Manifesto Spicepunk
Menuju Gerakan Kritis untuk Fiksi Sains dan Fantasi (SFF) Berbasis Warisan Asia Tenggara

Ilustrasi: Nadya Noor

Ada hantu berkeliaran di Asia Tenggara: hantu spicepunk. Di antara populasi poliglot kita dari sebelas negara-bangsa, serta berpulau-pulau emigran global dan diaspora ekspatriat kita yang luas, para seniman dan penulis kita sama-sama (tetapi tanpa dipengaruhi satu sama lain) menemukan diri kita dirasuki roh yang sama; hantu atau anito yang sama; phi, nat, boramey, sanghyang, atau thần yang sama.

Apa itu spicepunk? Kata itu menggambarkan gelombang fiksi spekulatif dan seni fantastik yang terbilang masih baru, gelombang yang melawan modernitas hegemonik (ter)Barat(kan) dengan visi alternatif yang berlabuh pada warisan dan sejarah Asia Tenggara.

Spicepunk ada dalam kisah-kisah Hinirang karya Dean Francis Alfar, seperti The Kite of Stars, yang berlatarkan Filipina kolonial versi magis; ada dalam cerita-cerita Xuya karya Aliette de Bodard, seperti The Tea Master and the Detective, yang berlatarkan kerajaan galaksi terinspirasi Vietnam. Spicepunk ada dalam pertunjukan seni multidisiplin yang ditampilkan Zarina Muhammad melalui Pragmatic Prayers for the Kala at the Threshold, yang menghubungkan geografi perkotaan Singapura dan tubuh queer dengan legenda dan sihir ritual Melayu prakolonial; ada dalam A Thousand Thousand Islands, zine serial karya Zedeck Siew yang penuh sesak dengan skenario dan ilustrasi dengan mengambil inspirasi Asia Tenggara, yang dibuat untuk menjadi dasar TRPG.[1] Sampai batas tertentu, spicepunk ada dalam Raya and the Last Dragon milik Disney yang bukan main problematiknya, tetapi spicepunk juga ada dalam diri orang-orang Asia Tenggara pada umumnya yang menyemarakkan Discord untuk mengkritik karya tersebut dalam-dalam, sebagaimana ditayangkan dalam rangkaian kuliah YouTube yang dikurasi Xiran Jay Zhao.[1]

Istilah “spicepunk” belum beredar luas. Saya menciptakannya sendiri pada 2017 sebagai seorang penulis Anglofon Singapura dan peneliti fiksi spekulatif.[2] Sejak itu, saya telah berusaha menyempurnakan istilah tersebut melalui jejaring sastra saya di Manila dan Kuala Lumpur, meski masih dibatasi ketidaktahuan saya terkait perkembangan di pusat urban lain, serta terkait berbagai sastra vernakular di wilayah Asia Tenggara.

Dunia fiksi spekulatif Asia Tenggara amat luas, tidak berpusat, dan hampir tak terpetakan. Dalam esai ini, saya membuat pernyataan berani mengenai spicepunk tetapi hanya sedalam garis luarnya, dan dengan segala kekurangan saya tetap terbuka terhadap kontradiksi dan koreksi. Manifesto ini, seperti lahan spicepunk sendiri, harus dibaca sebagai karya yang sedang berjalan.

 

1. Sejarah dan Konteks

Seperti namanya, spicepunk berkerabat dengan genre steampunk yang sudah mapan, dan konsepsi silkpunk oleh Ken Liu, yang ia artikan sebagai “teknologi dan estetika sastra yang sangat spesifik,” disampaikan oleh gagasan penyair-insinyur dan “materi historis penting bagi orang-orang Asia Timur dan pulau-pulau Pasifik.”[3] Namun, spicepunk lebih dekat lagi dengan Africanfuturism (Futurisme Afrika) a la Nnedi Okorafor, suatu subkategori fiksi ilmiah yang “berakar dalam budaya, sejarah, mitologi, dan sudut pandang Afrika secara spesifik dan lebih langsung” yang “tidak mengistimewakan atau memusatkan Barat,” dan “peduli dengan visi masa depan, tertarik pada teknologi… cenderung optimis.”[4]

Semua budaya non-Barat termarjinalisasi di panggung dunia. Namun, Asia Tenggara mengalaminya sekaligus dengan penghapusan yang berlangsung konsisten, melalui penyingkiran yang menggunakan tokenisasi representasi Asia dengan representasi Cina, Jepang, India, dan Timur Tengah. Kerajaan-kerajaan besar Funan, Bagan, Khmer, Sriwijaya, Majapahit, Melaka, Đại Việt, dan Ayutthaya tetap menjadi sekadar catatan kaki obskur dalam leksikon sejarah, apalagi di antara masyarakat yang bersikukuh menolak bergabung dengan negara (yang tak terhitung jumlahnya), seperti Suku Laut dan suku perbukitan di Zomia. Terlalu sering, narasi agung evolusi manusia tidak berdasarkan pada pengetahuan apa pun mengenai wilayah kita hingga tercatatnya Perang Vietnam.

Penilaian sebelah mata ini telah meracuni hubungan kita dengan warisan kita. Sosiolog Lily Zubaidah Rahim mengidentifikasi fenomena tersebut sebagai tesis defisit budaya:[5] keyakinan bahwa budaya-budaya tertentu terlalu terbelakang, terlalu primitif untuk memberi manfaat di dunia modern, dan harus dibuang atau diubah atas nama kemajuan. Inilah sebabnya, pada abad ke-19 dan ke-20, para intelektual Asia Tenggara menganjurkan untuk membengkalaikan takhayul dan fantasi, untuk bersikeras pada realisme sosial sebagai satu-satunya genre sastra yang valid, dan untuk menuruntahtakan legenda-legenda kita yang berserak naga dan diwata, menjadikannya sebatas ranah kanak-kanak.

Tentu saja, budaya Asia Tenggara sama sekali tidak terbelakang. Kita hanya tinggal melihat karya-karya awal fantasi Asia Tenggara untuk menemukan contoh proto-spicepunk, dunia yang pengarang gunakan demi mengimajinasikan sihir, tradisi, teknologi, dan kosmopolitanisme dalam koeksistensi nan harmonis. Puisi epik Sunthorn Phu tahun 1844 Phra Aphai Mani menampilkan tidak hanya tukang sihir Thailand, putri raja pejuang, duyung, dan gergasi perempuan, tetapi juga kapal bertenaga uap, pemutar musik mekanik, dan karakter asal Sri Lanka, India, Belanda, Portugis, Melayu, dan Cina. Novel Putera Gunung Tahan (1937) karya Ishak bin Haji Muhammad menceritakan petugas peninjau kolonial Inggris yang dikalahkan oleh bangsawan gaib dari pegunungan Malaysia: salah satu dari mereka bahkan mendemonstrasikan penggunaan teleskop bambu yang dapat memperlihatkan pemandangan lokasi mana pun di dunia, bahkan desa Inggris milik si penjajah.

Namun, perjuangan awal fiksi ilmiah Asia Tenggara diiringi pesimisme, ketika penulis berjuang untuk membayangkan bagaimana kita, sebagai orang-orang di Dunia Ketiga, dapat bertahan sementara negara-negara adidaya memamerkan keunggulan mereka dalam teknologi militer.[6]

Cerpen Mushroom Harvest (1961) karya Stella Kon menggambarkan Singapura yang kehilangan agensi usai perang nuklir nun jauh, para perempuannya tidak berdaya saat melahirkan anak-anak generasi baru yang dicacatkan oleh jatuhan radioaktif. Cerita pendek The Apollo Centennial (1980) karya Gregorio Brilliantes menggambarkan Filipina yang masih terperosok dalam kemiskinan dan korupsi pada 2069, para petaninya mengembarai pameran besar-besaran tentang penaklukan luar angkasa Eropa-Amerika.

Gemerlip spicepunk dapat dilihat sekilas pada karya akhir abad ke-20 lain. Lihat cerita pendek “Fiddling for Water Buffaloes” (1986 karya S. P. Somtow), kisah liar keluarga pedesaan Thailand yang memperantarai dan menipu delegasi ekstraterestrial yang mencari artefak di penggalian arkeologi Khmer. Juga novel The Painted Alphabet (1996) karya Diana Darling, sebuah adaptasi dari puisi dramatis Bali Babad Dukuh Suladri, diperbarui dengan bemo, turis, dan televisi yang berseliweran di tengah-tengah perang antara penyihir perempuan dan laki-laki.

Namun jika didesak, saya akan menempatkan tanggal lahir gerakan spicepunk pada 2003. Tahun ini menandai kemunculan L’Alquilone du Estrellas (The Kite of Stars) karya Dean Francis Alfar, yang sudah saya sebutkan sebelumnya,[7] dalam Strange Horizons. Cerita tersebut mengisahkan Maria Isabella du’l Cielo, gadis 16 tahun yang berlayar melintasi lanskap mitos bernama Hinirang, mencari bahan untuk membuat layang-layang luar biasa yang dapat ia gunakan untuk merayu astronom yang dicintainya.

Kisah ini adalah racikan dari legenda Filipina dan teknologi barok, yang dicintai oleh pembaca internasional dalam banyak cetakan ulangnya, dan sangat berpengaruh di negara Alfar sendiri: penulis Filipina lain seperti Nikki Alfar, Kate Osias, dan Vida Cruz telah menggunakan Hinirang sebagai latar cerita mereka. Tahun 2003 juga merupakan tahun penerbitan 1515 karya Faisal Tehrani, sebuah novel berbahasa Melayu yang menyajikan sejarah alternatif Malaysia, menceritakan invasi Portugis ke Melaka tahun 1511 (tindakan pertama kolonisasi Eropa di wilayah Asia Tenggara) yang dipaksa mundur oleh perempuan pejuang suci berkekuatan gaib bernama Nyemah Mulya. Karya pemenang penghargaan tersebut sejak itu dielu-elukan sebagai karya klasik kontemporer dunia sastra Melayu.

Dalam dua dasawarsa sejak itu, fiksi spekulatif meledak di sepenjuru Asia Tenggara. Kita dapat melihat antologi serial seperti Philippine Speculative Fiction Vol. 1 sampai 11, awalnya diedit oleh Dean Francis Alfar dan Nikki Alfar, serta Fantasy Fiesta 2010 dan 2011 yang berbahasa Indonesia, diedit oleh R. D. Villam.

Skena penerbitan telah ditransformasi, dengan perusahaan seperti Epigram Books di Singapura dan BukuFixi di Kuala Lumpur yang mengangkat novel fiksi ilmiah dan fantasi lokal dari status “stensil sekali pakai” menjadi objets d’art yang diedit dengan baik dan sangat Instagrammable. Ada beberapa inisiatif regional, seperti The Sea Is Ours: Tales from Steampunk Southeast Asia oleh Jaymee Goh dan Joyce Chng serta LONTAR: The Journal of Southeast Asian Speculative Fiction oleh Jason Erik Lundberg. Dan tentu saja, diskursus daring yang hadir di mana-mana telah memungkinkan bahkan penulis yang berbasis di Asia Tenggara seperti Neon Yang dan Benjanun Sriduangkaew untuk mencapai tingkat ketenaran tinggi (dan, sayangnya, juga reputasi buruk) di dunia fiksi spekulatif yang masih Amerika (Serikat)-sentris.

Tentu saja, tidak semua teks tersebut dapat dianggap sebagai spicepunk. Spicepunk juga tidak terbatas semata dalam ranah tekstual: kita perlu mempertimbangkan film aksi epik berlatar kerajaan prakolonial seperti Queens of Langkasuka karya Nonzee Nimibutr, Hikayat Merong Mahawangsa karya Yusry Abdul Halim, Lửa Phật (Once Upon a Time in Vietnam) karya Dustin Nguyen dan Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya Angga Dwimas Sasongko.[8] Kita juga perlu mempertimbangkan gim fantasi seperti Last Regiment karya Boomzap, proyek seni seperti karya Renz Botero, Natu Xantino, dan Diwata karya Ram Botero, bahkan iklan viral Indoeskrim “Kisah Legenda Nusantara”, yang menayangkan bangsawan bersarung mengendarai elang raksasa seraya mengirim pesan satu sama lain di telepon pintar ornamental berlapis emas.[9]

Jika dilakukan bersama-sama, konstelasi ini akan merepresentasikan gelombang kepercayaan diri baru di kalangan seniman Asia Tenggara, karena kita memahami bahwa budaya kita bukan beban melainkan sumber kekayaan; bahwa yang dibutuhkan kemajuan bukanlah desimasi terhadap diri non-Barat, melainkan proses penemuan dan pembentukan kembali akar kita yang terlupakan.

Terlepas dari ketidakadilan politik, sosial, dan ekonomi yang sedang berlangsung di seluruh kawasan—atau, mungkin, bahkan karena itu—bagai paduan ragam suara yang padu, kita sama-sama membayangkan bahwa dunia lain, dunia yang lebih baik, adalah mungkin adanya.

 

2. Mendalami Spicepunk

Beberapa orang mungkin bertanya: apa batasan dari spicepunk? Saya enggan menarik garis batas persisnya. Mungkin lebih baik memikirkan kata tersebut bukan sebagai genre melainkan kata sifat: sebuah karya bisa jadi sangat spicepunk, atau sedikit spicepunk, daripada sesederhana dikatakan berada di dalam atau di luar kategori spicepunk.

Para pembaca mungkin menyadari bahwa sejauh ini saya tidak menyebutkan karya fiksi horor dalam daftar saya. Jangan salah: Dengan sepenuh hati saya merangkul kisah-kisah hantu sebagai dimensi utama budaya Asia Tenggara, mulai dari kompilasi legenda Vietnam abad ke-16 karya Nguyễn Dữ (Truyền kỳ mạn lục, sebuah kumpulan cerita rakyat aneh dari abad ke-16) hingga komik Filipina Trese karya Budjette Tan dan Kajo Baldisimo yang digubah menjadi serial Netflix. Saya bahkan telah menyampaikan dalam pengantar saya untuk A Mosque in the Jungle: Classic Ghost Stories oleh Othman Wok bahwa karya-karya yang membangkitkan bulu kuduk justru menjaga tradisi spekulatif tetap hidup saat penulis sastra sangat mengagungkan realisme sosial.

Sebenarnya, saya menganggap roh sebagai elemen integral dari realitas kita sehari-hari sehingga saya tidak dapat menafsirkan dunia kisah hantu Asia Tenggara pada umumnya sebagai dunia yang secara fundamental berbeda dari dunia kita. Dengan logika yang sama, saya tidak mengikutsertakan karya-karya realisme magis, seperti Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan The Blind Earthworm in the Labyrinth karya Veeraporn Nitiprapha: kedua karya yang berlatarkan realitas kita sendiri, dalam garis waktu kita sendiri, meski dengan perspektif dekolonial. Namun, saya bersimpati pada penggunaan istilah spicepunk untuk menggambarkan kisah-kisah dengan tokoh sejarah dan legenda Asia Tenggara yang mencuat ke dalam dunia kontemporer, mengungkap fondasi mistisnya: ketika nabi Khidr, Putri Tun Teja, dan Dewi Mazu terwujud dalam masyarakat Malaysia yang baru didemokratisasi dalam How the Man in Green Saved Pahang, and Possibly the World; ketika seorang penyelam Brunei berhadapan dengan Nabau sang ular dewa raksasa dewata, dalam The Fisherman King karya Kathrina Mohd Daud. Spicepunk, sebagaimana banyak kelezatan hidangan lain, memiliki spektrum rasa dan intensitasnya tersendiri.[10]

Lalu, fiksi apa yang bergerak di garis antara spicepunk, steampunk, dan silkpunk? Saya, sayangnya, menemukan karya-karya berilham sejarah kolonial Asia Tenggara yang berhenti mengecam kolonialisme Eropa, seperti novel grafis Guidebook to Nanyang Diplomacy karya Lim Cheng Tju.

Haruskah kita memuji penjajah karena reklamasi mereka pada masa lalu, atau menyampaikan keberatan bahwa tidak ada yang “punk” dari tren yang tidak kritis terhadap—bahkan tergoda oleh estetika Viktoria? Dan bagaimana dengan kisah-kisah yang sungguh dibumbui dengan sejarah diaspora Cina sehingga latar Asia Tenggara-nya hampir tidak tampak bagi pembaca internasional, seperti The Order of the Pure Moon Reflected in Water karya Zen Cho, yang diilhami oleh peristiwa Darurat Komunis Malaya pada 1948-60, atau cerita saya sendiri, cerita pendek “Xingzhou”, yang berdasarkan kisah imigrasi orang Cina abad ke-19 ke Singapura? [11] Inilah mengapa saya berbicara tentang spicepunk sebagai kata sifat daripada genre. Rasanya dungu dan picik, dalam sebuah esai yang menyerukan eksplorasi dan hubungan timbal balik, untuk memberlakukan pengucilan.

Namun, kita harus membicarakan isu-isu kesetaraan (equity). Dalam pasar sastra global, tampaknya tidak semua budaya Asia Tenggara terlahir setara.

Kisah-kisah berlatarkan kerajaan Konfusianisme birokratis, seperti wilayah dalam The Empress of Salt and Fortune karya Nghi Vo yang diilhami oleh Vietnam dan dunia berinfleksi Singapura dalam Tensorate Series karya Neon Yang, telah laris-manis secara internasional. Kesultanan/kerajaan[2] pelaut dan masyarakat hutan, yang padahal jauh lebih umum dalam sejarah Asia Tenggara, relatif telah dikepinggirkan: Wing of the Locust karya Joel Donato Ching Jacob yang berbasis di Luzon dan trilogi Iban Dream karya Golda Mowe yang berbasis suku di Borneo hanya diberikan wadah penerbitan regional.

Lebih lanjutnya lagi, para penulis non-Anglofon tetap diasingkan ke pinggiran komunitas fiksi ilmiah dan fantasi kita yang masih baru. Filipina, Malaysia, Brunei, dan Singapura tidak hanya menjadi rumah bagi penulis berbakat berbahasa Inggris, tetapi juga bagi mereka yang menulis dalam bahasa vernakular. Tirani bahasa Inggris juga berarti bahwa dunia yang lebih besar hanya tahu sedikit tentang fiksi spekulatif di negara-negara besar seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam, dan hampir tidak tahu apa-apa tentang Myanmar, Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Diperlukan lebih banyak penerjemahan dan penggubahan, serta keterbukaan terhadap konvensi dan ideologi sastra non-Barat. Dapatkah salah satu dari kita melakukan apa yang telah Ken Liu capai untuk fiksi ilmiah berbahasa Cina, tetapi untuk genre vernakular Asia Tenggara?

Akhirnya, tiba waktunya kita bergulat dengan nomenklatur. Apakah “spicepunk” istilah terbaik untuk fenomena yang saya deskripsikan? Dengan “spicepunk”, saya merujuk perihal perdagangan rempah-rempah yang menghubungkan Asia Tenggara pramodern dengan planet ini, dan kekayaan luar biasa yang pernah dikaitkan dengan produk pribumi seperti jahe, cengkih, kayu manis, pala, dan bunga pala; pada saat yang sama, saya menyerukan tentang sejarah kolonial kita yang kejam, ketika kekuatan Eropa berjuang untuk mengendalikan perdagangan ini.

Namun, (bahkan mengabaikan keterkaitan dengan Dune karya Frank Herbert), ada wilayah lain yang memiliki hubungan sejarah mendalam dengan rempah-rempah: Asia Selatan dengan lada dan daun karinya; Asia Barat dengan jintan dan kunyit; penduduk asli Amerika dengan cabai, merica jamaika, dan vanila; bahkan Afrika sub-Sahara dan Karibia, tempat bahan-bahan yang dulu asing telah dirangkul dan diekspor kembali melalui cita rasa semarak bumbu peri-peri dan bumbu jerk. Bagaimana seharusnya kita menjawab bila penulis dan seniman dari budaya tersebut mengklaim istilah spicepunk?

Sekali lagi, saya menolak bertengkar. Perjuangan kita adalah perjuangan bersama melawan hegemoni kolonial, dan kita harus mengakui hubungan kekerabatan antara berbagai seruan kita untuk kemunculan yang lebih tampak dan lebih memadai. Bukan kebetulan, saya pikir, bahwa Aliette de Bodard memilih menetapkan trilogi Obsidian and Blood di Aztek Meksiko, atau bahwa Zen Cho memilih ahli guna-guna Afrika dan India sebagai protagonisnya dalam Sorcerer to the Crown. Baik sebelum, selama, atau setelah kolonialisme, perdagangan rempah berkembang karena keinginan manusia untuk bertukar, untuk bertemu dengan selera baru. Meskipun lahan apropriasi dipenuhi kecemasan etis, kita harus memberi ruang untuk kegembiraan berbagi.

 

3. Menuju Sebuah Taman Rempah Komunal

Buat apa membicarakan spicepunk sebagai gerakan Asia Tenggara? Atau bahkan, buat apa membicarakan tentang Asia Tenggara segala? Gagasan tentang wilayah kita sebagai kesatuan entitas adalah konstruksi kolonial, yang kali pertama dipopulerkan oleh pasukan militer Anglo-Amerika selama Perang Dunia II. Mungkinkah kita melakukan tindakan dekolonial dengan menolak perataan terhadap keragaman internal kita? Haruskah kita tidak bersikeras pada kekhususan Asia Tenggara, dan hanya membicarakan tren yang muncul di masing-masing sebelas negara kita yang berbeda—sambalpunk, tomyampunk, adobopunk, mungkin—daripada menampilkan fatamorgana Kumandra-esque dari budaya-budaya kita sebagai kesatuan racikan yang padu?

Jawaban saya: dalam solidaritas, ada kekuatan. Bahkan pemerintah kita sendiri, yang betapa mengerikan bobroknya, telah mengetahui bahwa sejak berdirinya ASEAN pada 1967, lebih baik kita berdialog dan bersekutu, daripada teratomisasi dan bergantung pada belas kasihan negara adidaya. (Para aktivis telah mempelajari hal yang sama, seringkali saat memprotes pada konferensi politik tingkat tinggi ASEAN.)

Terlepas dari keragaman etnis, agama, dan sistem pemerintahan kita, istilah “Asia Tenggara” mengingatkan kita pada semua kesamaan yang kita miliki: di satu sisi, kita berbagi iklim tropis, makanan, dan sejarah panjang yang serupa sebagai titik temu beragam tradisi global; di sisi lain, kita menghadapi pertempuran serupa dalam melawan diktator yang haus kuasa, kapitalisme korporasi raksasa global (runaway capitalism), korupsi, dan polusi. Seperti yang penulis drama Kuo Pao Kun katakan menggunakan analogi budaya sebagai pepohonan di hutan, “Jika kau masuk lebih dalam, akar-akarnya akan bersentuhan. Kau pergi lebih tinggi, cabang-cabangnya bersentuhan, daun-daunnya bersentuhan.”[12]

Jadi, di sini, di bumi tak bertanah yakni jurnal daring ini, saya berimajinasi tentang sebuah taman. Di sini, bibit-bibit rempah telah ditanam secara turun-temurun sampai sekarang; di sini, saya memanggil orang-orang untuk menanam varietas mereka sendiri, tidak sendirian tetapi bersama-sama; untuk melakukan penyerbukan silang dan pemupukan silang; untuk mengolah dan memanen; untuk memberi makan pembaca dari banyak suku; untuk tumbuh subur sebagai sebuah kolektif.

Sejujurnya, “punk” dalam spicepunk bukan hanya seruan untuk melawan visi totalisasi Barat, melainkan juga untuk menghindari pemikiran sempit dari konsep nasionalisme dan etnosentrisme; untuk memastikan bahwa jika penulis-penulis Asia Tenggara ingin sejahtera, berarti kita harus sejahtera bersama.

Atau, dalam gaya manifesto—

Pencipta fiksi spekulatif Asia Tenggara, bersatulah!

Kerugianmu hanyalah kehilangan pemikiran kolonial beserta sekoper kehambarannya,

Sementara keuntunganmu, adalah sebelantara multisemesta, bertaburkan rempah-rempah.

 

Ucapan Terima Kasih

Esai ini ditulis dengan masukan dan tanggapan dari Amir Muhammad, Vida Cruz, Victor Fernando R. Ocampo, dan Eve Shi.

Tulisan ini diterbitkan kali pertama dalam majalah Strange Horizons (29 Agustus 2022). Ng Yi-Sheng dan Majalah Strange Horizons telah memberikan izin penerjemahan dan penerbitan naskah ini dalam Bahasa Indonesia kepada tengara.id. Terjemahan teks dikerjakan oleh Asri Pratiwi Wulandari.

Lihat fiksi terbaru Ng Yi-Sheng, Lion City (Epigram Book, 2018).

 

Catatan Kaki Penulis

[1] “How Disney Commodifies Culture – Southeast Asians Roast Raya and the Last Dragon (Bagian 1 dan 2)” dan “Raya’s Queerbaiting of Southeast Asians–the Importance of Cultural Context to Queerness” di https://www.youtube.com/c/XiranJayZhao.

[2] Ini sehubungan dengan bincang-bincang saya di Festival Penulis Singapura, “The Merlion and the Pontianak: Towards a Uniquely Singaporean Mythology”. Istilah tersebut kemudian muncul dalam liputan berita daring terkait: Mayo Martin, “Apakah mitologi Singapura mencakup Merlion dan Pontianak?”, Channel News Asia, 14 November 2017.

[3] “What is ‘Silkpunk’?”, Ken Liu. https://kenliu.name/books/what-is-silkpunk/.

[4] “Africanfuturism defined”, Nnedi’s Wahala Zone Blog. http://nnedi.blogspot.com/2019/10/africanfuturism-defined.html.

[5] Lily Zubaidah Rahim, The Singapore Dilemma: The Political and Educational Marginality of the Malay Community, p3.

[6] Pesimisme ini sama sekali tidak universal. Beberapa novel awal membayangkan orang-orang Asia Tenggara berpartisipasi penuh dalam kemajuan ilmiah, seperti ilmuwan Filipinagila dalam Doktor Kubain (1933) karya Fausto J. Galauran dan astronot Indonesia dalam Jatuh ke Matahari (1976) karya Djokolelono.

[7] http://strangehorizons.com/fiction/laquilone-du-estrellas-the-kite-of-stars/.

[8] Tentu saja, ada potensi film-film semacam itu menyuburkan nasionalisme toksik. Pahlawan legendaris mudah dimanfaatkan sebagai alat chauvinisme, seperti dalam kasus pejuang Malaysia Hang Tuah, yang telah “diadopsi sebagai salah satu ikon populer dari… gerakan etno-nasionalis Muslim Melayu”. (Farish Noor,WhatYour Teacher Didn’t Tell You: The Annexe Lectures (Vol. 1), hlm. 240.)

[9] Ni Nyoman Wira, “Local ice cream commercial gains worldwide attention,” The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/life/2017/07/11/local-ice-cream-commercial-gains-worldwide-attention.html.

[10] Contoh lain dari spicepunk yang tumpang tindih dengan genre lain adalah misteri detektif karya Aliette de Bodard dan eksplorasi fantasi epik grimdark karya K. S. Villoso.

[11] Banyak yang bisa dikatakan tentang representasi berlebihan dari penulis Cina diaspora (misalnya saya sendiri) di antara fiksi spekulatif Asia Tenggara yang diterbitkan secara internasional. Namun, isu tersebut terlalu rumit untuk dibahas secara penuh di sini, sebab tingkat privilese dan persekusi berbeda-beda yang dihadapi orang Cina di berbagai negara. Singa-Pura-Pura: Fiksi Malay Speculative Fiction from Singapore, diedit oleh Nazry Bahrawi, merepresentasikan salah satu upaya untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut.

[12] “Between Two Worlds: a Conversation with Kuo Pao Kun”, 9 Lives: 10 Years of Singapore Theatre, hlm. 135.

 

Catatan Kaki Penerjemah

[1] Permainan peran di atas meja seperti Dungeons & Dragons atau Warhammer 40.000 (penerj.)

[2] Kerajaan di sini bukan yang diterjemahkan sebagai kingdom dalam bahasa Inggris melainkan rajahnate/rajanate (penerj.)

Esai31 Desember 2022

Ng Yi-Sheng


Ng Yi-Sheng adalah seorang penulis dan aktivis Singapura dengan minat pada sejarah dan mitos Asia Tenggara. Buku-bukunya termasuk kumpulan fiksi spekulatif Lion City (pemenang Penghargaan Sastra Singapura) dan novel fantasi sejarah A Gate of Dragon's Teeth yang belum terbit, dengan latar Asia Tenggara prakolonial.  Lihat situs webnya ngyisheng.com atau Twitter dan Instagram-nya di @yishkabob.