Burung-Burung Manyar dan Nasionalisme Sayu

Ilustrasi (Sulaman) oleh N. Putri

Adakah dari kita di tahun 2022 ini yang belum membaca Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya? Entah apakah novel macam itu masih akan berbunyi di zaman serba gemerlap digital ini. Berpuluh tahun sejak novel itu terbit pertama kali, dan berpuluh tahun pula kita menjadi bangsa merdeka, agak aneh rasanya bahwa kita masih perlu belajar darinya tentang nasionalisme, terlebih nasionalisme yang sayu—sebuah ekspresi yang cenderung disembunyikan di zaman medsos ini, sebuah zaman yang di dalamnya hanya ada tawa, tawa, dan tawa.

Namun, barangkali justru karena itulah kita perlu belajar lagi meratap dan membiarkan diri sayu. Sebab seperti ditampilkan dalam Burung-burung Manyar, nasionalisme bukanlah sesuatu yang pantas dirayakan melulu dengan bangga dan tawa. Sesekali kita perlu merayakannya dengan getir dan sayu, sebab makin jauh kita dari masa perjuangan kemerdekaan bangsa kita, makin sulitlah menyelami betapa hebat kepedihan dan pengorbanan untuk meraihnya. Dalam rangka itulah novel sejarah macam Burung-burung Manyar sebetulnya tak kenal lekang. Darinya tampil jenis nasionalisme yang tak lazim, yang lebih getir ketimbang nasionalisme ala balap karung 17 Agustus-an.

Antara Sejarah dan Mitos: Narasi Non-Biner

Yang segera memikat dari Burung-burung Manyar adalah pemilihan seorang anti-Republik sebagai protagonisnya. Pilihan itu memberikan keleluasaan sekaligus tantangan. Keleluasaan—sebab dengan itu terbukalah ruang untuk menelanjangi pelbagai mitos tak sehat yang ramai menghinggapi pergolakan seputar kemerdekaan. Tantangan—sebab sang pengarang sendiri pernah turut berjuang di pihak Republik sebagai anggota Tentara Pelajar, sehingga ia barangkali perlu berupaya lumayan keras untuk bertukar sudut pandang demi menyelami dunia batin pihak lawan.

Kalau kita sepakat dengan Goenawan Mohamad (2021) bahwa “[p]otensi utama kritik sastra adalah menghidupkan kembali karya sebagai pengalaman pada masing-masing pembaca”, ada baiknya kita melihat bagaimana Burung-burung Manyar menghadirkan pengalaman itu. Pada hemat saya, pengalaman membaca Burung-burung Manyar yang “bicara, bergulat, menyentuh, dan mengguncang kita”—untuk sekali lagi mengutip Goenawan Mohamad—adalah pengalaman di hadapan kekalutan masa revolusi, yang di dalamnya kawan dan lawan bisa sama-sama mulia dan durjana.

Itulah salah satu keistimewaan Burung-burung Manyar, yakni penggambarannya tentang kekalutan masa revolusi yang tidak hitam-putih. Pembaca bisa turut kalut menyaksikan bagaimana, misalnya, para pejuang revolusi tak ubahnya teroris atau preman minta jatah. Tengoklah penggambaran ini:

Jaman merdeka ini sulit sekali. Dulu jelas: siapa lurah siapa asisten-wedana dan pelpolisi atau tentara, jelaslah sudah. Di mana mereka tinggal, dapat atau tidak dapat minta tolong apa atau apa, selalulah dibereskan; asal tidak bohong dan ada bukti-buktinya. […]. Tetapi sekarang ini bahkan anak-katak pun bergolok dan berbaris dengan bambu runcing. Seperti garong saja. Lalu setoran-setoran untuk dapur umum ah … sebetulnya semua ikhlas saja (ini untuk anak-anakmu sendiri yang berjuang!), akan tetapi justru bikin repot saja beliau-beliau yang disebut ‘anak-anakmu’ itu. Tidak tahu sopan-santun dan kerjanya cuma keluyuran saja membawa bedil, golok dan minta teh manis minta singkong, minta dilayani seperti ndara-ndara. (BBM, 87)

Sebuah penggambaran yang jauh dari kesan serba heroik, yang tak henti-hentinya mendengung dalam berbagai lagu perjuangan atau seruan-seruan patriotisme. Kawan tak selamanya pahlawan, dan yang mereka minta bukan cuma teh manis atau singkong:

Kalau seorang tentara peleton memuji pepaya yang menguning di pohon, segera seorang anak disuruh ibunya memetiknya. Bila mereka berkomentar ayam ini itu gemuk dan bertanya apa betul itu ayam Kedu sungguh, maka petang harinya seorang anak disuruh ayahnya mempersembahkan ayam itu kepada mereka. Tetapi bagaimana bila mereka memuji Si Tinem atau Piyah cantik? (BBM, 109)

Begitu pula lawan tak selamanya berengsek. Tentang hal itu bolehlah kita dengarkan keresahan warga desa bernama Pak Trunya, yang cenderung lebih suka pemerintahan Hindia-Belanda ketimbang Indonesia merdeka:

Terus terang saja dalam hati Pak Trunya tidak berkeberatan Belanda datang lagi mengganti Jepang, asal ia dapat menanam padi dengan tenang dan anak-anaknya bisa berpakaian dan bersekolah. Indonesia merdeka juga boleh, walaupun seandainya boleh pilih, lubuk hati Pak Trunya memilih Belanda saja. Mereka orang-orang yang pandai dan walaupun sering kasar dan biadab, tetapi dapat diandalkan. Kalau ada pencuri padi atau sapi-kerbau hilang, si maling tengik mesti tertangkap; kalau ada pencuri sepeda, lalu resisir dan pelpolisi datang, tanggung sepeda itu pasti tertemu lagi. Entah di Sala atau Magelang, tetapi pasti pulang. (BBM, 87)

Banyak bagian lain menghadirkan nuansa macam itu, termasuk melalui tokoh-tokoh utamanya, Setadewa dan Larasati. Tak perlu mengulangnya di sini. Yang lebih perlu ialah mengalami kembali betapa pokok ini berbunyi begitu nyaring, terlebih buat kita di zaman naiknya populisme ini. Para pemimpin populis, kita tahu, cenderung gembar-gembor dengan narasi hitam-putih/menang-kalah. Tak boleh ada kawasan abu-abu: kalau bukan kubu sini berarti kubu sana, kalau mengkritik kubu sana berarti masuk kubu sini, dan seterusnya. Serba jelas, tak ada misteri, tak ada pergumulan.

Tak demikian halnya Romo Mangun. Pengalamannya terlibat langsung di tengah revolusi memberinya kepekaan untuk tak terjebak menggampangkan perkara. “Teto dan Larasati, si dia yang gagal dan dia yang berhasil, dia yang ikut musuh dan dia yang memihak diri kita, Kurawa dan Pandawa, Kama dan Ratih, benarkah mereka saling berlawanan?” kata Romo Mangun dalam sebuah esai (dikutip dalam Chris Wibisana 2021). Di zaman informasi ini mudah-mudahan sudah cukup banyak dari kita yang melek bahwa menganggap semua kaum bumiputra pro-kemerdekaan adalah sikap yang terlalu naif. Kaum bumiputra yang pro-Belanda sungguh-sungguh ada, bahkan barangkali juga banyak.

Dengan penokohan dan nada narasi macam itu Burung-burung Manyar seperti membawa beban tersendiri untuk meluruskan sejarah. Seperti dengan tepat dicatat oleh Jennifer Lindsay (1999, 202), Romo Mangun “suka menggembosi mitos heroisme, terutama [heroisme] masa revolusi” dan “bersemangat dalam hal perlunya bicara menentang falsifikasi sejarah, dan menulis banyak esai yang menyerang penulisan ulang Orde Baru atas revolusi dan fabrikasi pahlawan, terutama Soeharto”.

Kita tak tahu pasti apakah Romo Mangun akan menulis dengan penokohan dan nada yang sama seandainya ia menulis pada masa revolusi. Yang jelas, revolusi, perang kemerdekaan, penggulingan rezim atau sejenisnya memang membutuhkan optimisme meluap-luap dan serba hitam-putih, meskipun kerap meleset atau bahkan menyimpang. Perang tak kenal kesubtilan; hanya ada kawan atau lawan. Kesubtilan baru datang kemudian, sebagai renungan, sebagai introspeksi dan retrospeksi.

Bagaimanapun, Burung-burung Manyar ditulis pada masa Orde Baru, untuk sebagian sebagai kritik terhadap rezim pabrik pahlawan itu. Dengan demikian kita bisa dengan enak menyodorkan klise bahwa setiap pengarang dan karya adalah anak zamannya, tetapi masih tak bisa mengelak dari pertanyaan ini: sejauh mana sesungguhnya, dan dalam arti apa, novel sejarah macam Burung-burung Manyar bertaut dengan fakta atau kebenaran?

Mungkin tak seluruhnya tepat—kalau bukan keliru—untuk menyebut Burung-burung Manyar sebagai pelurusan sejarah. “Mendudukkan secara proporsional” barangkali lebih pas. Proyek pelurusan sejarah mengandung asumsi bahwa ada sejarah yang “lurus”, yang sebenar-benarnya, telanjang tanpa penafsiran—sesuatu yang boleh dikata tak pernah menjadi maksud sebuah karya sastra seperti Burung-burung Manyar. Romo Mangun menulisnya dengan kesadaran penuh sebagai karya sastra, bukan catatan sejarah yang berpretensi hendak menyajikan versi sejarah tanpa tafsir.

Sebagai karya sastra, Burung-burung Manyar sudah tentu ditulis dengan bingkai penafsiran. Tengoklah misalnya bingkai cerita wayang yang sengaja dipakai oleh Romo Mangun untuk membangun pelbagai unsur dalam Burung-burung Manyar. Bukan hanya bingkai cerita, nama-nama tokoh pun dipautkannya dengan tokoh wayang. Sang protagonis, Setadewa (Teto), mendapatkan “Seta”-nya dari sifat Kakrasana (alias Prabu Baladewa): “serba putih darah, daging serta segala-galanya sampai ke tulang maupun sarafnya”. Larasati (Atik), si kasih tak sampai, dinamai dari nama lain Dewi Sumbadra, saudari Prabu Kresna. Begitu pula dalam hal bingkai cerita, Burung-burung Manyar mengambil Perang Bharatayudha sebagai pemandu jalannya kisah—suatu bingkai yang pas untuk mendukung narasi non-biner. Pandawa versus Kurawa dalam Perang Bharatayudha, kita tahu, tak bisa dimengerti secara simplistis sebagai baik versus jahat. Seperti digambarkan dalam Prawayang, “dalam lubuk hati raja Salya maupun Baladewa, kecintaan kepada para Pandawa tidaklah pernah berhenti berpijar” (BBM, v) meskipun keduanya memihak kubu Kurawa. Persis seperti Teto, yang berkali-kali menggambarkan orang “Indonesia” atau “Republik” dengan cemooh, tetapi diam-diam juga dengan cinta.

Jadi cukup unik bahwa sebagai sebuah novel sejarah yang bermaksud jadi realis, Burung-burung Manyar mengambil kisah wayang untuk membangun pelbagai unsurnya. Di situ kentara bahwa “pelurusan sejarah” adalah sebutan yang barangkali terlalu gemuk—atau justru terlalu kurus?—untuk Burung-burung Manyar.

Terlalu gemuk—sebab fakta-fakta sejarah di dalamnya sebagian besar sebetulnya sudah cukup familier (Jepang menyerbu Hindia-Belanda, perempuan Indo jadi gundik, Agresi Militer, penangkapan para pejabat Republik, dan sebagainya, kecuali barangkali rakyat kecil yang lebih suka pemerintahan Hindia-Belanda ketimbang Indonesia merdeka). Terlalu kurus—sebab memandang Burung-burung Manyar melulu sebagai pelurusan sejarah sama artinya dengan menganggap sepi mitos wayang yang membingkainya. Goenawan Mohamad (2012 [1999], 250) mengungkapkannya dengan tepat dalam sebuah Catatan Pinggir yang ditulisnya beberapa hari setelah Romo Mangun wafat: “Sejarah sangat penting bagi Mangunwijaya—terutama ketika sejarah bertaut dengan mitos, dan mitos bertaut dengan kefanaan.” Dalam Burung-burung Manyar dan beberapa karya Romo Mangun yang lain, lanjutnya, “mitos bergerak sebagai sesuatu yang diimbuhkan dan mengubah cerita dasar yang diterima secara umum. Dalam wujudnya yang baru, para pahlawan bukan mereka yang tak pernah jatuh.”

Maka kalau ada unsur historis dalam Burung-burung Manyar, unsur historis itu rupanya tak pernah dimaksudkan sebagai sesuatu yang melulu netral, yang sekadar sebagaimana adanya atau sesuai dengan fakta seperti halnya laporan jurnalistik. Dalam bingkai mitos sebagai simbol, unsur historis itu membawa serta suatu penafsiran. Romo Mangun sendiri menyebut Burung-burung Manyar sebagai “epik ‘kosmik’ atau juga wayang dalam bentuk novel moderen” (dikutip dalam Allen 2000, 71).

Di situ tampak suatu kebenaran yang kerap terjadi dalam dunia sastra dan gagasan: bahwa segala upaya untuk membongkar, mengkritik, menentang sesuatu tak bisa luput dari perangkat-perangkat yang coba dibongkar, dikritik, atau ditentang itu. Burung-burung Manyar bermaksud membongkar “pemalsuan-pemalsuan dan pemitosan peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak sehat” ala Orde Baru, kata Romo Mangun (dikutip dalam Allen 2000, 81), tetapi dengan mitos juga. Meski ada perbedaan signifikan antara “mitos” dan “pemitosan”, kebenaran tadi tetap berlaku dan sama sekali bukan aib, sejauh diinsafi; dan Burung-burung Manyar agaknya cukup insaf akan kebenaran itu, sebagaimana tercermin dalam bab penutupnya yang berjudul “Sarang Manyar Baru”, di mana tercipta suatu nuansa terbuka yang lebih merupakan suatu undangan untuk merenung dan mempersiapkan hari depan ketimbang sejarah tandingan.

Tentu itu bukan berarti bahwa karya sastra sama sekali tak punya bobot sejarah. Bobot itu ada, terlebih karya-karya sastra yang secara sadar mengambil genre novel sejarah seperti Burung-burung Manyar. Hanya saja, kita perlu agak cermat menelisik bobot sejarah macam apa yang terkandung dalam novel sejarah.

 

Kekhasan Burung-burung Manyar sebagai Novel Sejarah

Di sinilah kita memasuki medan yang agak ruwet dan campur aduk. Menarik bahwa Frank Ankersmit (2010, 44), seorang ahli filsafat sejarah, dalam salah satu risalah menyebut bahwa “perbedaan antara narasi sejarah dan novel sejarah [lebih] bersifat formal ketimbang material”. Mengapa? Sebab di satu pihak, catatan sejarah paling objektif sekalipun punya dimensi sastrawi, dan di lain pihak, novel yang terlalu khayali atau sama sekali tak punya landasan sejarah sudah tentu tak layak disebut novel sejarah. Begitulah kita bisa membayangkan, kata Ankersmit, “sebuah novel sejarah mengenai sebagian dari masa lalu yang sangat terdokumentasi dengan baik sehingga tiap-tiap pernyataan novel itu bisa diberi bukti.”

Burung-burung Manyar boleh dikata termasuk salah satu novel macam itu. Ia bermaksud jadi novel realis. Banyak peristiwa di dalamnya cocok dengan fakta sejarah: penangkapan para pemimpin Republik, Agresi Militer Belanda, dan sebagainya. Di situ kita saksikan bagaimana perbedaan antara narasi sejarah dan novel sejarah lebih menyangkut soal bentuk ketimbang isi seperti kata Ankersmit tadi. Sebagaimana sejarawan melakukan riset, begitu pula penulis novel sejarah wajib melakukan riset. Sebagaimana sejarawan menghadirkan representasi masa lalu seraya mengundang kita untuk memusatkan perhatian pada segi-segi tertentu, demikian pula yang terjadi pada novel sejarah: sampai batas tertentu, novel sejarah bisa berfungsi sebagai buku sejarah dengan menghadirkan representasi masa lalu sekaligus mengakrabkan pembaca dengan masa lalu itu.

Akan tetapi, pada hemat saya, kekuatan Burung-burung Manyar terletak bukan terutama pada ketepatannya dalam merepresentasikan masa lalu. Meskipun perbedaan antara catatan sejarah dan novel sejarah lebih menyangkut soal bentuk ketimbang isi, itu tidak serta-merta berarti bahwa keduanya sama saja. Masih ada perbedaan yang tak boleh dianggap sepi. Ankersmit (2010, 45) menyebut perbedaan itu sebagai perbedaan antara “mengatakan” (saying) dan “menunjukkan” (showing). Yang pertama mengacu pada apa yang dilakukan sejarawan, yang kedua novelis sejarah. Yang pertama berusaha seeksplisit mungkin, sedangkan yang kedua, menyitir Ankersmit, bersifat “terbuka dan multitafsir sebagaimana realitas sendiri multitafsir. Sebab inilah yang kita harapkan dari novel: ia memberi kepada kita epifani realitas itu sendiri. Jadi ia harus ‘menunjukkan’ kepada para pembacanya seperti apakah dunia itu—atau bisa jadi dunia masa lalu—tetapi ia menyerahkan kepada para pembacanya untuk menemukannya sendiri.”

Dengan itu tidak serta-merta bisa dikatakan bahwa novel sejarah merupakan suatu salinan realitas masa lalu. Karya seni yang baik, tak terkecuali karya sastra, tak pernah sekadar salinan atas apa pun. Novel sejarah bukan sekadar berarti “sejarah yang dinovelkan”, melainkan suatu kreasi tersendiri yang bukan cuma penggambaran yang akurat. Memang kalau kita tengok sejarahnya di sekitar abad ke-19, apa yang dalam khazanah sastra kerap disebut fiksi historis itu bermaksud mencapai, dalam kata-kata salah satu wakilnya, Émile Zola, “suatu salinan eksak nan penuh kehati-hatian atas kehidupan manusia” (dikutip dalam Ankersmit 2010, 46). Namun, seiring berkembangnya sejarah pemikiran, kita insaf bahwa salinan macam itu bukan hanya muskil, tetapi juga mustahil. Bila teks ibarat cermin kenyataan, cermin itu senantiasa retak dan tak pernah eksak. Yang kita punya hanya kepingan-kepingan, pantulan kenyataan yang serba tafsiran.

Dengan kata lain, kalau perbedaan antara narasi sejarah dan novel sejarah lebih menyangkut soal bentuk ketimbang isi, itu bukan berarti bahwa perbedaan tersebut hanya soal bungkus atau busana atau permukaan belaka, bukan bahwa ada sejarah yang satu dan sama, lantas diungkapkan dengan cara yang berlainan. Buku sejarah yang baik, sebagaimana novel sejarah yang baik, memang mestinya menghadirkan nuansa multitafsir seperti kata Ankersmit tadi, sebab pengetahuan kita tentang masa lalu (juga tentang apa saja) tak pernah terjadi secara langsung, melainkan selalu melalui berbagai perantaraan (catatan, kesaksian, atau juga ingatan—dan dari psikologi kita tahu, ingatan pun punya mekanisme sendiri untuk menyaring apa yang diingat dan yang tidak). Belum lagi kalau kita renungkan bahwa pengetahuan kita tentang masa lalu terjadi pada masa kini, sehingga tidak bisa tidak melalui lensa masa kini pula.

Dalam soal multitafsir itu novel sejarah tentu punya keunggulan dibanding buku sejarah, sebab novel sejarah punya keleluasaan tersendiri untuk lepas dari sorot pertanggungjawaban akademik. Novel sejarah tak memburu kejelasan, melainkan menghadirkan kompleksitas melalui poetika, sehinga unsur multitafsir bisa tertampung di situ. Tentu dengan keunggulan itu datang pula kelemahannya sebagaimana mudah diduga, juga cukup kerap dituduhkan, yakni bahwa novel sejarah bisa melenceng dari fakta.

Di sini pantas kita cermati bahwa dalam novel sejarah selalu terjadi lompatan-lompatan halus antara unsur internal dan eksternal, antara unsur fiksi dan unsur sejarah. Lompatan: sebab fiksi dan sejarah biar bagaimanapun tak boleh dianggap satu dan sama; halus: sebab dalam novel sejarah, lompatan itu “diupayakan agar mulus tanpa patahan, sedapat-dapatnya menghindari anakronisme dan mempertemukan struktur internal novel dengan dunia nyata yang ia bayang-bayangi” (Allen 2000, 181).

Burung-burung Manyar boleh dikata cukup berhasil dalam hal lompatan halus ini. Sesaat kita berjumpa dengan tokoh fiksi macam Teto, Atik, Ibu Antana, lantas pada saat lain, nyaris tanpa terasa patahan, kita dapati nama-nama tokoh sejarah macam Soekarno, Hatta, tak lupa juga Sjahrir, yang sangat dikagumi oleh Romo Mangun.

Saya sebut “nyaris”, sebab sedikit-sedikit masih terasa ada patahan. Dalam Burung-burung Manyar, meskipun sebagian besar isinya berupa kata-kata dan perbuatan tokoh-tokoh fiksi, tokoh-tokoh fiksi itu masih terkesan berada di bawah bayang-bayang tokoh sejarah, meski tentu tak seluruhnya. Misalnya saat Teto berjumpa dengan Sjahrir lantas terpesona campur benci serba bingung, seraya merasa “lumpuh” dan “impoten” (BBM, 60). Begitu pula Atik dipentaskan sebagai juru ketik Sjahrir. Tokoh-tokoh fiksi tentu tetap punya kemandirian dan segi eksistensial yang khas (seperti akan dibahas nanti), tetapi seakan-akan masih sebagai pengikut tokoh-tokoh besar sejarah. Dalam arti tertentu ini merupakan salah satu risiko genre novel sejarah: setiap kali ia terbebani untuk selalu mempertautkan diri dengan fakta sejarah. Namun, kalau kita bandingkan misalnya dengan Burung-Burung Rantau, kesan tokoh fiksi sebagai pengikut tokoh sejarah itu lebih kentara pada Burung-burung Manyar. Salah satu sebabnya mungkin karena Burung-burung Manyar mengambil kisah wayang sebagai bingkai kisahnya. Dalam pandangan-dunia wayang, individu lebur dalam drama kosmik sebagai semacam nasib. Individu adalah jagad cilik yang senantiasa dalam bayang-bayang jagad gedhe.

Kalau kita mau membuat daftar, ada banyak kesejajaran antara kisah wayang dengan kisah Burung-burung Manyar (pembaca yang berminat bisa merujuk ke Allen 2000, 75-92). Dari situ tampak kekhasan Burung-burung Manyar sebagai novel sejarah: ia realis sebagaimana novel sejarah pada umumnya, tetapi tak seluruhnya lepas dari mitos, sehingga pembacaan yang melulu realis akan meluputkan terlalu banyak hal. Romo Mangun sendiri mengatakan bahwa “nasion Indonesia” dalam Burung-burung Manyar—sang protagonisnya yang sejati—“diwayangkan dalam bentuk cerita novel/roman dalam bahasa Indonesia dengan tokoh-tokoh pelaku yang terlukis naturalis realis namun sekaligus simbolis dalam berbagai skala abstraksi” (dikutip dalam Allen 2000, 72).

Dengan kata lain, unsur-unsur mitologis dalam Burung-burung Manyar sepintas lalu memang terkesan hanya hiasan atau imbuhan, tetapi hiasan atau imbuhan itulah yang justru memberi nyawa pada kisah. Tanpa rujukan pada Kakrasana, misalnya, Teto tak lebih dari sekadar seorang Indo pengkhianat yang bertobat, dan lenyaplah segala ironi dan paradoksnya. Tanpa bingkai Perang Bharatayudha, pergolakan revolusi tak lebih dari sekadar pertempuran baik versus jahat ala sejarah resmi. Yang sebaliknya pun berlaku: unsur-unsur realis memberikan wujud pada mitos, sehingga mitos tak berhenti sebagai “cuma mitos”, melainkan menyala sebagai ilham yang menerangi kenyataan—bukan hanya kenyataan sejarah dan sosial, melainkan juga kenyataan personal-eksistensial.

 

Bukan Sekadar Cerita Besar

Dalam arti itulah novel sejarah (yang baik) bisa lebih menggugah ketimbang buku sejarah—dan persis efek menggugah itulah pada hemat saya kekuatan utama Burung-burung Manyar. Kalau kita simak dari awal sampai ujung, kisahnya lumayan kaya dengan suspens (kontras dengan Burung-Burung Rantau yang nyaris tanpa suspens): masa kecil Teto-Atik yang serba indah tiba-tiba berantakan sejak kedatangan Jepang, Marice yang diculik jadi gundik tentara Jepang, Atik dan ayahnya yang kena serbuan pesawat Belanda di lereng Merapi, Teto yang ikut menangkap para pejabat Republik di Yogya saat Agresi Militer. Kisah ditutup dengan rapi, indah, dan simbolis dengan Teto yang membesarkan anak-anak pasangan Larasati-Janakatamsi, yang meninggal dalam kecelakaan pesawat—sebuah penutup yang sekaligus membuka pintu kisah baru, sebuah kisah yang suka Romo Mangun sebut sebagai “pasca-Indonesia” (lihat misalnya Mangunwijaya 1995, 239-241; 2014 [1992], 58). Dengan itu sejarah jadi hidup, barangkali jauh lebih hidup ketimbang sejarah resmi.

Dengan terhidupkannya kembali sejarah itu, kita juga seperti tergiring untuk bersimpati pada si protagonis. Kita mundur sejenak dan simaklah luapan amarah Teto, setelah ayahnya ditangkap serdadu Jepang dan ibunya dipaksa jadi gundik:

Dan semakin bencilah seluruh jiwaku kepada segala yang berbau Jepang. Termasuk itu pengkhianat-pengkhianat Soekarno-Hatta. Dan seluruh bangsa yang disebut Indonesia, yang membongkok-bongkok pada Jepang dan berteriak-teriak di alun-alun oleh hasutan Soekarno: ‘Inggris kita linggis! Amerika kita seterika! Dai Nippon, banzai!’ Sejak itu, aku bersumpah untuk mengikuti jejak Papi: menjadi KNIL, membebaskan negeri yang indah ini dengan rakyatnya yang bodoh, pengecut tetapi baik hati itu, segala orang di kolong jembatan dan mental-mental serba kampungan dari hasutan dan pengaruh jahat yang menyebut diri nasionalis, tetapi mendukung bandit-bandit yang membuat Mamiku menjadi gundik. (BBM, 34)

Kita saksikan di situ dendam yang begitu mendidih, suatu dendam yang terlalu wajar untuk tidak dimaklumi. Siapa dari kita tidak menaruh dendam kalau mengalami tragedi begitu pedih seperti Teto? Di situ tampak, sebagai saksi sekaligus pelaku masa revolusi, Romo Mangun punya kelihaian tersendiri untuk mempertautkan cerita besar dengan cerita personal-eksistensial—begitu lihainya sehingga sanggup membuat kita bersimpati pada pihak lawan.

Dengan kata lain, terlepas dari mitos wayang sebagai bingkainya, Burung-burung Manyar tak hanya bicara soal cerita besar—revolusi, ide-ide, perang ini dan itu—melainkan juga dengan indah menubuhkannya pada tingkat personal-eksistensial dalam tokoh Teto, juga pada tingkat rakyat kecil sebagaimana tergambar dalam kisah Pak Trunya seperti dikutip di depan.

Tentang tokoh Teto, Romo Mangun (dikutip dalam Allen 2000, 228) pernah berkata dalam sebuah wawancara, “Tokoh ceritera saya mungkin memang kurang populer dalam tindakan-tindakannya. Tetapi ia berbuat demikian dengan suatu keyakinan tertentu” (penekanan dari saya). Dengan kata lain, terlepas dari kesan bahwa tokoh-tokoh fiksinya berperan sebagai pengikut tokoh sejarah seperti dibahas di depan, juga terlepas dari wayang sebagai bingkai kisahnya, Burung-burung Manyar juga menghadirkan individualitas. “Bagi Teto,” kata Pamela Allen (2000, 86), “patriotisme dan loyalitas sekunder sifatnya terhadap keprihatinan akan sejenis individualisme yang bertanggung jawab [responsible individualism] sebagaimana diusung oleh Sjahrir.”

Dengan catatan: secara kurang berimbang.

Kalau kita simak betul, individualitas Teto terasa lebih menonjol ketimbang individualitas Atik—sebagian karena kedudukan Teto sebagai narator orang pertama tunggal, tetapi sebagian barangkali juga karena penulisnya seorang laki-laki. Tineke Hellwig (dikutip dalam Allen 2000, 75) merumuskannya dengan padat: “Opini Atik tentang Teto dan tentang hal-ihwal tidak cukup dikembangkan … dan kurang nuansa. Dia [Atik] dipandang dari luar atau melalui mata Teto.” Kutipan surat Atik kepada Teto berikut barangkali cukup mewakili maksud Hellwig:

Kepada Mas Teto. Merdeka (apa-apaan ini). Mas Teto! Ibu telah mengungsi ke Yogya, ke tempat kakaknya di jalan Cemorojajar 7. Kalau Mas Teto mau mencari perlindungan, di tempat Paman pasti Mas Teto welkom. Ayah dan Atik sekarang menyumbang seapa-adanya di kantor perdana menteri RI (perdana menteri lenong!). Atik cuma jadi juru ketik kecil yang tak punya arti. Ayah bertugas entah, sering kian kemari Yogya-Jakarta. Mas Teto sekarang di mana? Sudah sejak bulan Juni kau kami cari. […] Semoga Tuhan selalu beserta Mas Teto dan negara kita (negara siapa? Belum tanya, perempuan sudah mau mengatur) yang masih muda ini. Merdeka! (BBM, 58)

Itu mungkin memang suatu keterbatasan tersendiri—yang sedikit-banyak tertebus dalam Burung-Burung Rantau dan Durga Umayi yang mengusung perempuan sebagai tokoh utama—tapi tak perlu menafikan kuatnya segi individualitas dalam Burung-burung Manyar. Pada taraf personal-eksistensial itu, segala cerita besar—revolusi, Republik, KNIL atau NICA—terasa tawar, atau sekurang-kurangnya mundur ke latar belakang. “Maaf, Anda keliru alamat menamakan aku budak Belanda. Bagiku NICA hanya sarana seperti Republik bagi mereka sarana juga,” kata Teto suatu kali (BBM, 58).

Dari sudut ini mungkin tak berlebihan untuk mengatakan bahwa ada semacam unsur “eksistensialisme politik” yang lumayan dalam Burung-burung Manyar. Gelora asmara, pencarian jati diri dan makna hidup tampil bukan sebagai sesuatu yang melulu privat, bukan sebagai kisah yang apolitis, melainkan bergumul dalam pasang-surut pergolakan politik. Pergumulan itu sedemikian hebat dan lebur, sehingga tak jelas lagi mana kisah utama Burung-burung Manyar, apakah tentang revolusi Indonesia atau tentang kasih tak sampai Setadewa-Larasati. Pada titik ini kata-kata Romo Mangun tentang Burung-burung Manyar sebagai “naturalis realis namun sekaligus simbolis dalam berbagai skala abstraksi” tadi bisa menggaung secara baru.

Ini strategi yang jitu untuk menubuhkan dan mementaskan sejarah, terutama ke hadapan generasi yang makin menjauh dari sejarah itu. Berpadunya unsur personal-eksistensial dengan politik memungkinkan sejarah terasa aktual, meski tentu dengan segala keterbatasan. Dalam hal ini pantas kita ingat bahwa Romo Mangun terdorong untuk menulis Burung-burung Manyar bukan hanya sebagai obat terhadap “pemalsuan-pemalsuan dan pemitosan peristiwa-peristiwa sejarah yang tidak sehat” ala Orde Baru, melainkan juga sebagai undangan untuk “merenungkan kembali pertanyaan dasar kehidupan” (dikutip dalam Allen 2000, 81).

Datang dari seorang rohaniwan Katolik, ungkapan “merenungkan kembali pertanyaan dasar kehidupan” itu bisa terdengar sekadar saleh, tetapi barangkali agak lain halnya kalau kita mendekatinya melalui pemikiran Paul Ricoeur. Kita ingat kata-katanya yang terkenal, “Le symbole donne à penser”—secara bebas bisa diterjemahkan menjadi “Simbol mengisyaratkan.” Kalimat itu sendiri masih terdengar penuh isyarat, tetapi beruntunglah kita punya penjelasan cukup gamblang dari Budi Hardiman (2015, 244): “Memahami teks bukan hanya memahami makna yang terkandung di dalam teks itu, melainkan juga lewat teks itu merefleksikan makna hidup kita, karena teks mengacu kepada kehidupan, kepada dunia di luar teks itu.”

Maksud Ricoeur—yang pada hemat saya sejalan dengan efek pembacaan yang diharapkan Romo Mangun dari Burung-burung Manyar—bukan sekadar undangan saleh untuk merenung-renung. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa bagi Ricoeur, “tidak ada interpretasi tanpa refleksi” (Budi Hardiman 2015, 241). Dengan itu ia hendak merehabilitasi pemikiran Descartes tentang cogito, si aku yang berpikir itu, yang sejak Heidegger seakan-akan diharamkan. Si aku yang berpikir, yang merenung di hadapan teks, yang mengaitkannya dengan diri dan kehidupannya sendiri, yang bertanya-tanya, itulah yang bagi Ricoeur krusial (meski tentu tidak persis seperti Descartes yang memisahkan cogito dari tubuh). Dengan kata lain, setiap bentuk pembacaan pada akhirnya mesti menyentuh dan mengubah diri kita sungguh-sungguh, bukan sekadar memahami maknanya.

Sejalan dengan maksud Romo Mangun seperti dikatakannya tadi: “merenungkan kembali pertanyaan dasar kehidupan.” Rupanya itulah salah satu efek pembacaan yang diharapkannya dari Burung-burung Manyar. Ia mengundang masing-masing kita untuk bertanya kepada diri kita sendiri, setelah menyimak segala kepahitan masa revolusi, soal apa makna semua itu bagiku dan apa yang hendak kuperbuat—sesuatu yang tersampaikan dengan nada penuh ketenangan di ujung kisah. Terlebih lagi kalau kita ingat bahwa, seperti dicatat oleh Pamela Allen (2000, 74), Burung-burung Manyar diterbitkan menjelang 17 Agustus 1981—sebuah pemilihan waktu yang menantang, yang seakan-akan sengaja menyela kesibukan balap karung.

Romo Mangun agaknya memang gemar menantang pertanggungjawaban pribadi macam itu—suatu ilham yang, seperti disinggung sekilas di depan, ditimbanya dari Sjahrir yang sangat dikaguminya. Sjahrir, kita tahu, punya pemikiran khas yang bukan hanya anti-fasis dan anti-feodal, melainkan juga memadukan ide-ide sosial demokrat dengan liberalisme yang menjunjung kebebasan dan martabat manusia. Ilham dari Sjahrir itu Romo Mangun bawa ke mana pun, tak terkecuali ke lingkungan pembinaan rohaniwan Katolik. Terkenal kata-katanya ketika bicara di hadapan para calon pastor, “Anda adalah calon-calon pastor alias calon-calon aristokrat atau bangsawan gereja. Pernahkah Anda baca dalam Injil bahwa yang sering membenci Yesus adalah para imam? Saya prihatin dengan keadaan sekarang, karena para frater seperti radio satu band yang hanya tahu Panti Rapih, kapel, dan kampus.” Makin sinis lagi, “Pakaian dicucikan, lantai kotor ada yang ngepel, jendela pecah panggil pegawai. Lalu, kalian itu mau jadi gembala macam apa?” (dikutip dalam Suyatno Hadiatmojo 2013, 2).

Tantangan serupa kita alami setelah membaca Burung-burung Manyar. Di dalamnya, kekaguman Romo Mangun pada Sjahrir tampak terang benderang (lihat misalnya BBM, 60, 114) sehingga seperti kata Goenawan Mohamad (2012 [1999], 250), Sjahrir bagi Romo Mangun “juga sesosok mitos.” Ia melanjutkan, “Tak gampang memahami kekaguman Romo Mangun pada Sjahrir. Mangunwijaya bisa hidup dikelilingi kere di tepi Kali Code. Sementara itu, Sjahrir […] dengan enak bergerak di antara nona dan tuan muda yang bahkan di masa pendudukan Jepang berdansa sembunyi-sembunyi mengikuti jazz Benny Goodman di radio klandestin.” Memang gambaran itu bukan gambaran Sjahrir yang lengkap. Sjahrir yang menikmati jazz Benny Goodman itu juga Sjahrir yang “bisa bergerak di antara kaum buruh, sambil menyiarkan Das Kapital Karl Marx yang dijelaskan secara populer oleh Bung Hatta” (Goenawan Mohamad 2012 [1999], 251).

Namun, dalam konteks Burung-burung Manyar, juga novel-novel Romo Mangun yang lain, Sjahrir agaknya berperan lebih sebagai pembawa obor individualitas. Pamela Allen (2000, 72-73) merumuskannya dengan baik: “Kontras dengan pendirian nasionalis radikal dari narasi Pramoedya mengenai bangsa, novel-novel Mangunwijaya tertanam dalam suatu ideologi universalisme yang diturunkan dari Polemik Kebudayaan, yang disaring melalui nosi Sjahrir tentang individualisme dan kecurigaan terhadap nasionalisme kultural”.

Sebab itu tepatlah kalau dikatakan bahwa kisah Burung-burung Manyar pada akhirnya bukan soal menang-kalah, bukan soal siapa lawan dan siapa pahlawan, bahkan mungkin bukan juga soal revolusi, melainkan soal pencarian jati diri. Jati diri itu bagi Romo Mangun bukanlah sesuatu yang tetap, tunggal, mandek. Seperti terpantul pada tokoh “Setadewa” alias “Teto” alias “Raden Mas Sinyo,” jati diri itu senantiasa hibrida sifatnya. Kata Romo Mangun:

[S]ebelum saya menyinggung segi filsafat Jawa dalam Burung-burung Manyar, citra cerita Max Havelaar, dan penikmatannya dalam bahasa Belanda, menghadirkan suatu kesadaran yang sebenarnya sangat normal dan tidak perlu dinilai negatip, ialah kenyataan bahwa saya dan generasi terpelajar bangsa Indonesia seumumnya, apalagi sekarang, pada hakekatnya adalah orang-orang Indo; harfiah dari segi keturunan darah (siapa yang boleh disebut Jawa asli, Flores asli, Cina asli dsb?), namun terutama dalam pikir serta citarasa. Kenyataan dunia film Indonesia sekarang yang sukanya menampilkan tipe-tipe bintang film yang berparas Indo bagi saya bukan sesuatu yang mengejutkan, bahkan memperkuat dugaan saya, bahwa bangsa Indonesia pada dasarnya memang adalah manusia-manusia Indonesia, tetapi dengan tekanan berat pada bagian kata Indo tadi. (Mangunwijaya, dikutip dalam Hunter 2002, 110-111)

Juga dalam tulisan lain: “Masyarakat Indo adalah masyarakat yang dalam penghayatan realita hidup dan kebudayaannya terbelah; lebih dari itu, alienated. Setengah asing terhadap diri sendiri, apalagi situasi dan keadaan sekelilingnya. Demikian kita semua.” (dikutip dalam Hunter 2002, 111) Jadi terlepas dari pengakuan Romo Mangun bahwa novel-novelnya “punya tokoh satu, yakni nasion Indonesia” (dikutip dalam Allen 2000, 5), cerita besar tentang nasion itu mendarat, menubuh, dan terpentaskan pula secara personal-eksistensial.

 

Nasionalisme Sayu

Maka kalau Burung-burung Manyar kerap dianggap sebagai undangan untuk merenungkan ulang nasionalisme, mungkin yang muncul darinya ialah nasionalisme yang tak menggertak, nasionalisme yang reda dari segala gegap gempita, suatu nasionalisme yang sayu. Sayu bukan berarti pesimis, melainkan sejenis kesadaran akan kedaifan, tetapi sekaligus penuh harapan, seperti suasana yang kita rasakan saat mengalami atau menyaksikan kelahiran seorang bayi: matanya sayu, raganya ringkih, tetapi sekaligus kita pandang berbagai kemungkinan segar yang terbentang di hadapannya. Seperti kata Mudji Sutrisno (1995, 90):

Keprihatinan pokok mengenai wujud negara dilambangkan dengan ‘pembangunan sarang burung manyar’ demi meletakkan generasi masa depan (baru) telur-telur manyar itu. Pembangunan ‘sarang burung’ ini amat ditentukan oleh kualitas manusia-manusia matang yang mampu mencapai dan mampu hidup atas dasar jati dirinya. ‘Sarang burung manyar’ ini cara membangunnya menuntut keberanian membongkar mentalitas lama demi terjaminnya citra jati diri.

Pokok ini dilukiskan dengan sangat indah dan simbolis oleh Romo Mangun melalui mulut Atik dalam promosi doktornya. Di situ dikisahkan bagaimana Larasati, yang membuat suatu disertasi “Jatidiri dan bahasa citra dalam struktur komunikasi varietas burung Ploceus Manyar” untuk gelar doktornya, berhasil menguraikan banyak hal tentang burung manyar dengan sangat baik, tak hanya secara biologis, melainkan juga secara filosofis (BBM, 203-212). Pokok yang sama muncul lagi dengan nuansa baru pada bab akhir, ketika Teto menjadi orang tua asuh anak-anak pasangan Atik-Janakatamsi. Ujung kisah ini pun punya kesejajaran dengan akhir Perang Bharatayudha, ketika Kakrasana mengasuh Parikesit (putra Abimanyu, cucu Arjuna) setelah semua kesatria mati. Teto merasakannya sebagai “kesejukan bagi siang dan petang kurun hidupku”, seraya membangun niat untuk mengantar anak-anak itu “ke hari depan mereka yang sesuai dengan jati diri dan bahasa citra yang sebening mungkin” (BBM, 261). Kita bayangkan anak-anak itu bagaikan anak-anak burung manyar yang baru menetas, yang punya banyak kemungkinan tetapi masih serba sayu.

Nasionalisme bernuansa sayu itu agaknya sangat dipengaruhi oleh satu pengalaman Romo Mangun, ketika ia meninggalkan dunia tentara dan masuk organisasi Pemuda Katolik. Suatu kali ia mewakili organisasi itu dalam sebuah perayaan besar-besaran menangnya Indonesia atas Belanda. Dalam perayaan itu didengarnya sebuah pidato dari Mayor Isman, Komandan Tentara Pelajar:

Jangan kalian sebut kami pahlawan atau bunga bangsa. Oleh perang kami telah belajar melukai dan membunuh. Oleh perang kami telah membakar rumah-rumah. Tangan-tangan kami berlumuran darah. Kami sudah mengenal dan mengerjakan banyak hal yang kotor, yang dibawa oleh situasi perang dan keadaan tidak normal. Kami pemuda-pemuda yang sebetulnya tumbuh tidak normal. Kami tidak meminta disanjung. Hanya satu… berilah kami kesempatan untuk menjadi manusia normal. Sekali lagi menjadi manusia normal. (dikutip dalam Willy Pramudya 1995, 9-10)

Kita bayangkan betapa anti-klimaksnya pidato macam itu di tengah sebuah perayaan yang dimaksudkan untuk besar-besaran. Mangun muda tersentuh, tetapi juga tersentak. Pidato itu mengubah segala rencana hidupnya. Sejak itu ia bertekad untuk—seperti kerap dikatakannya—“membayar utang kepada rakyat.” Dalam hal ini pantas kita ingat pula kekagumannya kepada Sjahrir. Dalam Mengenang Sjahrir dikatakannya bahwa ia tertarik dan mengagumi Sjahrir sebab tokoh ini “kalah atau gugur” (dikutip dalam Goenawan Mohamad 2012 [1999], 251)—sekali lagi, sayu.

Terlepas dari nasionalisme bernuansa sayu itu, tak boleh kita lupakan bahwa visi Romo Mangun tentang nasionalisme membawa dimensi universal. Katanya:

Nasionalisme yang dirintis para pendiri Republik Indonesia bukan nasionalisme Hitler atau Dai Nippon dulu, yang perangainya mengorbankan rakyat demi keagungan palsu negara. Nasionalisme kita diemban konstitutif oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Peri Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Jadi, berdimensi universal. Bukan nasionalisme sempit “right or wrong is my country”, jiplakan dari Britania Raya abad ke-19. Tetapi, “right or wrong is right or wrong”. (dikutip dalam Allen 2000, 72)

Sastra bagi Romo Mangun mengemban peran dalam visi kemanusiaan universal itu; dalam kata-katanya, “membentuk insan yang budiwan, yang mengasah nurani, yang membuat manusia menjadi lebih manusiawi” (dikutip dalam Allen 2000, 73). Kalau istilah “universal” makin kerap diharamkan dalam jagat pemikiran dewasa ini, pantas kita ingat bahwa universalisme Romo Mangun jauh dari kecenderungan mentotalisasi. Universalismenya berciri “multikultural, memandang keluar, dan reseptif terhadap gagasan-gagasan baru” (Allen 2000, 93)—nuansa yang Romo Mangun kembangkan dalam Burung-Burung Rantau.

Kejernihan macam itu tak bisa lahir dari nasionalisme balap karung. Ia hanya mungkin muncul dari awal yang hening, yang bersedia mengakui kebobrokan masa lalu, yang sayu.

 

Referensi

Allen, Pamela. 2000. Reading Matters: Plurality of Meaning in Selected Indonesian Fiction, 1980-1995. Tesis PhD di University of Sydney. Diunduh dari https://eprints.utas.edu.au/1193/.

Ankersmit, Frank. 2010. “Truth in History and Literature”, Narrative, Januari 2010, Vol. 18, No. 1: 29-50.

Budi Hardiman, F. 2015. Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius.

Chris Wibisana. 2021. “Novel Burung-burung Manyar & Nasionalisme Orang-orang Kalah”; https://tirto.id/novel-burung-burung-manyar-nasionalisme-orang-orang-kalah-giMu.

Goenawan Mohamad. 2012 [1999]. “Jip”, Catatan Pinggir 5, 249-252. Jakarta: Pusat Data dan Analisa Tempo.

__________. 2021. “Sedikit tentang Kritik”; https://tengara.id/meja-bundar/sedikit-tentang-kritik-sastra-goenawan-mohamad/.

Hunter, Thomas. 2002. “Indo as other: Identity, anxiety, and ambiguity in ‘Salah asoehan’”, dalam Keith Foulcher dan Tony Day, ed. Clearing a space: Postcolonial readings of modern Indonesian literature, 109-143. Leiden: KITLV Press.

Lindsay, Jennifer. 1999. “Y. B. Mangunwijaya: 1929-1999”, Indonesia, April 1999, No. 67: 201-203.

Mangunwijaya, Y. B. 1981. Burung-burung Manyar. Jakarta: Djambatan.

__________. 2014 [1992]. Burung-Burung Rantau. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

__________. 1995. Gerundelan Orang Republik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mudji Sutrisno. 1995. “Benang Merah Pemikiran Mangunwijaya” dalam Th. Sumartana dkk (eds.). Mendidik Manusia Merdeka: Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun. Yogyakarta: interfidei & Pustaka Pelajar.

Suyatno Hadiatmojo, Y. 2013. Kotak Hitam Sang Burung Manyar: Kebijaksanaan dan Kisah Hidup Romo Mangunwijaya. Yogyakarta: Galangpress.

Willy Pramudya. 1995. “Perjalanan Hidup Seorang Yusuf Bilyarta Mangunwijaya” dalam Th. Sumartana dkk (eds.). Mendidik Manusia Merdeka: Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun. Yogyakarta: interfidei & Pustaka Pelajar.

Esai30 April 2022

Y. D. Anugrahbayu


Y. D. Anugrahbayu, sempat tertarik pada pemikiran Romo Mangun saat menjalani studi filsafat di STF Driyarkara (2010-2014). Setelah menamatkan studi S2 di perguruan tinggi yang sama pada 2018, selama beberapa tahun aktif mengisi program “Philosophy Underground” di Komunitas Utan Kayu sebagai salah satu narasumber. Terakhir menjadi salah satu narasumber dalam rangkaian “Art Camp: Membaca Goenawan Mohamad” di Komunitas Salihara. Kini bekerja sebagai penerjemah, sesekali juga menulis esai.