Sundari Menjelajahi Panggung
Solo, Humor, dan Media Sosial

Ilustrasi: Citra Sasmita

Solo adalah salah satu ruang penghadiran humor dalam gerak sejarah. Sejak dulu Solo menjadi ruang kelahiran, bertumbuh, dan beredarnya humor. Sidik Jatmika (2014, 6) sampai-sampai menulis, “janin para pelucu Solo Raya dari sononya sudah lucu-lucu.”

Nama Srimulat tentu yang paling menentukan sejarah humor di Solo. Srimulat adalah grup lawak yang didirikan Teguh Slamet Rahardjo pada 1950 di Solo. Srimulat konon adalah satu-satunya grup lawak di Indonesia yang memiliki jumlah anggota sangat banyak. Kita mengenali nama-nama kondang anggota Srimulat seperti Asmuni, Gepeng, Timbul, Basuki, Gogon, Mamiek, Nunung, dan masih banyak lagi. Kehadiran Srimulat menandai peralihan teater rakyat menuju teater populer.

Ciri-ciri teater populer sudah kentara dalam Srimulat. Tetapi, mereka belum sepenuhnya meninggalkan sifat-sifat teater rakyat. James Danandjaja menjelaskan: Srimulat tergolong teater pop sejak berdirinya, karena ia merupakan teater tradisional yang sudah dipanggungkan dengan manajemen modern.

Sifat teater popnya terlihat pada pemilihan judul-judul lakonnya yang kontemporer, seperti “Roh Cleopatra”, “Mogok Sex”, “Relax in Love”, “Drakula Delapan Penjuru Angin”, “Janda of Navarone”, dan “Drakula Sakit Gigi”.

Walaupun ada yang bersifat horor dan tragedi, lakonnya selalu dicairkan dengan lawakan yang bersifat slap stick, yakni lawakan yang disertai dengan gerak isyarat dan bahasa tubuh (body language) kocak maupun “kasar”, seperti pukul-pukulan, keplak-keplakan (jitak-jitakan), dan sebagainya. (Danandjaja, 1999, 15)

Srimulat pada akhirnya menentukan jalur utama humor Solo. Bagi warga kota Solo, humor itu mesti dipanggungkan. Panggung menjadi ruang pengocok perut paling sahih di Solo, sebetulnya, bukan di atas kertas. Laporan khusus di harian Solopos edisi Minggu, 16 April 2017, memberi pembuktian kecil. Jejak tawa di Solo hampir semua berada di panggung: Srimulat, Teamlo, Pecas Ndahe, Padat Karya, Kripik Peudeus, Owah Gerr Band, hingga Nyiur Melambai.

Solo Panggung Humor

Jejak tawa di Solo membentuk panggung, yang pada akhirnya bukan cuma untuk teater humor, melainkan juga bermacam musik humor. Grup musik paling terkenal di Solo tentu saja Teamlo. Kita pasti selalu mengingat komposisi tiga vokalisnya: Wawan yang dapat menirukan vokal berbagai musisi, Pangsit yang selalu mengubah lagu apa saja menjadi dangdut, dan Benjo yang senantiasa unjuk gigi (dalam arti yang sebenarnya). Setelah sibuk meramaikan pertelevisian nasional, pamor Teamlo menurun lantaran keluarnya Pangsit dan Benjo. Bagaimanapun, tiga vokalis dengan kekhasan masing-masing ini adalah komposisi ideal Teamlo. Kehilangan anggota telah merusak komposisi.

Musik humor Solo pun lantas dihidupkan Pecas Ndahe, Owah Gerr Band yang muncul bersamaan pergantian nama Peterpan menjadi Noah, dan belakangan The Mudub naik daun kembali setelah peluncuran album kedua Kicau Kacau Kota (2017).

Selain lewat Srimulat dan musik, Solo hadir di panggung humor nasional dengan mendelegasikan Wahjoe Sardono. Pada 1974, pria berwajah seksi yang sering disapa Dono itu diajak bergabung Kasino Hadiwibowo, Nanu Mulyono, dan Rudy Badil untuk siaran di radio Prambors. Mereka, ditambah Indrojoyo Kusumonegoro, secara rutin menyiarkan Obrolan Malem Jumatan. Lantaran obrolan dikisahkan berlatar warung kopi, grup lawak mereka pada akhirnya dikenal sebagai Warkop Prambors. Meski ditinggal Rudy Badil yang menjadi wartawan Kompas dan Nanu Mulyono yang keluar sebelum meninggal dunia, nama Warkop justru membesar dan bergerak ke panggung yang lebih besar: layar lebar dan layar televisi.

Pada masa itulah, mereka lebih dikenal sebagai Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro). Dono bukan sekadar sepertiga Warkop, ia pun berkiprah sendiri di ranah humor yang lain: teks.

Dono telah menulis buku kumpulan cerita humor Balada Paijo (1987), tiga novel berlatar kehidupan dan politik mahasiswa: Cemara-Cemara Kampus (1988), Bila Satpam Bercinta (1991), Dua Batang Ilalang (1999), serta novelet humor berjudul Senggol Kiri Senggol Kanan (2009). Dono menulis pada masa ketika teks humor masih laris dan digandrungi di Indonesia, entah itu berupa novel atau kumpulan cerita humor. Dono mengakui dalam kata pengantar Balada Paijo:

Ini namanya mode! Artinya orang pada membukukan cerita beginian. Sayapun ikut partisipasi! Kalau nggak kok kurang sip begitu. Apalagi saya dikenal di kalangan lucu-melucu. Makanya saya berani dan penuh rasa nekad memunculkan buku pengendor urat syaraf ini (Dono, 1987, iv).

Pada masa itu memang banyak beredar buku kumpulan humor dari berbagai penerbit. Lahan humor lazim disasar pula oleh penerbit-penerbit kecil lantaran dianggap pasar strategis. Peniruan sudah sangat lazim dilakukan, sebagai bentuk strategi dagang.

Misalnya Mati Ketawa Cara. . . kerap digunakan sebagai judul buku kumpulan humor. Buku kumpulan humor Dono pun bukan satu-satunya yang menggunakan judul Balada. Pada tahun yang sama beredar pula buku kumpulan humor berjudul Balada Paimin (1987) garapan Andreas Hero dan Margaretha S., yang bukan hanya judulnya, ilustrasi sampul buku ini pun dibikin mirip. Kedua buku sama-sama bersampul hitam, bedanya Balada Paijo berilustrasi Dono menunggangi kuda-kudaan kayu sedangkan Balada Paimin bergambar Paimin sedang ditindih perempuan gendut.

Kini, pada masa ketika teks humor berlimpah di lapak obralan, sastrawan Solo generasi terkini mulai nekat menulis buku kumpulan cerpen bercitarasa humor. Gunawan Tri Atmodjo mulai dikenal publik dan dianggap serius di kancah sastra Indonesia sesudah buku kumpulan cerpennya, Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya (2015), diterbitkan Marjin Kiri.

Gunawan adalah penerus humor Solo di jalur teks, pilihan yang sebetulnya tidak terlalu populer. Gunawan, sebagaimana Dono, menyuguhi pembaca dengan cerita-cerita yang memancing tawa. Bedanya, jika Dono serta-merta langsung menerjunkan diri ke teks humor dan novel populer, Gunawan memilih menulis teks sastra, terkhusus cerpen. Riwayat humor di Solo sebelum ini jadi konteks penting dalam memahami buku Gunawan, Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya.

Melawan Rezim Akhir Pekan

Gunawan membuka gerbang menuju semesta fiksinya dengan kata persembahan yang tidak pantas diabaikan, “untuk Langit Biru dan Mamanya// kita hanya perlu tertawa bersama, selebihnya duka akan lewat begitu saja.” Kata persembahan Gunawan jelas menunjukkan kepentingan penulisan cerpen-cerpennya: tertawa dan melewatkan duka.

Dalam beberapa kesempatan diskusi, Gunawan sering mengatakan bahwa ia mengalami kejenuhan membaca cerpen-cerpen yang dimuat berbagai surat kabar edisi akhir pekan. Pasalnya, cerpen-cerpen termaksud berkecenderungan serius, sedih, muram, tragis, dan humor seakan jadi barang makruh. Lebih jauh, kecenderungan itu membentuk semacam rezim. Teks-teks yang tidak selaras kehendak rezim, tidak pantas dimuat. Maka, sebagai perlawanan, Gunawan memilih terus-menerus melakukan pemunculan humor pada teks yang secara formal biasa kita kategorikan sebagai teks sastra.

Kita perlu melakukan pengujian kecil. Jika corak teks sastra yang menjenuhkan Gunawan telah menjelma rezim, tentu cerpen-cerpen dengan corak berbeda yang ia tulis tidak akan mudah hadir di ruang itu. Maka, kita perlu mengecek riwayat publikasi cerpen-cerpen dalam Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya. Dari tujuh belas cerpen, sepuluh di antaranya dipublikasikan di media cetak. Tiga cerpen: “9 Koi” di majalah Horison, April 2015; “Linda dan Lukman” di majalah Esquire, Mei 2015; dan “Penjual Kantuk” di majalah Basis No. 09-10 Tahun 2012. “Haji Inul dan Ayat Bajakan” terhimpun di antologi Cerpen Jawa Tengah 2012. Cerpen-cerpen yang lain berhamburan di edisi akhir pekan berbagai surat kabar: “Kapulaga dan Para Pengudap Duka” (Media Indonesia, Juli 2013); “Doraemon dan Korban Pemilu” (Tribun Jabar, September 2014); “Penghitung Keberuntungan” (Solopos, Maret 2013); “Kurma Asmara” (Joglosemar, Juli 2014); “Sisir” (Media Indonesia, Maret 2015); dan “Menantu Teladan” (Merapi Pembaharuan, September 2013).

Selain Media Indonesia, surat kabar yang memuat cerpen-cerpen Gunawan adalah surat kabar daerah yang pengaruhnya tidak terlalu signifikan dalam pembentukan rezim sastra akhir pekan. Surat kabar daerah menjadi ruang yang mungkin memunculkan teks sastra di luar narasi besar. Oleh karena itu, dua cerpen yang tampil di Media Indonesia penting kita perhatikan. Cerpen “Kapulaga dan Para Pengudap Duka” dan “Sisir” agaknya upaya kompromi Gunawan dalam merangsek rezim sastra akhir pekan. Maka, cerpen-cerpen itu baru memunculkan, setidaknya, setengah Gunawan. Corak sastra akhir pekan cenderung lebih dominan, meski akhirnya Gunawan menyiasati dengan sedikit humor. Misalnya, paragraf pertama cerpen “Sisir” bercitarasa seperti teks sastra akhir pekan pada umumnya. Gunawan menulis:

Menyisir rambut bagiku adalah mengenangmu, dan itu terasa menyakitkan. Sepanjang waktu kusisir rambutku dengan sisir pemberianmu. Seperti akar-akar waktu yang tanggal oleh tangan-tangan usia, helai-helai rambutku berguguran. Aku memungutinya dari lantai dan ruas-ruas sisir. Di cermin, kembaranku menatapku dengan penuh haru. Ia tak lebih muda dariku, tak lebih bahagia dariku, dan sama-sama gagal bersetia padamu. (Atmodjo, 2015, 113)

Paragraf pembuka Gunawan sangat lumrah dan mudah kita jumpai dalam cerpen-cerpen surat kabar akhir pekan. Kita dibenamkan dalam suasana melankolis manakala membaca cerpen “Sisir”. Kita dipertemukan dengan kematian istri tercinta bersebab kanker otak ganas, nostalgia liris yang menubuh pada sebuah sisir, serta kutukan dan cemburu lintas dunia. Akan tetapi, kelucuan mulai terasa saat Gunawan menunjukkan keberengsekan tokoh utama yang dengan gampang menemukan cinta lain sebagai pengganti cintanya di masa lalu. Keberengsekan itu berdalih amat licik, “aku merasa jiwamu menitis pada raga perempuan itu.” Lalu, pada akhirnya, keberengsekan tokoh utama paripurna di paragraf terakhir dan pantas ditertawakan:

Hari ini masih pagi. Di ujung kompleks perumahan ini ada kios potong rambut. Aku berniat menggunduli rambutku di tempat itu. Aku ingin membebaskan diri dari kutukan cintamu yang kekanak-kanakan. Aku akan mengucapkan selamat tinggal pada rambutku. Aku percaya mereka, isteri dan selingkuhanku itu, benar-benar mencintaiku. Mereka akan menerimaku tanpa memedulikan kondisi dan potongan rambutku.

Cerpen-cerpen lainnya, yang terpinggirkan atau bahkan tersingkirkan rezim sastra akhir pekan, menampilkan gaya penceritaan dan pilihan tematik yang sepenuhnya khas Gunawan.

Cerpen-cerpen Gunawan pada dasarnya bertema kehidupan sehari-hari, yang sering dibumbui ketidakberesan, atau dalam bahasa canggih biasa kita sebut absurd.

Gunawan tidak mengikuti Mahfud Ikhwan, sebagaimana dalam novel Ulid Tak Ingin Ke Malaysia (2009) dan Kambing dan Hujan (2015), memunculkan humor dari peristiwa keseharian yang sepenuhnya lumrah tanpa ketidakberesan. Cerpen “Sundari Keranjingan Puisi” dan “Haji Inul dan Ayat Bajakan” cukup representatif menjadi contoh pengisahan keseharian berbumbu ketidakberesan. Setiap peristiwa pada kedua cerpen tersebut memang mungkin terjadi di kehidupan nyata. Hanya saja, demi kepentingan humor, kedua cerpen mesti rela disisipi hal-hal yang aneh, yang tidak beres alias ganjil.

Keganjilan dalam “Haji Inul dan Ayat Bajakan” terdapat di nama-nama tokoh. Gunawan menamai tokoh utamanya Amran Bisu lantaran menyukai musik instrumental. Tetangga Amran yang menggandrungi Anang Hermansyah menamai anak-anaknya Krisdayanti dan Ashanty. Nama-nama warga di kampung Amran kebanyakan bergantung pada genre musik favorit: Parto Dangdut, Endang Keroncong, Santo Metal, dan sebagainya. Tetapi, ketidakberesan nama yang paling kontradiktif ada pada Haji Inul. Nama lengkapnya Zainul Mustajab, nama yang sebetulnya memungkinkan sekian sapaan wajar, semisal: Haji Zainul, Haji Zain, atau Haji Tajab. Tentu demi kepentingan humor, Gunawan memutuskan Haji Inul sebagai sapaan Zainul Mustajab. Nama bintang dangdut yang sempat bikin Indonesia geger lantaran goyangnya dianggap erotis dipakai menamai ulama terpenting di sebuah kampung.

Humor Asyik, Tematik Pelik

Cerpen-cerpen Gunawan memilih tema yang cukup pelik. Tema yang paling banyak dipilih adalah ihwal keberuntungan dan kesialan, yang menjelma jadi cerpen-cerpen berjudul “9 Koi”, “Linda dan Lukman”, “Penghitung Keberuntungan”, dan “Menantu Teladan”. Cerpen “Menantu Teladan” sedikit kita beri catatan, lantaran meminjam pola penceritaan Iwan Simatupang dalam Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut (2013). Padahal, pola penceritaan Kooong sendiri mengikuti cerpen Jean-Paul Sartre, The Wall (1933). Dalam “Menantu Teladan”, pembaca dibawa memasuki ketegangan yang semakin lama semakin meninggi, lantas di ujung cerita keberuntungan hadir dan menganulir ketegangan itu. Ihwal keberuntungan dan kesialan memang strategis digunakan sebagai tematik humor.

Tema lain yang muncul adalah tentang puisi, sastra, kuliner, budaya populer, dan religiositas. Joko Pinurbo memberi testimoni meyakinkan di sampul belakang buku. Ia menulis, “beberapa karyanya mencoba mempertanyakan kembali penghayatan dan pemahaman kita tentang berbagai perkara yang kadang pelik, misalnya mengenai doa dan keberuntungan.” Pujian serupa diberikan Tia Setiadi dalam testimoninya atas buku kumpulan cerpen Gunawan yang lain, Tuhan Tidak Makan Ikan (2016). “Gunawan ini memiliki gaya bercerita yang lucu, unik, dan menyebalkan bahkan. Segala hal berat bisa dijadikannya bahan tertawaan. Buku yang cerdas. . . .”

Menertawakan hal pelik dan berat sebetulnya sudah jadi kebiasaan orang Solo. Sepanjang sejarah, berbagai ketegangan yang terjadi di Solo kerap ditanggapi dengan humor.

Ketegangan pernah terjadi di Solo setelah Kemerdekaan, tepatnya pada masa Agresi Militer II Belanda. Majalah Intisari No. 69 Tahun VI, 4 April 1969, memuat tulisan Sunarto yang berjudul “Berkat Kelihayannja, Ajahku Lolos dari Hukuman Mati”. Dikisahkan, pada masa Agresi Militer II, Belanda mendatangi salah satu rumah yang termasuk “daftar hitam”, karena dianggap markas para pejuang pemuda. Seorang yang tinggal di rumah itu, Pak Soma, ditanyai siapakah pemilik rumah yang ia tempati sambil diancam dengan bayonet terhunus. Pak Soma, lantaran ketakutan, menyebut nama pemilik rumah yang tak lain ialah ayah Sunarto. Begitu Belanda menemukan ayah Sunarto, ia langsung dimasukkan ke dalam truk penuh orang yang “dicurigai” pembelot.

“Kamu simpan gerilja! Nanti Djembatan Djurug!”

“Djembatan Djurug” adalah kode untuk hukuman mati pada masa itu. Hukuman mati dilaksanakan dengan cara menerjunkan terhukum dari atas jembatan Jurug. Terhukum boleh memilih diterjunkan dalam posisi kepala dulu atau kaki dulu. Jika memilih kepala dulu (kakinya di atas), terhukum akan diterjunkan begitu saja. Tetapi, jika kaki dulu yang diterjunkan, langsung dibarengi dengan tembakan. Entah mau memilih yang mana, kematian adalah niscaya. Lantas, bagaimana ayah Sunarto mampu meloloskan diri dari maut? Sunarto menjelaskan:

Disini tahanan dibagi 2 kelompok: kelompok tahanan kelas berat (kelas Djurug) dan kelompok kelas ringan (jang akan dibebaskan).

Ajahku termasuk dalam kelompok kelas berat; kedua kelompok tsb diatur dalam formasi duduk berderet-deret.

Pendjaga hanja seorang serdadu bersendjata lengkap dengan bajonet terhunus. Ia mondar-mandir kekiri-kekanan. . . .

Melihat situasi demikian, ajahku mendapat ilham untuk bisa lolos dari hukuman mati tsb.

Demikianlah tjaranja: Begitu pendjaga bergerak kekiri ajahku bergeser sedikit mendekati kelompok kelas ringan; begitu pula bila pendjaga bergerak kekanan, ajahku bergeser lagi sedikit, begitu seterusnja sehingga achirnja ajahku bisa berkumpul dengan kelompok kelas ringan tersebut.

Setelah mendapat “penerangan” tentang kebaikan pendudukan Belanda di Indonesia, achirnja tahanan kelas ringan tersebut dibebaskan semua, termasuk diantaranja ajahku sendiri jang berkat kelihayannja bisa lolos dari hukuman mati.

Kita bisa membayangkan peristiwa di masa Agresi Militer II Belanda itu sungguh mencekam. Tetapi, Sunarto secara percaya diri mengisahkan ulang dengan membawa tendensi humor. Kita pun serta-merta dapat membayangkan, sebelum menulis cerita itu, Sunarto mendengar pengisahan dari ayahnya secara heroik dan komikal.

Orang Jawa, termasuk orang Solo, memang lazim menjadikan humor sebagai pengendur ketegangan. Sekelam dan setegang apa pun suatu peristiwa, pengisah berhak menceritakan dengan bumbu humor.

Hanya, ada yang masih perlu dipertanyakan terkait cerita Sunarto: apakah betul peristiwa itu terjadi di masa Agresi Militer II Belanda, atau sekadar cerita rekaan yang memproyeksikan peristiwa berdarah lainnya?

Orde Ketegangan, Pangkal ke Ujung

Pada Maret 2013, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) dan Paguyuban Korban Orde Baru (Pakorba) Solo merilis film dokumenter yang mereka dedikasikan bagi para korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Film berjudul Jembatan Bacem menyibak praktik eksekusi, kendati lebih cocok disebut pembantaian, terhadap orang-orang yang “dituduh” simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1960-an. Metode yang digunakan eksekutor hampir sama seperti yang digambarkan Sunarto dalam ceritanya. Perbedaannya hanya pada lokasi jembatan dan aktor eksekutornya. Jembatan Jurug yang diceritakan Sunarto ada di ujung Timur Solo, sedangkan Jembatan Bacem di perbatasan Solo-Sukoharjo. Keduanya melintang di atas sungai yang sama: Bengawan Solo.

Kita mafhum, pada 1969 (ketika cerita Sunarto terbit), pembunuhan massal terhadap warga yang dituduh PKI masih jadi isu rawan. Barangkali ayah Sunarto adalah salah satu tertuduh PKI, dan Sunarto ingin menceritakan peristiwa berdarah yang meregang nyawa para tertuduh PKI kepada khalayak. Ia sadar belum bisa berbicara secara lugas tentang peristiwa itu, karena itu ia memilih penyamaran cerita dengan memodifikasi aktor dan lokasi cerita.

Pembantaian simpatisan PKI juga menjadi salah satu penyebab ketegangan di Solo, kendati terjadi pula di berbagai wilayah Indonesia. Pengisahan peristiwa itu pun masih kerap disertai humor.

Misal, ketika salah satu Ketua RT di Kelurahan Karangasem, Laweyan, Solo, menceritakan masa lalu seorang tokoh agama setempat:

Beliau dulu waktu muda juga ikut memberantas PKI di Klaten, di sana dulu banyak komunis. Makanya, sekarang tanah Klaten itu subur, lha wong rabuknya pakai jenazah-jenazah manusia kok.

Setelah pembantaian orang-orang yang dituduh PKI, Solo menata diri dan merayakan pembangunan, lazimnya kota-kota lain pada masa Orde Baru. Wiji Thukul rajin melakukan pencatatan puitis atas fenomena ini. Kita cukup mudah menjumpai puisi-puisinya tentang Solo dan gairah menjelma jadi “kota” yang membuncah.

Misal, beberapa puisi Wiji Thukul yang terhimpun dalam Nyanyian Akar Rumput (2014), seumpama “Jalan Slamet Riyadi Solo”, “Pemandangan”, “Sajak Kota”, “Gumam Sehari-Hari”, “Kuburan Purwoloyo”, “Jalan”, “Pasar Malam Sriwedari”, dan salah satu puisi terkenalnya, “Bunga dan Tembok”. Namun, pengisahan paling komikal tersaji dalam puisi “Nonton Harga”:

ayo keluar keliling kota

tak perlu ongkos, tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pengin durian

apel-pisang-rambutan-anggur

ayo. . .

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

Puisi Wiji Thukul secara komikal mengejek pembangunanisme kota yang semata menempatkan warga sebagai pemirsa. Puisi bertitimangsa 18 November 1996, ditulis di masa-masa senjakala pembangunan kota.

Dua tahun sesudah Wiji Thukul menulis puisi itu, peristiwa penting dalam sejarah sosial-politik Indonesia meletus: Reformasi Mei 1998. Reformasi menghilangkan Wiji Thukul, sambil melahirkan puisi-puisi serupa karya penyair lain. Salah satu upaya merekam Reformasi dalam puisi dilakukan Jokpin, meski baru ditunaikan beberapa tahun kemudian. Puisi “Mei” adalah upaya Jokpin menziarahi peristiwa yang tidak saja penting bagi negara, tetapi juga bagi kota. Jokpin (2013) menulis:

Tubuhmu yang cantik, Mei

telah kaupersembahkan kepada api.

Kau pamit mandi sore itu.

Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.

Api mengucup tubuhmu

sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu

sampai dilumatnya yang cuma warna,

yang cuma kulit, yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei

adalah juga tubuh kami.

Api ingin membersihkan tubuh maya

dan tubuh dusta kami dengan membakar habis

tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei.

Kau sudah mandi api.

Api telah mengungkapkan rahasia cintanya

ketika tubuhmu hancur dan lebur

dengan tubuh bumi;

ketika tak ada lagi yang mempertanyakan

nama dan warna kulitmu, Mei

Puisi “Mei” dibacakan Akhmad Ramdhon, dosen Sosiologi Perkotaan Universitas Sebelas Maret dan pegiat Kampungnesia, dalam acara Berbuku & Bergembira, pada 24 Mei 2017 di Gedung Arpusda Solo. Ramdhon meluncurkan beberapa buku sebagai hasil proses dokumentasi kota yang dilakukan mahasiswa Sosiologi bersama warga kampung dan beberapa pihak lain. Ketika mengawali presentasi, Ramdhon menampilkan foto-foto dokumentasi Kerusuhan Mei 1998 di Solo. Salah satu foto menampilkan beberapa warga Solo menjungkirbalikkan sebuah mobil. Ramdhon menjelaskan adegan penting dalam kerusuhan kota yang menentukan masa depan Solo itu dengan sangat enteng dan komikal: Bukan apa-apa, itu kebetulan ada warga yang uang recehnya jatuh ke bawah mobil. Karena orang Solo gemar gotong-royong, mereka bareng-bareng menjungkirbalikkan mobil buat mengambil uang receh yang jatuh itu.

Riwayat ketegangan Solo bisa kita telusuri melalui berbagai teks yang lebih serius dan historis. Pengesampingan teks-teks tersebut dan penampilan informasi sampingan sekadar bermaksud memunculkan narasi kecil yang kerap terlewatkan. Pada dasarnya, kita mesti menerima bahwa humor bergentayangan dalam narasi sejarah.

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, mengulasnya dalam esai pendek berjudul “Mengais Lelucon Sejarah” di harian Kompas, Senin, 29 Mei 2017. Sejarah perang tidak melulu disesaki kisah heroik para pejuang, kekejaman penjajah, dan pertumpahan darah. Heri menulis: Ada pula peristiwa sejarah lucu, humoris, yang selama ini tak pernah kita jumpai dalam pustaka sejarah, apalagi dikabarkan di panggung pitulasan.

Jangan berharap kisah ini bakal Anda peroleh di dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia sebelas jilid garapan AH Nasution dan kitab Sejarah Nasional Indonesia yang disebut-sebut sebagai buku babon dan rujukan guru-guru sejarah.

Singgungan Humor dan Religiositas

Salah satu tema dalam cerpen Gunawan yang perlu diperhatikan adalah ihwal religiositas. Humor mutakhir memang sering dipersinggungkan dengan perkara religius. Gunawan menyadari itu, cerpen urutan pertama dalam bukunya berjudul “Untuk Siapa Kau Berdoa Ana?” menyoal pilihan untuk tetap atau berhenti percaya kepada Tuhan. Jelas, cerpen Gunawan itu sangat bersinggungan dengan religiositas lantaran mempertanyakan doa. Seandainya Gunawan malas, ia sebetulnya bisa saja menjadikan hal-ihwal religius sekadar materi pinjaman demi memunculkan humor. Kita menjumpai kecenderungan itu dalam novel Sabda Armadio, 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif (2017). Sabda dua kali meminjam syahadat semata-mata sebagai materi selingan humor:

Sebelumnya kami juga pernah membuat beo kami, namanya Rudi, masuk Islam. Setelah minum ramuan kami setiap hari selama setahun, Rudi akhirnya bisa meniru kami mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal kami hanya mencampur sari kurma dan air zamzam ke dalam pakan.

. . .

Apakah ada yang menyaksikan semua pengakuan Anda ini?

Tentu saja ada: Tuhan.

Maksud saya, selain Tuhan?

Tiada Tuhan selain Allah, Pak.

Meski lucu, Sabda menempuh cara “mudah” dalam produksi humor berbekal religiositas. Ia sekadar meminjam syahadat sebagai materi selingan humor, alih-alih menjadikan pemikiran tentang syahadat sebagai humor itu sendiri.

Gunawan lebih jeli. Ia bukan memakai doa semata sebagai materi humor, melainkan menyoal pemikiran kita ihwal doa, dan menunjukkan bahwa di sana ada humor. Hal-ihwal religius adalah percik ketuhanan, dan sebagaimana yang ditulis Slavoj Zizek (2016), “Tuhan adalah pelawak utama.”

Kendati tidak seberhasil Gunawan, pada dasarnya keberanian Sabda memakai humor bersumber khazanah keislaman cukup melegakan. Belakangan ini kita memang mengalami krisis humor Islami.

Bandung Mawardi menyinggungnya lewat pemunculan dua sosok yang mungkin teringat, yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan A. Mustofa Bisri (Gus Mus). Bandung (2017) menulis: Dua ulama, penekun sastra, dan pabrik tawa bertemu di buku. Kaum santri tentu girang mendapat dua buku untuk tertawa bersama dua ulama kondang di Indonesia. Ulama tapi pendakwah tawa, mengajak pada kewarasan ketimbang fanatisme menghasilkan sengsara dan permusuhan. Tertawa untuk waras!

Islam adalah agama samawi yang paling tidak lucu. Islam kurang mengakomodasi humor, bahkan ustaz-ustaz malah sering berkata, “banyak tertawa mengeraskan hati.” Tentu, ini berseberangan dengan masyarakat Yahudi yang terkenal oleh kekhasan mereka tentang humor kritik diri dan menghancurkan yang diterjemahkan dalam beribu-ribu lelucon (Maurer, 2003, 54).

Humor Yahudi banyak dihimpun di buku Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek (2016), bersama dengan humor bersumber khazanah Kristen. Dalam buku kumpulan humor Larry Wilde, Banyolan Antar Bangsa (1987), humor Yahudi adalah yang paling banyak dimunculkan. Porsinya sampai menghabiskan 24 halaman, yang terbanyak di antara humor dari tradisi dan latar kultural lain. Besarnya porsi humor Yahudi dalam buku itu bukan tanpa sebab. Larry menulis:

Sebenarnya banyolan Yahudi merupakan dasar bagi semua humor etnik. Salah satu penyebabnya adalah bahwa bangsa Yahudi merupakan kelompok minoritas yang paling lama. Alasan lain yang lebih utama adalah bahwa humor merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Yahudi.

Rasa humor bangsa Yahudi adalah pelita penunjuk jalan selama berabad-abad kegelapan yang penuh dengan kecurigaan dan kekejaman. Rasa humor itu juga merupakan sebuah bantalan di mana orang-orang Yahudi menancapkan gelembung-gelembung harapan mereka. Bangsa Yahudi telah mengajari diri mereka sendiri untuk menertawai musuh-musuhnya. Lebih penting lagi, mereka telah belajar untuk menertawai diri sendiri. (Wilde, 1987, 14)

Kebanyakan Muslimin kita tak memiliki kesadaran humor sebagaimana khalayak Yahudi di Amerika. Humor bahkan lazim dianggap laku melecehkan dan menistakan. Religiositas, karenanya, dirasa terlalu sakral bagi humor. Pilihan Gunawan menggunakan Kristen sebagai lingkungan religius dalam cerpen “Untuk Siapa Kau Berdoa Ana?” adalah upaya menghindari ketegangan yang barangkali akan timbul andai cerpennya bersumber dari khazanah keislaman.

Padahal, Gunawan sebetulnya muslim, dan tentu bakal lebih lihai mengorek hal-ihwal keislaman ketimbang Kristen. Gunawan telah sukses menghindari kemarahan sesama umat agamanya, agama yang kerap dipinjam jadi baju belaka bagi ormas galak dan represif. Tetapi, ia juga mungkin menghadapi masalah lain yang diperhatikan Sapardi Djoko Damono dalam perkembangan sastra Indonesia. Khalayak kita secara umum belum siap menghadapi persinggungan dengan religiositas, termasuk dalam teks sastra. Singgungan itu bakal rawan mendapat tuduhan SARA. Sapardi Djoko Damono menulis: Konon, sastrawan membutuhkan kebebasan dalam mencipta, namun ternyata kebebasan yang sangat diperlukannya itu memang tidak pernah ada sepenuh-penuhnya dalam kenyataan.

SARA dengan demikian merupakan penghalang resmi perkembangan sastra; ia bisa merupakan alasan yang bisa diterima setiap pihak dalam masyarakat untuk menghambat sastra. Justru karena kita telah sekata untuk mempergunakan bahasa Indonesia, yang berarti kita harus berbagi masalah suku, agama, ras, dan adat-istiadat masing-masing dengan kelompok lain dalam masyarakat, kebebasan itu menjadi sangat terbatas. (Damono, 1999:49)

Sundari, Ranggawarsita, dan Kepenyairan

Cerpen “Sundari Keranjingan Puisi” membawa pula ketidakberesan nama-nama di sekujur cerita. Nama tak beres pertama dimiliki sahabat Sundari, tokoh utama dalam cerpen. Sahabat Sundari itu bernama Luma, nama yang cukup keren dan modern. Tetapi, Gunawan segera meruntuhkan dengan menyebut nama panjangnya: Sri Lumayanwati. Ketidakberesan berikutnya dilakukan dengan menukar nama depan dan belakang tokoh. Gunawan tak meneladani Leila S. Chudori yang memakai fiksinya untuk mengenalkan teks-teks sastra ampuh. Gunawan lebih meniru Eddy D. Iskandar yang memunculkan buku-buku fiktif dalam fiksinya. Tokoh penulis buku fiktif direkayasa dan dijelmakan ketidakberesan. Gunawan menulis:

Untuk menghibur diri, ia hampiri salah satu kios. Lalu takdir menuntunnya untuk bertemu dua buku paling berkesan dalam hidupnya selain kitab suci, yakni buku Cara Mengobati Sakit Hati dengan Puisi karya dr. Fatin Tohari dan buku Kiat-kiat Menulis Puisi yang Diterima Masyarakat karya Prof. Dr. Ahmad Hamama. Dengan antusias, Sundari membuka-buka halaman dua buku itu lalu menebusnya senilai dua belas ribu lima ratus rupiah. Sejak saat itulah ia keranjingan puisi dan antilelaki. Dan, hal itu sudah bertahan selama sembilan tahun sejak penolakan Trijoko. (Atmodjo, 2015: 80)

Kita gampang saja menebak, penulis buku-buku fiktif itu meminjam dan menukar nama Fatin Hamama dan Ahmad Tohari.

Rekayasa nama memang khas dalam humor. Tokoh-tokoh dalam teks humor sedapat mungkin bernama lucu. Beberapa nama tokoh teks humor karangan belaka, yang unik dan berpeluang panjang umur.

Pembaca koran Solopos misalnya, pasti mengenal Jon Koplo, Tom Gembus, Genduk Nicole, dan Lady Cempluk yang jadi tokoh dalam rubrik humor Ah. . .Tenane. Belakangan, kita mengenal nama Mukidi, tokoh utama teks-teks humor Soetantyo Moechlas yang marak beredar di media sosial. Kecenderungan lain menamai tokoh humor merujuk nama-nama tokoh di dunia nyata dengan dua strategi: penukaran atau pelesetan. Kecenderungan ini telah kita jumpai dalam teks Gunawan, dan membabi-buta di novel Martin Suryajaya, Kiat Sukses Hancur Lebur (2016).

“Sundari Keranjingan Puisi” adalah cerpen terpenting di buku Gunawan selain “Ranggawarsita Si Penyair Partikelir”. Tema “Sundari Keranjingan Puisi” sudah cukup jelas: kegandrungan membabi-buta pada puisi. Belakangan ini, kita sedang mengalami keberlimpahan penyair di surat kabar akhir pekan, terutama surat kabar daerah. Puisi lebih diminati ketimbang cerpen, apalagi esai, karena bentuknya yang bebas dan tidak perlu berpanjang-panjang. Menulis puisi barangkali dianggap lebih gampang ketimbang menulis cerpen dan esai. Kita bisa saja membantah, tetapi kecenderungan itu sungguh-sungguh ada. Kegandrungan pada puisi di surat kabar akhir pekan lantas memunculkan dua peristiwa besar: melimpahnya penyair di Madura, dan penyair cilik yang muncul di rubrik puisi umum (bukan sajak anak).

Keberlimpahan penyair Madura dapat dibuktikan dengan riset kecil-kecilan. Kita bisa mengamati nama-nama yang sering muncul di rubrik puisi surat kabar akhir pekan berasal dari Madura, misalnya: A. Warits Rofi, Abd Sofi, A’yat Khalili, Khairul Umam, Marsus, Sugik Muhammad Sahar, Ridhafi Ashah Atalka, dan masih banyak lagi. Sudah dua tahun pula di Madura terselenggara Festival Puisi Bangkalan untuk mengumpulkan penyair-penyair itu dalam satu perhelatan. Kiprah penyair cilik mutakhir sudah cukup terwakili Muhammad De Putra dan Abinaya Ghina Jamela, bocah kelahiran 2009 yang puisinya pernah dimuat Media Indonesia dan sudah punya buku kumpulan puisi sendiri.

Dua peristiwa besar dalam perpuisian sastra surat kabar akhir pekan menunjukkan betapa puisi jadi lahan strategis yang diperebutkan penyair-penyair baru, tidak terkenal, dan bahkan masih terlalu belia dalam membuktikan kepujanggaan mereka. Kegandrungan inilah yang diejek Gunawan melalui cerpen “Sundari Keranjingan Puisi”. Menulis puisi seakan jadi laku enteng-entengan.

Seorang yang tidak memiliki sejarah pembacaan teks sastra, sebagaimana Sundari yang hanya berbekal dua buku tentang puisi, katakanlah, bisa-bisa saja mendaku penyair.

Cerpen “Ranggawarsita Si Penyair Partikelir” lebih lanjut mengaitkan puisi dengan profesi. Selama ini, pencatatan administratif ihwal profesi penulis, sastrawan atau penyair memang belum beres. Ditambah lagi, kebanyakan mereka menganggap menulis adalah laku luhur yang tak cukup pantas dikatakan profesi. Solusi paling serampangan adalah mendaku seniman sebagai profesi. Padahal, seniman adalah profesi yang mudah didaku siapa pun, termasuk pengangguran tanpa karya. Ambisi mendaku seniman sudah kita jumpai dalam Keajaiban di Pasar Senen (2008) garapan Misbach Yusa Biran. Pada cerpen Gunawan, identitas seniman tak didamba sebagaimana dalam teks Misbach, tetapi disematkan masyarakat karena ketidaktahuan mereka. Gunawan menulis keluh tokoh dalam cerpennya, Ranggawarsita:

Meski aku pernah diminta membaca puisi bahkan sampai ke luar negeri, tapi tak seorang pun tetanggaku yang benar-benar mengenalku sebagai penyair. Mereka sekadar tahu bahwa aku adalah seniman.

Pandangan seniman ini identik dengan anggapan minor karena tidak terlihat bekerja secara rutin dalam artian keluar rumah atau pergi ke kantor. Di mata mereka, aku hanyalah seorang lelaki yang luntang-lantung di rumah. Seniman di mata mereka hanya sedikit lebih tinggi dari pengangguran. .  .Aku tak berharap banyak pada kemungkinan tetanggaku kesasar di lapak sastra, menemukan buku puisiku, lantas mengetahui pekerjaan sejatiku. Ketidaktahuan mereka sudah kuanggap takdir sosialku. Hidup memang terkadang ambigu. Bisa saja aku dikenal luas oleh masyarakat sastra, tapi di kompleks rumahku sendiri tak ada yang mengenalku sebagai penyair handal. (Atmodjo, 2015, 99-100)

Jika pada akhirnya tetangga-tetangga Ranggawarsita mengakui kepenyairannya di acara halalbihalal kampung, Jokpin punya cerita lain. Kedekatan Jokpin dan kumpulan cerpen Gunawan bukan sekadar sebagai pemberi testimoni. Jokpin, tatkala berjumpa Gunawan di Festival Sastra Basabasi (22 April 2017), menyebut cerpen “Ranggawarsita Si Penyair Partikelir” terhubung dengan hidupnya. Sebagaimana Ranggawarsita, Jokpin pun tidak dikenal sebagai penyair oleh tetangga-tetangga di kampungnya. Padahal, siapa di antara kita yang tak mengenal Jokpin berikut puisi-puisi jenakanya? Tetangga Jokpin hanya tahu bahwa ia berkerja di penerbitan. Mereka baru tahu Jokpin seorang penyair manakala salah satu tetangga mengunggah puisi Jokpin di grup WhatsApp (WA) bapak-bapak kampung. Penyair yang berpanggung di buku, majalah, jurnal sastra, dan surat kabar itu baru diakui sebagai penyair di grup WA.

Dari Panggung ke Panggung

Sebagai produk rahim humor Solo, keputusan Gunawan memilih teks sastra untuk menuangkan ekspresi komikalnya terasa kurang populer. Cerpen-cerpen Gunawan luput atau bahkan memang tak dianggap jejak tawa di Solo. Humor semestinya berpanggung, entah berwujud pergelaran, konser musik, stand-up comedy dan sebagainya. Humor teks dianggap ketinggalan zaman. Humor di Solo mesti disampaikan langsung dan interaktif. Teks tidak memungkinkan komunikasi dua arah antara penampil dan pemirsa humor. Penampil menyajikan banyolan, pemirsa menanggapi dengan bermacam cara: protes, ejek, tanya, dan yang paling lazim tentu tertawa.

Seiring zaman, humor Solo tentu tidak puas sekadar meruang di panggung nyata. Humor juga butuh dolan ke ruang maya, panggung-panggung maya. Panggung paling laris tentu saja YouTube, ruang yang sukses memunculkan komedian-komedian yang mendadak terkenal. Humor YouTube senantiasa bersenjata rekaman video dengan kemasan asyik.

Tetapi, panggung maya rupanya memungkinkan humor-humor teks hadir, terkhusus di media sosial. Berbeda dari humor teks edisi cetak (buku kumpulan humor, majalah, dan sebagainya) yang terpampat, humor teks di media sosial jauh lebih cair. Penulis teks humor dapat berinteraksi dengan pembaca lewat kolom komentar. Penulisan teks humor pun dapat dilakukan sewaktu-waktu dan langsung terbit.

Setelah sama sekali tidak terlibat humor panggung, dan tersingkirkan rezim sastra surat kabar akhir pekan, Gunawan sukses memanfaatkan panggung ketiga ini. Panggung maya, terkhusus media sosial, Gunawan menjadikannya ruang strategis untuk memperpanjang usia Sundari. Kita membicarakan nama-nama kembali. Di antara nama-nama aneh yang dibikin Gunawan, Sundari dan Trijoko berumur paling panjang. Keduanya digunakan sebagai tokoh teks humor Gunawan di Facebook. Menggunakan nama-nama tokoh yang tetap untuk menyampaikan sekian banyak humor berbeda-beda adalah ciri khas orang Jawa. Maka, kita lantas mengenal Paijo, Mukidi, Jon Koplo, dan Dul Kemplung. Bagi Gunawan, Sundari dan Trijoko sudah cukup. Salah satu penghadiran duo Sundari-Trijoko di Facebook tercatat pada 24 Oktober 2015:

Ketika banyak pasangan mewujudkan kepedulian dengan mengirim pesan “Sudah makan?”, Sundari juga melakukannya. Hanya saja ia memermaknya sehingga menjadi lebih variatif dan puitis. Sundari konsisten mengirimi Trijoko pesan tiga kali sehari dengan isi “Sudah sempakan Mas?”

Gunawan kemudian menemukan sesuatu yang lain, yang boleh jadi ciri khasnya di samping nama Sundari dan Trijoko. Sesuatu itu “sempak”, atau yang sering kita sebut dengan sopan santun sebagai celana dalam.

Gunawan berkeputusan tekun menulis teks humor di Facebook bahkan setelah terbitnya tulisan Maman S. Mahayana, “Sastra(wan) Generasi Facebook” di harian Kompas, 22 April 2017. Tulisan Maman sangat terlambat, atau lebih tepatnya mengungkit-ngungkit wacana lama sastra saiber. Sastrawan sungguh berhak menampilkan diri dalam ruang paling ramai di zaman mutakhir ini. Jokpin dan Goenawan Mohamad misalnya, sukses menghadirkan diri di jagat Twitter.

Tulisan-tulisan mereka di ruang itu lalu dihimpun dan terbit sebagai buku Haduh, Aku Di-follow (2013) dan Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm (2011). Kita tidak perlu membahas Maman terlalu jauh. Kita menengok lagi teks humor Gunawan di Facebook, 30 Januari 2016. Ia kembali memunculkan sempak sebagai materi humornya:

Hal termanis yang dikenang Trijoko saat flu berat adalah ketika tisunya habis dan dengan senyum manis, Sundari memberikan sempaknya sebagai pengganti sapu tangan.

Kemunculan sempak tidak sekadar menciptakan keramaian di media sosial. Sempak pun lantas dijelmakan cerpen tersendiri oleh Gunawan, dengan judul “Riwayat Sempak”. Cerpen itu terdapat di buku kumpulan cerpen Gunawan yang berikutnya, Tuhan Tidak Makan Ikan (2016). Kehadiran buku Tuhan Tidak Makan Ikan pun sebetulnya dampak dari aktivitas Gunawan menulis teks humor Sundari-Trijoko di Facebook. Edi Mulyono, direktur penerbitan Diva Press yang ingin menerbitkan seri Sastra Perjuangan tertarik dan mendaulat Gunawan sebagai salah satu ujung tombaknya. Tuhan Tidak Makan Ikan di kemudian hari memang sukses di pasaran. Buku kumpulan cerpen itu pun tetap memunculkan duo Sundari dan Trijoko, misalnya di cerpen “Ramalan”, “Anak Jaranan”, dan “Riwayat Sempak”, untuk menjaga ciri khas Gunawan. Khusus dalam “Riwayat Sempak”, Sundari diganti dengan nama lain: kekasih ganas.

“Kebahagiaan itu seperti sempak yang kamu pakai. Orang lain hanya bisa menebak-nebak model dan warnanya. Tetapi hanya kamu, Tuhan, dan kekasih ganasmu yang mengetahui wujud aslinya.”

Pada akhirnya, Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya bukan hanya menjadi anomali dalam pendakwahan humor di Solo. Secara personal, Gunawan menggunakan cerpen-cerpen itu sebagai perlawanan terhadap rezim sastra surat kabar akhir pekan. Humor, sebagaimana kita ketahui, bisa meredakan ketegangan. Pilihan Gunawan memakai tematik yang bersinggungan dengan religiositas adalah pengingat kecil bahwa dalam beragama mesti bersahaja jua. Tematik kepenyairan dalam cerpen “Sundari Keranjingan Puisi” dan “Ranggawarsita Si Penyair Partikelir” mengajak kita memikirkan ulang panggung sastra. Gunawan merasa bahwa panggung yang telah mengecewakan layak ditinggalkan. Maka, cerpen-cerpennya kini meruang di buku dan laman daring belaka. Selain itu, Sundari (bersama Trijoko) hadir dalam bentuk lain, teks humor di media sosial. Pemanjangan jelajah Sundari lantas memperjumpakan kita pada panggung yang lebih besar, luas, dan ramai dari panggung konvensional, apalagi helai kertas. Panggung ketiga. Panggung maya. []

Kepustakaan

Afifah, Mahardini Nur. “Pabrik Tawa Tak Ada Matinya” dalam Solopos, 16 April 2017.

Armadio, Sabda. 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif. Yogyakarta: Buku Mojok, 2017.

Atmodjo, Gunawan Tri. Sundari Keranjingan Puisi dan Cerita-Cerita Lainnya. Tangerang: Marjin Kiri, 2015.

__________________. Tuhan Tidak Makan Ikan. Yogyakarta: Diva Press, 2016.

Biran, Misbach Yusa. Keajaiban di Pasar Senen. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008.

Damono, Sapardi Djoko. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999.

Danandjaja, James. “Srimulat di Antara Teater Rakyat dan Teater Pop” dalam Anwari, Indonesia Tertawa: Srimulat sebagai Sebuah Subkultur. Jakarta: LP3ES, 1999.

Dono. Balada Paijo. Jakarta: Aya Media Pustaka, 1987.

Jatmika, Sidik. Ayo Ngguyu: Telaah Sosiologis Folklor Wong Solo. Yogyakarta: Maharsa Publishing House, 2014.

Mahayana, Maman S. “Sastra(wan) Generasi Facebook” dalam Kompas, 22 April 2017.

Maurer, Jean-Luc. “Bermain dengan Kata-Kata? Lelucon dan Permainan Kata-Kata sebagai Protes Politik di Indonesia” dalam Frans Husken dan Huub de Jonge (ed.), Orde Zonder Order: Kekerasan dan Dendam di Indonesia 1965-1998. Yogyakarta: LKiS, 2003.

Mawardi, Bandung. “Humor Puasa dan Ramadan: Tertawa, Beriman dan Sabar” dalam Kedaulatan Rakyat, 11 Juni 2017.

Mohamad, Goenawan. Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011.

Pinurbo, Joko. Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013.

___________. Haduh, Aku Di-follow. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2013.

Priyatmoko, Heri. “Mengais Lelucon Sejarah” dalam Kompas, 29 Mei 2017.

Simatupang, Iwan. Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut. Jakarta: Pustaka Jaya, 2013.

Sunarto. “Berkat Kelihayannja, Ajahku Lolos dari Hukuman Mati” dalam Intisari nomor 69 tahun VI, 4 April 1969.

Suryajaya, Martin. Kiat Sukses Hancur Lebur. Depok: Banana, 2016.

Thukul, Wiji. Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Wilde, Larry. Banyolan Antar Bangsa. Jakarta: Asri Media Pustaka, 1987.

Zizek, Slavoj. Mati Ketawa Cara Slavoj Zizek. Tangerang: Marjin Kiri, 2016.

Esai19 Agustus 2021

Udji Kayang


Udji Kayang menamatkan pendidikan Sosiologi di Universitas Sebelas Maret, Solo. Saat ini bekerja sebagai editor fiksi salah satu penerbit di Jakarta.