Kanon dan Kerja Ingatan

Pada 2022, sebuah puisi berjudul “Ibu” beredar luas di berbagai media daring menjelang peringatan Hari Ibu. Puisi tersebut dimuat oleh sejumlah portal berita, dibagikan kembali melalui media sosial, bahkan digunakan sebagai materi publikasi oleh berbagai institusi dengan mencantumkan nama Chairil Anwar sebagai pengarangnya. Belakangan terungkap bahwa puisi itu tidak termasuk dalam korpus karya Chairil. Sejumlah media kemudian memperbaiki pemberitaannya, beberapa memilih menghapusnya, sedangkan yang lain tetap membiarkan kekeliruan tersebut beredar. Peristiwa itu tidak berhenti sebagai kesalahan atribusi semata-mata. Yang mengemuka, yaitu mudahnya sebuah informasi diterima tanpa dorongan untuk menelusuri sumber yang melandasinya.

Polemik puisi “Ibu” mudah dipahami sebagai akibat kelalaian media atau kekacauan dokumentasi. Cep Subhan KM membacanya dari arah yang berbeda. Perhatiannya tertuju pada rapuhnya ingatan sastra, ketika kewibawaan sebuah nama lebih dipercaya daripada jejak yang menopangnya. Dalam situasi seperti itu, kesalahan atribusi tidak lagi berdiri sebagai peristiwa yang terpisah. Ia memperlihatkan cara sebuah masyarakat membangun kepercayaan terhadap sejarah sastranya sendiri.

Perspektif itulah yang membuat Tiga Menguak Chairil: Media, Perempuan, dan Puitika Kiri menarik untuk dibaca. Cep memulai pembahasannya dari sejarah yang membuat karya-karya tertentu diterima sebagai milik Chairil. Pilihan tersebut menggeser perhatian dari teks menuju proses yang membentuk otoritas kepengarangan. Sebagaimana yang ditegaskannya, pengetahuan mengenai pustaka referensi Chairil memiliki arti yang sangat penting.[1] Pernyataan itu tampak sederhana, tetapi membawa implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar ajakan memeriksa bibliografi. Ia mengingatkan bahwa sejarah sastra hanya dapat dipertahankan apabila pembacanya bersedia kembali kepada sumber-sumber yang membangunnya.

Persoalan yang dibuka Cep tidak berhenti pada bibliografi. Jika sebuah puisi dapat kehilangan pengarangnya akibat kekeliruan yang terus direproduksi, apakah sejarah sastra juga dapat kehilangan jejak pembentukannya sendiri? Bagi saya, pertanyaan itulah yang menjadi sumbangan paling penting buku ini. Perhatian Cep tidak diarahkan pada upaya menggugat kedudukan Chairil sebagai salah satu penyair terbesar Indonesia. Ia mengajak pembaca meninjau kembali kecenderungan menerima kebesaran tersebut sebagai sesuatu yang telah mapan. Chairil hadir sebagai nama yang terus dibentuk melalui arsip, kritik sastra, biografi, pendidikan, dan berbagai praktik pembacaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Bertolak dari perspektif tersebut, esai ini menempatkan buku Tiga Menguak Chairil sebagai ruang dialog, bukan sebagai objek yang harus diputuskan benar atau keliru. Fokus pembacaan diarahkan pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Cep sekaligus kemungkinan untuk mengembangkannya lebih jauh. Apabila sejarah sastra terbentuk melalui proses pembacaan yang terus berlangsung, membaca ulang Chairil juga berarti meninjau kembali cara sastra Indonesia menyusun, mempertahankan, dan mewariskan kanonnya.

 

Ketika Nama Menjadi Otoritas

 Barangkali tidak ada ironi lebih besar bagi seorang penyair selain terus dikenang melalui puisi yang tidak pernah ia tulis. Itulah yang dialami Chairil ketika puisi “Ibu” beredar luas dengan mencantumkan namanya sebagai pengarang. Peristiwa tersebut dijadikan Cep sebagai titik berangkat untuk menelusuri proses yang membuat sebuah kekeliruan diterima sebagai kebenaran.

Pertanyaan yang diajukannya jauh melampaui kasus salah atribusi. Mengapa sebuah puisi yang tidak ditulis Chairil dapat diterima publik–dan bahkan termasuk akademisi–sebagai karyanya? Kelalaian media dan kekacauan dokumentasi memang ikut berperan, tetapi keduanya belum cukup menjelaskan mengapa kekeliruan itu dapat diterima begitu luas. Di balik peristiwa tersebut, bekerja kewibawaan sebuah nama. Selama puluhan tahun Chairil menempati posisi sangat penting dalam sastra Indonesia modern. Kedudukan itu membentuk otoritas yang membuat namanya seolah-olah mampu mengesahkan sebuah teks tanpa memerlukan pembuktian lebih lanjut. Dalam situasi seperti itu, reputasi sering kali lebih menentukan daripada arsip.

Pembahasan Cep tidak berhenti pada kritik terhadap media yang keliru mengutip. Ia menelusuri perpindahan kesalahan dari satu media ke media lain hingga akhirnya diterima sebagai pengetahuan bersama. Melalui pembacaan atas artikel, antologi, dan bibliografi Chairil, ia memperlihatkan memudarnya kebiasaan menelusuri sumber. Penegasannya mengenai pentingnya pustaka referensi Chairil[2] mengarah pada persoalan yang lebih luas, yakni bagaimana integritas sejarah sastra dipertahankan melalui kebiasaan memeriksa sumber.

Kasus puisi “Ibu” memperlihatkan bahwa sejarah sastra dapat mengalami distorsi ketika tradisi memeriksa sumber mulai ditinggalkan. Kekeliruan atribusi berkembang menjadi cara pengetahuan sastra diproduksi melalui pengulangan. Informasi yang terus dikutip perlahan memperoleh status sebagai kebenaran meskipun landasan yang menopangnya tidak pernah benar-benar diuji.

Persoalan semacam itu sebenarnya telah lama menjadi perhatian kritik sastra Indonesia. H.B. Jassin menempatkan penyusunan korpus Chairil sebagai fondasi sebelum pembacaan estetik dilakukan. Sebuah puisi tidak dapat ditafsirkan apabila keaslian teksnya sendiri masih diragukan.[3] Cep bergerak di medan yang berbeda. Jika Jassin bekerja di tengah manuskrip, majalah, dan arsip cetak, Cep berhadapan dengan mesin pencari, portal berita, media sosial, serta reproduksi digital yang memungkinkan satu kekeliruan menyebar jauh lebih cepat daripada proses koreksinya.

Buku ini terasa dekat dengan situasi pembaca hari ini. Internet memang memperluas akses terhadap karya sastra sekaligus mengubah cara otoritas bekerja. Sebuah teks sering dipercaya karena terus muncul di berbagai laman, bukan karena jejak sumbernya dapat diverifikasi. Frekuensi reproduksi informasi akhirnya lebih menentukan daripada kedekatan dengan arsip. Dalam ruang algoritmik, kekeliruan yang beredar berulang kali dapat tampil sama meyakinkannya dengan fakta.[4]

Pembacaan Cep menemukan relevansinya yang paling luas ketika persoalan Chairil berkembang menjadi persoalan sejarah sastra. Sejarah sastra, sebagaimana sejarah pada umumnya, tidak pernah hadir sebagai rekaman yang sepenuhnya netral. Ia terbentuk melalui proses seleksi, penyuntingan, pengarsipan, dan pewarisan yang selalu melibatkan institusi kebudayaan serta praktik membaca tertentu.[5] Kerja bibliografis yang dilakukan Cep melampaui upaya meluruskan kesalahan atribusi. Melalui penelusuran tersebut, ia menunjukkan bahwa sejarah sastra hanya dapat dipertahankan apabila disiplin intelektual untuk kembali memeriksa sumber tetap terpelihara, bahkan ketika sebuah nama telah begitu mapan sehingga nyaris tidak lagi mengundang pertanyaan.

 

Biografi dan Mitologi Pengarang

Seorang pengarang dikenang melalui karya yang ditulisnya sekaligus kisah-kisah yang mengitari namanya. Dalam sejarah sastra, biografi kerap dijadikan jalan masuk untuk memahami sebuah karya. Surat-surat pribadi, hubungan asmara, lingkungan pergaulan, hingga kebiasaan sehari-hari dibaca dengan harapan dapat menjelaskan lahirnya sebuah puisi. Seiring waktu, biografi sering diterima sebagai kumpulan fakta yang nyaris tidak lagi dipersoalkan.

Bab “Chairil Anwar, Puisi Asmara, dan Subjek Feminin” menawarkan sudut pandang yang berbeda. Cep tidak berusaha menyusun kembali riwayat percintaan Chairil ataupun menelusuri siapa perempuan yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Perhatian Cep tertuju pada cara perempuan dihadirkan dalam narasi tentang Chairil. Ia mencatat bahwa nama-nama seperti Sri Ajati, Ida Nasution, Hapsah, Mirat, dan sejumlah perempuan lain hampir selalu muncul dalam pembicaraan mengenai Chairil. Kehadiran mereka lebih sering berfungsi sebagai pelengkap kisah sang penyair daripada sebagai tokoh yang memiliki sejarahnya sendiri.[6]

Historiografi sastra Indonesia berulang kali menempatkan perempuan sebagai penjelas bagi lahirnya seorang penyair besar. Kehadiran mereka kemudian menyatu ke dalam narasi yang membangun citra kepengarangan Chairil. Akibatnya, perhatian pembaca lebih mudah tertuju pada mitologi sang penyair daripada pengalaman hidup para perempuan yang turut mengisi kisah tersebut.

Pembacaan Cep memperlihatkan fungsi biografi dari sudut yang berbeda. Selama ini biografi lazim dipandang sebagai pelengkap pembacaan karya sastra. Uraiannya menunjukkan bahwa biografi juga membentuk cara pembaca mengenali seorang pengarang dan memengaruhi penerimaan terhadap karya-karyanya. Tidak mengherankan apabila Chairil kemudian dikenal melalui kisah-kisah mengenai kehidupannya hampir sesering pembaca mengenalnya melalui puisi-puisinya.

Pandangan tersebut mengingatkan bahwa biografi tidak pernah hadir sebagai rekaman utuh atas kehidupan seseorang. Setiap biografi merupakan hasil penyusunan kembali dari memoar, surat, kesaksian, dan berbagai dokumen yang berhasil dipertahankan. Sebagian pengalaman terus diingat, sebagian lain memudar, sedangkan beberapa peristiwa memperoleh tempat yang lebih menonjol karena terus-menerus dikutip oleh penulis sesudahnya. Sama seperti puisi yang mengalami penyuntingan, biografi pun memiliki sejarah penulisannya sendiri.[7] Yang sampai kepada pembaca akhirnya, yaitu sebuah narasi yang telah melalui proses pemilihan, penekanan, dan penafsiran.

Biografi selalu lahir melalui proses seleksi yang menentukan pengalaman mana yang memperoleh tempat dalam sejarah sastra. Dalam narasi mengenai Chairil, perempuan lebih sering dikenali melalui hubungannya dengan sang penyair. Ruang untuk membaca mereka sebagai subjek sejarah pun menjadi semakin sempit. Historiografi sastra Indonesia terus memperkuat mitologi tentang Chairil, sedangkan pengalaman perempuan tetap berada di bawah bayang-bayang narasi kepengarangannya.

Bab “Puisi Chairil di Tangan Penulis Konten dan Editor Media Kiwari” dan “Chairil Anwar, Puisi Asmara, dan Subjek Feminin” saling menerangi. Yang pertama menelusuri asal-usul sebuah teks, sedangkan yang kedua memperlihatkan bagaimana riwayat hidup pengarang disusun. Keduanya bertemu pada kesadaran bahwa sejarah sastra selalu sampai kepada pembaca melalui arsip, dokumen, dan narasi yang diwariskan.

Pembacaan terhadap Chairil Anwar akhirnya tidak berhenti pada puisi ataupun riwayat hidupnya. Perhatian bergeser ke proses yang membentuk keduanya menjadi bagian dari sejarah sastra. Setiap generasi menyusun kembali kisah tentang seorang pengarang melalui sumber yang tersedia, kepentingan zamannya, dan cara bacanya sendiri. Selama proses itu berlangsung, tidak ada biografi yang benar-benar mencapai bentuk final.

 

Kanon dan Politik Pembacaan

Bagian terakhir “Tiga Menguak Chairil” membawa pembaca keluar dari persoalan arsip dan biografi menuju sejarah pembacaan. Cep menutup pembahasannya dengan esai yang menautkan puitika Sitor Situmorang dengan puitika Chairil Anwar, “Puitika Chairil Jalur Kiri, Puitika ‘Iseng’ Sitor Situmorang”. Pilihan ini segera menunjukkan arah diskusinya. Perhatian buku tidak tertuju pada upaya menentukan posisi ideologis Chairil, tetapi tertuju pada perubahan cara seorang penyair dipahami ketika konteks intelektual di sekelilingnya ikut berubah.

Sitor hadir sebagai bagian dari sejarah pembacaan tersebut.[9] Melalui pembahasan mengenai modernisme, romantisisme, puitika Chairil, hingga perubahan orientasi estetik Sitor pada masa Lekra, Cep memperlihatkan bahwa tafsir sastra selalu lahir di tengah perdebatan zamannya. Setiap periode menghadirkan perangkat konseptual yang berbeda. Istilah seperti kiri, modern, humanis, atau individualis memperoleh makna sesuai dengan ruang intelektual yang melahirkannya. Dengan demikian, kategori-kategori tersebut lebih tepat dipahami sebagai hasil sejarah kritik sastra daripada sebagai identitas yang melekat secara tetap pada Chairil.

Pembahasan kemudian bergerak menuju perubahan paradigma kritik sastra Indonesia. Romantisisme, modernisme, kritik ekspresif, kritik objektif, hingga pembacaan ideologis memperlihatkan bahwa cara memahami karya sastra terus mengalami pergeseran. Kehadiran Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jassin, Sitor Situmorang, A. Teeuw, sampai Nirwan Dewanto menandai mata rantai tradisi kritik yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.[8] Puisi-puisi Chairil tetap berada di tempatnya, sedangkan perangkat konseptual yang digunakan untuk memahaminya terus berubah mengikuti perkembangan pemikiran sastra.

Kedudukan Chairil kerap diperlakukan sebagai sesuatu yang telah mapan dalam sejarah sastra Indonesia. Cep memperlihatkan bahwa kemapanan itu tidak hadir dengan sendirinya. Ia terus dipelihara melalui sejarah kritik sastra, perdebatan estetik, dan tradisi pembacaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap kali Chairil disebut sebagai pelopor puisi modern, penyair individualis, atau ikon Angkatan ’45’, sesungguhnya kita sedang mengulang sebuah cara membaca yang telah dibentuk selama puluhan tahun. Dari pengulangan itulah kanon memperoleh kewibawaannya dan perlahan diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Persoalan kanon juga dapat dibaca melalui jaringan institusi yang membentuk kehidupan sastra. Kritik sastra memang memiliki peran penting dalam membangun kedudukan Chairil, tetapi proses tersebut berlangsung bersama pendidikan, penerbit, media massa, penghargaan sastra, dan kebijakan kebudayaan. Seluruhnya ikut menentukan karya mana yang terus beredar dan karya mana yang perlahan menghilang dari perhatian publik. Pandangan ini mengingatkan pada gagasan Pierre Bourdieu mengenai field of cultural production. Nilai sastra, menurut Bourdieu, lahir dari hubungan antarpelaku dan antar-institusi yang terus memperebutkan legitimasi di dalam arena sastra.[10] Dari perspektif tersebut, kedudukan Chairil bertumpu pada kekuatan puisinya sekaligus pada kerja kolektif berbagai lembaga yang selama puluhan tahun mempertahankan tradisi pembacaannya. Arsip, kritik, pendidikan, media, dan penerbit membentuk jejaring yang terus mengukuhkan kewibawaan nama Chairil dalam sejarah sastra Indonesia.

Pembahasan Cep membawa persoalan ini jauh melampaui Chairil. Pertanyaan yang sama dapat diarahkan kepada Amir Hamzah, Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, atau pengarang lain yang kini menempati posisi kanonik. Bagaimana sebuah nama memperoleh legitimasi? Siapa yang membentuk cara karya-karyanya dibaca? Sejauh mana lembaga-lembaga kebudayaan ikut menentukan penerimaan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa kanon selalu lahir melalui proses sejarah yang panjang.

Setelah menutup buku ini, saya tidak merasa menemukan Chairil yang berbeda. Perubahan terjadi pada cara saya memandang sejarah sastra Indonesia. Puisi-puisi Chairil tetap sama, tetapi jalan yang mengantarkan karya-karya itu menjadi bagian dari kanon tampak jauh lebih kompleks. Buku ini menunjukkan bahwa kebesaran seorang pengarang tidak hanya bertumpu pada mutu karya, tetapi juga pada sejarah pembacaan yang terus bergerak. Kritik sastra, pendidikan, penerbit, media massa, dan berbagai lembaga kebudayaan membentuk ruang tempat karya-karya tersebut dibaca, diperdebatkan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin di situlah arti penting Tiga Menguak Chairil; mengingatkan bahwa kanon selalu terbuka untuk dibaca ulang selama sejarah sastra tetap diperlakukan sebagai ruang dialog, bukan sekadar kumpulan nama yang telah disepakati.

 

CATATAN

[1] Cep Subhan KM. Tiga Menguak Chairil. Jakarta: Anagram, 2024, bagian “Puisi Chairil di Tangan Penulis Konten dan Editor Media Kiwari”. Digunakan ketika membahas pentingnya bibliografi dalam membaca kembali korpus Chairil Anwar.

[2] Ibid. Digunakan ketika membahas polemik atribusi puisi “Ibu” dan pentingnya verifikasi sumber dalam sejarah sastra.

[3] H.B. Jassin. Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45. Jakarta: Gunung Agung, 1983.

[4] John Guillory. Cultural Capital: The Problem of Literary Canon Formation. Chicago: University of Chicago Press, 1993.

[5] Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik sampai Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017.

[6] Cep Subhan KM. Tiga Menguak Chairil. Jakarta: Anagram, 2024, bagian “Chairil Anwar, Puisi Asmara, dan Subjek Feminin”. Digunakan ketika membahas representasi perempuan dalam biografi Chairil Anwar.

[7] A. Teeuw. Sastra Indonesia Modern II. Jakarta: Pustaka Jaya, 1989.

[8] Keith Foulcher. Social Commitment in Literature and the Arts: The Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950–1965. Clayton: Centre of Southeast Asian Studies, Monash University, 1986.

[9] Cep Subhan KM. Tiga Menguak Chairil. Jakarta: Anagram, 2024, bagian “Puitika Chairil Jalur Kiri, Puitika ‘Iseng’ Sitor Situmorang”. Digunakan ketika membahas pembacaan Sitor Situmorang, modernisme, Lekra, dan sejarah kritik sastra Indonesia dalam membaca Chairil Anwar.

[10] Pierre Bourdieu. The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature. Edited by Randal Johnson. New York: Columbia University Press, 1993.

Marginalia20 Agustus 2026

Rini Febriani Hauri


Rini Febriani Hauri menulis puisi, prosa, esai, dan buku anak. Karya bukunya meliputi Hikayat Depati Parbo (novel biografis, 2017), Nipah Panjang (puisi, 2019), Dongeng-Dongeng Orang Rimba (buku anak, 2021), dan lain-lain. Saat ini menempuh studi magister di Program Studi Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.