Perkawanan Perempuan Menulis
Ingatan Perempuan dalam Narasi Lokal

Ilustrasi: Jiwenk

Ingatan tentang ibu sebagai seorang filatelis yang menyimpan setiap edisi perangko terbitan Perum Pos (PT Pos Indonesia), yang sialnya lebih sering mencetak gambar Soeharto dengan pose sama, adalah salah satu “ingatan kanak-kanak” perihal Orde Baru dari Raisa Kamila, salah seorang pendiri kolektif Perkawanan Perempuan Menulis, yang ia bagikan dalam epilog buku debut mereka—berdampingan dengan ingatan kelima rekannya serta para perempuan yang mereka temui dan tampilkan kisahnya lewat delapan belas cerita pendek. Tank Merah Muda, judul buku itu, oksimoron yang mendampingkan tank berkonotasi garang dengan warna merah muda yang lembut, adalah kumpulan cerpen berisikan berbagai pertanyaan tentang kehidupan masyarakat selama dua dekade pasca-Reformasi, cerita-cerita yang luput dari pengetahuan publik, hingga peran, posisi, dan pengalaman perempuan dalam masa transisi ekonomi-politik tersebut. Memperoleh hibah Cipta Media Ekspresi dengan lisensi creative commons, buku tersebut dapat diakses gratis melalui tautan berikut: Tank Merah Muda.

Bersama dengan Amanatia Junda dari Sidoarjo, Maria Margareth Ratih Fernandez dari Larantuka, Armadhany dari Makassar, Ruhaeni Intan Hasanah dari Pati, dan Astuti N. Kilwouw dari Ternate, Raisa yang berasal dari Banda Aceh menggagas kolektif Perkawanan Perempuan Menulis pada 2018. Gagasan mula-mula mereka adalah membentuk suatu kolektif tempat belajar menulis bersama dan membagikan kecintaan mereka akan sastra—mereka menyebutnya, “sebuah ruang belajar menulis oleh dan untuk perempuan”. Meski sama-sama belajar menulis secara informal di berbagai tempat, kali pertama pertemuan langsung di Yogyakarta terjadi pada pertengahan Juli 2018. Seiring waktu, mereka terpantik mengisi celah dalam kesusastraan negeri ini, untuk mengangkat suara para perempuan, di luar ibukota, di luar arus dan aktivisme politik negeri, dari kalangan orang biasa-biasa saja, tentang apa saja yang terjadi pra- dan pasca-Reformasi.

Bahkan sebelum pandemi, kolektif ini menunjukkan betapa mereka berhasil mengatasi batasan geografis dengan modal pertemuan virtual dan menanggapi isu-isu terbaru terkait keperempuanan dan kesusastraan dalam karya-karya mereka—inisiatif yang ideal untuk diselenggarakan di sebuah negara dengan bentuk kepulauan dan ruang-ruang sastranya yang masih teramat maskulin. Pada 2020, kolektif dengan semboyan “merangkul, menulis, bertumbuh” ini bahkan berhasil mengundang lebih banyak lagi kawan perempuan penulis untuk bergabung dengan mereka. Sebanyak 25 peserta—dari berbagai kota berbeda—dari total 341 pendaftar mengikuti lokakarya virtual riset dan kepenulisan yang mereka selenggarakan, lantas berproses bersama, dan resmi tergabung dalam kolektif Perkawanan Perempuan Menulis ini. Karya-karya peserta lokakarya di gelombang kedua ini dapat diakses melalui tautan berikut: Perkawanan Perempuan Menulis.

Dalam wawancara ini, mereka menuturkan bagaimana mereka mulai berproses untuk belajar menulis dan meriset dengan lebih terstruktur. Mereka juga menjelaskan perihal ekosistem sastra maupun kampus yang sebelumnya mereka hadapi di enam provinsi masing-masing, hingga pentingnya menghadirkan “suara perempuan” di dalam khazanah literatur negeri ini. Sekelumit kisah tentang pengerjaan Tank Merah Muda dan berbagai pengisahan dari luar Jakarta pun mereka utarakan. Fokus kolektif pada tema sejarah dan lokalitas memang ditujukan untuk menghadirkan lebih banyak suara perempuan dari berbagai provinsi di Indonesia tentang berbagai isu lokalitas dalam latar sejarahnya masing-masing. Pada akhir percakapan, mereka membagikan pula inspirasi yang dapat dipetik dari praktik kolektif ini. Berikut ini adalah obrolan Dewi Kharisma Michellia dari tengara.id dengan Perkawanan Perempuan Menulis.

 

Berproses Bersama dalam Satu Kolektif

Mendapatkan energi six degrees of separation, keenam anggota Perkawanan Perempuan Menulis mengaku bahwa mereka “dipertemukan secara random”. Seiring jalan, mereka menjembatani batasan geografis dengan membentuk grup virtual “emerging writers” dan mengomunikasikan rencana mereka untuk menyusun Tank Merah Muda.

 

DEWI KHARISMA MICHELLIA

Kalian berenam berproses dan studi di Yogyakarta. Sementara kita tahu, ada juga sekian juta anak muda memilih kuliah di Yogya, bukan berarti mereka akan bikin kolektif seperti kalian, dan belum tentu juga akan angkat tema yang membahas perempuan atau isu-isu yang kalian usung dalam Tank Merah Muda. Meski kalian sudah menuliskannya dalam epilog buku, boleh ceritakan kembali bagaimana kalian dipertemukan dan membentuk Perkawanan Perempuan Menulis?

 

AMANATIA JUNDA

Awalnya, saat ada pembukaan hibah Cipta Media Ekspresi, Raisa baru pulang dari kuliahnya S2 di Leiden, saat itu dia di Aceh dan aku di Sidoarjo, kami sama-sama di kampung dan saling kontak. Dari sana tercetus ide, sepertinya seru deh untuk bikin cerpen bareng, yang ringan-ringan, dan kalau bisa, ajak teman lain. Saat itu, kami sudah berpikir untuk mencari teman dari berbagai daerah yang berbeda. Raisa dari Aceh, aku Jawa Timur, Ruhaeni dari Semarang, Ratih dari NTT, Dhany dari Makassar, dan Tuti dari Maluku Utara. Begitulah, pembentukan PPM disemangati untuk berkumpul dari berbagai daerah, dari 6 provinsi ini.

 

RAISA KAMILA

Dulu aku kuliah di Yogya, enggak pernah ketemu Ratih, Dhany, atau Tuti, apalagi Intan, sama Natia juga cuma 2-3 kali ketemu, enggak pernah benar-benar intens. Sewaktu aku S2, seorang temanku, Brita cerita tentang Natia, kami punya hal yang bisa kami bagi bareng. Kami mulai sering ngobrol, Natia kirim cerpennya ke aku, terus aku baca.

Aku merasa kayaknya seru kalau kita bisa belajar bareng kayak begini. Jadi serasa ada visinya. Terus, ngobrol-ngobrol, waktu ada pembukaan hibah CME, aku pas sedang baca arsip tahun 1990-an, dari sana kami terpikir, “Kayaknya seru, deh, menggarap sesuatu tentang periode 1990-an”. Terus, ya, akhirnya, “Ayo, kita bikin sesuatu bareng, yang bisa antardaerah.”

Waktu itu, dalam bayanganku, pengin bikin sesuatu yang bisa menghasilkan karya. Bisa jadi kayak semacam kolektif. Memberi alternatif terhadap pemahaman sejarah, periode 1990-an, dan sejarah di daerah masing-masing.

 

AMANATIA

Terus, kami coba ajak Intan, Ratih, Dhany, Tuti. Dan terkumpullah kami di grup WhatsApp yang kami namai “emerging writers”, tanpa tahu kenapa harus bikin nama grup itu. Awal mulanya sangat random, tapi kami enggak punya beban besar di awal harus bagaimana ke depannya.

 

MICHELLIA

Jadi, kalian akhirnya sepakat mau menulis soal sejarah. Lalu, kalian apply hibah dari CME. Kalau dari Dhany, Intan, dan Ratih, setelah mendapat kabar itu, bagaimana berprosesnya di grup emerging writers itu?

 

MARGARETH RATIH FERNANDEZ

Sewaktu diajak, aku belum benar-benar terang kita mau bikin output apa. Aku antusias, karena saat itu awal 2018, aku baru mau dua tahun lulus dan kerjaku masih serabutan. Karena terlalu sibuk kerja sana-sini dan merasa kurang gaul dengan teman-teman di luar circle kuliah, jadi, waktu diajak, aku pikir, oke juga ada circle pertemanan baru ini. Walau setelah masuk PPM pun, jadi merasa, “Oh, circle-nya tetap di situ-situ saja, ternyata.”

Begitu diajak, kita memang berproses dari nol banget. Clue di awal hanya tema Reformasi. Tapi kemudian kenapa kita memutuskan cerpen, dan kenapa perlu melakukan riset kembali ke kampung halaman masing-masing, semuanya berproses banget. Senang, karena bisa memulai sesuatu dari dasar.

 

RUHAENI INTAN

Waktu itu, aku dapat pesan dari Raisa, aku belum menghasilkan karya apa pun, jadi masih merasa minder, “Kok, aku dipilih, kenapa, ya?” Terus, Raisa bilang dia ajak aku karena dia baca blogku. Di awal itu, memang proyek ini belum mengerucut mau mengangkat cerpen sejarah seputar reformasi.

 

ARMADHANY

Saya kenal dari Natia. Kebetulan saya studi di Jogja dan ikut komunitas menulis, Bengkel Gerakan Literasi Indonesia (GLI). Waktu itu, diajak Natia pas saya masih di Thailand.

 

ASTUTI N. KILWOUW

Sebenarnya proses kami dipertemukan sangat random karena kebetulan kami punya mutual-friend yang sama. Misalnya, dari keenam kawan, sebelumnya saya hanya mengenal Natia dan Dhany. Kami beberapa kali ketemu di agendanya GLI. Setelah lulus S2, saya kembali ke Ternate dan dihubungi Natia untuk menggarap kumpulan cerpen bareng lima kawan lainnya.

 

Armadhany

Ekosistem Menulis Sastra di Enam Provinsi

Sebagai negeri kepulauan, ketimpangan akses antara satu wilayah dan wilayah lain sudah setua usia republik. Sudah jadi rahasia umum, bahkan di era keterbukaan informasi seperti sekarang, seorang anak daerah harus bekerja ekstra agar bisa masuk konstelasi sastra Indonesia. Bukan hanya jarak yang perlu ditempuh dengan sekian kali ganti kendaraan, mendapatkan akses atas informasi (sayembara, lomba, hibah, kesempatan karier di gelanggang sastra ataupun industri perbukuan, hingga ke akses penerbitan) ataupun “menyesuaikan selera” dengan ukuran-ukuran kesusastraan lembaga sastra tingkat nasional kerap perlu mereka upayakan ekstra.

Dalam khazanah sastra negeri ini, lazim kita ketahui kisah tentang Chairil Anwar dari Payakumbuh yang merantau ke Jakarta dan menginap saban hari di kantor Balai Pustaka. Delapan puluhan tahun kemudian, para penulis Indonesia masih perlu menempuh perjalanan kultural yang sama agar mendapat akses ke sastra Indonesia. Termasuk di dalam rombongan itu adalah para penulis perempuan.

Hingga berangkat studi ke Yogyakarta, Ratih mengaku tidak tahu satu pun komunitas sastra di daerahnya. Barulah pada 2013, ia mengenal Komunitas Dusun Flobamora, dan itu pun dari biodata buku puisi Mario F. Lawi, Memoria, lantas ia cari secara acak informasinya dari Facebook. Dari sanalah ia kemudian mengenal komunitas lainnya, Komunitas Kahe di Maumere, komunitas yang melakukan penggalian dan pengembangan budaya lokal. Setelahnya, Ratih intens mengikuti pertumbuhan komunitas berbasis literasi dan budaya di daerahnya. Termasuk Simpa Sio Institut di Larantuka yang digagas oleh Eda Tukan bersama ayahnya, seorang penulis dan budayawan lokal, dengan fokus pada perawatan dan akses arsip terkait budaya suku Lamaholot di Kabupaten Flores Timur.

Sementara, Raisa terlibat dalam aktivitas komunitas sastra di Banda Aceh sedari remaja, persisnya saat ia melewati masa-masa rehabilitasi dan rekonstruksi sesudah bencana tsunami. Ia sempat ikut kelas menulis yang diadakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, Seuramoe Teumuleh lantas Sekolah Dokarim yang diadakan Komunitas Tikar Pandan. Belakangan, ia terlibat aktif di perpustakaan komunitas Rak Baca T36 yang rutin mengadakan diskusi buku di kalangan pegiat literasi di Aceh.

Amanatia pun beberapa waktu terakhir mengamati perkembangan ekosistem sastra di Sidoarjo yang semakin dinamis, dari Dewan Kesenian Sidoarjo yang berperan menumbuhkan bakat baru di daerahnya, lewat grup WhatsApp Majelis Sastra Sidoarjo, hingga terbitan buku bertajuk panorama sastra Sidoarjo.

Apa yang mereka rasakan sebagai “gadis daerah”, dulu dan kini, serta bagaimana kolektif Perkawanan Perempuan Menulis ini bersiasat menghadapi berbagai keterbatasan di lingkup ekosistem sastra daerah mereka dan di lingkup kampus?

 

MICHELLIA

Memang terasa banget bahwa Perkawanan Perempuan Menulis ini, kan, berangkat dari semangat untuk menjadi suatu kolektif yang sama-sama belajar lebih dalam seputar dunia tulis-menulis. Meski kalian tentunya juga sudah memulainya masing-masing secara informal, kalian menulis di blog pribadi dan semacam itu.

Bagaimana pandangan kalian tentang ekosistem dan dunia tulis-menulis di Indonesia sebelum kalian akhirnya punya buku tunggal ataupun buku debut kolektif bersama ini? Bagaimana kalian melihat dunia sastra sehingga, kok, kalian merasa “Oh, kita perlu, nih, berkawan dan belajar menulis bareng,” dan lalu berproses di PPM?

 

RAISA

Aku belajar menulis sejak sebelum kuliah, pas SMA, waktu aku masih di Aceh. Pas aku di Aceh juga sudah lumayan terpapar sama penulis-penulis dari Yogya dan penulis-penulis dari Jakarta. Jadi, waktu itu karena sudah baca karya-karya Puthut Ea, Eka Kurniawan, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, jadi aku merasa, sebagai gadis daerah, “masuk ke sastra” tuh berat, untuk menjadi penulis yang diterbitkan, rasanya kayak mau jadi selebriti. Kayaknya susah banget. Itu kayak suatu industri yang jauh dan enggak terjangkau.

Apalagi waktu di Aceh, aku sempat belajar di Sekolah Dokarim yang digarap Komunitas Tikar Pandan. Memang mereka kerap mengundang orang-orang dari luar Aceh untuk mengisi workshop dan kelas belajar. Tapi aku malah makin merasa kalau untuk menjadi penulis itu susah banget. Entah itu perempuan, entah lelaki, orang daerah rasanya susah untuk menembus. Aku merasa dulu kayak ada batasan, ada banyak pos satpam yang harus dilewati untuk menjadi penulis yang top di Jakarta, yang kayak sekaliber Dewi Lestari. Terus, kayaknya harus pintar, harus bisa bahasa Inggris, harus baca Don Quixote, apalah.

Melihat infrastruktur daerahku waktu di Aceh, baru sehabis tsunami aku belajar menulis yang agak serius. Tahun 2007 itu enggak ada toko buku, bahkan Gramedia aja baru ada tiga tahun lalu di Aceh. Jadi, memang susah banget. Nah, karena itu juga habis tsunami, aku juga sempat belajar menulis sendiri di Medan. Aku sempat tinggal di Medan selama 6 bulan. Karena sekolahku lumayan dekat Gramedia dan waktu itu lagi ngetren teenlit segala macam, aku sempat pengin bikin teenlit yang diterbitkan Gramedia. Aku coba menulis dengan komputer pinjaman di rumah tanteku. Lalu, naskah itu kukirim, dan gagal, terus aku merasa, “Oh, ternyata memang susah nerbitin buku.” Ya, susahlah, tulisanku juga jelek banget.

Sewaktu aku di Yogya dan berinteraksi dengan teman-teman di komunitas sastra, perasaannya bukan “aku orang daerah yang enggak pernah baca buku apa-apa”, tapi ditambah juga “aku perempuan dan rentan”. Karena di komunitas sastra kadang-kadang suka diskusi sampai tengah malam—aku enggak ada masalah sama orang merokok atau mabuk-mabukan—tapi aku enggak merasa nyaman dan aman jadi perempuan, saat itu sendirian, dan harus menoleransi itu.

Waktu itu, aku juga jadi terpikir, “Ada enggak, ya, penulis perempuan yang punya keluarga?” Karena waktu itu kayaknya yang aku dengar dari mana-mana, tuh, penulis perempuan itu enggak usah menikah, enggak usah punya anak, karena nanti enggak bisa berkarya. Jadi rasanya pengalaman belajar di Jogja dan Aceh itu kayak dipersulit. Harus pintar, harus garang, harus melawan segala hal, harus siap mabuk kapan saja. Sori, ya. Terus, semacam ada keharusan untuk dapat pengakuan dari satpam-satpam sastra, dapat petunjuk dari mereka: “oh, aku harus baca karya yang ini”, “harus minta pendapat ke oom yang ini, ke abang yang ini”. Beberapa kali ada momen yang enggak menyenangkan dengan penulis laki-laki, tua dan muda, yang mereka kadang-kadang patronizing diri mereka, di Aceh, di Jakarta, di Yogya, entah kenapa aku ketemu terus. Sial banget. Dan untuk bisa ketemu orang yang pengin belajar aja, dan melihat aku sebagai partner yang setara, rasanya susah banget.

 

MICHELLIA

Menarik, pengalaman Raisa dari Aceh. Banyak harus dan banyak oom-oom, banyak abang-abangan, apakah itu terjadi juga di tempat lain?

 

AMANATIA

Kalau aku, mungkin agak beda pengalamannya dengan Raisa. Waktu mengenal komunitas menulis di Jogja juga, meski sebenarnya hampir mirip, punya keinginan belajar menulis sedari remaja. Enggak punya akses, enggak tahu harus mulai dari mana.

Kalau Raisa di Aceh lebih gaul, aku lebih kuper di Sidoarjo. Aku enggak tahu ada satu pun komunitas menulis saat itu. Sebenarnya kenapa aku memilih kuliah di Jogja itu pun motivasinya bukan karena UGM atau nama besar kampus. Bukan. Aku justru gara-gara waktu SMP sempat di pesantren, dan pesantren itu cuma punya perpustakaan seukuran satu lemari kecil. Isinya didominasi novel-novel dari teman-teman Forum Lingkar Pena. Tahun 2004-2005-an, saat itu aku menemukan banyak sekali profil singkat penulis yang mencantumkan domisili mereka di Yogya.

Aku dengan polosnya terpikir, “Wah, kalau begitu, di Jogja ada banyak penulis, ya.” Wah, ini berarti kotanya orang menulis. Jadi kupikir, kalau orang ingin menulis, perginya ke sana. Motivasinya sesimpel itu. Hanya karena baca profil-profil singkat dari novel-novel islami. Saat SMA, aku enggak ketemu komunitas menulis. Kecuali, aku juga seperti Michellia, gabung di situs web http://kemudian.com. Kenal beberapa orang di sana. Tapi, kan, aku masih hanya melihat Kemudian.com seperti Facebook, sebuah ruang yang isinya khusus buat kita menampilkan puisi atau cerpen, begitu doang. Enggak yang benar-benar bisa saling sharing dan belajar bareng.

Sewaktu di Yogya, kocak banget, yang aku cari pertama di sana adalah Forum Lingkar Pena. Dan aku enggak diterima, enggak lolos wawancara mereka. Aku enggak paham, “Kenapa, ya?” Waktu itu ditanya, “Sebutkan tiga penulis Indonesia yang kamu suka?” Saat itu, karena referensiku masih bacaan semasa remaja, aku menyebut nama-nama penulis yang random banget. Andrea Hirata, J.K. Rowling, dan Asma Nadia. Nama-nama itu, kan, enggak ketemu frekuensinya, ya? Jadi, kacaulah. Aku enggak diterima, dan merasa, “Masuk komunitas menulis itu sebegini susah, ya? Harus ada interview-nya, dan segala macam.”

Selain itu, aku juga sempat terlibat di pers mahasiswa. Tapi waktu itu aku enggak aktif karena aku enggak merasa ruang itu sebagai komunitas menulis. Bentuknya sudah sangat hierarkis, sangat berjenjang, dan kita sebagai junior masuk persma sudah langsung diberi tugas. Hanya berisi penugasan dan penugasan. Semacam masuk ke organisasi yang sudah mapan.

Nah, terus, sempat masuk bengkel menulis atas ajakan teman-teman saat itu, GLI belum terbentuk. Ada Dwi Cipta, Mahfud Ikhwan, dan Bosman Batubara. Konsep bengkel menulis itu menawarkan tiga fasilitator itu dan teman-teman yang mau belajar dan sharing bareng. Menurutku, bengkel menulis itu bagus banget sistemnya. Hanya saja, bengkel menulis itu hanyalah pintu masuk untuk memprospek teman-teman yang masih polos-polos penuh idealisme ini untuk ke sebuah organisasi kebudayaan yang sangat besar dengan cita-cita yang begitu idealis dan sebagainya. Jadi, kayak, ya itu hanya pintu masuk, ikut workshop beberapa sesi saja. Meski itu cukup memberi pengaruh buatku sebenarnya. Cara bengkel menulis memposisikan peserta atau angkatan juga cukup egaliter.

Jadi, sebenarnya pencarianku atas komunitas menulis cukup mengalami kebuntuan. Bahkan di Yogya selama tujuh tahun, mungkin aku yang kurang berusaha mendekati kantong-kantong kolektif kebudayaan. Aku belum menemukan prototype komunitas menulis yang benar-benar bisa kunikmati.

Saat aku pulang kampung ke Sidoarjo, aku merasa tercerabut dari komunitasku. Enggak punya circle, benar-benar memulai dari nol. Mungkin Raisa juga merasakan begitu saat kembali ke Aceh. Waktu di Sidoarjo, aku merasa bisa melakukan sesuatu, tapi di satu sisi aku juga merasa sendirian. Aku enggak punya teman sharing tulisan atau circle dengan frekuensi yang sama. Setelah aku bertumbuh di PPM, aku merasa rupanya tidak perlu mengidealkan satu kota atau satu komunitas, karena ternyata kami bisa tumbuh dalam satu ruang virtual, enggak harus ada patron besar di dalamnya. PPM ini ruang yang asyik; kami memulai ini dengan semangat borderless.

 

MICHELLIA

Aku senang banget dengan penjelasan Raisa dan Natia. Kami jadi bisa ikut ngerasa Perkawanan Perempuan Menulis memang murni kolektif yang pengin belajar bareng, karena itu ya mabuk-mabukan bareng cuma bonus.

 

RAISA

Pas Amanatia tadi menjelaskan soal FLP, lucu deh, kita jadi tahu kalau gatekeeper itu ada di mana-mana. Kalau sudah mapan memang rawan dengan gatekeeper. Jadi, rasanya, kayak… apakah kita enggak usah jadi mapan?

Sama, tadi seru juga bahasannya, benar juga, kita di grup virtual bisa tumbuh. Bayangin, kita sekarang di tengah pandemi, menumbuhkan cara kerja dan berkomunitas yang virtual. Lucunya, kita sudah memulai itu sebelum pandemi, sebagai cara menjembatani antara kita yang tinggal di daerah berbeda.

 

RATIH

Sebelum kuliah, aku masih melihat sastra secara naif dan romantis. Dari kecil, mengenal nama-nama J.K. Rowling atau Andrea Hirata yang diberitakan “Dari Menulis, Jadi Jutawan”. Masa lalunya juga “martir” banget, Rowling korban KDRT, bercerai, dia menulis dengan kertas-kertas potongan, dan setelah menulis dia jadi jutawan. Andrea Hirata anak miskin di Belitung, belajar sampai ke luar negeri, terus dia menulis Laskar Pelangi yang menginspirasi jutaan anak negeri untuk rajin sekolah. Aku melihat dunia kepenulisan bisa dijadikan profesi dan aku merasa punya talenta.

Saat kuliah, sama seperti Natia, aku mencari komunitas yang bisa membersamaiku belajar. Pilihanku jatuh ke LPM Ekspresi. Kakakku yang mengusulkan, dia wartawan sampai sekarang. Dia menganjurkan aku masuk persma. Waktu masuk persma, aku kaget sekali. Aku hanya ingin belajar menulis, tapi kok terus ada jenjang hierarki dan program kerja yang sangat ketat. Di AD/ART Ekspresi sendiri, mereka tidak hanya menyebut diri mereka sebagai organisasi pers mahasiswa, tapi juga sebagai suatu bentuk gerakan, dan itu tersurat di AD/ART. Jadi merasa, “Aduh, kok rumit sekali.” Belakangan pas sudah lebih dewasa aku menyadari bahwa yang namanya organisasi memang butuh manajemen yang ketat agar arah pertumbuhannya jelas, seperti yang kudapati di Ekspresi. Tapi memang pertama kali masuk lumayan kaget dengan iklimnya yang sangat baru buatku.

Aku mencoba untuk fit in, karena enggak punya referensi lain tentang bagaimana bisa menjadi penulis yang bagus. Aku ikuti iklim di sana, termasuk diskusi sampai malam, sering banget baca filsafat yang jadi semacam “bacaan wajib”. Di satu sisi aku merasa berat banget, tapi karena aku enggak punya referensi bagaimana caranya jadi penulis dengan cara yang lain, aku berusaha untuk menyesuaikan. Aku berusaha belajar filsafat, meski kemudian akhirnya aku tahu aku enggak bisa, aku enggak cocok dengan bacaan-bacaan semacam itu. Berusaha aktif di program kerja, tapi jatuhnya jadi terlalu fokus ke mengurus organisasi saja. Jadi terkungkung akhirnya, aku fokus hanya di sana. Ini masalah manajemen waktu dan diri juga sih. Kemampuan menulisku saat itu hanya mengikuti patron atau kurikulum di Ekpresi saja. Padahal, kan, ada banyak cara dan banyak metode juga karakteristik.

Belajar di Ekspresi memberi banyak manfaat tentunya, misalnya mempelajari struktur dan logika penulisan berita, analisis sosial, manajemen event, berkenalan dengan banyak buku-buku bagus dan tentu saja koneksi dengan banyak pihak. Tapi memang ada beberapa hal terkait sistemnya yang tampaknya tidak begitu cocok untuk orang sepertiku.

Begitu lulus dari UNY dan LPM Ekspresi, mulai masuk ke circle lain, makin terbuka pikirannya, “Oh, iya, ada banyak cara sebenarnya untuk menulis.” Tapi di awal kelulusan yang  aku temukan masih setipe Ekspresi walaupun enggak persis-persis banget. Diskusi sampai larut malam bahkan pagi, kalau ketemu harus di jam-jam yang sebenarnya saatnya orang istirahat. Terus, memangnya harus banget, ya nongkrong di kafe yang cahayanya remang-remang? Harus ngerokok banget? Aku enggak bermasalah dengan merokoknya kalau hanya satu dua orang. Tapi semua orang di sana itu merokok. Jadi, aku merasa kenapa biar “jadi lebih pinter” aku harus menahan mataku perih karena terpapar asap rokok terus? Dan, kenapa harus baca filsafat terus? Aku menikmati reportasenya Linda Christanty, juga menikmati Pram. Mereka juga sebenarnya membicarakan karya-karya seperti itu pastinya, tapi beberapa senior terlalu menempatkannya sebagai suatu “benda suci”. Ada beberapa orang yang berperilaku Book-shaming banget, bacaan harus ini-itu. Masih setipe dengan Ekspresi kadang-kadang.

Di tahun 2017-2018 itu, aku mulai masuk ke circle-nya KBEA, Mas Puthut dan kawan-kawan. Secara karakteristik, rada mirip dengan lingkungan sebelumnya karena kebanyakan di sana anak persma juga, tapi menurutku lebih luwes dan beragam. Akhirnya, aku jadi tahu kalau ternyata konstelasi dunia kepenulisan memang cukup kompleks, dan tidak sesederhana yang aku bayangkan sebelum kuliah.

Ketemu PPM, apa yang aku rasakan jadi valid. Yang kualami di Ekspresi dan yang lainnya itu bukan perasaanku saja, memang bukan sistem yang seutuhnya cocok denganku. Dulu, saat aku merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, aku merasa diriku bodoh. Aku merasa aku tidak mampu. Tapi, ternyata itu hanya soal kecocokan dengan sistem.. Bukan berarti aku bilang cara itu buruk. Untuk orang lain, itu mungkin cocok, tapi belum tentu cocok untukku.

Pola di komunitas seperti PPM ini yang cocok buatku dan membuatku lebih percaya diri secara intelektual dan emosional tanpa menafikan pengalaman organisasiku sebelum-sebelumnya. Efek positif dari ruang-ruang tadi pastinya ada banyak, tapi aku merasa lebih nyaman di model seperti PPM ini. Walaupun pastinya ada banyak kekurangan yang harus terus-terusan kami perbaiki biar bisa bertahan dan makin bermanfaat.

 

ASTUTI

Melihat situasi atau ekosistem dunia sastra hari ini, terutama di Indonesia, memang masih didominasi oleh patronase figur dan maskulinitas. Perempuan dan individu yang jauh dari akses “kekuasaan sastra” kian jauh menjangkau passion-nya dan kerap kali karyanya tidak mendapatkan tempat. Kupikir, inilah salah satu alasan kami membangun kolektif untuk saling menunjang dan menopang sebagai penulis perempuan pemula.

 

INTAN

Betul. Kalau aku, aku merasa merangkum pengalaman Raisa, Natia, dan Ratih. Aku alami semua itu juga. Awal gabung di PPM, aku merasa ibarat anak ayam hilang yang masih bimbang.

Awal mulaku mengenal dunia tulis-menulis sejak aku di pers mahasiswa. Persis seperti yang diceritakan Natia, pers mahasiswa sangat hierarkis. Posisi junior-senior sangat kentara. Persma memang mengajarkan banyak buatku menulis. Tapi, yang aku enggak dapatkan adalah peer group. Ketika aku jadi junior, seniorku hanya memberi tugas dan obrolannya hierarkis, terasa enggak enak. Ada patronase, “Kamu harus baca ini, supaya kamu jadi senior.”

Karena kebutuhan mencari peer group, aku mencari tempat lain. Kebutuhanku ini mengantarkanku kenal komunitas di Semarang, mereka punya kolektif yang cukup progresif, ada satu dosen yang mau ikut bareng dengan mahasiswa dan benar-benar mengajarkan cara menulis. Dia buka kelas, mentoring dan semuanya gratis. Menurutku itu progresif.

Tapi, yang aku rasakan, pengalamanku sama dengan Raisa. Isi komunitas itu abang-abangan semua. Waktu itu, aku masih belum menyadarinya. Aku belum melek soal isu-isu perempuan, masih belajar, dan mempertanyakan, “Aku enggak nyaman, tapi kenapa aku merasa enggak nyaman?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akhirnya terjawab saat aku di PPM. Ternyata, aku enggak nyaman ketika ada di komunitas yang isinya cowok semua, dan kita sebagai cewek merasa kayak “ditelanjangi dari atas sampai bawah lewat tatapan mata”. Belum lagi kalau kita masuk obrolan mereka. Seolah-olah, kalau kita aktif di situ, kita bisa didekati atau digoda. Cuma waktu itu aku belum punya instrumen untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah soal itu. Dari sana, aku sempat pindah peer group ke teman-teman kolektif anarko di Salatiga. Hampir satu angkatan seusia. Tidak ada hierarki junior-senior atau abang-abangan. Tapi, saking progresifnya, yang mereka bahas adalah soal bagaimana caranya bikin molotov, atau ayo kita besok demo, free love, yang begitu-begitu. Kan, aku jadi merasa kayak, “Aaa, apa ini?”

Aku juga enggak merasa itu cocok bagiku. Aku enggak merasa mendapatkan apa yang aku butuhkan. Baru dari sana aku tahu, aku juga membutuhkan ruang aman supaya aku bisa belajar. Akhirnya, waktu aku pindah ke Yogya, aku kenal Raisa dan Natia, lalu teman-teman PPM, ternyata apa yang kualami pernah mereka alami. Aku merasa PPM adalah ruang yang mendekati ideal, tempat buatku belajar, tanpa ada junior-senior, tanpa ada hierarki, terus enggak ada gatekeeping “kamu harus baca ini, kamu harus baca itu”, dan enggak digodain abang-abangan.

 

MICHELLIA

Polanya bisa sama begitu, ya, di banyak tempat. Komunitas menulis diisi dan dipatronase sama abang-abangan yang pengin modus ke anggota perempuannya….

 

ARMADHANY

Hampir sama dengan teman-teman yang lain, yang paling aku ingat dari bengkel kelas menulis difasilitasi dengan laki-laki. Ketika saya mencoba menjelaskan ide cerita, saya dijuluki “misionaris” dan ketika mencoba menjelaskan cerita dengan bahasa yang sedikit vulgar, mereka langsung bilang, “Kamu baca Ayu Utami aja, baca Saman.”

Saya enggak tahu apa-apa dan memang baru belajar. Lalu saya baca itu cerita tentang laki-laki yang meminta keperawanan dari pacar perempuannya. Terus, dalam cerita yang saya baca itu, ada pertanyaan tentang apa salahnya kalau memang cowoknya suka? Padahal, bagi saya, “Loh, itu kan salah.”

Ketika akhirnya saya menulis di Tank Merah Muda, saya mendapatkan tanggapan berbeda. “Bagus, nih. Sampai ngeri.” Lalu ada feedback yang bilang, “Oh ini aman, ya, untuk ditulis?” Komentar-komentar ini berbeda dengan tanggapan ketika saya di bengkel menulis yang dulu. Saya merasa aman bertemu dengan PPM. Kita benar-benar menulis dengan bahasa kita sendiri, bahasa perempuan banget, dan enggak harus dibahasakan ke bahasa laki-laki.

 

MICHELLIA

Kalian mengupas tentang bagaimana ekosistem di dunia sastra—juga sekelumit tentang pengalaman di ekstrakurikuler kampus seperti terlibat di lembaga pers mahasiswa. Sementara itu, kalau dipikir lagi, dengan demikian apakah menurut kalian situasi kampus tidak mendukung terbentuknya kelompok belajar bersama sehingga kalian merasa perlu bikin kolektif untuk mengisi kekosongan? Belakangan, kita juga mendengar tentang maraknya kasus perempuan mengalami pelecehan seksual di kampus. Apakah dapat kita katakan sebenarnya hal itu secara paralel menunjukkan juga bahwa kampus tidak menyediakan ruang yang aman untuk belajar menulis? Kalau menurut kalian iya, mengapa menurut kalian kampus tidak menyediakan ruang bagi perempuan atau mendukung perempuan mendalami tema-tema tersebut?

 

RAISA

Sebenarnya kalau di kampusku, Filsafat UGM, lebih ada keleluasaan untuk belajar apa pun di luar filsafat. Kita bisa belajar sastra, seni rupa, film, teater, bebas. Dan memang lebih sering diinisiasi oleh mahasiswa, lebih hidup juga diskusinya dibanding di kelas, tapi pas awal kuliah aku jarang ikutan karena minder dan cupu, hahaha. Pas udah di tahun kedua dan ketiga mulai punya teman untuk inisiasi kegiatan belajar di kampus, tapi memang belum fokus banget ke isu perempuan. Dan sejujurnya waktu itu juga, biarpun udah sedikit terpapar soal feminisme, bacaanku masih mentok di buku-buku terjemahan dan Jurnal Perempuan aja. Lebih banyak diskusi malah dengan teman-teman luar kampus, dan belum kepikiran juga mau bikin kolektif, apalagi yang khusus untuk perempuan belajar sastra.

 

AMANATIA

Aku kurang begitu ingat bagaimana situasi kampus 10 tahun yang lalu berkaitan dengan ruang bagi perempuan. Topik sastra dan perempuan rasa-rasanya selama aku kuliah belum pernah mengalami perkembangan sedinamis beberapa tahun belakangan ini.

PPM sebagai kolektif sebenarnya bukan berangkat dari kekosongan kelompok belajar perempuan atau kurangnya diskusi mengenai wacana gender, menurutku. Bagaimanapun, awalnya saat kami berenam berkumpul, semuanya telah lulus kuliah dan sedang berjuang dengan pilihan hidup masing-masing. Tuti yang balik ke kampung halaman dengan semangat aktivismenya, Raisa yang baru pulang dari Leiden dan perlu berkontribusi terlebih dahulu di Aceh sebelum menemukan lingkungan yang benar-benar pas baginya, Intan yang nekat kerja di Yogya setelah lulus dari Semarang (meski UMP 11:12 dengan Yogya), saat kami kopdar ia masih seorang pemandu di museum dan harus berangkat pagi sekali ke kaki gunung Merapi. Ratih yang juga bertahan untuk subsisten di Yogya setelah lulus dari kuliah S1, Dhany yang akhirnya kembali lagi ke Yogya–setelah menjadi seorang guru di Thailand. Hingga saya yang juga mirip seperti Dhany, memilih kembali ke Yogya setelah mengalami krisis identitas di kampung halaman sendiri. Jadi, saya renungkan kembali, kami berenam berada di situasi yang hampir sama, pasca-lulus kuliah dan merasa rentan menghadapi lingkungan yang seringkali tidak memihak bahkan cenderung tidak berkeadilan gender.

 

ASTUTI

Kalau di kampusku, terutama untuk bidang keilmuan yang kugeluti, Ilmu Hukum, memang sangat terbatas dan kaku, tipikal maskulin, sehingga tidak sefleksibel jurusan lain. Sebenarnya tidak hanya perempuan, laki-laki pun demikian. Jadi kalau bicara keterbatasan gender kurang lebih samalah dengan kondisi situasi di dalam kelompok masyarakat patriarkis lainnya.

 

ARMADHANY

Seingatku, di kampus ada beberapa kelompok yang mendiskusikan tentang sastra, hanya saja kelompok itu didominasi oleh laki-laki, sehingga ketika ada seorang perempuan berada di antara laki-laki yang sedang asyik merokok itu bakal kelihatan agak tabu. Tapi, kampus tetap menyediakan panggung-panggung untuk berdiskusi tentang sastra. Sedangkan PPM bagiku menjadi tempat yang cukup aman dan nyaman untuk menyampaikan ide-ide atau berbagi pandangan tentang karya sastra yang tentunya dari sudut pandang perempuan. Kampus pun sedikit tabu dengan isu-isu yang membawa nama-nama feminisme, maklumlah aku kuliah di kampus islami, jadi wajar ketika kami berusaha membahas tentang kesetaraan gender, maka banyak yang memilih untuk tidak ikut tahu.

 

INTAN

Kalau di kampusku, jelas sangat tidak mendukung, bahkan enggak cuma untuk perempuan, laki-laki juga. Aku kuliah di Politeknik yang notabene disiapkan untuk segera lulus dan bekerja. Sastra, yang mungkin dianggap bukan industri yang mapan, tidak masuk kurikulum; UKM bidang sastra pun enggak ada kalau di kampusku dulu. Makanya, aku kemudian mencari ruang belajar menulis di pers mahasiswa. Sastra di kampusku tuh kayak alien, “Apa itu sastra, tidak penting dan tidak mendatangkan uang.” Uniknya, di perpustakaan kampusku, banyak buku sastra dan non-sastra yang bagus. Salah satu yang dulu sempat aku temukan di perpustakaan adalah laporan investigasi tentang tambang emas Freeport di Papua.

 

RATIH

Aku enggak pernah benar-benar paham kenapa persisnya enggak ada ruang yang kondusif buat perempuan dalam bidang ini di kampusku dulu. Aku juga nggak begitu ingat apakah ada komunitas di bidang tertentu di kampus yang isinya perempuan saja. Tapi seingatku, kayaknya memang pembahasan soal gender di kampusku dulu khususnya di kalangan mahasiswa belum seluas diskursus gender hari ini, ya. Dalam artian, kalau membicarakan soal hak perempuan, ya sebatas perempuan bebas melakukan apa pun di ruang publik, tapi kurang ada diskusi dan perhatian lebih dalam tentang ketika perempuan sudah boleh ngapain aja di ruang publik, dia tetap mengalami tantangan yang tidak dialami lelaki. Ya, misalnya, ketika pengin belajar menulis. Ada ancaman dilecehkan atau rentan di-mansplaining.

 

Ruhaeni Intan

Refleksi Kembali dan Pijakan untuk Karya Mendatang

Dalam kumpulan cerita pendek Tank Merah Muda, keenam perempuan ini menghadirkan berbagai kisah yang tercecer dan mengumpulkannya dalam 18 cerita pendek. Masing-masing dari mereka menulis tiga cerita pendek yang mengangkat suara perempuan dari daerah mereka.

Astuti dari provinsi Maluku Utara menggambarkan konflik horizontal berbasis agama yang terjadi pada 1999 antara dua suku, yakni Makian dan Pagu, yang semula dipicu oleh perebutan tapal batas di wilayah lingkar konsesi pertambangan emas.

Ratih menuliskan kisah perihal bagaimana setidaknya 200.000 lebih warga Timor Timur pro-integrasi mengungsi ke Pulau Timor bagian barat yang termasuk dalam Kawasan NTT.

Dari Sidoarjo, Amanatia mengingat bagaimana harga susu kalengan yang dikeluhkan ibunya tumpang tindih dengan kampanye pemilu di Jawa Timur yang dimenangkan oleh pasangan Gus Dur dan Megawati. Begitu juga, cerita-cerita mengenai pembantaian dukun santet dan teror ninja mendorongnya meriset ke Surabaya, Jember, Banyuwangi, dan Lumajang.

Sementara, Armadhany melukiskan tragedi April Makassar Berdarah (AMARAH), politik perkoncoan antara pejabat daerah, serta tren kebijakan desentralisasi. Tak luput, ia menelusuri soal asal-usul kue kering “kue krismon” yang populer di kotanya sebagai kudapan hari raya di tengah melonjaknya harga bahan sembako.

Begitu pula Intan menceritakan kondisi psikis warga keturunan Tionghoa di Semarang, yang mendapatkan teror berupa ancaman perkosaan. Ia juga mendengar cerita tentang pengusaha lokal keturunan Tionghoa yang menimbun barang saat krisis, hingga beberapa kelompok yang mengadakan pasar-pasar murah “Pasar Krempyeng”.

Di Aceh, Raisa menelusuri ingatan masa kecilnya sembari bertemu beberapa perempuan dengan latar belakang beragam (dosen, pekerja LSM, pegiat posyandu, aktivis, ibu rumah tangga) yang melewati masa remaja di Banda Aceh pada masa Reformasi.

 

MICHELLIA

Kalau tadi kita refleksi balik ke belakang banget, sebelum kalian masuk ke PPM, sekarang mari kita berefleksi ke depan. Setelah beberapa tahun Tank Merah Muda terbit, apa pendapat kalian soal tulisan-tulisan di sana? Apakah ada perubahan drastis saat ini, atau kalian sudah merasa bahwa karakteristik kalian dalam buku ini akan kalian pertahankan di buku-buku mendatang?

 

RATIH

Karena kebetulan Tank Merah Muda adalah kumpulan cerpen, di proyek inilah aku mempelajari struktur cerpen dengan lebih rapi. Sebelumnya, aku enggak ada cukup kesempatan menulis fiksi. Dalam proses ini, aku mempelajari penulisan cerpen dengan lebih serius, termasuk juga pra-penulisannya. Untuk pra-penulisan, riset yang kulakukan enggak sekadar riset. Ada metodologi yang dipakai, perspektif yang seperti apa. Aku enggak bisa bawa hipotesis yang terlalu kuyakini, karena aku harus melihat bagaimana konstelasi yang sebetulnya terjadi di tempat aku meriset.

Jadi, aku lebih belajar soal kebutuhan pra-menulis dan teknik menulisnya. Ada banyak faktor yang kemudian aku pertimbangkan dan pelajari sewaktu terlibat di proyek ini. Ke depannya, memang kalau ingin menyajikan sebuah karya, itu enggak bisa satu dimensi saja. Manusia atau individu, kan, sangat kompleks. Kompleksitas itu sebaiknya jangan direduksi. Memang dalam karya sastra, kita tidak bisa menyajikan kompleksitas itu secara lengkap. Tapi setidaknya perspektif yang dipakai jangan sampai mereduksi kompleksitas karakter tersebut, atau situasi dan latar tempat/waktu. Aku banyak belajar hal ini untuk cerpen-cerpenku selanjutnya. Tempo hari, aku sempat menyesali karena menyederhanakan konflik di salah satu cerpenku pasca-Tank Merah Muda terbit. Tapi ya, tidak apalah, itu kan proses. Setidaknya aku sadar apa yang kurang dari karya-karya yang kubuat. Kemarin sempat ikut menulis untuk Berita Kehilangan, menulis buat satu-dua media online, dan ini juga sedang ikut proyek cerita pendek kerjasama dengan Universitas Wailalak di Thailand.

 

RAISA

Sama seperti Ratih, sebelumnya aku menulis dengan intuitif. Apa yang ada di pikiran, membayangkan sekilas tentang tokohnya. Tapi enggak pernah berpikir soal struktur, atau strategi naratif apa yang kira-kira cocok, termasuk perspektifnya dan segala macam. Di PPM, aku merasa lebih punya ruang eksperimen dibandingkan belajar menulis di tempat lain. Di tempat lain, sepertinya sudah selalu ada pakem tentang, “Ini yang namanya karya bagus” atau “Ini karya jelek”. Di PPM saat berproses di Tank Merah Muda, kami lebih memberi feedback ke satu sama lain. Kita ingin tahu tentang kenapa si penulis memutuskan si tokoh melakukan tindakan tertentu dalam ceritanya atau sebenarnya apa yang mau diceritakan. Yang dicek adalah gagasan apa yang mau dihadirkan dalam cerita.

Selama berproses dalam PPM, aku mengecek itu: gagasan apa yang pengin dihadirkan, lalu bagaimana cara menghadirkan gagasan itu. Aku jadi merasa lebih berani untuk menyampaikan gagasan, memikirkan semua elemen dalam tulisan. Menilai karyaku di Tank Merah Muda, aku enggak merasa sangat puas, tapi aku senang karena sudah melalui suatu proses yang aku enggak pernah bayangkan bisa dilakukan.

Penulis kadang serasa seperti nabi: suatu hari dia dapat wahyu dan dia menulis selama berminggu-minggu lalu jadi buku bestseller. Pas di Tank Merah Muda, jujur aku merasa cukup kesulitan, karena sudah lama enggak menulis, lalu menemukan cara baru untuk belajar. Aku punya cara-cara lama menulis, tapi aku harus melepas itu semua, dan memulai cara-cara baru dalam menulis. Walau dari sisi estetika, aku merasa belum menemukan cara untuk sampai ke titik yang aku inginkan. Aku pengin menulis novel kayak The Vegetarian, tapi bagaimana caranya? Rasanya itu masih belum ketemu, tapi enggak apa, namanya juga proses. Enggak akan bagus sekarang, mungkin bagusnya saat aku sudah mati.

Setelah Tank Merah Muda, aku menulis untuk bukuku sendiri, Bagaimana Cara Mengatakan Tidak?, menulis juga untuk Berita Kehilangan, juga serial Perkara Keramat untuk Kumparan+, dan aku masih belum menemukan estetika yang ingin aku olah atau hadirkan di tulisanku. Tapi yang aku bawa dari proses di PPM lebih ke cara kerja, cara menemukan gagasan, desktop research, memastikan apakah aku sudah yakin dengan gagasanku, lebih ke proses dan belum menemukan karakteristikku.

 

AMANATIA

PPM kupikir adalah sebuah eksperimentasi yang cukup berhasil. Dalam artian, selama ini saat aku menemukan antologi cerpen yang berisikan beberapa penulis, aku merasa kebanyakan masih belum punya benang merah yang sangat kuat. Tank Merah Muda ini berproses dari ide ke buku dalam waktu yang cukup lama, mengalami tahapan-tahapan eksperimentasi yang aku sendiri secara pribadi belum pernah terpikir akan menulis cerpen dengan seserius ini, atau seberat ini. Terdengar sedikit tendensius, karena membawa beban “merekam ingatan sejarah”. Apalagi seperti Ratih atau Raisa, selama ini menulis cerpen secara instingtif. Pada suatu momen, ingin menulis apa, lalu duduk, dan selesai. Ini mungkin bisa dikatakan cerpen termahal yang pernah aku bikin karena punya ongkos produksi yang luar biasa.

Aku terjun di lapangan, ke kota-kota seperti Banyuwangi dan Jember, seolah-olah aku mau menulis skripsi atau esai sejarah yang panjang. Nah, inilah hasilnya. Mungkin di satu sisi belum optimal, tapi dari sudut pandangku kalau ini dikatakan eksperimental, menurutku ini sudah cukup berhasil, terkait variasinya, benang merahnya. Kami sangat bersyukur ketemu editor Tank Merah Muda, Ninus Andarnuswari, yang wow; ada masukan dari Ninus untuk menulis ulang beberapa hal. Proses yang menantang banget.

Debut cerpen-cerpen di sini bagiku pribadi seperti suatu proses menyiapkan mentalku untuk menulis sesuatu yang panjang dan lebih jauh penelusurannya. Penelusuran tentang suatu ruang. Selama ini aku punya mimpi kecil bikin novel tentang Porong, tapi macet karena terlalu banyak ikatan emosional. Dengan proses eksperimen di PPM, aku melihat satu ruang itu jadi berbeda; ruang yang bisa dieksplorasi dan menjadi narasi fiksi yang kompleks dan matang. Okelah, aku dari Jawa Timur, Sidoarjo, tapi sebelumnya aku bahkan belum pernah sama sekali ke Lumajang, Jember, dan Banyuwangi. Terus mau enggak mau saat memilih tema Reformasi, aku ke sana dan itu membuka perspektif lain. Sifat keruangan itu dan saat kita melacaknya sampai jauh ke sejarah, dan melihat orang-orang biasa di dalamnya itu pernah mengalami apa, menurutku menarik. Itu sumber narasi yang kuat untuk diceritakan dalam bentuk fiksi.

 

INTAN

Jujur, aku sangat terbantu secara emosional dan intelektual.

Cukup kaget memang saat Tank Merah Muda rilis. Saat awal menulis, aku masih merasa kemampuan riset dan mengerjakan fiksi secara serius masih sangat kurang. Di PPM, aku belajar kalau mengerjakan fiksi memang ada cara kerjanya. Enggak yang tiba-tiba dapat inspirasi, terus menulis. Ada langkah-langkahnya yang harus ditempuh.

Aku terbantu memahami soal sejarah dan lokalitas. Ada perspektif yang berubah. Sebelum mengenal PPM, aku merasa tokohku sangat mengawang-awang, alias enggak punya identitas. Padahal, kan—ya ini diperdebatkan, sih—ada banyak lapisan yang membentuk seorang tokoh, salah satunya adalah di mana si tokoh itu tinggal.

Dalam dua kali lokakarya PPM, tema yang dibahas adalah soal sejarah dan lokalitas. Sangat membantuku untuk mendalami, “Ternyata, faktor di mana tokohku ini akan tinggal, di mana tokoh yang lain itu tinggal, sangat mempengaruhi cara dia berpikir, cara dia nanti mengambil keputusan di novel itu.” Dan akhirnya, itu yang membuat suatu bangunan cerita jadi logis. Itu yang aku dapat banget di PPM. Itu dari segi crafting.

 

ASTUTI

Kami cukup kaget saat mendapatkan respons publik yang luar biasa positif atas Tank Merah Muda. Sampai sekarang masih saja ada yang menanyakan bisa beli di mana buku fisiknya, padahal sudah dua tahun sejak terbit. Kami memang bersepakat untuk tidak mengomersialisasinya dan memilih memublikasinya dengan menggunakan teknologi yang tersedia saat ini, sehingga setiap orang bisa mengakses dan membaca e-book-nya secara mudah dan gratis. Saya pribadi baru saja menyelesaikan sebuah naskah novel yang sedikit banyak merupakan bagian dari hasil temuan dan riset yang kami lakukan untuk proyek Tank Merah Muda.

 

ARMADHANY

Kalau untuk saya, jujur saja, di antara teman-teman yang lain, saya sebelumnya enggak punya karya. Tapi saya akhirnya termotivasi untuk menciptakan karya. Lalu, akhirnya itu dibaca teman-teman PPM, saya jadi tahu, “Oh, untuk membangun karakter harus seperti ini, ya.” Memang, bahasa perempuan itu berbeda. Saya jadi mendapatkan pandangan, “Oh, ya, perempuan Sulawesi itu seperti ini.” Jadi, dari cerpen itu, saya bisa mendeskripsikan karakter perempuan di masa pasca-Reformasi. Saya jadi memikirkan tentang apa yang terjadi di tahun-tahun itu dan mencoba kilas balik, apa yang perlu disampaikan ke publik, juga mencari tahu cerita-cerita Reformasi bagaimana yang diketahui oleh orang-orang di luar sana. Saya mencoba merangkai karakteristik, cerita, dan alur melalui ingatan saya sendiri, cerita keluarga, lalu dari arsip yang saya temukan di perpustakaan-perpustakaan Makassar. Saya juga sempat mewawancarai salah satu saksi sejarah, penulis tentang tragedi Amara. Dia menceritakan posisi perempuan waktu itu, aktivis di Amara, dan akhirnya saya bisa belajar banyak membangun kisah itu. Menulis fiksi ternyata enggak gampang, ada berjuta-juta kali editan dan masukan dari Ninus. Saya mendapatkan masukan dari editor perempuan, dan saya sangat bersyukur. Kalau editornya laki-laki, mungkin perspektifnya akan berbeda.

 

Astuti N. Kilwouw

Suara Perempuan dalam Tank Merah Muda

Pertimbangan untuk menelusuri ingatan dan pengalaman perempuan menjadi pijakan penting untuk melihat sejarah Reformasi. Bagi kolektif Perkawanan Perempuan Menulis, narasi sejarah yang beredar secara institusional di Indonesia hampir selalu memaknai berbagai era dari perspektif dan keterlibatan laki-laki. Sedari periode “Kebangkitan Nasional”, kemerdekaan, revolusi fisik, kudeta 1965, dan seterusnya, sosok perempuan kerap hanya hadir sebagai pelengkap, di antaranya sebagai pendiri sekolah putri seperti R. A. Kartini, penyiar radio seperti Ktut Tantri, penjahit bendera merah putih seperti Fatmawati, putri yang menjadi tameng ayahnya seperti Ade Irma Suryani, atau pendamping kepala negara seperti Siti Hartinah. Di luar itu, perempuan seringkali hadir tanpa nama atau sebagai tumbal dalam berbagai narasi sejarah. Pada masa pendudukan Jepang, perempuan menjadi budak seks, kejahatan serupa kembali terulang pada perempuan anggota Gerwani dan berafiliasi dekat degan PKI, hingga para perempuan Tionghoa pada 1998.

Dalam bayangan para anggota Perkawanan Perempuan Menulis, keadaan hari ini adalah bentuk yang lebih ekstrem dibandingkan masa-masa sebelumnya: di satu sisi, kesadaran perempuan terhadap kesetaraan yang mengakar pada prinsip-prinsip feminisme semakin menguat. Sementara, di sisi lain, penolakan terhadap gagasan kesetaraan dan partisipasi perempuan dalam praktik ekstremisme serta konservatisme agama juga semakin meluas. Karena itulah, situasi ini menciptakan kebutuhan untuk mencatat Reformasi dari sudut pandang perempuan, baik yang berada di dalam, di luar, maupun di antara dua kutub itu.

 

MICHELLIA

Begitu, ya, jadi kalau editornya laki-laki, ada kemungkinan perspektifnya akan berbeda.

Misi utama kalian di proyek Tank Merah Muda ini memang cukup agung, besar, dan berat, ya; “merekam ingatan perempuan masa Reformasi dalam cerita pendek”. Penekanan pada “rekaman ingatan perempuan” mengindikasikan betapa pentingnya bagi publik untuk mengakses cerita-cerita yang luput dari pengetahuan kita bersama, mempelajari lagi peran, posisi, pengalaman perempuan dalam masa transisi yang berdarah-darah di masa Reformasi, lalu bagaimana mereka mengalami transisi ekonomi politik juga.

Saat kalian menggarap karya Tank Merah Muda ini, sebenarnya apa yang kalian rasa membedakan suara perempuan dari suara laki-laki? Mengapa menurut kalian suara perempuan itu penting dalam penceritaan sehingga kalian kedepankan?

RAISA

Kami bersepakat dalam narasi sejarah utamanya, enggak cuma 1998, tapi juga dalam narasi prakolonial dan pascakolonial, kita jarang banget menemukan suara atau cerita yang berasal dari ingatan perempuan. Enggak usah ingatan perempuan, ingatan orang biasa saja terbilang jarang. Kalau kita lihat narasi sejarah yang kita pelajari di sekolah, sumbernya adalah arsip negara atau militer. Jarang banget kita temukan catatan dari orang biasa, terutama perempuan.

Kami pengin tahu kalau suara perempuan ini kita dengar, ingatan perempuan ini kita lihat, istilahnya, kita proyeksikan ke layar, apa isi rekaman ingatan perempuan ini? Kami penasaran, apakah ini akan memberi ingatan yang berbeda tentang suatu periode? Seringkali, kita melihat soal periode itu hanya kisah revolusioner, heroik, sesuatu yang mengubah dunia.

Sementara, kalau kita lihat di karya sastra mengenai era 1998, memang ada yang fokusnya di ingatan atau pengalaman perempuan yang mengalami tindak kekerasan atau pemerkosaan dan segala macamnya, tapi juga enggak kalah banyak yang merayakan aktivisme mahasiswa—yang kami sepakat itu memang penting—tapi kami penasaran kalau orang yang bukan aktivis dan mengalami periode itu, bagaimana? Apalagi kalau misalnya dia berada di luar pusat kekuasaan, di luar Jakarta, enggak mengalami demonstrasi dan segala macamnya, apalagi kalau dia perempuan. Bagaimana pengalaman mereka? Apa yang mereka lihat atau alami/pikirkan?

 

RATIH

Kenapa kemudian pengalaman perempuan perlu dikasih semacam spotlight? Perempuan memang dibentuk oleh sistem untuk menjadi pasif. Walau dalam kasus tertentu ada perempuan yang cukup berani menentang, tapi secara sistemik perempuan diposisikan seperti itu. Mungkin ini juga yang menyebabkan ada banyak hal atau kejadian besar yang sepi dari keterlibatan perempuan.

Terkait juga perubahan rezim, perempuan yang ada di narasi besar banyak juga, tapi kemudian perempuan-perempuan yang di luar narasi besar itulah yang menurutku juga penting kita lihat sudut pandangnya. Laki-laki  memang diposisikan selalu harus bisa meraih tujuan. Tapi kalau perempuan, mereka bisa lebih menikmati proses, harus bernegosiasi, dan berdinamika. Hal itu membuat perempuan bisa lebih peka terhadap detail-detail yang luput dari pandangan laki-laki, karena mereka terlalu fokus mengurusi hal-hal yang besar dan agung, atas nama rakyat dan lain sebagainya. Ada hal-hal kecil yang mungkin dialami oleh perempuan-perempuan di pinggiran ini yang sebenarnya bertalian erat dengan apa yang disebut sebagai “narasi besar.”

 

MICHELLIA

Sebagian penulis feminis percaya akan adanya suatu “tulisan feminin” (écriture feminine), yakni suatu tulisan yang secara khas bersifat perempuan. Apakah kalian setuju tentang adanya sifat khas tulisan perempuan yang membedakannya dari tulisan laki-laki? Apakah menurut kalian tulisan perempuan hanya bisa dihasilkan oleh perempuan, atau juga dapat dihasilkan oleh laki-laki?

 

INTAN

Dulu ada kejadian yang lucu banget di sebuah forum sastra yang diadakan di Yogyakarta. Aku lupa tepatnya lagi bahas apa, tapi diskusi kemudian berlanjut dengan tanya-jawab bersama peserta. Ada satu peserta, laki-laki, dengan gagah berani dia kurang lebih bilang kalau, “Tulisan perempuan itu kan memang kebanyakan menye-menye, ya.” Dari penjelasan dia, yang aku tangkap adalah, dia mau bilang kalau tulisan jelek itu yang bikin adalah penulis perempuan. Dengan demikian, kalau tulisan laki-laki, maka akan selalu bagus. Marah banget waktu aku dengar soal itu. Dari peristiwa ini, aku malah jadi berkaca pada diri sendiri. Dulu, sebelum aku mengenal tentang isu perempuan dalam sastra, aku juga punya pikiran terselubung seperti peserta itu. Ada semacam pola pikir gatekeeping di dalam kepalaku sendiri yang akhirnya membatasiku untuk mengenal penulis-penulis perempuan yang luar biasa jago di luar sana. Di pikiranku pada masa jahiliyah itu, kalau pengin jago menulis, ya, artinya mesti baca buku-buku A, B, C, D yang tanpa kusadari semuanya ditulis oleh penulis laki-laki. Lama setelah peristiwa ini berlalu, aku kemudian berpikir, laki-laki sebetulnya bisa aja menulis tentang perempuan, sebagaimana perempuan juga bisa menulis tentang laki-laki. Tetapi, ekosistem kita sudah terlalu lama menyediakan posisi yang lebih mapan bagi penulis laki-laki, sehingga melahirkan ketimpangan bahkan sejak di dalam kepala para pembaca. Aku lebih percaya kalau laki-laki atau perempuan bisa menuliskan kedua-duanya. Yang jadi PR bersama adalah, bagaimana caranya tulisan yang dihasilkan itu tidak male-gaze, tidak seksis, tidak misoginis, tidak mengabaikan suara perempuan, tidak melanggengkan sistem yang menindas?

 

RATIH

Aku percaya ada banyak detail tentang kehidupan yang lebih bisa perempuan narasikan sendiri ketimbang laki-laki. Mungkin laki-laki bisa melakukannya dengan sama baiknya kalau dia benar-benar mau melepas segala doktrin patriarkat yang dilekatkan padanya sedari lahir. Dan itu pastinya butuh usaha luar biasa. Aku merasa perempuan lebih detail dan peka dengan hal-hal kecil yang sebetulnya sangat esensial. Karena dari lahir perempuan dikondisikan jadi makhluk yang memelihara serta harus selalu menyalakan survival mode-nya karena dunia berbahaya bagi mereka. Jadilah, perempuan itu lebih luwes, bisa negosiasi, dan pada akhirnya peka dengan hal-hal kecil tadi. Sementara laki-laki dikondisikan jadi penakluk, yang sulit sekali bernegosiasi terhadap banyak hal. Obsesi penakluk ini menurutku membuat mereka jadi tidak peka dengan detail-detail, termasuk ketika hendak menuliskan sesuatu. Banyak teman lelakiku yang mengakui bahwa ketika mereka membaca karya penulis perempuan, terasa sekali detail-detail yang enggak pernah mereka temukan dalam karya penulis laki-laki walaupun itu mengangkat isu perempuan sekalipun.

 

MICHELLIA

Jika perempuan memiliki karakter tulisan yang khas yang membedakannya dari laki-laki, apakah kalian memandang perlu suatu penghargaan sastra khusus bagi perempuan yang punya ukuran-ukuran perempuan dalam menilai mutu karya?

 

AMANATIA

Jika penghargaan sastra khusus bagi perempuan dapat memberi stimulus untuk kemunculan perempuan penulis yang semakin beragam di Indonesia, kenapa tidak?

 

RAISA

Menurutku yang membedakan karya laki-laki dan perempuan, ya, prosesnya. Dalam kehidupan patriarkis par excellence, laki-laki bisa menghabiskan 24 jam untuk memikirkan karya, diskusi sampai subuh, hidup seadanya, dan dimaklumi karena “demi sastra”. Tapi untuk perempuan, untuk sekadar melakoni aktivitas yang sama kadang butuh perjuangan lebih, harus hidup seorang diri, kalau tidak ya harus meminta izin serta pemakluman dari keluarga (orang tua, pasangan atau anak), kadang masih harus mengurus perkara domestik, belum lagi harus melawan stigma ini itu (karya perempuan perkara domestik melulu, sastrawangi, dan seterusnya). Prosesnya berbeda, pertaruhannya berbeda. Dan penghargaan sastra, mau di Indonesia atau luar negeri kayaknya juga enggak melihat prosesnya, jadi ya menurut aku yang lebih penting daripada penghargaan sastra khusus untuk perempuan adalah adanya ekosistem belajar dan berkarya yang inklusif dan aman. Dan lebih banyak dukungan, baik dalam bentuk pendanaan, penyediaan ruang dan waktu berkarya (residensi), atau daycare murah khusus penulis yang sudah berkeluarga.

 

Raisa Kamila

Kisah Pasca-Reformasi dari Luar Jakarta

Para anggota Perkawanan Perempuan Menulis mengakui, sebagai kanak-kanak—rata-rata dari mereka berusia paruh akhir 20-an saat menulis 18 cerpen di Tank Merah Muda—kata “Reformasi” pada 1998-an nyaris tidak bermakna apa-apa. Jelang usia remaja, pelan-pelan mereka mulai paham bagaimana Reformasi dan Orde Baru berpengaruh besar pada kehidupan masyarakat hari ini. Mereka mulai mengingat kembali berbagai hal yang terjadi di masa kecil mereka: teman-teman bersuku Jawa yang mendadak pindah ke luar kota, jumlah provinsi yang berubah-ubah, hingga foto presiden di ruang kelas yang berganti-ganti. Reformasi, tak ayal, telah membawa beragam perubahan pada kehidupan banyak orang di Indonesia. Saat menggali lebih dalam lagi, dari berbagai penelitian, film, novel, cerita pendek, lagu, hingga puisi yang ditulis mengenai hari-hari menjelang dan sesudah Reformasi, mereka menemukan cukup banyak kisah yang ditulis dengan latar “dari luar kota kelahiran saya”, sebutlah dari Jakarta, Solo, dan Yogyakarta.

Dari sanalah, pertanyaan itu hadir: “Mengapa catatan yang ada hanya sekitar tempat dan kejadian yang itu-itu saja? Apakah kejadian di tempat lain pada periode yang sama tidak cukup penting?” hingga “Kenapa sulit menemukan catatan mengenai kejadian di tempat lain pada periode yang sama? Bagaimana sebaiknya kejadian tersebut dicatat?” dan berbagai pertanyaan tersebut lantas mereka coba jawab melalui kumpulan cerita pendek yang merangkum ingatan para perempuan di tempat asal mereka: Aceh, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.

 

MICHELLIA

Selain periode Reformasi/Pasca-Reformasi, kalian berfokus tentang cerita-cerita di daerah, mengenai kisah di daerah masing-masing, di provinsi Aceh, Jawa Timur, NTT, dan Maluku Utara. Selain pendekatan mengedepankan suara perempuan, hal apa yang kalian temukan di daerah masing-masing perihal periode ini? Apa proses unik yang terjadi di tiap daerah dalam periode pasca-Reformasi ini?

AMANATIA

Aku sangat terbantu dari riset arsip yang kulakukan. Pintu masukku dari arsip, sebelum menemui beberapa narasumber. Setelah melakukan campuran berbagai riset itu, dari arsip, pustaka, ataupun terjun langsung di lapangan, aku melihat transisi politik Reformasi di Jawa Timur sebenarnya sangat berwarna.

Selama ini, di Tank Merah Muda kami semacam menjauhi pusat, menulis dari pinggiran, mengeksplorasi cerita-cerita dari perempuan biasa dan sebagainya. Dari temuanku saat itu, ada tiga hal yang menarik terkait sejarah pasca-Reformasi ini.

Pertama, di Jawa Timur, sejarah kekerasannya terbilang sangat dominan. Terutama di daerah Banyuwangi, Jember, dan sekitarnya, karena ada pembantaian dukun santet dan ulama di situ. Peristiwa itu benar-benar traumatis, mengingatkan lagi pada masa keguncangan politik tahun 1965. Situasinya gelap sekali, sampai saat aku riset ke sana pun belum ada rekonsiliasi yang benar-benar total terkait pembantaian dukun santet dan ulama. Di Banyuwangi pembantaian itu sudah dianggap sebagai sebuah masa lalu yang gelap, masyarakat enggak mau mengungkit itu lagi. Bahkan Komnas HAM pernah datang ke sana dan disuruh pulang. Karena, ya, itu, mereka ingin mem-branding Banyuwangi sebagai kota wisata, satelitnya Bali, sehingga luka masa lalu itu harus ditutup meski belum sembuh.

Lalu, ada sejarah penderitaan, terkait soal ekonomi. Krisis moneter benar-benar gila-gilaan. Sementara Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, itu kantong industri. Di sana banyak juga buruh pabrik perempuan dan mereka ikut terdampak. Bahkan sampai di level rumah tangga. Aku menemukan kliping koran, tingkat perceraian naik saat krisis moneter karena faktor ekonomi ini. Nasib perempuan, cara dia ingin mempertahankan rumah tangga, dan sebagainya, juga sangat diintervensi oleh situasi rezim yang sedang mencoba beradaptasi dengan setelan yang baru.

Lalu, ada juga sejarah perjuangan. Aku menemukan dua hal menarik. Di Kediri, tahun 1999 Muktamar NU setelah Reformasi, pertama kalinya, perempuan-perempuan NU berkonsolidasi untuk protes, karena mereka merasa tidak ditempatkan dalam suatu kepengurusan inti yang didominasi oleh kyai-kyai, yah, laki-laki, ulama. Aku pikir itu momen yang bersejarah banget, karena Jawa Timur bagaimanapun cikal-bakal NU. Peristiwa para ulama perempuan protes menurutku luar biasa meski saat itu belum berhasil mengubah struktur kepengurusan NU yang lebih sadar gender, Hal menarik lainnya, di sebuah desa di Sidoarjo untuk pertama kalinya pilkades dimenangkan oleh perempuan, kisruhnya sampai ada satu orang yang tewas.

Perspektifku soal Jawa Timur jadi semakin terbuka. Dalam sejarah pasca-Reformasi, terutama di masa transisi 1998-2004, perempuan menempati posisi yang krusial. Ada penyintas, korban, atau bahkan motor, salah satu motor yang juga mendorong makna Reformasi sendiri, termasuk partisipasi politik dan sebagainya.

 

MICHELLIA

Komprehensif banget. Aku jadi ingat cerpenmu yang cerita tentang Kades perempuan.

 

AMANATIA

Mempertemukan Ibuisme ala PKK, seperti tulisan Julia Suryakusuma, dengan perwakilan perempuan baru. Aku membayangkannya itu agak mirip seperti Khofifah zaman muda mungkin, ya. Tahun 1998 itu, dia sudah vokal banget di parlemen.

Setelah Reformasi, enggak sengaja ketemu kliping artikel pendek PKK (Perempuan Kurang Kerjaan?), kayak begitu judulnya. Secara ide, bahkan tentang ibuisme pun sudah mulai digugat pas 1998, di artikel-artikel yang mungkin sebenarnya enggak terlihat besar, enggak terlihat serius.

 

MICHELLIA

Kalau Ratih di NTT bagaimana?

 

RATIH

Sebenarnya cukup banyak, tapi mungkin satu yang muncul di Tank Merah Muda tentang bagaimana setelah Orde Baru runtuh, di awal-awal Reformasi ada banyak kekacauan, ternyata NTT banyak didatangi pengungsi.

Ada semacam anggapan bahwa NTT kayak jadi ruang aman buat pengungsi lain dari Ambon, atau dari Maluku secara umum. Terus, dari Timor Timur, karena dekat banget secara geografis. Bahkan beberapa orang Tionghoa dari Jakarta ada yang kabur ke Larantuka, salah satunya teman sekolah abangku. NTT kerap jadi tempat pengungsi ini melarikan diri. Mungkin mereka tidak punya budget yang cukup untuk kabur sampai ke luar negeri atau ke mana, ternyata NTT jadi kawasan untuk mencari tempat aman. Walaupun pastinya tidak sepenuhnya aman karena ada gesekan dengan warga lokal juga.

Selebihnya, terkait kebangkitan masyarakat adat. Memang agak jauh, maksudnya enggak persis di periode kajian buat Tank Merah Muda. Tapi, pas proses riset, aku menemukan bahwa memang setelah Reformasi, kebangkitan masyarakat adat dan agama lokal benar-benar terasa. Bukan bangkit dalam artian banyak pengikut, melainkan upaya memperjuangkan hak masyarakat adat atau penganut agama lokal  makin bergaung pasca reformasi.

 

INTAN

Sementara, kalau di Semarang, ketika teman-teman sudah mendapatkan topik yang mau diangkat, aku belum dapat. Karena enggak ada kerusuhan di wilayah Jawa Tengah. Jadi aku bilang ke teman-teman, “Bagaimana ini nulisnya, kan enggak ada kerusuhan…”

Tapi, dari hasil riset yang kulakukan, aku dapat satu temuan menarik. Meski kerusuhan di Solo enggak sampai ke Semarang dan Jawa Tengah sekitarnya, tapi ketegangan itu ternyata menjalar sampai Semarang, ke kota-kota kecil di Jawa Tengah lain. Orang-orang tetap merasa ngeri, apalagi yang akhirnya kutulis di cerpen Gedor-Gedor: seorang ibu dari etnis Tionghoa sampai takut banget, kemudian menitipkan anaknya, biar dia bisa kabur sementara waktu ke luar negeri. Padahal, kan, di Semarang enggak ada apa-apa. Tapi ketegangan terasa sampai kota ini. Ternyata masih terasa sampai aku wawancara, masih ada ketakutan yang sama, padahal sudah berlalu berapa puluh tahun lalu.

 

MICHELLIA

Cerpenmu dengan kuat mengangkat tentang etnis Tionghoa di Semarang dan Pasar Krempyeng, ya…

 

INTAN

Iya, Pasar Krempyeng. Dari temuanku, enggak ada kesimpulan bahwa Pasar Krempyeng memang diadakan untuk mencegah adanya stigma ke etnis Tionghoa. Itu kesimpulan yang aku tarik sendiri, karena memang pasar itu diadakan secara—bukan serentak, ya tapi—di berbagai tempat pasar semacam itu ada. Seminggu kemudian di daerah A, tiga hari kemudian di daerah B, waktunya berdekatan, sebelum akhirnya Reformasi di Mei 1998. Dan aku baca itu dari kliping-kliping koran, ada pengumuman yang bertuliskan kalau yang mengadakan pasar-pasar itu adalah pengusaha dari etnis Tionghoa. Kayak, menekankan identitas begitu. Dari situ aku merasa, “Oh, sepertinya ini bisa, sih, aku bikin, kalau memang ada upaya dari etnis Tionghoa supaya di Semarang tidak terjadi peristiwa seperti di kota-kota besar lain.” Bahwa karena ada kecurigaan dan segala macam itu, akhirnya mereka bikin pasar murah.

 

MICHELLIA

Itu karakteristiknya, ya. Enggak ada kerusuhan, tapi ada Pasar Krempyeng. Kalau Raisa, apa yang unik dari Aceh di periode Reformasi, yang membedakan dari peristiwa di Jakarta, misalnya?

 

RAISA

Yang aku pelajari dari riset kecil kemarin adalah dalam masa Reformasi itu organisasi masyarakat sipil menguat. Sebelumnya, pertentangan antara orang Aceh dan orang Jakarta diwakili cuma sama organisasi perlawanan (GAM) dengan pemerintah. Tapi setelah Reformasi, atau di masa-masa Reformasi, mulai ada organisasi sipil, gerakan mahasiswa, dan gerakan perempuan yang beberapanya justru mengkritik GAM maupun pemerintah Indonesia; yang dikritik adalah militerisme di kedua belah pihak. Menurutku, ini yang berbeda di Aceh dibandingkan kehidupan sebelum Reformasi.

Sebelum itu, seolah-olah orang-orang dipaksa untuk memilih, “Kamu pro-pemerintah Indonesia atau pro-GAM?” Setelah ada organisasi masyarakat sipil kayak begitu, kita bisa melihat kalau dua-duanya enggak memberikan solusi yang baik. Keduanya ingin berperang yang membuat masyarakat sipil jadi korban. Kalau mungkin dari sisi pemerintah Indonesia dengan operasi militer segala macam, mereka membuat orang-orang Aceh harus mengungsi, harus pakai KTP merah-putih, segala macamnya. Di sisi lain, orang-orang GAM juga menjadikan orang-orang yang identitasnya dianggap bukan Aceh, seperti orang Jawa, harus mengungsi keluar juga dari Aceh. Seingatku, ada 19.000 kepala keluarga (KK) yang harus mengungsi. Orang Jawa yang harus mengungsi. Banyak teman-temanku yang orang Jawa juga harus keluar dari Aceh. Padahal mereka lahir dan besar di Aceh. Cuma karena enggak bisa bahasa Aceh, jadi mengalami semua itu. Jadi, ada kritik dari masyarakat sipil tentang bagaimana GAM maupun pemerintah Indonesia ini menyelesaikan konflik. Itu yang pertama.

Yang kedua, menurutku mungkin ini kelihatan banget, sih, sekarang ini. Sehabis Reformasi, ada otonomi daerah. Terus bagaimana otonomi daerah itu digunakan sama orang-orang Aceh untuk kepentingan yang sangat berpusat pada cita-cita islami ala-ala laki-laki, membuat peraturan syariah yang kalau menurutku semakin hari semakin membuat perempuan hilang dari ruang publik. Dalam cerita-cerita di Tank Merah Muda, aku berusaha fokus pada setting ruang. Bagaimana perempuan ada dan enggak ada di kedua ruang: ruang publik dan ruang domestik itu. Terus bagaimana misalnya orang-orang yang bukan Islam harus ikut menertibkan diri mereka dalam peraturan kayak begitu supaya mereka enggak mengalami diskriminasi.

Kalau kita lihat, pas di awal Reformasi, peraturan syariah belum sesistematis sekarang. Kalau sekarang, mungkin sudah jelas, hukuman itu ditangkap, ditahan, dicambuk, segala macam. Kalau dulu, belum ada aturan yang seketat itu, tapi sudah mulai ada amuk massa. Maksudnya, kayak, orang-orang yang dipukuli, orang-orang yang ditangkap. Lagi berduaan, disiram pakai air got, yang semacam itu. Jadi aku melihat Reformasi dan Otonomi Daerah semacam itu jadi ruang untuk melihat bagaimana keseharian yang tadinya santai, misalnya perempuan mau ke kolam renang atau ke pantai berdua sama pacarnya masih dianggap wajar, menjadi kaku karena hal-hal semacam itu bisa dilihat sebagai tindakan yang kriminal di mata peraturan yang baru.

 

ASTUTI

Pada periode itu, kondisi di Maluku Utara dan Maluku secara luas memang terbilang ekstrem. Orang-orang saling bantai atas nama agama dan suku. Perempuan memiliki cerita khusus di dalam konflik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan keperempuanannya di tengah kultur yang patriarkis dan misoginis.

Cerita tentang Nursyakila, misalnya. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana kekerasan seksual terjadi dengan melibatkan oknum-oknum tentara sebagai pelaku yang bermotif pacaran. Sayangnya, publik Maluku Utara yang patriarkis justru menyalahkan para korban yang umumnya masih berusia belasan tahun. Ada kasus yang korbannya lantas jadi gila dan ada juga yang bunuh diri karena tidak tahan dengan stigma dan reviktimisasi yang mereka terima.

 

ARMADHANY

Di Makassar, soal ekonomi tidak begitu signifikan, karena memang Reformasi sudah lebih dulu digaungkan di kota ini sebelum 1998. Sedari 1996, sudah ada AMARA, Peristiwa April Makassar Berdarah. Dari situ sudah mulai ada gejolak di Makassar. Untuk cerpen saya di Tank Merah Muda, saya hanya menuliskan bagaimana seorang ibu bertahan hidup di masa krisis dengan cara waktu itu saya ingat pas Lebaran, ada pengalaman tentang bagaimana supaya hidangan Lebaran tetap ada, walaupun mengalami masa-masa krisis. Karakteristiknya ya begitu: perempuan di Sulawesi dituntut di dapur dan memikirkan bagaimana caranya agar makanan di dapur harus ada, semuanya harus tersedia.

Proses transisi ekonomi di Makassar enggak signifikan juga. Hanya beberapa yang saya temukan arsipnya, misalnya tentang ibu rumah tangga yang menanggalkan karier demi keluarga. Jadi, enggak ada yang terlalu besar di Makassar tahun 1998 itu. Malah yang besar di tahun 1996.

 

MICHELLIA

Tadi poinmu tentang arsip berita tentang ibu-ibu yang menghadapi krismon. Kelihatannya memang seperti peristiwa kecil begitu, ya. Tapi kalau kita gali tiap keluarga mengalami hal yang sama, efeknya lumayan juga, ya. Maksudku, mempengaruhi si anak bisa kuliah atau enggak, atau siapa yang jadi pengangguran, atau siapa yang bunuh diri. Jadi, sebenarnya, kan, ada banyak cerita yang bergulir dari Krismon itu saja.

Menurut kalian, perubahan signifikan apa yang terjadi selama 23 tahun ini? Dan menurut kalian, agenda-agenda apa yang belum selesai meski ekonomi Indonesia tumbuh pesat selama 23 tahun terakhir?

 

RAISA

Berat banget, sih, pertanyaannya, berasa mau jadi presiden, deh. Hahahaha. Yang menurutku signifikan: pemerintah bikin Komnas Perempuan, Komnas HAM, dan ada pemilihan umum langsung. Rasa-rasanya orang lebih bebas untuk berpendapat, berdiskusi, dan menyampaikan kritik, biarpun ternyata ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kalau agenda yang belum selesai, duh banyak banget. Kalau di Aceh, berkat UU Pemerintah Aceh, ada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, yang biar pun belum sempurna, tapi setidaknya bisa mengupayakan keadilan untuk korban konflik di Aceh. Sebenarnya pernah ada UU KKR Nasional, yang bisa jadi harapan untuk rekonsiliasi korban pembunuhan massal 1965, tragedi Mei 1998, tragedi Tanjung Priok, dan lainnya. Tapi kemudian dibatalkan dan beginilah kita, mau bicara kejahatan negara di masa lalu harus bisik-bisik melulu.

 

INTAN

Sebetulnya aku ragu bisa menjawab pertanyaan ini karena aku sendiri tidak memperhatikan secara khusus perkembangan politik dari tahun 1998 sampai sekarang. Yang jelas, sampai detik ini negara masih sering bikin ulah, masih merepotkan warganya, masih menyebalkan.

Banyak banget agendanya, dari RUU PKS dulu deh yuk kapan yuk bisa disahkan.

 

ARMADHANY

Perubahan signifikan tidak begitu banyak, karena saya merasa kebebasan berpendapat itu masih sangat mengkhawatirkan. Jadi saya rasa, tidak banyak yang berubah, komunitas-komunitas perempuan pun tidak begitu dipandang oleh negara ini.

 

RATIH

Hmm, kalau perubahan besar aku enggak bisa jawab dengan yakin karena hanya hidup enam tahun di masa reformasi, ya. Tapi kalau dari yang kupelajari, pastinya kebebasan berpendapat jadi lebih terbuka di beberapa waktu walaupun tetap ada kelompok-kelompok tertentu yang bisa merepresi suara pihak lain. Belakangan negara malah pelan-pelan jadi balik represif kayak dulu secara sistematis.

Sementara, agenda yang belum selesai kayaknya banyak banget. Tapi sebagai orang yang akhirnya bergelut di bidang kebudayaan, menurutku laju produksi pengetahuan dan kebudayaan di bidang literasi atau disiplin ilmu sosio-humaniora lain kayaknya belum terlalu menggembirakan. Akses buku belum merata seluruh negeri walaupun sekarang masyarakat sudah banyak yang bisa mengusahakannya sendiri lewat komunitas-komunitas. Begitu juga produksi kebudayaan lain semisal film, musik, dan lainnya.

 

ASTUTI

Pembungkaman. Tidak akan ada banyak perubahan ke depan selama arah sistem demokrasi kita masih konsisten memberikan ruang yang besar terhadap kekuasaan yang oligark dan berwatak maskulin.

 

MICHELLIA

Pada tahun-tahun itu mestinya kalian masih remaja, masih imut-imut banget. Suara atau ingatan apa yang kalian punya sebagai remaja saat itu?

 

RAISA

Tahun 1997-1999 itu aku masih imut banget sih, baru umur 6 tahun. Tapi ingatanku soal periode itu di Aceh lumayan kuat. Soal Reformasi, aku cuma ingat nonton televisi bareng kakak dan ibuku waktu Soeharto mengumumkan akan mundur. Sekali waktu pernah mau ikut ibuku ke pasar, tapi enggak dibolehin karena aku pakai celana pendek, katanya nanti bisa digunduli orang karena enggak menutup aurat. Selain itu, ingatanku yang paling kuat juga soal aspirasi Referendum di Aceh. Beberapa teman di sekolah mulai ajak ngobrol pakai bahasa Aceh karena mendengar desas-desus “sebentar lagi kita juga bakal merdeka”. Ada hari-hari libur karena aksi massa besar-besaran, banyak helm pecah di jalan, banyak tentara di mana-mana, jam malam mulai santer, banyak teman-teman yang mendadak pindah ke luar kota.

 

AMANATIA

Saat reformasi aku masih kelas 2 SD. Memori paling kuat mengenai masa peralihan rezim ini tentu saja krisis moneter. Harga penghapus karet tiba-tiba naik dua kali lipat. Bagi anak SD, itu perubahan yang mencengangkan dan penting. Selebihnya, saat kampanye pemilu pertama sejak reformasi, PDI heboh sekali. Pawai di jalan raya, saya dan kawan-kawan menyaksikan dari pos pantau yang terbuat seperti gardu tinggi. Lalu mereka menggelar orkes dangdut dan atraksi Reog Ponorogo di lapangan desa. Saya menikmati momen itu dulu seperti layaknya hadir di sebuah festival.

 

ARMADHANY

Ingatan yang paling membekas saat itu, saya menangis kerena tahu kalau Soeharto sudah digantikan. Sebelumnya saya tidak tahu seperti apa pemerintahan saat itu, tapi bapak saya bilang kalau Soeharto yang menyejahterakan para PNS di tempat kami. Pada kenyataannya, tidak juga. Yang paling membekas ketika salah seorang teman laki-lakiku, seorang anak perwira, menusukkan pensil yang telah diraut tajam ke leher temanku, seorang anak PNS. Dan yang diskors adalah si anak PNS—justru bukan anak perwira itu, padahal jelas-jelas saya melihat kalau si W itu—si anak perwira—yang dengan sengaja mengganggu temanku si I—si anak PNS. Dari situ saya baru sadar kalau ternyata Soeharto itu tidak baik, karena mempengaruhi keputusan-keputusan yang ada di sekolah. Saya ingat waktu itu ancaman dari bapak si W itu kalau ia bisa menahan bapak si I.

INTAN

Tahun 1998 itu, usiaku masih 3 tahun. Ingatanku, itu pun sudah di tahun 2000-an ya, tentang politik pasca-Reformasi adalah Gus Dur bikin liburan semester jadi 1 bulan penuh. Ada masa ketika beliau sudah tidak menjabat lagi dan liburannya balik ke 2 minggu lagi, aku bertanya-tanya, kok liburnya enggak 1 bulan, ya? Ini momen yang sangat berimbas ke diriku secara personal, karena liburan semester adalah saat aku bisa menghabiskan waktu bersama ayah setelah terpisah selama berbulan-bulan (kami tidak tinggal satu rumah). Jadi bisa dibilang, keputusan Gus Dur berdampak bahkan sampai ke relasi anak dan ayah waktu itu.

 

RATIH

Tahun 1998, khususnya pada bulan Mei ketika suasana makin panas, aku hanya ingat satu hal. Waktu itu aku masih TK, menjelang lulus. Aku tidak ingat tanggal persisnya, tapi di suatu hari saat hendak pulang sekolah, kami tidak bisa menyetop angkot di halte biasa karena kawasan itu dipakai mahasiswa berdemonstrasi. TK-ku berdekatan dengan kampus Universitas Katolik Widya Mandira yang terletak di kawasan Merdeka, Kota Kupang. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu persis apakah demonstrasi itu hanya diikuti mahasiswa Unwira atau ada juga mahasiswa perguruan tinggi lain di Kupang. Yang jelas saat itulah untuk pertama kalinya aku tahu kata “demonstrasi”. Sesuatu yang disebut “demonstrasi” ini juga kulihat di TV bahkan dalam skala yang tampak lebih seram. Oh ya, pada momen-momen itu pula aku baru tahu ada yang namanya “Polisi Militer”, karena mereka tampak berjaga-jaga di beberapa titik di Kota Kupang yang dilewati oleh angkot yang membawaku ke sekolah. Meski begitu, aku tidak banyak tahu seperti apa gesekan antara gerakan mahasiswa di Kupang dengan militer.

Margareth Ratih Fernandez

Fokus Kolektif di Tema Sejarah dan Lokalitas

Momen keruntuhan Orde Baru membuka babak baru demokrasi di negeri ini. Periode ini pun menjadi ilham bagi para penulis untuk menghasilkan berbagai karya sastra, di antaranya Saman oleh Ayu Utami, Pulang dan Laut Bercerita oleh Leila S. Chudori, Sekuntum Nozomi oleh Marga T., hingga trilogi Soekram oleh Sapardi Djoko Damono. Tank Merah Muda merespons sejarah yang sama dari perspektif yang berbeda, lebih menekankan sejarah dan lokalitas. Kedua tema ini terus berlanjut dalam kegiatan PPM di kemudian hari.

 

MICHELLIA

Dimulai dari Tank Merah Muda, lalu kalian membuat PPM gelombang kedua, dengan lokakarya yang lantas diikuti oleh 25 peserta, fokus penulisan kalian pun masih seputar tema sejarah dan lokalitas dari perspektif perempuan.

Kenapa kalian fokus banget di sejarah dan lokalitas dalam kekaryaan? Sejak awal, kalian memilih tema itu dan masih melanjutkan itu.

 

ASTUTI

Mungkin karena kami punya pengalaman personal yang lebih lekat dengan sejarah dan lokalitas masing-masing. Selain itu, menurutku, “biasanya” sebuah karya akan lebih memiliki “ruh” ketika berangkat dari pengalaman personal si “pencipta” sendiri.

 

ARMADHANY

Di cerpen antologi lain mungkin banyak yang menggambarkan feminisme atau perlawanan perempuan. Tapi ketika kisah para perempuan ini dihadapkan ke wilayah lokalnya, menurutku ini memberi nuansa baru. Dengan menggabungkan unsur perempuan dan lokal, cerita yang bisa disampaikan tidak akan habis-habisnya, akan ada banyak cerita yang bisa disampaikan.

 

RATIH

Mungkin aku merasakan juga ini problem yang cukup umum, terkait dengan bagaimana generasi kita dan generasi ke depan mengalami diskontinuitas untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi di generasi ayah-ibu atau kakek-nenek kita. Misalnya, sebelum ke lokakarya, waktu kita balik ke daerah masing-masing baru terasa, “Kok kita baru tahu, ya, kalau ternyata ada hal ini dan hal itu?” Itulah kenapa aku pikir kita perlu menggali sisi historis dan lokalitas dari akar hidup kita sendiri, untuk mengetahui sebenarnya kenapa di zaman ini kita mengalami keadaan seperti ini. Kayak kita baca Bumi Manusia; itu kan Minke dibuat terbingung-bingung dengan identitasnya, dan itu tahun 1800-an akhir. Ternyata lebih dari satu abad kemudian, kita masih mengalami hal yang sama.

Itulah kenapa aku pikir poin historis dan lokalitas penting untuk terus digali, karena berkaitan dengan faktor epistemik. Dunia, kan, semakin mengglobal, semakin kosmopolit. Oke, kita jadi warga dunia, tapi sebenarnya sampai ke tahap itu, kita sebenarnya dari mana? Ini mungkin debatable, ya, mungkin ada juga orang yang merasa enggak perlu juga untuk menggali asal-usulnya. “Aku, ya, citizen of the world,” kalau begitu, ya sudah. Tapi mungkin untuk konteks Indonesia sendiri yang memang sangat heterogen, kupikir sangat penting untuk menggali lokalitas, biar enggak ada lagi yang namanya stereotype, simplifikasi, generalisasi, dan sebagainya. Karena memang harus ditekankan ke siapa pun, mungkin ke generasi setelah kita, “Ya, begini, negara kita memang sangat beragam. Jadi, kalau ada seseorang yang beda sama kamu, jangan dianggap sebagai hal yang buruk.”

 

AMANATIA

Kayaknya, nih, kenapa pada mulanya dan sampai sekarang masih berkutat soal sejarah dan sisi lokal, yang tertuang di Tank Merah Muda atau tema lokakarya kita di gelombang kedua PPM, kukira karena posisinya memang… perempuan jarang dituliskan dalam sejarah secara beragam.

Misalnya, kenapa, sih, kok kita mau ambil tema pasca-Reformasi 1998? Impresi dan ingatan kita terkait sastra tema itu—yang menautkan sastra dan perempuan—kan sastra wangi. Itu pun juga kiasan yang kami enggak mau terjebak di situ.

Terus ada cerita-cerita tentang kota-kota besar, aktivisme, kerusuhan, pemerkosaan perempuan etnis Tionghoa. Kami tetap menganggap itu penting, tapi itu jadi satu tone, sehingga akhirnya impresi yang tertinggal terkait satu momen sejarah itu jadi satu kayak gitu. Kami berusaha untuk mengisi celah ruang kosong, bahwa kami punya keyakinan di daerah-daerah lain di Indonesia bisa jadi punya ceritanya sendiri. Perempuan di sana juga punya ceritanya sendiri. Itulah kenapa kami tetap bertahan di tema lokal ini. Ada keinginan untuk menghadirkan semakin banyak perempuan, terlepas dia tokoh fiksi atau perempuan biasa atau dia perempuan penulis pemula. Kami ingin menghadirkan keberagaman, kemajemukan itu.

 

MICHELLIA

Semoga ini tidak memberatkan, bisa bagikan beberapa tulisan yang menurut kalian menarik terkait tema sejarah dan lokalitas dari wilayah kalian masing-masing?

 

AMANATIA

Ini pertanyaan sulit buatku, karena biasanya aku memilih membaca buku bukan berdasarkan latar tempat atau lokasinya. Mungkin aku bisa menyebut novel-novel Mahfud Ikhwan sebagai favorit saat membayangkan masyarakat rural di Jawa Timur berserta konflik dan intriknya. Ada Ulid Tak Ingin ke Malaysia, bildungsroman yang dapat menggambarkan perubahan desa akibat bergesernya mata pencaharian serta teknologi. Ada pula Kambing dan Hujan, roman percintaan yang dibaluri ketegangan dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah (bagaimanapun Jawa Timur yang sarat pesantren tidak bisa dilepaskan dari identitas keormasan ini), serta Dawuk; Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, novel tipis yang lagi-lagi menyajikan lanskap hutan desa di Pantura Jawa, konflik antar kelas… dan cara Mahfud Ikhwan melekatkan nuansa lokal dalam novel-novelnya tampak seperti seorang pencerita ala warung kopi yang sarat dengan satire.

 

RAISA

Beberapa judul, terkait sejarah Aceh dan lokalitas, ya? Beberapa karya perempuan soal itu, fiksi dan non-fiksi antara lain:

Petemun. karya Arami Kaseh (Pen.er.bit, 2020), Pulang Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar (Lapena, 2012), Dari Jawa Menuju Aceh karya Linda Christanty, Sovereign Women in a Muslim Kingdom: The Sultanahs of Aceh, 1641-1699 karya Sher Banu Khan (Cornell University Press, 2017), dan Gender, Islam, Nationalism, and the State in Aceh: the Paradox of Power, Co-Optation, and Resistance karya Jaqcualine Aquino Siapn (Routledge: 2006).

 

RATIH

Perjalanan Mencari Ayam, kumcer Armin Bell terbitan Dusun Flobamora, terbit tahun 2018. Cerpen-cerpen dalam buku ini membuat saya berbahagia karena pengalaman dan kabar yang akrab dengan masa kecil dan remaja saya akhirnya ada yang menuliskan dengan cara yang mengesankan. Armin banyak mengangkat topik khas NTT seperti budaya mahar yang “menyiksa”, KDRT, hingga keagamaan yang memang sangat kental di sana.

Rabies, novel karya Maria Mathildis Banda terbitan Asosiasi Tradisi Lisan bekerja sama dengan Care International, terbit tahun 2002. Novel ini bercerita tentang wabah rabies yang menyerang sedaratan Flores pada awal dekade 2000-an. Konfliknya berpusat pada kebijakan pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan, yang menginstruksikan untuk membunuh anjing-anjing agar penularannya tidak semakin parah. Namun, kebijakan ini mendapat resistensi dari sebuah desa di Kabupaten Ngada yang memiliki relasi sangat dekat dengan anjing karena sangat membantu aktivitas berburu mereka.

Perempuan (Tidak) Biasa di Sumba era 1965-1998 karya Martha Hebi. Buku ini berisi tentang rekam jejak 15 perempuan dengan beragam latar belakang yang berkarya untuk kepentingan masyarakat lokal di Sumba. Buku ini sangat menarik karena memperlihatkan usaha para perempuan ini bersiasat dengan keadaan sekitar mereka yang sangat bias gender, bias kelas, dan represif. Baik yang disebabkan oleh kebijakan negara, lembaga agama, maupun adat yang banyak merugikan kaum rentan seperti perempuan dan anak-anak.

The Making of Middle Indonesia: Kelas Menengah di Kota Kupang, 1930-an-1980-an karya Gerry van Klinken. Buku ini meneliti kebangkitan sebuah kelas menengah di Kupang, kota provinsi yang letaknya jauh dari ibu kota. Mulai dari masa akhir kolonial hingga masa awal era Orde Baru. Ada banyak narasi yang saya dengar sejak kecil, sau per satu terangkai untuk menjelaskan konteks lebih luas terkait modalitas kekuasaan dari kalangan non-elite di kota menengah seperti Kupang. Meski fokus ke Kupang, Gerry juga memaparkan konteks di kawasan lain di NTT yang berpengaruh pada fokus penelitiannya.

Nadus dan Tujuh Belas Pasung karya Marto Rian Lesit, dkk. Buku ini merupakan antologi cerpen bertemakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang diambil dari hasil kompetensi menulis tentang tema tersebut yang digagas oleh Klinik Jiwa Renceng Mose, Ruteng dan Yayasan Klub Buku Petra. Bukunya sendiri diterbitkan oleh Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Meskipun problem-problem gangguan kejiwaan yang diangkat dalam antologi ini belum terlalu luas (mental illness yang diangkat masih itu-itu saja), tapi menyajikan latar realitas yang sangat sistemik dan kompleks yang dapat memengaruhi kondisi psikis masyarakat NTT. Realitas seputar kesejahteraan, kesetaraan, hingga perdagangan manusia.

Amanatia Junda

 

Bagaimana Cara Mereplikasi Semangat Kolektif?

Pada September 2020, publik sastra ribut lantaran daftar Nomine Penghargaan Sastra 2020 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) diisi hanya oleh nama penulis laki-laki. Penulis Feby Indirani mempertanyakan perihal ini, begitu pula Anindita S. Thayf yang mengemukakan pengalamannya sebagai penulis. Selain dituntut menunjukkan kemampuan lebih daripada penulis laki-laki, para penulis perempuan pun tidak mendapat dukungan dari lembaga negara. Kasus ini menunjukkan ketimpangan yang jelas nyata.

“Perempuan susah dapat waktu untuk menulis karya yang matang. Dalam prosesnya, mereka sering tersingkir dari sistem yang ada. Perempuan punya proses berbeda. Dan proses yang berbeda ini, saya melihatnya seperti gerakan, ada perempuan yang dengan sadar menjadi penulis, menyiasati ekosistem, jadi harus tetap ada pernyataan,” ujar Raisa dalam sebuah wawancara. Kolektif ini, menurutnya, adalah sebuah pernyataan sikap atas ruang-ruang sastra yang masih teramat maskulin. Dengan aspirasi dan visi kelompok yang agaknya penting digalakkan di banyak tempat, bagaimana caranya mereplikasi semangat kolektif ini?

 

MICHELLIA

Sebagai sebuah kolektif, PPM ini menarik banget untuk direplikasi, demi menghadirkan kemajemukan dengan lebih intens lagi. Kalian sudah bikin gelombang kedua yang disambut dengan begitu banyak pendaftar. Ada 341 pendaftar, dan kalian mesti menyeleksi menjadi 25 peserta. Selain apa yang perlu dipelajari, apa yang kalian persiapkan untuk bikin kelas lokakarya yang mendatangkan 25 penulis ini?

 

INTAN

Kami sebenarnya tidak menyangka perkembangan kami sebagai kolektif bisa sampai sejauh ini. Tadinya, ya, bikin cerpen aja, kelar. Tapi ternyata ada kebutuhan lain, dan keinginan untuk melakukan hal lain. Untuk masih terus lanjut sama PPM. Karena kami juga tidak meniatkan dari awal, akhirnya kami juga ikut bertumbuh sebagai kolektif, dan banyak banget yang perlu kami benahi dan tata ulang.

Dari lokakarya kemarin, bisa dibilang acara pertama kami yang melibatkan orang lain, maksudnya orang di luar kami berenam. Yang paling jadi PR kami adalah soal manajemen waktu, , apalagi kami berenam yang punya kesibukan masing-masing dan tinggal di tempat berbeda. Berkaca dari lokakarya sebelumnya, kami masih abu-abu, belum ada pijakan pasti kita mau ke mana.

 

AMANATIA

Mungkin ini juga jadi pertanyaan bersama. Kami masih bergerak based on project. Saat ada kesempatan dan kami dipercaya memegang suatu dana produksi kegiatan, kupikir sebagai kolektif yang sangat pemula, ini cukup berhasil untuk menjadi varian baru di dalam ekosistem kebudayaan dan sastra di Indonesia.

Tapi, aku jadi merasa penasaran juga. Maksudku, sejumlah kolektif belakangan ini tumbuh dengan sangat masif. Katakan seperti komunitas Ruang Perempuan dan Tulisan, atau festival yang tidak hanya mengacu ke kota besar, seperti festival sastra di Sangihe. Apakah momen ini bisa dibaca sebagai desentralisasi infrastruktur saat orang-orang di daerah sudah mendirikan beragam komunitas kebudayaan?

Jadi, menurutku ada dua hal yang mendorong upaya replikasi semangat kolektif ini.

Pertama, ruang virtual menguat. Contohnya, PPM yang borderless, tadinya belum pernah ketemu, lalu bisa bikin kegiatan bareng. Terus, ditambah ada pandemi kemarin, mau enggak mau lokakarya kami juga mesti berjalan online semuanya, dan ternyata itu bisa berjalan dengan cukup efektif. Kedua, memang ada penguatan virtual, tapi apakah akses ini akan cukup jika tidak ada arus deras dana ke daerah-daerah dan komunitas? Jangan-jangan festival, workshop, yang banyak bermunculan belakangan ini hanya ada karena didorong keterbukaan negara dan lembaga donor, yang akhirnya percaya dan mau memberi kepercayaan yang sangat besar ke banyak kolektif pemula seperti kami? Jadi, yah, kita tidak bisa melepaskan isu ini dari dana, karena arus dana yang masuk ke daerah semakin sporadis.

RAISA

Aku sepakat dengan Natia soal dana. Ini juga bisa bikin kita mikir: kalau dulu sebelum ada desentralisasi ini, memang untuk bisa berkarya atau produktif diperlukan kemudahan akses terhadap dana. Di Indonesia, jangankan hidup dari menulis, berproses untuk menulis pun susah banget; kita masih bergantung pada pihak-pihak donor. Ini semakin menjelaskan kenapa dulu timpang banget penulis dari luar Jakarta. Biar pun ada banyak komunitas di Aceh atau Sumatera Barat, tapi kan lagi-lagi penerbitnya itu di Jawa. Kita bicara soal alat produksi dan segala macamnya. Jadi ya, menurutku di satu sisi bagus ada banyak aliran dana baru sekarang ini untuk menyiasati infrastruktur sastra yang timpangnya bertahun-tahun. Tapi di sisi lain agak berbahaya: kalau ini semua hilang, mau ngapain kita? Apakah kita bisa mandiri? Itu juga yang menjadi pertanyaan dan ketakutan kami.

 

MICHELLIA

Di tahun 2000-an dulu, penerbit memang menjamur karena ada dana. Tapi lantas penerbit-penerbit itu tiarap setelah dananya dipotong. Artinya, enggak ada strategi dari pihak-pihak itu untuk menyimpan dananya atau memutarnya lagi. Itu kayaknya yang kalau kita menjadikan itu pelajaran; semestinya kita ambil dana itu, dan lalu memutarnya lagi, entah bagaimana caranya.

 

RAISA

Oh ya, aku mau menambahkan sedikit. Tadi belum sempat menjelaskan soal bagaimana mempersiapkan workshop. Dulu kami saat menggarap Tank Merah Muda, kami menggodok kepada siapa kami ingin belajar menulis. Karena kita berangkat dari pengalaman berbeda, juga pengalaman akademik berbeda. Kami ingin punya titik pijak yang sama, jadi kami memikirkan siapa yang bisa mengisi kelas creative writing, atau kelas metodologi riset, dan kelas sejarah. Itu kami pikirkan bareng.

Di workshop kedua, yang bareng dengan 25 penulis pemula ini, enggak mungkin mengajak mereka semua untuk diskusi. Jadi, kami merasa itu tanggung jawab kami untuk menentukan.

Pas bikin Tank Merah Muda, karena keterbatasan waktu, kami memilih satu orang untuk mengisi kelas penulisan kreatif, kami minta AS Laksana. Tapi di lokakarya ini, karena lebih fleksibel dan enggak perlu ketemu fisik, jadi yang mengisi ada Okky Madasari, Erni Aladjai, Norman Erikson Pasaribu, Sabda Armandio, dan Mahfud Ikhwan. Kami juga tambahkan kelas sejarah sastra: perempuan itu dalam sastra kayak bagaimana, ada enggak penulis perempuan dan bagaimana itu digambarkan. Kami bersyukur banget bisa dapat waktunya Grace Leksana, Tita Salina, Manneke Budiman dan Intan Paramaditha. Manneke memberi fondasi yang bagus banget, peserta di awal jadi semakin paham posisi mereka sebagai perempuan yang menulis. Intan juga mengajak kami untuk membongkar cara kerja ekosistem dan pemahaman tentang karya-karya sastra yang maskulin dengan konsep “Perkakas Nyai”, yang diadopsi dari tulisan Audre Lorde, “The master’s tools will never dismantle the master’s house”. Saat kami memilih siapa yang mengisi kelas penulisan kreatif, kami juga memikirkan latar belakang pengisi materinya. Misalnya, seperti Okky Madasari yang banyak menulis gugatan perempuan terhadap tradisi dan agama, Erni Aladjai yang fokusnya banyak tentang pengalaman perempuan dengan persona lokal, Norman Erikson Pasaribu dan soal-soal heteronormativitas, Sabda Armandio dan ruang eksperimen dalam sastra. Kami berusaha membuat kelas jadi beragam. Tiap orang kan punya concern berbeda, kami berusaha menghadirkan keberagaman itu. Kami menyiapkan itu dengan senang dan kami berenam ikut semua kelas itu, karena jadi proses belajar kami juga.

 

MICHELLIA

Aku berterima kasih banyak untuk waktu teman-teman Perkawanan Perempuan Menulis. Semoga teman-teman yang membaca percakapan ini bisa mereplikasi semangat baik kolektif semacam ini ke depan.

Percakapan24 Desember 2021

tengara.id


tengara.id adalah upaya strategis untuk meningkatkan kualitas karya sastra Indonesia melalui pembacaan, pembedahan, dan penilaian yang dilakukan dengan landasan argumen dan teori yang bermutu.

Berlangganan

tengara.id adalah situs kritik sastra yang dikelola oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Tengara adalah upaya lanjutan dalam mengisi kelangkaan pertumbuhan kritik sastra dalam kehidupan kesusastraan Indonesia.