetangga Tau Ceti. Berbeda dari Prim di Getaran yang memang ingin menjelajahi luar angkasa, Rian dipilih secara acak oleh raja Tau Ceti sebagai bagian dari upaya Tau Ceti untuk berkomunikasi dengan penduduk bumi. Akan tetapi, sebelum novel ini mengungkapkan bahwa Rian juga, seperti Prim, adalah seorang anak yang cerdas dengan penguasaan sains yang mumpuni dan jiwa kepemimpinan yang tinggi.

Akan tetapi, penting pula untuk diperhatikan bahwa kendati novel-novel ini menyajikan fakta-fakta dan inovasi sains dan karakter-karakternya seolah menginspirasi pembaca muda untuk lebih mendalami sains, ekstrapolasi sains yang ditampilkan tidak dapat dikatakan akurat.

Dalam Getaran, getaran listrik yang menyebabkan Prim menjadi jenius tidak dijelaskan secara rinci dan tetap menjadi misteri. Ini mengingatkan saya pada listrik yang membangkitkan monster Frankenstein, yang reaksi pembangkitannya tidak pernah dijelaskan baik oleh narasi novel maupun oleh Victor Frankenstein. Menurut H.G. Wells, seperti sihir, spekulasi bisa terjadi begitu saja, tanpa penjelasan apa pun. Frankenstein bahkan melibatkan “some jiggery-pokery magic to animate his artificial monster”[7]. Dalam hal ini, fiksi sains menjadi serupa genre-genre tetangganya seperti misteri dan fantasi; ia bercerita tentang hal-hal yang masih belum dapat dipahami oleh penghayatan manusia, bahkan melalui peranti yang dipercayai sangat logis dan rasional: sains.

Mengingat akurasi keilmiahan bukanlah standar keberhasilan fiksi sains, kita kembali kepada pemahaman fiksi sains sebagai fiksi tentang respons manusia(wi) dalam menyikapi kemajuan sains dan teknologi.

Dengan demikian, fiksi sains Indonesia adalah respons manusia Indonesia terhadap perubahan di sekitarnya yang disebabkan oleh kemajuan sains dan teknologi. Fiksi sains Indonesia adalah terutama kisah tentang respons manusia Indonesia, yang juga sebenarnya sudah bisa diidentifikasi bahkan dalam karya-karya fiksi sains Indonesia awal yang diperuntukkan untuk pembaca anak dan remaja.

Yang bisa diteladani dari Getaran bukan hanya semangat untuk mempelajari sains, tetapi juga pentingnya kerja sama dan kolektivisme (tentu saja: bahaya individualisme), yang sangat dekat dengan semangat kegotongroyongan manusia Indonesia. Petualangan ke Planet Tau Ceti bukan hanya tentang kegigihan dan kecerdasan seorang Rian, tetapi juga tentang berharganya persahabatan dan kesetiakawanan, serta pentingnya demokrasi. Tentunya poin-poin didaktik ini tidak langsung berhubungan dengan penguasaan sains keras atau eksakta, tapi lebih berhubungan dengan penguasaan sains dan keterampilan “halus” yang dapat membantu perkembangan anak dan remaja.

Dalam karya-karya fiksi sains Indonesia yang ditujukan bagi pembaca dewasa, dan dengan demikian tidak berupaya didaktik, pun akurasi tidak lagi dipermasalahkan. Ada tema-tema dan konsep-konsep yang lebih menjadi perhatian dalam Dalam Lesti, Nyatakah Dia?, misalnya, ada yang lebih utama daripada mempersoalkan akurasi ilmiah, yakni memperjuangkan identitas keindonesiaan yang ambivalen di tengah gempuran proyek kolonial dan imperial, yang diwakili oleh Agresi Militer Belanda. Dalam Lanang bukan soal benar apakah epidemi dan krisis kesehatannya akurat; yang menjadi permasalahan adalah integritas manusia dalam menghadapi krisis kesehatan yang baru dan unik, yang tentunya berhubungan dengan sikap manusia Indonesia yang memercayai hal-hal irasional selain dan yang sering bertolak belakang dengan rasionalitas sains.

Berkurangnya relevansi keakuratan sains dan resistensi terhadap sains (baca: sains Barat) semakin mengemuka dalam wacana fiksi sains kontemporer. Fiksi sains telah sekian lama identik dengan dunia Anglo-Amerika, dan dengan demikian identik dengan sains dalam pemahaman Barat. Ketika fiksi sains mulai menjadi bagian dari sastra dunia dan ditulis dalam berbagai bahasa Indonesia, ia umumnya tetap menjadi perantara sains dan inovasi teknologi Barat, kendati dengan segala spekulasi dan ketidakakuratannya.

Dari sepilihan karya fiksi sains Indonesia yang terbit sepanjang dekade 1970-an dan 1980-an, terdapat satu karakteristik naratif yang menyatukan karya-karya ini. Karakter-karakternya, yang umumnya anak atau remaja Indonesia, berupaya menempatkan diri di tengah-tengah konflik alam semesta dan menjadi pemecah konflik tersebut. Dengan demikian, karya-karya ini pun mencoba menempatkan keindonesiaan sebagai bagian dari sains Barat, seakan-akan berusaha dengan keras untuk menjadi kebarat-baratan agar menjadi bagian dari kemajuan sains dan teknologi Barat yang seolah universal.

 

Perihal Folklor dan Kelokalan: Fiksi Sains Indonesia Kontemporer sebagai Sastra Pascakolonial(?)

Dalam ranah sastra pascakolonial dewasa ini, kebarat-baratan sains ini dikritik, baik melalui karya-karya fiksi sains pascakolonial dari tempat-tempat non-Anglo-Amerika maupun melalui kritik fiksi sains kontemporer. Istvan Csicsery-Ronay Jr[8]. secara tegas menyatakan bahwa seperti halnya imperialisme Barat yang berupaya menyebarkan pendidikan dan sains ala Barat, fiksi sains adalah pula sebuah bentuk imperialisme teknologis yang didasari imaji-imaji kolonial Barat, terutama Inggris, Amerika Serikat, dan Prancis. Fiksi sains kerap menghadirkan imajinasi penjelajahan dan penguasaan tempat-tempat asing yang dapat dimaknai sebagai metafora kolonialisme. Wilayah-wilayah di bumi berganti menjadi planet-planet asing berpenghuni makhluk antariksa non-manusia; para perintis dan kolonis digambarkan sebagai para astronot atau penjelajah antariksa beroptimisme tinggi dalam menaklukkan suatu planet asing.

Imajinasi kolonial seperti ini bukan hanya terjadi pada fiksi sains di masa kolonial, tetapi juga terjadi dalam fiksi sains yang lebih modern. Dalam Sabotase di Bulan, manusia, termasuk manusia Indonesia, dibayangkan sebagai suatu umat yang menjajah antariksa secara ekstensif, sambil berperang, dan juga terkadang berdamai, dengan para penghuni antariksa lain. Cerita ini menunjukkan transplantasi gagasan kolonial fiksi sains Barat ke dalam fiksi sains dunia ketiga, dalam hal ini fiksi sains Indonesia.

Fiksi sains pascakolonial berupaya menghindari atau mendekonstruksi replikasi skenario kolonial seperti di atas. Selain itu, ia juga berupaya mendekonstruksi sains Barat atau menawarkan alternatif sains Barat. Dalam kehidupan pascakolonial dewasa ini, sains kolonial atau sains Barat adalah bagian dari sistem pendidikan dan pemikiran sehari-hari; sistem pengetahuan lokal terkikis atau berubah karena pengaruh kolonial, berdampingan dengan pengaruh kolonial.

Fiksi sains pascakolonial menawarkan dan menunjukkan alternatif sistem pengetahuan lain yang mematahkan pengaruh sains Barat atau mendekonstruksi sains Barat.

Pengajuan alternatif ini tentunya bukan hal yang baru dalam sejarah fiksi sains, terutama fiksi sains pascakolonial. Fiksi sains pascakolonial telah ada sejak awal abad kedua puluh dengan cerita pendek “Sultana’s Dream” karya Rokeya Sakhawat Hossain di sebuah koloni Inggris yang saat ini disebut sebagai Bangladesh. Dengan demikian, sejak saat itu fiksi sains pascakolonial telah bersentuhan dengan sistem pengetahuan lokal dan folklor, menghasilkan sains fiktif alternatif atau hibrida antara sains kolonial dan pengetahuan lokal.

Beberapa kritikus dan peneliti fiksi sains pascakolonial telah menamai kecenderungan ini, yang telah muncul cukup lama dalam fiksi sains dunia. Bodhisattva Chattopadhyay menyebutnya “mythologerm”, sebuah istilah yang dipinjam dari Roland Barthes, ketika ia menelusuri kecenderungan fiksi sains India dalam bahasa Inggris, Marathi dan Bengali yang menurutnya “continually rework the history of science through the use of the mythic”[9], misalnya melalui penggambaran dewa-dewi Hindu sebagai makhluk dari luar angkasa yang mengunjungi bumi pada waktu-waktu tertentu. Grace Dillon meneliti fiksi sains yang dihasilkan oleh beragam suku bangsa asli Amerika Serikat dan mencetuskan istilah “indigenous scientific literacies”[10], sains lokal penduduk asli Amerika yang kerap disandingkan dan/atau dipertentangkan dengan sains Barat yang diperkenalkan oleh para pendatang kulit putih di Amerika. Indigenous scientific literacies dipandang sebagai strategi penting dalam tradisi fiksi sains penduduk asli Amerika, karena sains lokal ini menjadi representasi resistensi terhadap dominasi kulit putih Amerika Serikat di tanah para penduduk asli.

Saya melihat kecenderungan yang kurang lebih serupa dalam fiksi sains Indonesia dalam dua dekade 2000-an. Tentunya ini adalah simpulan yang tidak menyeluruh, tetapi berdasarkan novel-novel fiksi sains Indonesia yang saya akrabi (dan sebagian saya teliti), yang terbit dalam kurun waktu sekitar dua puluh tahun terakhir. Fiksi sains Indonesia dalam dua dekade terakhir sepertinya semakin sadar diri untuk menjadi Indonesia.

Berbeda dari dekade-dekade sebelumnya, fiksi sains Indonesia 2000-an merasa semakin nyaman untuk berlatar Indonesia, berkarakter Indonesia seluruhnya (dibandingkan dengan karakter Indonesia yang terselip di tengah banyak karakter non-Indonesia), dan pula bercerita tentang masalah-masalah Indonesia, tentunya termasuk tentang respons manusia Indonesia terhadap kemajuan sains dan bagaimana sains mempengaruhi cara hidup manusia Indonesia.

Seperti peran mythologerm dan indigenous scientific literacies, folklor dalam fiksi sains Indonesia berperan menyajikan alternatif terhadap pengaruh sains Barat. Mengingat sebagian besar cerita fiksi sains Indonesia saat ini berlatar pulau Jawa, saat ini folklor yang dilibatkan dalam fiksi sains Indonesia umumnya folklor dari Jawa dan Sunda. Lesti, misalnya, menawarkan sains dan folklor sebagai dua hal yang berasal dari satu sumber yang sama: pewarisan dari makhluk luar angkasa di masa silam. Warisan ini di Eropa berkembang menjadi sains Barat; di Nusantara, terutama di pulau Jawa, warisan ini berkelindan dengan kepercayaan setempat dan menjadi sistem pengetahuan atau folklor lokal. Kendati premis “ancient alien” seperti dalam Lesti kerap dikritik karena menghilangkan agensi masyarakat lokal atau asli, premis ini menawarkan kesetaraan antara sains dan folklor. Dalam Lesti, folklor juga adalah sains yang berkembang dalam waktu dan konteks yang berbeda. Berlatar Agresi Militer Belanda di Jawa Timur, novel ini menyandingkan sekaligus mempertentangkan sains dan folklor dalam sebuah narasi kolonialisme versus nasionalisme. Lesti, sang “ancient alien” yang memilih untuk tetap tinggal di bumi, memberikan pencerahan dan kepercayaan kepada sebagian penduduk di Glagah Arum, Jawa Timur, bahwa mereka memiliki teknologi yang setara dengan para agresor untuk bertahan dalam peperangan gerilya, teknologi yang kerap dianggap sebagai bagian dari klenik dan takhayul.

 

Fiksi Sains Indonesia Kini

Fiksi sains Indonesia dewasa ini berupaya semakin menjadi Indonesia. Fiksi sains Indonesia, setidaknya sejauh yang bisa saya amati, berkembang dari fiksi sains didaktik untuk anak dan remaja yang berupaya universal menjadi fiksi sains untuk publik pembaca yang lebih luas yang memiliki kesadaran akan identitas keindonesiaan. Interaksinya dengan folklor dewasa ini memperkaya karakternya. Ia memang semakin menjauh dari akurasi sains, tapi semakin menjadi dirinya sendiri. Mendefinisikan dan memetakan fiksi sains dalam sastra Indonesia dalam beberapa masa ke depan bisa jadi akan semakin menarik dan juga rumit, karena fiksi sains Indonesia akan semakin berkelindan dengan folklor dan dengan genre-genre spekulatif lain, seperti fantasi dan misteri. Akan tetapi, yang tidak kalah pentingnya juga adalah studi retrospektif fiksi sains Indonesia, menelusuri sejarahnya, menemukan karya-karya yang terlupakan atau tidak terdokumentasi dengan baik, dan akhirnya berupaya menyusun gambaran fiksi sains Indonesia yang lebih menyeluruh.

 

[1] Catatan kolofon dari Lia Cyntia, Sabotase di Bulan (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1987).

[2] Sebagian besar majalah Amazing Stories dapat dibaca dengan cuma-cuma melalui perpustakaan University of Pennsylvania: https://onlinebooks.library.upenn.edu/webbin/serial?id=amazingstories

[3] Aldiss, Brian W. (with David Wingrove), Trillion Year Spree: The History of Science Fiction (New York:
Atheneum, 1986), 25.

[4] Skripsi ini berjudul Kajian perkembangan fiksi ilmiah anak dan remaja karya pengarang Indonesia 1968-1991 dan dapat diakses melalui Perpustakaan Universitas Indonesia. Skripsi ini sudah berulang kali diacu dan dikutip oleh para peneliti fiksi sains Indonesia, termasuk saya sendiri. Skripsi ini bisa dikatakan sebagai satu-satunya karya tulis akademik tentang awal sejarah fiksi sains Indonesia.

[5] Saya akan selamanya berterima kasih kepada para pustakawan bagian Koleksi Buku Langka Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang telah dengan sabar mencarikan buku-buku fiksi sains Indonesia dari dekade 1970-an dan 1980-an.

[6] Kisah penyertaan nukilan Area X di dalam antologi ini dapat dibaca di website pribadi Eliza Vitri Handayani: https://elizavitri.com/2018/04/03/dabd/

[7] Aldiss, Brian W. (with David Wingrove), Trillion Year Spree: The History of Science Fiction (New York:
Atheneum, 1986), 26.

[8]Csicsery-Ronay Jr., Istvan., “Science fiction and empire” dalam Latham, Rob (ed.). Science Fiction Criticism: An Anthology of Essential Writings (London: Bloomsbury, 2017), 443.

[9] Chattopadhyay, Bodhisattva. “On the Mythologerm: Kalpavigyan and the Question of Imperial Science”. Science Fiction Studies, Vol. 43, No. 3, Indian SF (November 2016), 437.

[10] Dillon, Grace, “Indigenous scientific literacies in Nalo Hopkinson’s ceremonial worlds” dalam Latham, Rob (ed.). Science Fiction Criticism: An Anthology of Essential Writings (London: Bloomsbury, 2017), 443.

Esai31 Desember 2022

Sandya Maulana


Sandya Maulana saat ini mengajar mata kuliah-mata kuliah susastra, termasuk merintis mata kuliah fiksi spekulatif poskolonial di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Padjadjaran. Sandya mulai meneliti fiksi sains sejak menulis tesis magisternya tentang fiksi sains kontemporer Indonesia pada 2010. Saat ini ia sedang menyelesaikan disertasi doktoralnya tentang determinasi untuk mendekolonisasi genre fiksi spekulatif dalam Bahasa Inggris di Asia Tenggara di Department of English, University of Kansas.