ASEP SUBHAN KM (CEP)
Terima kasih kepada Kak Ayda yang sudah bersedia menjadi narasumber Tengara edisi 13, yang mengikuti tema Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2026: Pemetaan Sastra Kontemporer Indonesia Pasca-2000. Malam ini kita akan mendiskusikan hal tersebut. Sebagaimana kita ketahui, pemetaan sastra Indonesia biasa digambar pada kotak-kotak angkatan. Dan angkatan terakhir yang setidaknya sudah ditetapkan secara “formal” adalah Angkatan 2000. Nah, menurut Kak Ayda, seperti apa kira-kira lanskap umum sastra Indonesia kontemporer pasca-Angkatan 2000?
RAMAYDA AKMAL
Perbedaan Angkatan 2000 dan setelahnya bisa menjadi sangat tajam, sangat jauh. Lompatannya mungkin jadi sangat signifikan. Dengan demikian, aku bisa bilang Angkatan 2000-an atau penulis-penulis setelah 2000-an bergerak dinamis antara dua pole atau bahkan antara banyak titik. Bergerak dinamis bukan berarti bergeser dari satu elemen ke elemen lain, misalnya dari tema ke bentuk. Jadi, bukan hanya fokus pada tema, tapi mungkin ada banyak karya berfokus pada bentuk, mulai eksplorasi bentuk, dari esensi ke materi. Aku lagi senang materialisme. Jadi, mungkin ini agak bias. Memperlakukan sastra sebagai benda. Aku sempat menulis esai tentang itu juga. Itu juga menjadi sangat penting dipamerkan: pameran cover, pameran ilustrasi, dan sebagainya. Semacam pengakuan pada elemen-elemen selain cerita.
Kemudian, juga ada pembacaan dekat disandingkan dengan pembacaan jauh. Bukan berarti juga, sekarang, pembacaan jauh menjadi sangat penting, tetapi dua-duanya tumbuh beriringan. Peneliti-peneliti dan tulisan-tulisan tentang pembacaan jauh sastra Indonesia pun bermunculan, seperti tulisannya Leon Woltermann dan Bang Martin (Suryajaya), misalnya. Ada yang riuh ke hening. Ada baca bareng, ada baca senyap. Menurutku, itu salah satu karakteristik yang mewarnai dunia sastra kita sekarang. Juga ada percampuran, ada transmediasi. Ada persilangan antartema. Tema-tema yang dulu belum, enggak, jarang terpikirkan atau tersentuh, sekarang muncul juga. Ada persilangan antarbentuk.
Kemudian, subjek-subjek yang sebelumnya kurang mendapat perhatian, misalnya penerjemah dan agen sastra, sekarang bermunculan, karena tuntutan menjadi global. Jadi, muncul subjek-subjek sastra yang baru di luar penulis, di luar penerbit, di luar pembaca. Intinya, menurutku, masuknya media digital mengubah cara produksi, konsumsi, dan distribusi sastra Indonesia dalam dua dasawarsa terakhir. Itu juga menandai pergerakan sastra Indonesia ke arah yang mungkin berbeda dari yang sebelumnya. Juga ada kantong-kantong. Aku bilang kantong-kantong, kayak anggur. Kelompok-kelompok kecil sastra banyak sekali. Aku mengambil contoh di Jogja. Di Jakarta, pasti juga banyak kelompoknya sendiri, audiensnya sendiri, kecenderungannya sendiri, tapi bukan berarti tidak bersentuhan.
Beda sama echo chamber yang muter-muter di situ sendiri. Ada peristiwa kayak festival, kayak seminar, yang menghubungkan satu dengan yang lain. Kelompok-kelompok kecil banyak. Penerbit-penerbit juga banyak. Dengan kecenderungannya masing-masing. Jadi, secara sederhana, sastra Indonesia setelah 2000-an berkembang dalam jaringan. Jaringan yang saling berhubungan, dengan karakteristik yang beda-beda, yang sangat ditentukan oleh perkembangan media. Menurutku itu sih. Terlalu general, enggak?
ROYYAN JULIAN
Menarik. Kak Ayda tadi menyinggung perkara materialitas. Sekarang, materialitas sastra (kalau dalam teori sastra kita akan menyebutnya “artefak”) ditonjolkan selain konten. Kalau Kak Ayda mengamati, apakah materialitas sastra semacam ini kerap berbanding lurus dengan kualitas kontennya atau jangan-jangan kontennya kurang diperhatikan?
AYDA
Sebetulnya, kajian materialitas itu kan bukan kajian yang kemudian menentukan sebuah kualitas. Misalnya, posisiku sebagai peneliti sastra mencoba melihat karya sastra tidak semata-mata dari ceritanya. Apakah materialitas itu menentukan kualitas? Tidak selalu. Ini pribadi ya. Kadang-kadang, kalau materialitasnya terlalu bagus, malah curiga isinya biasa aja. Bisa jadi begitu. Wah, ini hardcover. Kan tebel banget. Kayak memoar-memoar pejabat kan? Materinya bagus banget, isinya mbuh.
Tapi, yang paling penting, Royyan, kita jangan lupa bahwa materi juga membawa agensi. Maksudnya, seberapa penting agensi berhubungan dengan kualitas. Itu perkara yang lain. Tapi, hal seperti itu taken for granted. Padahal, itu menjadi bagian dari bagaimana sebuah karya hadir kepada kita. Jadi, mengapa juga, misalnya, ada orang yang lebih suka buku cetakan pertama daripada yang kedua. Atau, lebih suka sampul yang ini daripada sampul yang itu. Kemudian, yang ini harganya lebih mahal daripada yang itu. Itu kan says something. Kalau ceritanya sama, kenapa begitu?
Misalnya, kemarin siapa yang promo buku Pram? Berapa? Tiga puluh buku, sebukunya 330. Pokoknya berapa itu? 100.000.000-lah intinya beli semuanya. Kan semua buku Pram yang dijual sudah dicetak ulang? Tapi, beda. Nah, itu contoh paling sederhana bagaimana menurutku material membawa agensi. Itu enggak harus berkualitas, tapi menentukan jalannya karya. Maksudku, agensi kesastraan bukan semata-mata ada di penulis atau penerbit atau pembaca, tapi bahkan di hal-hal remeh.
Penerbit-penerbit kalau sekarang nerbitin buku kan pasti ada merchandise-nya. Stiker atau gantungan kunci atau apa. Kalau itu kepentingannya untuk promosi, jelas. Tapi, mereka menyadari bahwa benda-benda itu berfungsi. Malah, penerbit menyadari lebih dulu. Kita enggak sadar, kadang-kadang terperangkap. Aku tuh habis nonton Odysseus. Pengin beli Odysseus karena ada hadiahnya. Itu sederhananyalah. Maksudku, Royyan, enggak selalu materialitas yang mencolok itu kualitas ceritanya otomatis bagus. Bisa berbanding terbalik. Tapi, yang mau aku tekankan, agensi punya peran.
ROY
Sekadar untuk pemasaran berarti ya?
AYDA
Seringkali begitu. Ini sebetulnya kajian di filsafat gitu ya. Kebetulan aku penelitiannya kerja sama dengan dosen filsafat, namanya Min Seong Kim, pengajar di Universitas Sanata Dharma. Di paper, kami pakai istilah “hooked”, terpancing, tertangkap. Ngikutin konsep ahli estetika seni, namanya Rita Felski. Nah, tertangkap itu kan bisa emosional secara artistik. Yang menggunakan itu kan seringkali justru penerbit atau penjual. Tapi, kadang-kadang, pembahasan new materialisme enggak selalu fokus ke kepentingan ekonomi karena udah beda jalur. Tapi, kalau di sastra, yang menggunakan itu, yang banyak sadar betul, justru yang pada jualan. Kita, kritikus sastra, enggak sadar. Padahal, itu menentukan sebuah karya berjalan ke mana. Jadi, karya itu disukai siapa, menentukan penampilannya, walaupun kita yang suka baca cerita bagus merasa, apa sih ini. Tapi, menurutku gitu sih, Royyan.
CEP
Nah, ini kecenderungan semacam itu apakah bisa dipautkan dengan obrolan awal kita tentang fenomena pasca-2000 atau tidak? Soalnya kita juga ingin mendengar, ketika berbicara tentang Angkatan 2000, sebenarnya titik ujungnya di mana sampai ada perbedaan tertentu seperti itu?
AYDA
Oke, ini nyinggung Pak Korrie ya. Dokumentasi sastra itu, kalau enggak salah, punya Pak Korrie yang cukup signifikan. Jadi, Mas Cep tadi nanya, apakah itu bisa menjadi penanda ujung? Aku sangat mengapresiasi buku Pak Korrie. Itu salah satu buku atau dokumentasi yang penting. Ada sekitar seratus lima puluh sastrawan, juga karya-karya mereka yang paling penting. Jadi, tetap perlu diapresiasi tinggi. Aku baca tulisan Hamzah Muhammad ya? Dia nulis obituari untuk Korrie. Cukup menarik. Dan khas tulisan-tulisan yang mencoba mendokumentasikan angkatan itu kan, pertama, siapa yang nulis dalam periodisasi atau kurun waktu tertentu, apa kecenderungan tema-temanya, apa estetikanya.
Kemudian Korrie kan ngikutin yang dilakukan Jassin, yang dilakukan Dami N. Toda. Jadi, situasi politik apa yang direspons sehingga membuat penulis-penulis ini berbagi keresahan atau bahkan estetika yang sama sehingga dikelompokkan jadi satu angkatan. Nah, tulisan Korrie ini kan merangkum sastrawan-sastrawan yang sudah berkiprah jauh sebelum Reformasi. Sebetulnya sebelum 2000. Setelah 2000 kan belum ada dokumentasi cukup komprehensif yang merangkum semua penulis karena penulisnya juga semakin banyak. Bentuk-bentuknya juga semakin beragam. Oleh karena itu, perlu diapresiasi. Cuma, yang perlu dicatat, menurutku, apa periodisasi dan angkatan ini masih relevan untuk membicarakan sastrawan-sastrawan setelah 2000? Jadi, kalau kita mau pakai logika yang sama, ya ayo. Malah, dengan berbagai peranti yang ada, kita bisa ngumpulin banyak penulis dengan berbagai genre, dengan berbagai aliran, lebih mudah secara digital. Kita bisa melakukan itu semua. Tapi, yang menurutku penting itu logikanya, gimana kita menuliskannya.
Tadi, pertanyaan Mas Cep kan setelah 2000-an itu gimana? Ada enggak angkatan? Ada enggak periode yang perlu ditandai? Kalau kita ngikutin logika Jassin, logika Dami, logika Korrie, ya pasti ada yang bilang mungkin. Kita kelompokkan yang estetikanya tertentu, kemudian responsnya terhadap perkara-perkara setelah Reformasi. Terus, ada hal yang menurutku perlu kita koreksi ketika kita mendokumentasikan sastrawan dengan metode periodisasi dan angkatan. Untuk wawancara ini, aku baca paper-nya Eric Hayot, “Against Periodization” blablabla dan aku terinspirasi oleh gagasan dia.
Pertama, di bidang sejarah. Periodisasi itu udah banyak dikritik sebetulnya, karena sangat bias Barat dan bias modernitas. Jadi seolah-olah waktu berjalan seperti jam yang teratur. Tik … tik … tik …. Habis ini, ini. Habis ini, ini. Ada periode, ada puncak-puncaknya, ada karakteristik yang mencerminkannya. Semakin ke depan, semakin progresif, semakin modern. Memang, ini isu progresivitas dan itu ilusi yang udah banyak dikritik. Semakin ke depan, linear, ke depan terus, teratur, dalam dialektika sejarah yang dapat diukur.
Nah, periodisasi sastra itu didasarkan pada kesadaran itu. Jadi, beberapa hal yang bisa dikritik dari periodisasi itu, misalnya, jelas dia akan menciptakan kanon dan standar yang menjadikan Angkatan 2000: kebebasan bicara tentang tubuh, bicara tentang seksualitas bebas, dan sebagainya, dan sebagainya. Seolah-olah ada standarnya, ada estetika yang, dalam tanda kutip, diakui. Itu udah pasti jadi periodisasi. Itu salah satu elemen yang menciptakan kanonisasi karena puncak-puncak kayak gitu kan mengutamakan yang paling menonjol.
Kedua, periodisasi itu mensyaratkan batas geografis. Periodisasi sastra Indonesia kan otomatis sastrawan-sastrawan Indonesia. Padahal, sekarang, setelah tahun 2000-an, misalnya, aku kasih contoh, ada penulis di Wattpad terkenal banget. Nulis fantasi. Wah, pembacanya puluhan juta. Dia nulis fantasi. Setting-nya, namanya, kebarat-baratan gitu. Kan banyak tuh di Wattpad, namanya king siapa, di negara mana. Jadi, rujukannya bukan pengetahuan lokal kita, tapi fantasi Barat. Banyak banget. Kita bingung kan, karya-karya kayak gini sastra Indonesia atau bukan, apa sastra atau bukan. Kalau periodisasi itu pasti hanya pada sastrawan yang secara formal didefinisikan sebagai penulis karya sastra Indonesia. Pasti terikat batas-batas regional, batas geografis. Nah, gimana dengan, misalnya, Nuril Basri yang banyak nulis pakai bahasa Inggris? Kan jadi susah melokasikannya. Jadi, kalau bikin periodisasi dengan logika kayak gitu, setelah tahun 2000-an, gimana cara kita melokasikan penulis-penulis kayak Nuril Basri atau Khairani Barokka yang banyak nulis dengan bahasa Inggris dan mungkin oleh penulis atau pembaca Indonesia kurang dikenali karena banyak nulis di luar?
Yang ketiga, sebetulnya, pengelompokan periodisasi, teori sama metodenya enggak pernah jelas. Tanya tuh Mas Cep. Pasti Mas Cep ngerti. Enggak jelas. Itu cuma cherry picking aja. Kayak, wah, ini ada penulis yang bagus-bagus dikelompokin. Apa coba dasarnya mengelompokkan itu? Metode mengumpulkannya enggak pernah transparan. Kita enggak pernah tahu gimana. Jadi, itu kan juga sangat bias. Istilahnya, itu kayak historical microscopism, lagi-lagi ngutip Hayot. Kecil bangetlah. Cuma diambil bagian fenomenal, puncak-puncaknya, dan sebetulnya itu masih kita reproduksi sampai sekarang karena sulit membayangkan ada dokumentasi yang lain.
Kalau tadi Mas Cep bilang gimana ya setelah 2000-an? Ya, ayo dipikir bareng-bareng. Gimana nih supaya enggak terlalu hanya melihat puncak-puncaknya? Jadi, kan tersebar tuh macam-macam. Misalnya, kita akan bahas sastra digital. Mahasiswaku banyak yang meneliti itu. Royyan juga pasti mahasiswanya banyak yang meneliti itu. Kayak AU, Wattpad, atau akun-akun alternate universe di AO3. Aku jadi ngerti karena mahasiswaku meneliti itu. Pembacanya banyak banget. Tak kalah sama pembaca sastra konvensional, dalam tanda kutip. Cuma, kita enggak sentuh.
Kita enggak pernah melihat itu. Itu kan satu kelompok sendiri. Kalau kita bayangkan membuat periodisasi dengan cara itu, kan berarti akeh banget yang harus digugurkan. Jadi, kalau masih pakai logika kayak gitu, misalnya ada Sasti Gotama, ada Cicilia Oday, ada Royyan, ada siapa, ada siapa, kan sebetulnya satu kelompok aja. Kemudian kelompok yang misalnya bergiat di sastra perjalanan itu gimana? Misalnya, kayak Agustinus Wibowo yang sangat terkenal. Jadi, dari genre, dari media, dari tema tuh banyak. Kalau kita mau pakai periode dengan cara berpikir sebelumnya, itu mudah. Tinggal dikumpul-kumpulkan aja. Logika pemerintah sekarang juga gitu. Dia yang merepresentasikan ini, ini, ini, yang masih dalam kotak sastra seperti definisi kita. Tapi, itu artinya ada hal-hal lain yang tetap enggak disentuh-sentuh.
ROY
Berarti agak sulit ya kita sekarang memetakan sastra di abad yang berlari? Kalau kita menciptakan satu angkatan, itu berarti kita menciptakan standar. Terus, sekarang kan zaman begitu cepat berubah, jadi kok kayaknya susah sekali kita memetakan sastra. Apalagi tadi Kak Ayda mengomentari perkara materialitas, komunitas, dan sebagainya.
NINUS ANDARNUSWARI
Sedikit menyambung Roy. Dengan perubahan teknologi dan modus komunikasi yang lebih menyerupai jaringan, apakah yang menjadi kekhasan lanskap sastra setelah era 2000-an ini berarti pemetaan yang enggak linear itu? Kalau memang begitu, apa jangan-jangan kekhasannya di situ karena, misalnya, ada digitalisasi sumber atau materi yang lebih bisa dieksplorasi dari mana-mana? Jadi, karena sumber lebih berlimpah, kita lebih bisa ngelihat dari berbagai sudut?
AYDA
Aku pikir benar ya. Maksudnya, misalnya tadi aku sempat googling peta, berbagai jenis peta dan grafik. Pertanyaan pemetaan kan? Jadi, peta atau grafiknya mungkin lebih sirkular atau kayak rimpang. Ke kiri, ke kanan, kayak gini, kayak gitu. Bukan angkatan ini isinya gini, angkatan itu isinya gitu. Tapi, ada bagian ini, ada bagian itu. Estetikanya beda-beda. Yang satu pasti juga enggak suka yang lain. Yang lain juga enggak cocok. Itu tidak terhindarkan. Mau bilang sastra digital bagus karena di otak kita memang ada standar tertentu. Menurutku enggak perlu sampai begitu, tapi mengakui aja bahwa ada produksi tulisan yang berbeda, punya stream sendiri, punya audiens sendiri, sekali-kali ketemu di festival, sekali-kali ketemu di obrolan.
Menurutku, itu oke ya. Jadi modelnya bubble gitu. Kayak rimpang, terus ada banyak bubble-nya, yang ada hubungannya juga satu dengan yang lain, dan bukan berarti langsung sama semua. Itu juga terlalu enggak realistis. Artinya, di rimpang itu, Tengara masih jadi pusat standarnya, misalnya, kalau memang mau sastra konvensional atau sastra yang kita bayangkan seperti sastra. Jadi, menurutku, harus melihat lebih dekat ke kenyataan. Ada Wattpad, ada produksi-produksi sastra yang berbeda yang perlu dilihat. Soal kualitas, itu selalu jadi masalah. Di mana kita berdiri untuk mendefinisikan kualitas itu? Itu masalah lain, menurutku. Jadi, kayak rhizome aja gitu, berjaring banyak. Tapi, gimana cara menyusunnya? Aku kurang tahu mendokumentasikannya gimana.
ROY
Terkait kecepatannya juga, Kak Ayda. Kecepatan itu juga akan menyusahkan kita untuk memetakan sastra ya?
AYDA
Betul, betul, karena sekarang penulis baru banyak banget, cepat, kemudian produktivitasnya tinggi, juga belum lagi yang nulisnya di media digital, misalnya. Itu juga karyanya kadang-kadang ada, terus hilang, ditambah lagi, ada, hilang, dan seterusnya.
Untuk memetakan kecepatan, aku pikir kan sekarang semuanya sudah terekam di media, di internet. Aku pikir hanya butuh satu pusat dokumentasi yang bisa mengejar kecepatan itu, menurutku. Dan itu hanya bisa dilakukan melalui sistem informatika, melalui sistem digital. Kita sendiri udah sulit, misalnya, mencari kritikus baru, mengambil record-nya Sayembara Kritik Sastra DKJ, dan sebagainya. Tapi, yang terpenting itu cara melihat periodisasi dan cara melihat angkatan yang sejak awal jangan terlena gitu karena sangat sayang kalau hanya mengambil sedikit dari yang ada.
CEP
Begini, yang kutangkap dari Kak Ayda, soal periodisasi dan angkatan cenderung atau hampir pasti menciptakan standar tentang sastra itu sendiri. Sementara itu, ketika kita berbicara tentang kesusastraan pada masa sekarang yang berkembang sangat pesat, standar itu tetap diperlukan, tetapi dibayangkan bisa hidup berdampingan dengan fenomena-fenomena yang memiliki beberapa standar lain. Tapi, kalau misalnya itu bisa terjadi pun, sepertinya berbagai pertarungan wacana akan selalu terjadi dan mungkin itu bagus. Taruhlah itu bisa terjadi, lantas, apakah kemudian langkah selanjutnya masih menarik dan penting untuk melakukan, katakanlah, penilaian tentang seberapa jauh jarak antara kualitas dari karya-karya pada era cetak dengan karya-karya yang publikasinya sepenuhnya digital? Ketika, misalnya, kita masih merasa itu menarik dan penting, standarnya mungkin harus berbeda juga. Mungkin harus ada standar tersendiri untuk menentukan kualitas. Menurut Kak Ayda seperti apa?
AYDA
Oke, ini pertanyaan menarik. Makasih, Mas Cep. Memang, kalau secara pribadi, kita semua yang ada di sini dididik sastra cetak ya. Artinya, standar dan kualitas estetis karya sastra yang ditulis di kertas sangat memengaruhi standar kita. Jadi, karya sastra itu yang kalimatnya indah, membuat kita mikir, ketidaklangsungannya itu penting, keanehannya atau ketidakfamilierannya itu menjadi tanda kebagusannya, aspek kebahasaan, gitu ya. Sampai sekarang, aku sulit membaca karya-karya digital, sulit menerima. Bahkan, aku pernah pengin coba bikin. Waduh, susah banget karena memang tradisi yang kita pelajari berbeda.
Aku sepakat dengan Mas Cep. Membandingkan kualitas sastra cetak dengan sastra digital itu sulit banget karena enggak apple to apple. Kita bisa lihat, misalnya, sastra digital itu ada dua: sastra cetak yang didigitalisasi atau sastra yang born digital yang memang hanya mungkin muncul karena peranti digital. Contohnya novel interaktif yang membutuhkan kemampuan kita menguasai peranti digital. Tapi, ada juga cerpen-cerpen koran, terus didigitalisasi. Jadi, media digital itu tidak hanya membuka ruang untuk yang born digital. Dia juga mempreservasi yang cetak. Artinya, double. Dan membandingkan ini benar-benar sulit karena pastilah kalau kita tumbuh di era cetak, kita agak sulit menerima yang born digital karena menurut kita ini tidak mendukung kualitas yang kita bayangkan.
Tapi, sastra digital itu jangan-jangan kualitasnya memang tidak ditentukan oleh faktor-faktor yang menentukan kualitas sastra konvensional. Misanya, cerita-cerita di Wattpad itu alur peristiwanya lebih penting daripada penokohannya, enggak perlu berindah-indah. Pokoknya, habis ini ngapain, habis itu ngapain. Jelas gitu alurnya. Kalau di alternate universe, AU, itu karakternya penting karena dia mendeviasi cerita. Misalnya, Harry Potter. Tiba-tiba Harry sama Ron berpacaran. Di AU kayak gitu.
Nah, dalam kasus semacam itu, kita hanya bisa melihat kebaikan AU kalau kita tahu Harry Potter dan tahu sejauh mana dia mengotak-atik itu. Atau, misalnya, yang interaktif. Kalau kita enggak bisa mengoperasikan komputer, novel itu jadi enggak menarik. Jadi, untuk kualitas sastra digital, khususnya yang born digital, menurutku kemampuan kita menguasai media itu jadi sangat menentukan. Bukan hanya sejauh mana dia seperti sastra cetak. Sastra digital sangat bergantung pada medianya dan itu yang biasanya menentukan kualitas. Kalau sastra tulis jelas beda.
Jadi, kalau mau dibandingkan, itu memang dunia yang terpisah. Dan memperjuangkan sastra digital seperti halnya memperjuangkan posisi dalam sastra tulis sekarang juga sulit. Terlalu naif karena itu berbeda. Tapi, mengabaikan kekuatan mereka, mengabaikan dunia mereka, itu juga terlalu tidak melihat ke kenyataan. Jangan-jangan pembacanya lebih banyak daripada pembaca buku. Pembacanya lebih banyak yang digital. Coba aja cek, karena ibu-ibu rumah tangga baca sastra digital. Dia enggak baca karya Royyan, misalnya. Ibu rumah tangga kan baca cerita-cerita steamy. Kita enggak tahu aja. Kita merasa pembaca kita banyak, tapi ibu-ibu baca novel yang tokohnya CEO-CEO gitu. Jadi, memang enggak bisa dibandingkan sih.
ROY
Di hulu tahun 2000, ada yang disebut “sastrawangi”. Menurut Kak Ayda, bagaimana evolusi karya-karya sastrawangi sekarang? Apakah, misalnya, karya-karya bertema queer hari ini sebenarnya resonansi dari sastrawangi? Sementara itu, dalam warna yang agaknya berseberangan, ada pula Forum Lingkar Pena, FLP, yang sepertinya sekarang sudah tidak sesemarak dulu. Bener enggak?
AYDA
“Sastrawangi” dalam makna yang agak peyoratif, tapi kemudian digunakan sebagai perlawanan juga. Kan biasa kita mendapatkan label. Label itu mungkin awalnya bermaksud untuk memojokkan, tapi malah kita menggunakan label itu untuk melawan, misalnya. Nah, itu terjadi di sastrawangi dan tema-tema tentang pembebasan tubuh. Bebas bicara tentang tubuh itu perlu digarisbawahi walaupun bukan hanya itu, sebetulnya.
Bagaimana evolusinya? Mungkin tampak bukan pada karya sastranya itu sendiri, tapi pada bagaimana kita melihatnya. Misalnya gini, dulu kebebasan tubuh itu melulu berhubungan dengan seksualitas, kalau misalnya kita mau melihat transformasinya. Sekarang, misalnya, kita lihat karya Sasti. Kebebasan tubuh itu soal perempuan untuk memutuskan punya anak atau enggak. Atau, tubuh perempuan hubungannya tidak hanya pada posisi mereka sebagai perempuan, tapi dengan alam. Atau, tubuh dengan teknologi. Ada penelitian mahasiswaku tentang bagaimana manusia itu menteknologikan tubuhnya, memberikan kemampuan tertentu pada tubuhnya, atau ngasih obat-obatan tertentu pada tubuhnya.
Kalau kita mau melihat perkembangan atau evolusi sastrawangi, ini juga pernah aku tulis waktu menganalisis Nh. Dini. Feminisme atau kebebasan perempuan tidak melulu berhubungan dengan seksualitas atau gendernya, tapi bagaimana perjuangan atas perempuan, juga perjuangan terhadap alam. Jadi, perempuan ngomongin politik. Aku kadang-kadang bingung, sering terjebak, kalau menganalisis feminisme selalu melihat tokoh perempuan memperjuangkan dirinya. Padahal, kadang-kadang, misalnya, di tulisan Nh. Dini, tokoh-tokoh perempuannya ngomongin imigran.
Jadi, feminisme tidak terbatas pada pembebasan tubuh. Itu memang basis, tapi pembebasan alam setara dengan pembebasan tubuh perempuan. Transformasinya terlihat di situ. Bagaimana, misalnya, dalam tulisan Mbak Dian Purnomo, perempuan berhadapan dengan pengambilan lahan oleh kapitalisme. Kalau mau dilihat transformasinya atau warisannya, menurutku sampai situ. Dan itu sudah dibahas oleh Mbak Ayu juga. Ayu Utami di Bilangan Fu kan membahas relasi perempuan dengan alam, dengan gunung. Transformasi temanya demikianlah.
Kemudian, kalau Royyan bilang sastra queer adalah resonansi dari sastrawangi, tentu saja mereka berada pada garis yang sama, tetapi tidak serta-merta queer lahir dari sastrawangi karena sastra queer sebetulnya cikal-bakalnya sudah sangat tua juga di Indonesia. Ini pernah dibahas di Sekolah Pemikiran Perempuan. Ada Marianne Katoppo. Anggrek Tak Pernah Berdusta, novelnya, tahun ‘79, sudah bicara tentang pasangan gay. Queer sudah ada. Tapi, mungkin setelah sastrawangi, dia saling mendorong dan tentu saja berdiri pada titik yang hampir sama dalam hal memperjuangkan pembebasan terhadap tubuh, terhadap kekangan gender yang sangat heteronormatif. Jadi, berdiri pada perjuangan yang sama pada beberapa titik. Tentu saja titik-titik yang lain beda ya. Tapi, tidak serta-merta muncul dari situ karena queer sudah punya garisnya yang sangat tua juga, bukan hanya di sastra.
ROY
Tradisinya sudah lama ya?
AYDA
Betul, betul, tradisinya lama. Storage ceritanya juga banyak. Tapi, tentu saja, di titik tertentu, mereka bersimpangan, Royyan. Nah, kalau FLP, yang aku rasakan sekarang itu, kayaknya garisnya emang semakin menjauhi. Dia mengambil sebuah ruang sendiri yang kita mungkin enggak sentuh. Sebagai contoh, Asma Nadia kan sekarang sering nulis tentang catatan perjalanannya, kayak Jilbab Traveler, kemudian Beijing atau Korea atau apa, dan itu project. Untuk bisa melihat bayangan tentang FLP, Jilbab Traveler menarik. FLP kan tujuannya memang bukan menciptakan karya sastra yang fenomenal, tapi lebih ke dakwah.
Semakin banyak pengikutnya, semakin banyak yang nulis. Jilbab Traveler itu ditulis Asma Nadia dan perempuan-perempuan yang tergabung di FLP yang tinggal di luar negeri, yang enggak semuanya bisa nulis, terus dipaksa nulis. Ayo, nulis tentang pengalaman kamu di luar negeri sebagai perempuan berjilbab, terus dikumpulin. Jadilah antologi Jilbab Traveler . Tujuannya memang dakwah. Mengajak yang tidak menulis jadi menulis. Jadi syiar arahnya. Itu tujuan utamanya.
Mereka pernah mencoba ingin menghasilkan karya sastra yang meet, dalam tanda kutip, ekspektasi kita. Aku pernah tuh 2023 diundang forum FLP gede banget di Jogja. Aku terima karena penasaran. Judulnya tentang bagaimana menulis karya yang menang DKJ. Nah, mereka juga pengin berusaha serius. Terus, aku juga merasa, aduh, aku tuh cuma pemenang unggulan. Jadi, mungkin kita belajar bersama-sama aja. Aku bilang kayak gitu kan, tapi itu dihadiri banyak banget. Mereka bertanya juga, gimana cara nulis sastra yang menang DKJ, karena memang tujuan kepenulisan mereka mungkin agak berbeda. Bukan berarti mereka enggak pengin. Dan satu penulis, misalnya Sinta Yudisia, berulang kali masuk nominasi DKJ lo. Mbak Sinta Yudisia orang Surabaya.
Artinya, ada. Tapi, memang arahnya udah berlainan. Dan sekarang mungkin mereka mulai masuk ke, mungkin, sastra digital atau genre yang berbeda. Genre perjalanan, genre memoar, misalnya. Jadi, di perspektif kita, dia memang redup, karena, pertama, tujuannya beda, pengembangan genrenya beda, motivasinya beda. Itu sih, Royyan, menurut aku ya. Gitu?
CEP
Iya sih. Aku ingin nambahin tentang FLP. Kayaknya menarik untuk diperpanjang sedikit. Jadi, tadi Kak Ayda berbicara tentang ruang mereka yang memang tampaknya berbeda dari ruang sastra yang, katakanlah, konvensional. Setahuku, Asma Nadia itu yang mendirikan aplikasi KBM yang termasuk besar dalam mencakup banyak penulis. Sesuai dengan yang Kak Ayda katakan tadi, pergerakan mereka justru pesat di ranah digital. Kemudian, mereka juga banyak mengambil alih wahana dari karya yang kemudian difilmkan. Banyak sekali dari Forum Lingkar Pena. Artinya, kalau kita kembali kepada mode evolusi tadi, tentang transformasi tema, apakah kita bisa mengatakan bahwa mereka justru lebih siap menyambut serbuan perubahan wahana menjadi digital dibandingkan sastra konvensional kita? Bisa enggak kita mengatakan seperti itu?
AYDA
Ini mungkin bisa aja. Mungkin aku kurang tahu gimana memformulasikannya. Sastra konvensional itu kecenderungan ideologinya kan melawan, mencurigai. Itu ideologi suuzan. Jadi, di cultural studies, tesis yang ideologinya belum suuzan, belum dikatakan bagus karena masih terlalu positif, mengutip omongan sejarawan Dr. Budiawan.
Nah, sastra konvensional itu kan dalam bayangan kita harus mempertanyakan segala sesuatu. Enggak tahu ini align atau enggak. Tapi, itu juga menahan kita untuk going along the flow. Jadi, kita selalu curiga. Kita selalu mencoba untuk melihat-lihat. Sementara itu, sastra FLP yang melayani kepentingan umat, yang adalah orang banyak, yang adalah populer, pasti mereka tidak perlu bertanya-tanya. Kepentingan umat kan banyak, kepentingan massa kan banyak. Jadi, mereka sangat terbuka mengikuti ke mana arah massa dan pembacanya inginkan.
Menurutku, ada ideologi berlawanan yang membuat yang ini lebih cepat mengikuti perkembangan zaman, sementara yang konvensional mungkin justru menahan perkembangan itu karena kita kadang-kadang melihat perkembangan sebagai ketertundukan terhadap sesuatu. Kalau mau dilihat dalam perspektif itu, mungkin dia ngikutin yang enggak ada prinsipnya. Prinsipnya memang gimana caranya tetap serve, tetap melayani, tetap menciptakan tulisan sebanyak-banyaknya, tetap berdakwah. Mereka mungkin idealismenya lebih cairlah. Gimana caranya bisa menjangkau pembacanya atau, dalam tanda kutip, lebih populer. Mereka juga populer sebetulnya tulisannya. Kalau populer kan sebetulnya lebih align dengan kapitalisme, lebih align dengan tuntutan zaman, sementara sastra konvensional berusaha melawan itu. Mungkin kayak gitu, Mas Cep. Enggak tahu itu otak–atik–gathuk-nya gimana. Tapi, aku rasa, itu sih. Kalau dalam konteks itu, ya, pasti bisa dianggap lebih berterima, lebih masuk. Tapi, kalau lebih siap, seolah-olah mereka punya kekuatan untuk menerima tantangan itu. Padahal, kita mungkin melihat tantangan atau perkembangan itu tidak serta-merta sebagai sesuatu yang harus kita terima. Mungkin gitu ya. Kira-kira gitu sih menurutku.
CEP
Sangat menarik. Kita lanjut ke poin tentang otoritas kritikus di masa digital. Nah, fenomena sekarang, ada banyak selebritas media sosial atau misalnya pengulas buku di TikTok dan lain-lain yang sedikit banyak lebih populer daripada, katakanlah, tulisan-tulisan kritikus tentang sebuah karya. Bagaimana kita membandingkan bahan pembahasan yang disodorkan kritikus dengan konten-konten yang disodorkan para selebritas yang cenderung memengaruhi para pembaca? Bagaimana pendapat Kak Ayda tentang fenomena seperti itu terkait otoritas kritikus?
AYDA
Itu pertanyaanku dua tahun lalu, Mas Cep. Digital literary critic mungkin enggak? Aku berharap muncul kritik sastra yang dimediasi oleh media sosial, yang dibawa oleh para selebritas buku, bookstagrammer, booktok. Aku meneliti bookstagrammer dua tahun lalu. Bayanganku juga gitu. Apa ini akan menggeser? Apa mereka akan bisa buat alternatif kritik? Tapi, kesimpulanku: Kayaknya dua hal ini memang arahnya beda. Kalau selebritas buku tujuannya promosi lebih banyak.
Oke, mari kita berdiri pada definisi kritikus sastra yang klasik. Mengevaluasi baik-buruk. Membedah sebuah karya sehingga kita bisa melihat karya itu dari berbagai macam dimensinya. Melihat relasi karya itu dengan elemen internalnya dan elemen eksternalnya. Kalau dalam kategori ini, selebritas media sosial buku jelas enggak memenuhi. Artinya, sejak kapan kritikus sastra berfungsi untuk membuat orang beli dan baca buku?
Kritikus sastra, fungsi awalnya memang menghadirkan hal-hal yang mungkin tidak muncul atau tidak disadari atau tidak dilihat oleh pembaca biasa, kan? Bagaimanapun, kritikus sastra itu pembaca, tapi pembaca dengan perspektif yang bisa menuliskannya, menganalisisnya. Buku yang diulas oleh kritikus mungkin akan dibaca, dibeli, dan disukai oleh orang yang juga memahami ulasan itu, sementara tidak semua orang membaca kritik sastra. Artinya, kita harus realistis. Karya yang dikritik belum tentu membuat orang pengin baca. Jadi, selebritas media sosial ini fungsinya memang sejak awal lebih cenderung ke memengaruhi orang untuk membeli dan membaca. Tujuannya memang promoting. Maka, mereka sering sekali bekerja sama dengan penerbit.
Penerbit sekarang kan lingkupnya gitu. Jadi, penerbit kerja samanya dengan bookstagrammer, booktuber, untuk tolong dong promosiin. Selain itu, audiensnya juga berbeda. Yang mendengar rekomendasi “Sintia with Books” dalam dua menit dengan yang sekaligus membaca kritik di Tengara itu ada. Tapi, lebih banyak lagi, yang satu baca ini, yang satu dengerin lainnya. Artinya, audiensnya jelas berbeda.
Jadi, menurutku, untuk melihat lebih dalam sebuah karya memang butuh kritikus. Untuk meningkatkan perhatian buat jualan itu memang tugasnya selebritas buku sastra. Bagus kalau dua itu bisa saling melengkapi. Bayangkan, karya Royyan atau Mas Cep diteliti di Tengara, habis itu dipromosikan oleh pemerhati atau selebritas media sosial buku. Kayak gitu kan malah saling mendukung. Martin Suryajaya mungkin salah satu contoh yang agak berbeda karena akhir-akhir ini beliau bikin IG promoting buku yang sangat engaging dengan durasi yang cukup singkat. Tapi, dia juga tetap nulis kritik. Artinya, dia bisa dua-duanya. Kita bisa lihat Martin yang jadi selebritas ngomongnya mungkin beda dengan Martin ketika nulis kritik sastra di Tengara. Artinya, memang fungsi dua-duanya beda.
Jadi, apakah selebritas ini mengguncang otoritas kritikus? Menurutku malah kadang-kadang dia membantu kritikus untuk menambahkan legitimasi buku. Kan bagus, misalnya, karya kita dikritik di Tengara, tapi habis itu muncul di akun Hannah Al Rashid. Wah, ini buku yang kubaca kayak gitu. Itu saling melengkapi dan tujuannya emang beda-beda.
Jadi, para selebritas media sosial buku tidak menciptakan kritik sastra yang seperti kita pahami. Tapi, aku menyebutnya “kritikus quote” karena mereka itu mengunggah quote-quote aja. Lihat tampilannya di Instagram. Mereka pasti garis bawahi quote–quote yang bagus kayak gitu kan. Sudah ada formulanya. Mereka pakai highlighter atau pakai apa namanya perintilan itu di quote-quote yang bagus. Terus, di bawah itu, sinopsis sedikit. Dimulai dengan quote. Quote apa gitu disambung. Jadi, banyak banget quote di dalam situ. Nah, quote itu kan khas. Apa yang mengambil hati pembaca dengan cepat. Tujuannya membuat promosi.
Jadi, apakah mereka menjadi kritikus digital? Enggak. Mereka kritikus quote. Memang tujuannya buat promosi. Otoritas kritikus konvensional tetap tidak tergantikan. Ada batasan-batasan media. Harus singkat, harus engaging, harus visual gitu. Batasan itu, menurutku, motivasi dan tujuannya sangat berbeda. Kalau aku tanya, Royyan mengulas buku A emang tujuannya supaya buku A dijual banyak? Kan belum tentu. Iya enggak, Royyan? Ketika mengulas buku, kita punya pikiran buku ini supaya lebih terkenal? Kan enggak. Karena kita sebetulnya mau menyampaikan pembacaan kita lebih mendalam tentang buku itu.
Dari situ aja udah kelihatan beda dari para pemerhati buku ini. Kalau yang itu, tujuannya memang: Belilah buku ini. Secara singkat. Buku ini apa bagus? Untuk cepat menarik, ya quote itu. Istilahnya kritikus quote atau kritikus keyword. Jadi, banyak banget keyword. Keywords-nya pasti dikeluarin tuh, science fiction, speculative fiction, dan lain-lain, atau keyword sama quote. Itu hasil penelitianku, Mas Cep. Jadi, enggak akan mengguncang otoritas kritikus sih sejauh ini.
ROY
Sebenarnya, tapal batas kritik sastra itu di mana, Kak Ayda? Antara yang bukan kritik dan yang kritik itu singkatnya seperti apa? Kenapa para selebgram tidak cukup untuk disebut kritikus? Padahal, pembacaan mereka kadang-kadang masuk ke perkara struktur juga. Aku pernah melihat di Facebook, dia membahas Ayat-Ayat Cinta. Banyak sekali komentarnya. Bagiku, dia bukan pembaca yang amatir karena sesekali memasukkan, misalnya, teori-teori tentang struktur prosa meskipun tidak selalu dia sampaikan. Mungkin karena dia melihat audiensnya pembaca awam.
AYDA
Aku sepakat banget, Royyan. Tentu saja yang aku sampaikan itu generalisasi. Gimana-gimana kan kita mengambil karakterisasi yang paling banyak. Aku sepakat banget. Bahkan, di awal-awal paper-ku, waktu presentasi, aku sangat menaruh harapan besar pada para selebritas media sosial buku.
Pertama, mereka mendemokratisasi kritik. Semua orang bisa menyampaikan kritiknya. Jadi, enggak perlu jadi Royyan, enggak perlu jadi Mas Cep Subhan, untuk nulis kritik yang bagus, untuk bisa nulis dan memublikasikannya. Bagiku, semua orang bisa komentar tentang karya itu baik dengan adanya media sosial.
Yang kedua, kenyataannya, banyak selebritas buku di Indonesia itu perempuan. Itu juga aku senang. Jadi, 90% bookstagrammer, booktok, banyak perempuannya. Enggak tahu kenapa. Mungkin ruang-ruang formal kurang berterima terhadap kritik yang sifatnya personal, impresionis. Selebritas media sosial buku itu memberi ruang juga untuk kritik yang impresionistik, yang subjektif. Itu juga aku rayakan. Kadang-kadang, kritik ala kita, kalau ngerekomendasiin buku ke orang, sangat subjektif gitu. Kenapa kita enggak boleh me-share subjektivitas kita? Kalau komentar, bahkan yang impresionistik, aku tetap hargai.
Tapi, apakah itu otomatis membuat mereka dianggap sebagai kritikus? Kita perlu lihat lagi standarnya. Tentu saja yang Royyan sampaikan betul. Ada banyak selebritas buku yang juga ngerti teori dan mereka bicara dari dalam. Ya, kita bisa sebut itu kritik sastra juga. Cuma, batasnya, secara sederhana, di mana? Menurutku, yaitu pembacaan dengan perspektif.
Apa itu struktural? Jadi satu dengan perspektif yang kedua. Itu menggabungkan elemen. Melihat lebih komprehensif elemen-elemen di dalamnya. Bukan hanya impresionistik semata. Walaupun yang impresionistik tetap kita harus lihat juga. Jadi, banyak selebritas media sosial yang juga sangat punya potensi untuk menulis kritik. Tapi, ada batasan media, ada kepentingan lain, yang mungkin memengaruhi. Misalnya, kembali ke Martin Suryajaya. Dia bahas serius banget buku Byung-Chul Han, misalnya. Itu salah satu filsuf favoritku juga. Tulisannya bagus. Tapi dianya keren dan tulisannya enak dibaca. Orang Jerman, born Korea. Bahasa tulisannya enak. Nah, Martin membahas dengan perspektif. Kalau yang dia omongin ditulis, bisa jadi kritik sastra.
Jadi, yang aku katakan itu kecenderungan umum. Bukan berarti tidak ada selebritas media sosial yang bisa nulis kritik sastra. Tapi, secara standar konvensional, kritik sastra membutuhkan pembacaan yang mendalam. Apakah konten Instagram dua menit itu mencakup atau enggak? Hal-hal lebih teknis sebetulnya yang bisa membedakan. Tapi, batasnya, ya ketika itu dibaca dengan perspektif tertentu, elemennya saling dihubungkan secara komprehensif dan direfleksikan.
Menurutku, kritik sastra perlu refleksi. Mengapa karya ini hadir seperti ini. Menurutku, itu tiga elemen yang penting kalau kita mengkritik sastra. Nah, kecenderungannya, selebritas media sosial buku, karena keterbatasan media, karena kepentingan promosi, kepentingan kerja sama yang lebih praktis, elemen-elemen itu disingkirkan. Tapi, bukan berarti mereka enggak bisa. Tetap bisa aja. Cuma, kecenderungan yang aku baca itu, kepentingan praktis dan kapitalisnya lebih dekat, lebih dominan, sehingga quote-quote yang sering muncul. Gitu aja sih, Royyan. Jadi kritikus quote gitu.
NINUS
Ngomong-ngomong, pemerintah kita belakangan lebih terlihat punya upaya untuk memanggungkan sastra Indonesia ke pentas dunia. Tapi, kita tahu, di dalam negeri sendiri, pembaca sastra konvensional cenderung sedikit, lebih banyak, misalnya, Kak Ayda sudah menyebutkan, pembaca AU. Kalau menurut Kak Ayda, gimana sebenarnya obsesi pemerintah untuk upaya internasionalisasi ini? Yang disorot sepertinya juga masih karya sastra itu sendiri. Bagaimana dengan pemikir-pemikir sastra yang mungkin gagasannya juga perlu atau relevan dalam percakapan di tingkat, misalnya, pemikiran kebudayaan atau yang lebih terkait dengan, mungkin, Global South atau isu-isu seperti itu?
AYDA
Oke. Makasih Mbak Ninus. Tadi kita udah sempat bahas di awal. Memang, konteks internasionalisasi pasti sama pemerintah dikembangkan dengan pandangan bahwa sastra bagian dari identitas. Kalau sastra Indonesia banyak diterjemahkan ke luar, Indonesia menjadi kuat di arena global. Jadi, sastra sebagai bagian dari identitas kita. Yang perlu diketahui juga, itu sangat selektif. Namanya internasionalisasi, kalau udah ada representasi, pasti jadinya pars pro toto gitu. Sebagian untuk keseluruhan.
Itu juga yang kemarin aku sarankan di grup. Itu terkait dengan Global South juga, Mbak. Waktu ikut kuratorial sebuah program pengiriman sastrawan-sastrawan Indonesia ke festival luar negeri, mereka mengakuisisi tema yang lagi populer di dunia internasional. Aku dan beberapa orang usul, kita kan maju sendiri, kenapa kita harus selalu jadi pengin yang lokal yang eksotis? Itu kan mencerminkan bayangan dunia global terhadap Indonesia.
Indonesia juga banyak lho tema-tema urban. Kenapa kita enggak menunjukkan warna kita sendiri, alih-alih mengikuti pasar internasional? Penginnya yang magical realism, meneguhkan bayangan global terhadap sastra Indonesia. Jadi, ngambil-ngambilnya juga yang kayak gitu. Itu satu permasalahannya selain ada seleksi yang sangat tidak seimbang. Itu masalah yang kedua. Nah, yang ketiga, menurutku kita harus mengapresiasi pemerintah sekarang yang banyak men-translate karya supaya dibaca. Tapi, terkait yang disampaikan Mbak Ninus dan teman-teman itu, aku juga tertarik ya. Percakapan di level karya mungkin udah. Saling baca karya, kayak gitu ya.
Kita sekarang juga banyak, misalnya, intertekstualitas karya kita dengan karya asing, karena terjemahan, karena media sosial. Itu cepat banget. Tapi, intertekstualitas pemikiran belum. Atau belum seimbang, setidaknya. Bayangkan, kita menyerap teori asing untuk melihat karya kita sendiri, tapi pemikiran kita yang digunakan untuk melihat karya kita sendiri dan dipresentasikan di dunia luar belum ada.
Jadi, memang, percakapan di level kritik itu perlu dikuatkan. Aku kepikiran, misalnya, karya sastra Indonesia dikaji orang Barat banyak kayak gitu. Karya Barat dikaji orang kita juga banyak, tapi enggak diketahui dan enggak dilegitimasi. Di kampus-kampus banyak banget, misalnya, jurusan sastra Inggris, tapi enggak dilihat. Itu memang masalah support system-nya yang belum seimbang. Aku kepikiran, itu problem teknis dan problem sistemik.
Tengara mungkin bikin, suatu ketika, yang bahasa Inggris semua atau kerja sama dengan magazine mana. Minta satu special issue yang penulisnya orang Indonesia semua. Wah, Tengara kalau ada versi bahasa Inggrisnya mantap banget. Siapa tahu itu bisa jadi salah satu bentuk bagaimana kita mengenalkan kritikus kita, cara berpikir kita, otomatis juga teori kita. Jadi, teori yang muncul dari karya kita sendiri kayak gitu, bukan yang serta-merta dari Barat. Bayangkan, kita selalu menggunakan itu juga untuk kritik ke diriku sendiri. Menggunakan cara pandang asing untuk melihat karya kita sendiri. Kita selalu melihat dengan mata yang berbeda. Aku kurang tahu nanti mewujudkannya seperti apa, tapi aku sangat sepakat. Jadi, internasionalisasi bukan cuma karya, tapi juga pikiran, kritik, cara pandang, dan sebagainya. Nah, itu mungkin harus dimulai dari yang paling sederhana, secara sistem, secara teknis, misalnya dengan bahasa Inggris atau apa. Menurutku begitu sih, Mbak Ninus. Memang, upaya itu banyak PR-nya walaupun tetap harus kita apresiasi.
CEP
Berbagai genre bermunculan, seperti fiksi sains, eco-literature, queer, dan dekolonial. Bagaimana perkembangan ini terkait dengan kualitas sastra dan kritik sastra di Indonesia?
AYDA
Karya dan kritik seharusnya bisa saling memengaruhi karena perenungan, pergulatan pengarang tentang dunianya, bisa memunculkan pembacaan kritis. Seperti Pram menuliskan tentang zaman lewat realisme sosial, pergulatannya dengan dunianya. Sementara kritikus bisa membaca ruang-ruang yang lain yang mungkin dilewatkan oleh pembaca awam. Itu bisa terjadi, dari abstraksi ke karya ke teori. Karya sastra yang baik bisa memunculkan kritik sastra yang baik, sesuatu yang menjadi pengetahuan baru. Dan sebaliknya, kritik sastra yang baik bisa memunculkan gagasan untuk menuliskan karya yang berbeda, yang mengisi ruang-ruang pembacaan baru.
Karya maupun kritik sama-sama bisa memakai perspektif dekolonial. Menurutku, semestinya kualitas keduanya berjalan paralel. Karya yang banyak, menginspirasi kritik yang beragam. Demikian pula sebaliknya. Kritik sastra menginspirasi penulis untuk bikin karya baru juga. Ada dua kemungkinan sebuah pengetahuan itu dikembangkan dalam konteks karya sastra. Orang mencermati dunia, menceritakannya dalam karya sastra, diulas kritikus, jadi sebuah teori. Misal, realisme sosialis Pram dibaca oleh Mas Eka. Atau sebaliknya, orang belajar teori, lalu mencermati masyarakat, dan merealisasikannya dalam karya sastra. Banyak banget karya sastra Indoensia yang demikian.
Dan kini, pandangan dekolonial, misalnya, yang tidak membedakan keduanya, semakin menyadarkan kita. Teori dan fiksi bisa jadi sumber satu dengan yang lain. Pandangan ini perlu digalakkan menurutku. Misal, membaca feminismenya Suwarsih atau Nh. Dini. Itu bisa jadi cara pandang dalam melakukan kritik sastra.
ROY
Terkait semakin melebarnya genre sastra tersebut, Kak Ayda, bagaimana kualitas kritik sastra kita hari ini yang kerap jatuh pada cultural studies sehingga kekhasan karya sastra sebagai karya seni kerap dinafikan?
AYDA
Sepakat dengan Royyan. Kritik sastra harus menguasai dulu elemen-elemen dasarnya, yakni narativitas. Sebuah karya tidak dikalahkan oleh kungkungan-kungkungan besar yang melingkupinya. Harus berpijak pada craft-nya juga, struktur dan susunan naratifnya.
Itulah mengapa aku bersama Prof. Faruk mengaktifkan lagi mata kuliah naratologi karena harus seimbang dua-duanya. Kalau enggak, bisa meleset pembacaannya. Kritik feminis, misalnya. Kalau hanya melihat dari banyaknya tokoh perempuan yang muncul, akan mudah melihatnya sebagai karya yang mengangkat perempuan. Tapi, bagaimana tokoh perempuan itu diposisikan dalam naratif, perempuan itu bisa bersuara tidak? Dia menjadi objek atau subjek? Hanya naratologi yang bisa membantu kritikus menjawab perkara tersebut melalui pembedahan teks secara cermat.
ROY
Baik. Terima kasih, Kak Ayda. Obrolan yang menyegarkan sekali tentang sastra Indonesia pasca-2000.
tengara.id
tengara.id adalah upaya strategis untuk meningkatkan kualitas karya sastra Indonesia melalui pembacaan, pembedahan, dan penilaian yang dilakukan dengan landasan argumen dan teori yang bermutu.

